Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Lembar baru akan dimulai


__ADS_3

Ujian berlangsung.


Latika berjuang, berperang dengan soal, tangannya sudah memengang senjata yang ampuh untuk membantunya menjawab soal, moss. di depan komputer


Nandi dan Qilan juga berjuang. Sayangnya Hasan tak bisa bantu sekarang dia lagi di luar kota.


Qilan kembali lagi ke kampung itu di temani Nandi.


"Apa!" Nandi terkejut, matanya berkedip sebelah disertai senyum kakunya.


Hening terasa Balai Desa ini.


"Aa..." Mulut Qilan terbuka lebar. Sanggar mengejutkan sekali kabar yang mereka dapatkan seharusnya kabar gembira malah kabar buruk, "Mereka tidak ada. Ke mana mereka?"


"Pak Kades, Pak RT, Rawi ,dan Pak Imam pergi keluar kota. Mereka ada urusan mendadak. Sekitar 3 hari lagi akan kembali," kata Haspu yang duduk seberang merka.


"Aduh, lama sekali. Urusan apa sih?" Nandi menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kita jemput saja. Di mana alamatnya?" kata Qilan.


"Aaa... Saya kurang tahu juga," kata Haspu dengan ekspresi bodoh amat dengan urusan mereka.


Qilan merasa jijik dengan wajah sok itu, mudah saja ia membentak, "Tapi, kau satu-satunya orang yang tahu mereka pergi ke mana. Kami hanya minta alamatnya saja."


Tuh kan benar Qilan meledak.


"Saya lupa," kata Haspu masih dengan ekspresi menggundang marah.


"Ini orang. Tak berubah juga. Ancam saja." Qilan berseru dalam batinnya.


Kalau bukan karena dia satu-satunya lagi tahu di mana keempat orang itu pergi ke mana. Kalau keruarga mereka tahu ke mana mereka pergi, pasti Qilan dan Nandi pergi ke sana bertanya. Mau bagaimana lagi toh mereka tak tahu padahal keluarga yang mereka tahu hanya pergi ke kota saja ada sesuatu yang di urus.


"Kalau begitu kau ikut kami. Antarkan kami pada mereka, setidaknya kau ingat-ingat sedikit kan dengan alamatnya. Tak mungkin juga kau lupa, kau hanya malas untuk ingat saja," celoteh Nandi.


"Sini biar aku bantu ingatkan."


Qilan merekukkan jari-jarinya.


"Ikut kami atau tidak," kata Nandi.


"Ha ha.. Iya." Haspu meangguk setuju dengan wajah yang pucat, "Tapi, aku mau beri kabar dulu pada keluarga."


Qilan dan Nandi saling pandang, tak setuju mereka mau cepat. Terpaksa seret Haspu masuk mobil, titip pesan saja pada mereka yang ada di sana minta sampaikan pada keluarganya.


Hari itu juga mereka pergi ke luar kota cari Pak Kades, Pak RT, dan Pak Imam.


***


Karena ujian dan Latika dapat ronde 2 jadinya dia sempat menjenguk Afriadi.


Waktu mereka terlalu sedikit untuk bicara.


Mau tak mau Latika harus pergi.


Sedangkan Nandi dan Qilan keliling kota mencari alamat 4 orang itu.


Sudah di telpon namun tak diangkat mereka, Qilan yang geram rasa-rasanya mau meledak, sasarannya satu si Haspu itu.


Itu kota luas bukan kayak desa kecil. Lagian Qilan dan Nandi tak begitu hapal dengan jalan-jalan kota, terpaksa mehandalkan Google Maps.


***


"Hiks.." Latika tertunduk menangis teringat lagi dengan Afriadi.


"Latika. Jangan di pikirkan. Ini munum dulu. Kau harus kosentrasi untuk ujian."


Bu Laila duduk menemani Latika di kantor Kepsek.


"Ibu sudah dengar penjelasan dari Viana... Ibu paham masalamu, dan kenapa kau rahasiakan ini. Ibu juga akan melakukan hal yang sama jika ibu ada di posisimu. Jangan pikirkan ya. Fokus saja pada ujian. Afriadi pasti juga akan mengkatakan hal yang sama. Dia pasti tidak mau jadi beban pikiran Latika."


Laila memeluk Latika, menenangkannya.


"Hiks..." Latika menangis dalam pelukan Laila.


Sedangkan di Kantin Sekolah.


Para siswa siswi sibuk membicarakan berita itu.


Teman teman dekat Latika juga ikut membicarakan tentang berita itu, mengkaitkannya pada video viral dulu.


"Siapa yang menyebarkan berita itu?" tanya Sahri memainkan sendok garpu.


