Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Bertepuk Sebelah Tangan 2


__ADS_3

"Hiks..."


Latika berlari menuruni anak tangga.


Air matanya terus mengalir membasahi pipinya.


Bik Ipah sudah berada di ujung tangga mendengar pertengkaran mereka, ia ragu mau ikut campur. Matanya sudah merah ikut sedih melihat pertengkaran itu.


"Non Non kenapa, Non?"


Bik Ipah menghadang Latika.


Latika tidak menjawab, Latika terus berlari menerobos pertahanan Bik Ipah. Ia terus berlari keluar dari Rumah, Bik Ipah mengejarnya dari belakang.


"Non!" Bik Ipah memanggil Latika, suaranya menggema di langit-langit Rumah, berlari menuju Pintu depan.


Mang Juneb yang berada di depan pagar terheran-heran melihat Latika berlari sambil menangis melewati halaman Rumah yang cukup luas di tambah lagi melihat Bik Ipah yang ada di belakangnya memgejar Latika.


"Non kenapa, Non?," tanya Mang Juneb ketika Latika melintas di hadapannya.


Latika tidak menjawab, ia terus lari melewati Mang Juneb, menyeka air mata yang tumpah di pipinya


Kepala Mang Juneb tumbang ke samping melihat Latika, tanda tanya memenuhi otaknya.


"NEB NEB CEGEH NON!!!" Bik Ipah meneriaki Mang Juneb dari kejauhan, separuh halaman Rumah. Nafasnya sudah tak beraturan lagi, berhenti berlari, tersengkal, atur nafas, kembali lari. Bik Ipah sudah jarang lari-lari kayak gini, baginya ia seperti berlari mengelilingi lapangan bola sepak.


Tampa disuruh dua kali dan banyak tanya, Mang Juneb langsung mengejar Latika.


"Non Berhenti, Non!!!" Mang Juneb meneriaki Latika.


"Jangan kejar Latika, Mang. Latika ingin pergi."


Latika tetus berlari tampa melihat-lihat lagi keadaan sekitarnya.


Hingga...


Braakkk..


Latika terserempet motor.


Langkah Mang Juneb, dan Bik Ipah sempat terhenti terkejut melihat Latika terserempet Motor.


"Astaufirullah, Non." Mang Juneb mengusap dada.


"Ya Allah, Non." Bik Ipah terkejut, menutup mulutnya.


"Aduh... Sakit," rintih Latika, mengusap kakinya yang terasa nyeri.


Orang yang menyerempet Latika, menoleh melihat Latika terduduk di jalan beraspal, tampa pikir panjang lagi ia lari melaju bersama Mototnya.


Latika melihat orang yang menyerempetnya sudah lari, cepat ia bangun ketika melihat Bik Ipah dan Mang Juneb memdekat. Latika kembali berlari dengan kaki yang nyeri, terpatah-patah ia melangkah berlari.


"Hosh... Neb... Neb... Berhenti Neb. Bibik lelah." Bik Ipah memanggil Mang Juneb di depannya, tangannya melambai tak sanggup lagi berlari. Nafasnya tidak beraturan, berhenti berlari terduduk di jalan beraspal, tersengkal, meatur kembali nafasnya.


Mang Juneb berhenti, tersengkal,


"Non cepat sekali larinya. Padahal perempuan atau aku yang lambat."


Mang Juneb memegang perutnya yang besar macam ibu-ibu yang hamil 9 bulan.


"Neb... Kita pulang, beritahu kepada Tuan biar Tuan saja yang mengejar Non." Susah payah Bik Ipah bangkit dari duduknya, sedikit oleng.


Mang Juneb meangguk mengiyakan, tidak banyak bicara.


***


"Hiks... Hiks... Hiks..." Latika terisak-isak menangis. Langkahnya melambat, ia semakin menjadi menangis meingat kenangan dia bersama Afriadi dan marahnya Afriadi, ia baru sadar kalau dia juga mencintai Afriadi selama ini.


Masakan dan minuman yang ia buat untuk Afriadi merupakan bentuk dari cintanya. Perasaan ingin di puji, cemburu juga merupakan bentuk dari cinta itu.


Setiap kalimat dalam hatinya, seketika memori kenangan itu terputar kembali.


"Semuanya sudah jelas.


Aku terlalu bodoh, aku telah menyakiti perasaan Abang selama ini, kenapa aku tidak peka?"


"Hiks... "Aku bodoh, aku tidak pantas bersama abang."


"Hiks... Maafkan Adek, Bang. Adek salah."


"Hiks... Maafkan Adek, Bang. Adek salah."

__ADS_1


"Adek tidak menyadari apa yang Adek lakukan selama ini salah, Adek dekat dengan laki-laki lain sedangkan Abang Adek jauhi."


"Hiks..."


"Adek terlalu bodoh."


"Adek tidak mengerti perasaan ini, Adek tidak mengerti perasaan Abang."


"Hiks..."


"Abang benar, Adek tidak mengang tidak mengetahui arti pernikahan ini."


"Selama ini Adek hanya menganggap pernikahan ini hanya main-main saja, tiada artinya sama sekali bagi Adek, Adek egois.


Sekarang Adek paham..."


"Aku harus minta maaf."


"Percuma Abang tidak akan mendengarkan Adek. Abang tidak akan maafkan Adek, tidak ada maaf lagi untuk Adek. Hiks..."


"Abang... Maafkan Adek."


Latika menghapus air matanya, langkahnya terhenti, menunduk, kalimat tersebut berkali-kali ia ucapkan di dalam hatinya.


