
Rasa cemburu
Hari ini Latika dapat hadiah yang sangat terkesan, dan juga merupakan kali pertamanya ia memcicipi minuman itu.
Rumah terasa ramai sekali. Apalagi ada pendatang baru, Latika puas bicara bahasa bajar sengan Suaminya Bik Ipah. Afriadi diam saja dengarkan kurang paham dengan pembicaraan mereka. Sari, bu Kost, dan Bik Ipah ikut-ikutan bicara bahasa banjar.
Hari ini terakhir Bu Kost bekerja di Rumah ini, besok Bu Kost tidak datang lagi seperti biasa, Karena Bik Ipah sudah kembali.
Tapi, Samsul tetap bekerja di sini. Afriadi memberinya pekerjaan tetap, lumayan gajinya dari pada jadi keamanan Bar gaji kurang lebih.
Hari-hari berlalu Latika terpaksa minum jamu, ia di paksa Afriadi untuk minum jamu sekurang-kurangnya 1 minggu sekali.
Setiap kali Latika tidak ingin minum, Afriadi pasti bilang, "Minumlah, habiskan hargai Bik Ipah yang susah payah buatkan ini.
Lihat Sari saja minum."
Kalimat pertamanya Latika setuju, kalimat teralhir Latika tidak suka.
"Asik-asik Sari Asik-asik Sari. Siapa sih Sari itu?" batin Latika mendelik, geram dengan Afriadi yang sering memuji Sari.
Tercium bau kecemburuan ini.
Beberapa Hari ini juga Afriadi sering bicara dengan Sari.
Latika mengamati dari jauh sambil mengremas tangannya, gatal mau ulek Afriadi.
"Mereka terlihat akrab sekali," guma Latika. Api cemburu keluar ini.
Kelihatanya di Rumah ini hanya Latika saja yang tidak ada teman bicara, Afriadi sibuk bicara dengan Sari entah apa yang dibicarakan, Bik Ipah dengan suaminya, Samsul dengan Mang Juneb.
Latika engan keluar kamar, ia mengurung dirinya di kamar curhat dengan teman di Grub.
*Grub 4 Kecebong*
——————————————————————
——————————
Nana
Malam semua.
——————————
——————
Nana
Malam.
——————
————————
Salasiah
Malam juga.
————————
——————
Latika
Juga. 😞
——————
————————————————————
Hana
Kenapa Latika kok emojimu sedih?
————————————————————
—————————
Salasiah
Ada masalah?
—————————
——————————————
Nana
Hah, pasti soal dia kan?
——————————————
—————
Latika
Iya 😞
—————
—————————
Salasiah
Loh, kenapa?
—————————
————
Hana
Iya.
————
——————————
Nana
Dia apakan kau?
——————————
———————————————
Latika
Hari ini aku di cuekin 😞
———————————————
————————
Hana
Loh kok bisa.
————————
————————————————————
Latika
Soalnya ada cewek yang ia dekati.
————————————————————
————————————————
Nana
__ADS_1
Lolololo... Siapa itu cewek?
————————————————
——————————————————————
Latika
Tak tahu aku tak berapa kenal betul dengan dia.
——————————————————————
——————
Salasiah
Gawat.
——————
——————————
Hana
Gawat kenapa?
——————————
—————————————
Salasiah
Bisa saja itu pelakor.
—————————————
————
Latika
😨
————
————
Hana
😨
————
——————————————————————
Nana
Iya. Bisa saja dia tak suka lagi dengan kau, lalu cari wanita lain. Seperti aku yang di tinggalkan doi. 😭
——————————————————————
————————————————————
Hana
Sabar.
Tapi, gak mungkin gitu juga kan.
————————————————————
——————————————————————
Salasiah
Bisa saja. Perasaan manusia itu bisa berubah-ubah.
——————————————————————
————————————————————
Latika
————————————————————
——————————————————————
Nana
Latika jangan panik. Selagi masih ada sedikit lagi rasa cintanya.
Lo, masih ada kesempatan. Bener juga itu.
——————————————————————
————————————————————
Latika
Tapi, apa yang harus aku lakukan?
————————————————————
——————————————————————
Nana
Kau beruntung mempunyai teman yang berpengalaman seperti kami. Langkah yang harus kau lakukan..........
Ikhlaskan saja.
——————————————————————
—————
Latika
😨
—————
——————————————————
Salasiah
Hoy! tak bisa seperti itu juga.
——————————————————
——————————————————————
Hana
Anu saja Latika. Kau pastikan dulu, apa benar dia selingkuh?
Tanya baik-baik.
——————————————————————
——————————————————————
Latika tidak menjawab. Ia meletakkan ponselnya. Perkataan Hana ada benarnya juga. Latika menyalakan Tv. Malam ini ia mau nonton drama korea yang sedih saja.
Selama Drama di putar, kena bagian yang paling menyakitkan saat tokoh utama Pria harus berpisah dengan tokoh utama Wanita, kekasihnya.
Latika ikut sedih sampai meneteskan air mata, dalam pandangannya tokoh Wanita itu dirinya dan tokoh Pria itu Afriadi.
"Hiks... Jangan tinggalkan dia."
Berjam-jam Latika habiskan di Kamar nonton itu Drakor. Emosinya juga ikut bermain.
Ia seakan lupa sesuatu.