"Aku gak tahu." Salasiah meangkat bahu.


"Sungguh orang yang menyebarkan berita seperti itu orang yang jahat," geram Sahril.


Hana diam saja mendengarkan perkataan teman-teman.


"Aku tak menyangka juga. Kalau pak Afriadi dan Latika-"


BAAAK...


langsung terputus kalimat Salasiah lihat Hadi membentak meja khas dengan wajah garangnya.


"Tak bisakah kalian diam aku mau konsen!" geretaknya.


"Tapi, aku lebih tak menyangka lagi kalau yang menyebarkan berita itu salah satu murid SMA Ayubiyyah," gumam Salasiah melirik Hana.


"Hah..." Sahril terkejut, menatap serius Salasiah, "Apa kata kau sal?"


"Tak ada ulang-ulang," kata Salasiah.


"Sepertinya kau ada benarnya juga. Apa mungkin Kina," tebak Sahri.


"Kina tak ada, lah." Salasiah menundukkan kepalanya.


"Oh, iya." Sahril baru ingat, "orang yang menyebarkan berita itu berarti dia iri dengki dengan Latika. Menuduh yang bukan-bukan. Pantasnya orang seperti itu dihukum apa ya?"


BAAAK...


Sekali lagi Hadi membentak meja,


"Kalian bisa diam tidak. Dari tadi bicara melulu, coba buku itu dibaca sebentar lagi giliran kalian."


Hadi berdiri dari tempat duduknya.


"Kau mau kemana, Had?" tanya Sahril.


"Aku mau pulang. Lagian untuk apa aku di sini, aku juga sudah selesai. Lebih baik aku tidur di Rumah." Hadi pergi dari sana. Sebenarnya ia bukan terganggu membaca buku tapi, ia tak mau mendengarkan mereka membicarakan keburukan Latika.


***


"Ya Allah engkau maha mengetahui segalannya, engkau tahu ya Allah kalau hamba tak bersalah. Berikanlah kemudahan kepada hamba untuk keluar dari masalah ini. Berikan petujukmu Ya Allah ..." Afriadi berdo'a selepas sholat Isya', ia meminta pertolongan kepada Allah swt, tak ada lagi baginya tempat untuk meminta selalin Allah.


Setelah selesai Afriadi duduk bersandar di dinding. Tiba-tiba ada yang mendekatinya.


"Hey!" sapa orang itu galak, rambutnya panjang keriting, berkumis tebal, lengannya bertato, tubuhnya tegap. Dia menatap galak Afriadi, menakutinya namun Afriadi malah santai saja menatapnya.


"Ada apa?" tanya Afriadi, pandangannya teralihkan pada mereka yang berada di ujung saling berbisik, sepertinya takut dengan orang ini.


Sruuk...


Orang itu duduk di sebelah Afriadi, menghela nafas berat, menatap Afriadi yang tak getir menatapnya balik malah tatapan Afriadi menakutkan sekali di matanya.


Ia menelan ludah, melarikan pandangannya,


"Kau tadi melakukan apa?"


Afriadi mengerutkan alisnya, menjawabnya singkat, "Sholat."


Tes...


Air mata pria besar itu menetes,


"Sudah lama aku tak sholat, bahkan aku lupa bagimana cara melakukannya. Aku sudah lama hidup di kegelapan. Aku ingin kembali, aku ingin sholat disisa hidupku." Ia menatap Afriadi penuh air mata, menggenggam erat tangan Afriadi tindakannya membuat Afriadi terkejut bagai di sengat listrik, "Tolong ajari aku, bawa aku kembali ke jalan kebenaran."


Afriadi meangguk, "Baik."


"Hey! Kalian sini!" bentak orang itu pada mereka yang ada di pojok.


Tanpa disuruh dua kali mereka mendekat.


"Ada apa Bang?" tanya salah seorang dari mereka.


"Pakai nanya lagi, cepat duduk. Kita belajar sholat," titahnya dengan nada menyergah.


Mereka semua meangguk duduk berkumpul mengelilingi Afriadi membentuk setengah lingkaran.


"Dimulai guru," kata pria galak berhati lembut itu.


Afriadi tersenyum, hatinya mengucap Basmallah, lalu menjelaskan sholat itu apa? Bacaan apa? Karena mereka dulu pernah sholat bacaan sholat masih mereka ingat dan itu memudahkan Afriadi. Karena waktu sholat Isya'masih ada mereka di minta Afriadi untuk melaksanakan sholat berjama'ah, keluar satu-satu dari sel di temani Afriadi untuk di ajarkan wudhu. Setelah semuanya selesai meambil air wudhu mereka melaksanakan sholat isya' berjama'ah dan Afriadi jadi imam.