"Abang... Maafkan Adek."


"Abang... Maafkan Adek."


"Abang... Maafkan Adek."


***


"Hyaa..."


Krrreekk...


Afriadi meninju cermin di Kamar Mandi miliknya.


Tes... Tes... Tes...


Darah segar mengalir dari sisi tangan Afriadi yang terluka.


"Ya Allah, Tuan." Bik Ipah muncul di ambang pintu Kamar Mandi, terkejut melihat cermin retak berbercak darah dan Afriadi yang di lantai bersandar di dinding dengan tangan terluka.


"Astaufirullah, Tuan." Mang Juneb muncul di sebalah Bik Ipah. Matanya silih berganti melihat darah di lantai, di cermin, dan di tangan.


Bik Ipah menghapiri Afriadi, tangannya gemetak bergerak tak karuan ingin menyentuh Afriadi, "Neb... Bawa Tuan keluar dari sini, Bibik ambilkan kotak P3K dulu."


Bik Ipah mengambil kotak P3K di balik cermin, Mang Juneb memapah Afriadi keluar dari kamar mandi.


"Beucap tuan. Astaufirullah," kata Mang Juneb mendudukkan Afriadi di tempat tidur, mengusap dada Afriadi.


Tubuh Afriadi lemas sekali.


Batin Afriadi beucap, "Astaufirullah. Kendalikan dirimu Afriadi, kendalikan."


Tidak lama kemudian Bik Ipah datang membawa kotak P3K.


Bik Ipah meraih tangan Afriadi yang luka, dan mengobatinya.


"Tuan Non kenapa kenapa lari-lari? Apa Tuan bertengkar dengan Non?," tanya Bik Ipak, membaluti tangan Afriadi.


Afriadi tidak menjawab ia hanya diam saja, Mang Juneb memijat-mijat pundak Afriadi.


"Mang, jangan di pijat." Afriadi mengoyangkan bahunya.


Mang Juneb menjauhkan tangannya dari bahu Afriadi.


Bik Ipah selesai dengan luka Afriadi


"Tuan tadi Nona terserempet Motor."


Afriadi tidak mendengar utuh kalimat yang diucapkan Bik Ipah, ia dengar hanya kata 'Nona' selebihnya terdengar samar-samar.


"Bik, jangan bahas dia." Afriadi berkata pelan, tak bersemangat.


"Tapi-" Belum sempat Mang Juneb menyelesaikan kalimatnya, Afriadi sudah memotong Kalimatnya,


"Mang Tinggalkan aku sendiri.


Aku tidak ingin diganggu."

__ADS_1


Afriadi berkata lemah, seakan ia tidak berjiwa lagi.


"Ayo Bik, kita keluar." Mang Juneb meajak Afriadi keluar.


"Tapi-" Bik Ipah tak mau pergi.


"Sudah keluar dulu." Mang Juneb memakasa Bik Ipah dengan menarik tangan Bik Ipah.


Afriadi menghempaskan tubuhnya ketempat tidur, dalam pikiranya masih terbayang-tabayang pertengkaran tadi.


Sekilas terdengar olehnya suara samar Latika.


"Abang... Maafkan Adek."


"Iya. Abang maafkan," kata Afriadi dengan mata terpejam.


Kamar remang, sepi hanya terdengar suara detak jam di dinding.


Pikiran Afriadi mulai tenang.


***


"Aku harus kembali... Aku harus kembali..."


Latika membalikan badanya ingin kembali ke Rumah menemui Afriadi.


Di belakang Latika berhenti sebuah mobil berwarna hitam, di dalamnya keluar 1 orang berjalan mendekati Latika.


Tiba-tiba...


Hup...


Mulut Latika di tutup dengan tangannya, di tarik paksa masuk ke dalam mobil.


"Hummm...


Hummm...," guma Latika memberontak menolak masuk ke mobil.


Tak...


Latika menginjak kaki orang itu, kerena kesakitan Latika terlepas darinya.


Tubuh Latika yang sudah lemah dari tadi berlari terus, tidak kuat lagi untuk berlari.


Sampai orang itu berhasil menangkap Latika.


"Tolong... Tolong...," teriak Latika segara di tutup mulutnya dengan orang itu.


Percuma tidak ada yang akan menolong, di jalan itu sepi tidak ada orang yang ada di sana.


"Hummm..." Latika memberontak, mulutnya terlepas dari tangan orang itu, "ABAAAAAANNNNG..."


Latika teriak sekencang mungkin.


Latika mencoba untuk melawan tapi percuma juga, jurus silat yang baru dipelajari tidak bisa digunakan ia terlalu lemah.


Dengan susah payah orang itu melumpuhkan Latika.


"APA YANG KAU LIHAT? CEPAT BANTU TEMANMU," teriak seseorang di dalam mobil kelihatan seperti boss mereka.


Tambah 1 orang lagi keluar dari mobil ikut membantu temanya melumpuhkan Latika.


Ia mengeluatkan sapu tangan dari sakunya yang sudah diberi obat bius.


Tap...


Sapu tangan itu menempel menutup mulut dan hidung Latika.


Latika semakin melemah, tubuhnya tumbang.


Sebelum ia pingsan, ia memanggil Afriadi dalam diam, "Abang... Abang... A-Abang..."


Latika pingsan.


Cepat mereka membawa Latika masuk ke mobil, dan langsung pergi.


Sekilas terdengar lagi oleh Afriadi suara samar-samar Latika memanggilnya.


"Abang..."


"Hah..." Mata Afriadi langsung melek.

__ADS_1


__ADS_2