Selepas sholat mereka terbaring berjejeran, sambil menunggu mata mengantuk, mereka bertanya pasal sholat dan masalah agama. Satu persatu pertanyaan mereka Afriadi jawab dengan mudah dan menggunakan bahas yang mudah mereka pahami.


Jangan tanya kenapa Afriadi bisa menjawab, toh dia dulu pernah sekolah di pesantren selama 7 tahun dari kecil sudah di lempar ke pesantren sampai naik kelas 2 sederajat SMP Afriadi di minta pulang sama Mamanya untuk sekolah di kota saja. Afriadi setuju-setuju saja paham kalau mamanya rindu dengan anaknya dan tak mau pisah jauh apalagi setelah mamanya masuk rumah sakit gara-gara kadar gula naik jadinya minta Afriadi di dekatnya terus takut satu saat nanti saat mereka berjauhan dia meninggal tanpa diketahui anaknya.


Sebelum pulang ke kota Afriadi minta berkat pada gurunya di pesantren atas ilmu yang diberikan, dan mungkin semua ini yang ia rasakan, ingat, dan ajarkan merupakan berkat dari gurunya.


Selesai dengan pertanyaan satu persatu para tawanan mulai tidur, tapi si galak berhati lembut itu belum tidur juga ia bercerita tentang hidupnya dulu yang penuh dengan kekerasan dan kemaksiatan.


Di sela-sela ceritanya ia bertanya, "Apa Allah mau meampuni dosaku ini? Aku sudah banyak berbuat dosa dan maksiat, aku jarang meingatnya."


Lagi-lagi pertanyaan itu dengan mudahnya di jawab Afriadi, lengkap dengan dalilnya dan cerita-cerita orang ahli maksiat hijrah menjadi orang ahli ibadah.


Selang beberapa menit.


Si galak berhati lembut sudah tidur.


Suasana penjara jadi sepi.


Afriadi jadi ingat dengan Latika.


"Adek lagi apa ya? Apa dia sudah sholat? Apa dia sedih lagi? Apa di tidak belajar untuk ujian? Apa Adek memikirkan Abang?"


Begitu banyak pertanyaan yang timbul dalam benak Afriadi.


"Selamat malam Dek.


semoga Allah melindungi Adek," guma batin Afriadi, memejamkan matanya mulai tidur.


Sedangkan Nandi dan Qilan harus bermalam di Hotel bersama dengan mereka.


Ya, Nandi dan Qilan berhasil menenukan alamat mereka, di bantu dengan Hasan yang datang membantu mereka mencari alamat, kebetulan Hasan berada di sana juga.


Mereka mau langsung kembali ke kota.


Tapi, Nandi usulnya untuk tidak dulu, soalnya malam berbahaya juga.


***


"Hiks... Abang..."


Latika terbaring di tempat tidur dengan air mata yang menetes membasahi pipinya, ia melepas rindu dengan Afriadi dengan melihat-lihat foto Afriadi di ponselnya.


Bermacam-macam gaya persis model papan atas.


Kenangan manis dan pahit teringat oleh Latika. Teringat ia saat Afriadi memarahinya soal oppa, Latika hanya bisa tertawa setelah mengingat mereka baikkan dengan mudahnya dan perkataan Afriadi yang memuji dirinya sendiri.


Karena terlalu banyak menangis membuat ia mengantuk sampai tertidur, perlahan ponsel di tangannya terlepas.


Ke esokan harinya Latika tak bisa menjenguk Afriadi soalnya ia sudah terlambat ke sekolah.

__ADS_1


Ia mau menjenguk Afriadi, tapi Viana tidak memberikannya terus melaju menuju sekolah.


Di dalam mobil mereka berdebat.


"... Latika, kau harus ke sekolah sekarang. Sebentar lagi kau masuk ujian," kata Viana tegas.


"Engak kak, aku mau melihat Abang sebentar saja. Pliss.." Latika memohon dengan nada memaksa.


"Tidak Latika,"


Viana seperti mamak-mamak yang memarahi anaknya.


"Kak.. Aku mohon sebentar saja." Latika tetap memaksa Viana.


"Tidak. Ujian dulu ya. Habis itu kamu baru boleh melihat Afriadi. Lagian dia juga akan mengusirmu jika kau ke sana," tegas Viana.


"Tapi, kak-"


"Latika dengar kakak. Kau ujian dulu, habis ujian kau boleh melihat Afriadi kalau perlu bermalam di sana biar polisi itu tahu kalau kalian itu Suami-Istri. Lalu mereka membebaskan Afriadi."


"kak." ಥ_ಥ


"Aaah.. Bodo amat. Ke sekolah dulu." Viana tidak menghiraukan rengekan Latika (눈‸눈) terus melaju ke sekolah.


Latika di paksa pergi ke sekolah.


Sesampainya di sana Latika tak mau masuk, terpaksa Vina menyeret Latika masuk. Sambil membawanya menuju ruang ujian ia mengomeli Latika persisi emak-emak memergoki anaknya kabur dari sekolah.


Jam berlalu.


Latika keluar dari ruang ujian, ia sudah selesai ujian. Ia berjalan melelui lorong kelas yang sepi, ia menghindari untuk bertemu para pemilik mulut mesin jahit biasalah mulut mereka itu bicara terus bising pula tu mirip mesin jahit cepat menyatukan kain tak lupa dengan suaranya yang juga ikut.


Langkahnya terhenti ketika merasakan getaran di tangannya, di lihatnya ponselnya berdering pesan masuk dari Viana.


Latika meangkat panggilan Viana, dia hanya memberitahu kalau dia lagi di perjalanan untuk menjemputnya.


Di sisi lain.


Hana dan sohibnya terlihat sibuk sekali, celengak-celengok melihat kiri kanan seperti mencari sesuatu.


"Aku harus bilang yang sebenarnya. Di mana Latika?" batinnya berseru cemas, jari-jari tangannya terasa gatal, gelisah mau bicara sesuatu pada Latika.


Selang beberapa menit di pembelokan mereka melihat Latika melintas.


Salasiah menujuk tak bersuara, menepuk kuat bahu Nana, yang di tepuk cepat menoleh melihat mengejar Latika.


"Latika!!" panggil Nana menghentikan langkah Latika.


Latika menoleh melihat mereka yang mendekat. Langkah mereka melambat ketika jarak mereka dengan Latika sudah semeter.


"Ada apa?" tanya Latika datar menggenggam erat ponselnya.


"Hana bicaralah." Salasiah menyenggol bahu Hana.


"La-Latika..." Hana tergagap-gagap menyebut Latika.


"Ya." Latika bingung dengan teman-temannya yang berekspresi lain dari biasanya.


"La-Latika ma-maafkan a-aku. Aku mita maaf." Hana tergagap-gagap minta maaf.


"Ha.." Latika kaget, kenapa Hana minta maaf? "Maaf soal apa ini?"


"Aku tahu aku salah Latika. Hiks..."


Hana menangis memeluk Latika, "Aku tahu aku bersalah. Jadi aku mohon maafkan aku."


"Kau ada salah dengan aku, masalah apa?" tanya Latika penuh kebingungan.


"Se-sebenarnya... Sebenarnya... Sebenarnya A-aku yang melaporkan Pak Afriadi ke Polisi dan video itu aku juga yang buat."


"A-apa?" Latika kaget, menatap Hana tak percaya, rasanya seperti ada listrik yang menyengat telinganya.


Ya, Hana lah yang melaporkan soal pencabulan itu pada polisi.


Hana sudah tahu kalau Afriadi adalah Suami Latika ia tahu lebih dulu tahu dari pada Nana.


Dari mana Hana tahu kalau Afriadi adalah Suami Latika?


Waktu itu hari Minggu Kina datang ke Rumah Hana, ia banyak membantu Hana menyiapkan pesanan kue. Tengah hari Kina pergi mandi, dan ia lupa dengan ponselnya yang tidak berkunci lagi gara-gara pacarnya semalam memainkan ponselnya jadi pola pola ponselnya di hapus dan Kina lupa mau buat pola lagi.


Saat Kina mandi Hana diam-diam mengintip ponsel Kina, ia tahu ponsel Kina tak berkunci ia melihatnya tadi kina membuka ponselnya tidak berpola atau bersisik jari. Cepat ia melaksanakan misinya niatnya mau menghapus foto dia dan teman-temannya tanpa sengaja ia melihat poto Afriadi dan Latika di tangga berciuman, dan masih banyak lagi foto mereka berdua.


Mulut Hana terbuka lebar saat lihat foto mereka berdua kaget cepat ia memindahkan foto itu ke ponselnya dan tak lupa menghapus semua bekas pengiriman.


Sejak hari itu Hana sudah mengetahui kalau Latika pacaran dengan Afriadi. Seiring berjalannya waktu Hana cemburu dengan Latika dan selalu saja dia bertemu mereka apalagi setelah tahu Latika makan malam di restoran milik ayahnya.1


Sampai ia tergoda untuk balas dendam pada Latika, merasa dirinyalah yang pantas untuk Afriadi bukan Latika. Entah apa untungnya, Hana hanya mengikuti


nafsunya.


"Kenapa kau lakukan ini Hana? Hiks..." tanya Latika ikut menangis.


"Maaf Latika aku iri dengan kau, aku iri karena kau memiliki Pak Afriadi. Maafkan aku Latika, aku tahu aku salah. Hiks... Maaf Latika..."


Hana memeluk Latika lagi. Ia menangis di pelukan Latika penuh penyesalan.


Di belakang Nana tersenyum lebar, lega dirasanya. Sudah berhasil mengetahui siapa yang memfitnah Latika.


Kemarin pas selesai ujian pertama Nana memergoki Hana di atas gedung sekolah.


"Apa yang kau lakukan Hana?" tanya Nana datar, menatap tajam Hana di hadapannya.


Wuus...


Angin bertiup kencang mengibarkan jilbab dan pakaian mereka.


"Apa urusannya padamu?" Hana acuh.


"Tentu saja ada, Hana. Kenapa kau melakukan semua ini? Apa untungnya untukmu? Bukan kau saya yang menaruh perasaan pada Pak Afriadi, aku juga menaruh perasaan padanya. Tapi, aku sadar kalau bukan dia saja pria di dunia ini, masih banyak pria di luar sana yang lebih baik... Latika temanmu Hana dan juga temanku. Kau tega melakukan ini padanya? Kau tak punya perasaan kah Hana? Sudah lama kalian berteman, apa kau mau menghancurkan pertemanan kalian hanya karena cinta buta kau? Sadar Hana semua yang kau lakukan salah..." Nana mengguncang tubuh Hana, ia mejelaskan dengan tegas.


Hana sempat bertanya curiga pada Nana, untung Nana pintar menjawab.


Kecurigaan Nana semakin kuat setelah ia mendapat kabar yang heboh itu.


Pikirannya sudah terbayang dari orang yang tersangka.


"... Bilang yang sebenarnya pada Latika. Jangan rusak pertemanan kalian..."


Hana terlihat gelisah, tak terasa air matanya menetes.


Nana menghilangkan kegelisahannya dengan memeluknya, "Tak apa, jangan takut. Aku akan temani kau untuk bicara padanya. Latika pasti paham,"


Hana menangis sejadi-jadinya, tak bisa berkata-kata lagi. Untunglah Hana mau mendengarkan Nana dan sekarang ia menangis tersedu-sedu di pelukan Latika menyesal.


Mendengar pengakuan Hana dan penjelasan Hana. Bismillah Latika memaafkannya tapi tak tahulah Afriadi.


***


Sesampainya di Rumah, Latika cemberut menaiki anak tangga. Ia kecewa dengan Viana karena tidak mengajaknya ke Kantor Polisi malah membawanya pulang.


Sepanjang langkah kakinya menaiki anak tangga, sepanjang itu juga air matanya tumpah teringat dengan Afriadi.


Langkahnya terhenti sebentar di depan pintu kamar, ia masuk dengan kepala yang tertunduk, perlahan kepala Latika terangkat matanya terbuka lebar terkejut lihat kehadiaran sosok yang duduk di tempat tidurnya, dengan senyuman dan tangan terbuka lebar siap terima pelukan.


Ya dia Afriadi. Terpatah-patah langkah kakinya mendekati Afriadi. Latika tak percaya kalau di depannya Afriadi,


Berkali-kali Latika mengkucak matanya, melihat dengan teliti Afriadi ilusi atau nyata.


PLAK...


Afriadi dapat tamparan dari Latika, bukanya pelukan malah tamparan yang ia dapat.


"Aduh, sakit Dek." Afriadi merintih menggusap pipinya yang pedas bekas tamparan Latika.


"Asli." Latika kira Afriadi hanya hayalannya saja, karena terlalu rindu dengannya jadinya terlihat nyata, "Abang."


Drapp..


Latika memeluk erat Afriadi membuat Afriadi sulit bernafas.


"Hiks... Abang."


"Sudahlah jangan nangis lagi, Abang sudah ada di sini." Afriadi mengusap kepala Latika, menenangkannya yang menangis meraung-raung.


Sekitar jam sebelas Afriadi keluar dari penjara. Ia berpisahan dengan mereka para tahanan, tak lupa saling mendoakan yang terbaik.


Di luar Afriadi sudah di sambut dengan sohibnya, lega rasanya keluar dari penjara. Tak sabar Afriadi mau bertemu Latika.


Afriadi menghapus air mata Latika menggunakan jempol tangannya.


"Adek rindu Abang."


"Ya, Abang juga."


Latika memeluk seerat mungkin Suaminya itu, rasa gembira yang tak bisa digambarkan. Mereka bahagia sekali, Kali ini Latika bertindak ia mencium pipi Afriadi yang sudah lama tidak ada di sampingnya.


Padahal haya beberapa hari lo.


Sampai ke malam, Latika selalu nempel sama Afriadi tak mau jauh darinya, takut dia pergi lagi.


"Adek sayang Abang," kata Latika memeluk suaminya itu.


"Abang juga sayang sama Adek." Afriadi mencium kening Latika, mengusap kepalanya, "Tidur ya Dek."


"Abang jangan pergi. Abang di sini saja."


Afriadi tersenyum, "Ya, Abang tak pergi... Tidur ya."


Malam itu Afriadi tidur di kamar Latika, ia masih rindu.


Besoknya.


Afriadi kembali masuk ke sekolah.


Ngilu para Siswa Siswi lihat Afriadi, rasa takut timbul sebab beberapa hari terakhir mereka mengganggu Latika.


Seharian Afriadi menggurus semua yang menyangkut berita heboh itu. Sampai Hana ikut menghadap Afriadi mempertanggung jawabkan perbuatannya.


Dan untuk para siswi yang terlibat dalam pengeroyokan pada Latika. Satu persatu orang tuanya para siswi yang terlibat menemui Afriadi, membuat surat pernyataan jika mereka tak setuju angkat kaki dari sekolah, carilah sekolah lain kalau mereka diterima pula bisa murid yang di keluarkan dari sekolah dapat cap tak baik dari masyarakat dan sulit juga sekolah lainnya mau menerima mereka.


Satu minggu berlalu. Masalah fitnah itu dapat terselesaikan dalam videonya yang singkat di jelaskan semua beserta barang bukti, saksi dan ia memberikan penjelasan mengenai hubungan mereka yang tertutup.


Waktu berlalu, sampai tiba waktu perpisahan. Semua anak kelas 12 memakai baju perpisahan dengan warna biru muda serasi. Rangkaian acara yang sudah tersusun di buka dengan MC.


Sampai tiba saatnya mereka semua menyanyikan lagu perpisahan secara bersamaan.


Tangisan Siswi kelas 12 semakin menjadi lagi setelah mendengar pidato singkat Afriadi yang memberi nasehat pada mereka.


Bagaimanapun tepuk tangan meriah yang didapatkan mereka ketika pesta pernikahan Latika dan Afriadi diumumkan sama Kamarudin di penghujung acara. Satu sekolah diundang.


Tak sedikit siswi yang menangis merelakan Afriadi.


Tapi para siswa malah sebaliknya, bahagia bisa makan enak, gratis lagi.


Setelah hari perpisahan itu, terlepas sudah kewajiban mereka semua di sekolah SMA Ayubiyyah ini, melanjutkan langkah mereka untuk mengejar cita-cita.


Mereka berfoto bersama untuk jadikan kenangan, tangisan pecah lagi setelah mereka berpisah dengan teman-teman yang sudah di anggap sebagai keluarga.


***


Dua hari sebelum pesta pernikahan.

__ADS_1


Latika dan Afriadi melakukan foto prewedding dengan fotografer pro.


Hasilnya memuaskan, Latika terlihat sangat cantik dan dewasa begitu juga Afriadi terlihat gagah dengan setelan baju berwarna putih menyesuaikan dengan Latika.


Pasangan yang serasi.


Tiba saat yang mendebarkan bagi Latika dan Afriadi.


Pesta pernikahan mereka yang di adakan di gedung besar, memberi tahukan pada semua orang mengenai status mereka.


Pergelaran pesta pernikahan mereka diadakan dengan meriah, panggungnya lebar dihiasi pernak pernik, cantik.


Latika deg deg degan selama ia dirias sama temannya sendiri, siapa lagi kalau bukan Salasiah. Yap, Latika yang meminta Salasiah untuk mertuanya sebab dulu Salasiah bilang mau merias temannya jika mereka menikah.


Jadinya Latika percaya pada Salasiah untuk merias Latika.


Salasiah juga dibantu dengan tim rias pengantin bibinya.


Wah, cocoklah Salasiah jadi make up aktris. Tangannya lincah menggunakan alat-alat make up.


Sedangkan di posisi lain.


Afriadi deg deg degan selama perjalanan menuju tempat pesta. Ia berpakaian rapi duduk di kursi belakang.


Hasan yang menjadi supir me m dari tadi memperhatikan Afriadi, begitu juga Qilan.


Pria yang berpakaian adat Melayu putih rapi dilengkapi dengan tanjak, songket, keris tak lupa di kenakan. Afriadi kelihatan gagah persis pangeran negeri Melayu, berkarisma kali.


Hasan dan Qilan tak henti-hentinya menggoda Afriadi.


"Malam pertama." Hasan menyeringai menggoda Afriadi.


"Au... Abang jangan keras-keras." Qilan menjerit pelan, memperagakan Latika nantinya.


"Wahahahaha..."


Gelak tawa memenuhi mobil.


Itu wajah sudah merah dengar godaan mereka.


"Fokus saja mengemudi Hasan," geram hati menutupi wajahnya yang merah.


"Ya, intinya selamat ya Af," kata Hasan serius gak bergurau lagi, "Yah, berarti tinggal kami berdua saja lagi yang belum nikah."


Qilan menatap Afriadi tersenyum mau menggoda lagi, tapi ia tak jadi setelah dapat tatapan mata tajam.


Afriadi terlihat gugup, ia melihat ke luar jendela mobil melihat pemandangan kota menenangkan dirinya. Cuman pesta Af, kau hanya duduk bersanding dengan Latika bukan mengucapkan ijab Kabul lagi. Gugupnya berlebihan juga.


Tak lama di perjalanan.


Mereka tiba di tempat pesta. Afriadi di sambut dengan gembira dengan orang terdekatnya, suami Bik Ipah dan keluarganya juga ada di sana.


Afriadi dibawa bicara sama mereka, untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Selang pembicaraan Afriadi teringat dengan Latika, ia pergi meninggalkan mereka menelpon Latika namun semua panggilan tertolak. Afriadi mulai khawatir, takut terjadi sesuatu dengan Latika.


Berkali-kali ia menelpon Latika, namun tetap saja panggilan tertolak.


Suami Bik Ipah melihat Afriadi panik dari kejauhan mendekatinya.


Ia bertanya ada masalah apa? Dan Afriadi menjawabnya Latika tak bisa dihubungi bahkan Salasiah tak bisa dihubungi. Ia takut terjadi apa-apa dengan dia.


Suami Bik Ipah mengusap punggung Afriadi menenangkannya, lalu memanggil Samsul suruh menyusul.


Selang beberapa menit Samsul kembali, Pira berbaju batik rapi itu memasang wajah tegang menujuk ke luar.


Lihat ekspresi wajah Samsul Afriadi mulai berpikir terjadi sesuatu dengan Latika.


Cepat ia keluar saat sampai di depan ambang pintu. Ia menghembus nafas lega setelah lihat mobil pengantin wanita telah tiba.


Cepat ia menyingkirkan semua pikiran negatif.


Wajah Afriadi bersemu setelah lihat Latika keluar dari mobil.


Jantungnya berdegup kencang, gak kuat. Gak gak gak kuat gak gak gak kuat aku gak kuat lihat Istriku ini.


Wanita yang memakai gaun pengantin berwarna putih itu, dengan riasan wajah yang sempurna, dengan stelan jilbab yang good plus dengan dengan hiasan yang memperindah.


Latika tersenyum berjalan perlahan mendekati Afriadi.


Ckrek... Ckrek... Ckrek...


Kamera bekerja memotret mereka.


Tak... Tak... Tak...


Langkah kaki Latika terdengar, sepatu putih itu bersuara merdu seiringan dengan detak jantungnya.


Ketika ia sampai di hadapan Afriadi.


Afriadi memberikan tangannya, Latika menerima dengan senyuman.


Mereka berjalan berdampingan menuju pelaminan. MC sudah heboh menyambut mereka, semua mata tertuju pada mereka, kamera bekerja memotret mereka.


Tak jauh dari pelaminan, mereka berhenti di sebuah gerbang buatan yang di hias sedemikian rupa cantiknya.


Mereka berhenti di sana beberapa menit untuk di bacakan shalawat dan do'a baru naik ke pelaminan.


Rasanya bercampur aduk antara gugup dan senang.


Ya, ampun mereka tersenyum melulu, jadi baper mereka yang jomblo.


Aduh, sungguh pasangan yang serasi baknya pangeran dan putri di negri dongeng.


Teman-teman Latika dan Afriadi sibuk mau berfoto dengan bermacam gaya.


Kejutan tak terhenti sampai di situ.


Afriadi menyanyikan lagu untuk Latika yang bertajub, 'engkaulah bidadari surgaku'


Ia bernyanyi selepas potong kue.


Kue tiga tingkat dengan hiasan yang cantik pakai patung pasangan pengantin lagi di atasnya.


Mereka potong kue mengikuti aba-aba dari MC, tak lupa makanya bersuapan.


Sorakan dan tepuk tangan didapati mereka.


Oh ya di antara mereka semua Hadi juga ikut bertepuk tangan ia dan keluarganya ada di sana hadir dalam pesta, agak kaget juga sih keluarga Hadi tahu kalau Latika sudah menikah, mereka paham kenapa Latika merahasiakannya. Keluarga Hadi juga berfoto tadi bersama pengantin.


Jangan tanya perasaan Hadi bagaimana? Ia baik-baik saja mendoakan yang terbaik untuk mereka.


***


Malamnya...


Malam pertama, Wak ( ꈍᴗꈍ)


Latika di kamar mandi membersihkan dirinya, ia lama sekali di kamar mandi ragu mau keluar. Mau sampai kapan ia di kamar mandi terus? Mau sampai besok? Sebenarnya Latika gugup mau keluar, ini kamar milik Afriadi jadi pas nanti ia pasang baju lalu Afriadi muncul tiba-tiba menerkam dia.


Cepat Latika mengibaskan tangannya menjauhkan pikiran negatif.


Cepat ia keluar dari kamar mandi.


Hooo... (°o°)


Latika kaget lihat Afriadi ada di sana duduk di tepi ranjang, tadi dia masih bicara sama suami Bik Ipah di luar sekarang ada di sini. Di luar dugaan, maka Latika pakai handuk mini pula tu.


Pandangan Afriadi tertuju pada Latika. Cepat ia menutup tubuhnya dengan tangan yang bersilang.


Afriadi menyeringai mendekati Latika yang takut-takut.


Afriadi melangkah maju Latika melangkah mundur sampai ia tak bisa mundur lagi dinding di belakangnya, mau kabur kedua tangan Afriadi sudah menempel di tembok, mengunci Latika.


Matanya tertutup, wajahnya mendekat mau kiss.


Aduh, Jantung Latika muai lagi, berdebar kencang.


Ketika bibirnya sudah hampir sampai...


Tup...


Latika menutup mulut Afriadi dengan telapak tangannya. Afriadi membuka matanya melihat Latika.


"Mandi dulu," titah Latika,menutup hidungnya, "Busuk."


Afriadi mengerutkan alisnya, mencium keteknya sendiri.


Hidungnya berkerut setelah cium bau keteknya, masam.


"Gak masalah," katanya mengejutkan Latika.


"Iiii..." Latika berseru jijik, mendorong Afriadi, "Mandi dulu."


"Sekali saja Dek," pintanya.


"Gak gak gak gak ada. Mandi dulu." Latika menggeleng kepalanya, pergi mengganti baju.


"Oke." Afriadi tersenyum masuk ke kamar mandi.


Latika menghela nafas, menoleh ke belakang memastikan ia sudah pergi atau belum. Untung saja ia terpikir begitu, cepat Latika mengenakan baju tidur lalu menyiapkan baju Afriadi. Cepat naik ke ranjang sebelum dia kembali.


Latika pura-pura tidur.


Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka dan tertutup kembali, Latika berusaha untuk tidur.


Afriadi menghela nafas lihat istrinya sudah tidur, cepat mengenakan baju lalu naik ke ranjang.


Kartika dapat merasakan ranjang dinaiki Afriadi, ia mencoba meram ketika dirasa Afriadi mendekat.


Bahunya disentuh serta digoyang membangunkan Latika,


"Dek, sholat Isya'sudah?"


Latika langsung melek, menoleh lihat Afriadi mengedipkan matanya beberapa kali, ia lupa belum sholat tadi ia pikir Afriadi akan menyerangnya tapi malah mengajaknya sholat sesama. Sebenarnya Latika ini mau atau menghindar?


"Sholat dulu yuk, baru tidur."


Latika meangguk, turun dari tempat tidur, meambil air wudhu siap-siap mau sholat.


Afriadi menjadi imam untuk kesekian kalinya, tapi sholat isya malam ini terasa beda sekali.


Setelah beberapa menit sholat isya Latika menyalami Afriadi, tak lupa dengan kebiasaannya mengusap kepala Latika saat salaman sambil membacakan doa untuknya.


Selang beberapa menit.


Afriadi berkata baik-baik pada Latika yang duduk di tepi tempat tidur, ia di bawah sambil memegang tangan Latika.


"Dek, malam ini Abang minta hal Abang boleh," katanya lemah lembut.


Latika meangguk mengizinkannya.


Mulut Afriadi komat Kanit baca do'a sebelum ehem. Dengan lembut ia mencium kening Latika.


Perlahan tumbang bareng jatuh ke ranjang.


Love love love malam itu.


Hum, malam yang sempurna untuk pengantin baru.


Besoknya lembar kehidupan baru dibuka dengan status berbeda dari yang dulu di mata masyarakat.

__ADS_1


~Sekian~


~Season 2 selesai~


__ADS_2