__ADS_1
***
"Sar, kamu tidak kuliah?" tanya Afriadi duduk di kursi depan kolam renang, di temani Sari.
"Tidak, Mas." Sari menundukkan kepalanya memaikan jempolnya.
"Em." Afriadi menoleh melihat Sari di sebelahnya, "Mau kuliah?" tanya Afriadi tiba-tiba.
"Sari tidak ada biaya untuk kuliah." Sari berekspresi sedih.
"Mau tidak?" tanya Afriadi sekali lagi.
"Mau sih." Sari tersenyum kaky menggaruk kepalanya.
"Kalau gitu kau kuliah saja ya tahun ini.
Soal biaya jangan dipikirkan. Ambil jurusan pertanian saja. Mau kan?" tawar Afriadi.
"Benarah?" Sari terperanjat kaget, matanya berbinar.
"Iya." Afriadi meangguk.
"Alhamdulillah ya Allah. Terimakasih."
"Sama-sama."
Suasana jadi hening.
Afriadi menyeduh kopinya.
"Aku turut berduka cita atas kepergian orang tuamu," kata Afriadi meletak kembali gelas kopi luwaknya.
"Ya." Sari kembali sedih.
"Sudahlah. Jangan sedih lagi, di sini banyak orang yang sayang denganmu.
Apalagi dia, ya kan?" Afriadi menaik turunkan alisnya menggoda Sari di sertai senyuman.
"Siapa?" tanya Sari berirama, memundurkan kepalanya.
"Itu yang di depan." Afriadi menunjuk ke depan pagar dengan mulutnya.
"Aku saja tidak kenal." Sari meangkat bahunya, mengusap kedua lengannya.
"Kenalanlah dulu mana tahu nanti...
Lagian, kau tidak ada yang ikat belum kan? Hahaha..." Afriadi menahan tawa lihat ekspresi jijik Sari.
"Iiih, apaan sih."
"Hahaha..." Afriadi masih menahan tawa.
"Tuan." Samsul tiba-tiba datang, berdiri di belakang Afriadi.
Afriadi menoleh, "Panjang umur. Baru di sebut."
Mata Samsul dan Sari bertemu. Afriadi melihatkan saja sambil menyumbat mulutnya dengan kripik, Afriadi seperti nonton drama romen saat pemeran utama Pria pertama kali bertemu dengan wanita pujaan hatinya.
Sari memalingkan pandangannya, begitu juga Samsul seperti ada rona di pipi mereka.
Afriadi menyeringai, bertanya pada Samsul, "Ada apa?"
"Ah, bukan apa-apa Tuan, saya salah orang. Itu, Neng Bik Ipah manggil Neng."
"Oh, makasih sudah beritahu."
"Iya." Samsul menyengir lebar.
"Permisi Mas," kata Sari pada Afriadi meanggukan kepalanya dan kepada Samsul juga, "Mas."
Afriadi meangguk.
Sari pergi meninggalkan tempat itu.
"Ya..." Panjang ya Samsul melambaikan tangan.
Afriadi memperhatikan Samsul. Itu wajah Samsul merah bersemu
"Sepertinya ada yang sedang tertabrak asmara ini," guma Afriadi menyadarkan Samsul.
Cepat Samsul pergi meninggalkan Afriadi, menyembunyikan wajahnya.
***
Jam 10 malam.
Kreeet...
Pintu kamar Latika terbuka.
Afriadi masuk ke kamar Latika.
"Ataghfirullah. Adek Adek." Afriadi menggelang kepalanya, melihat tv hidup, orangnya yang nonton sudah tumbang tidur posisi memegang remot kepala hampir tersentuh lantai.
Afriadi membetulkan posisi tidurnya, menyelimutinya.
Afriadi duduk di bibir tempat, mengusap kepala Latika, "Kata ingin belajar, tapi malah nonton." Pandangannya teralihkan pada Tv yang masih nyala.
Afriadi melipat tangannya di depan dada, "Apalah yang Adek tonton ini. Huuh. Masih kerenan Abangmu ini Dek, dari pada dia." Ia memuji dirinya sendiri , melihat pemeran utama Pria dalam Drakor.
Afriadi meambil remot di tangan Latika, mematikan tv, ia berbalik memperbaiki posisi selimut Latika.
"Selamat tidur dek. Mimpi indah."
Afriadi mengusap kepala Latika sekali lagi, pergi begitu saja.
Beberapa hari lalu Latika bilang kepada Afriadi kalau ia akan fokus belajar untuk ujian jangan di ganggu, namun nyatanya dia lupa dengan ucapannya, malah cemburu terus lihat Afriadi dekat dengan Sari.
Hah, Latika Latika.
Paginya.
Hari minggu.
Afriadi menyuruh Samsul membawa mobil, mengajak Suami Bik Ipah dan Sari jalan-jalan keliling-keliling lihat kota, maklum Suami Bik Ipah jarang ke kota apalagi Sari, jadi Afriadi meminta Samsul untuk temani mereka. Ia tak bisa ikut karena ada urusan penting dengan Istrinya.
Latika mau ikut. Tapi, Afriadi melarangnya. Latika tinggal, karena ia harus bertanggung jawab dengan perkataanya pada Afriadi.
Di depan Rumah Latika protes melihat mereka pergi.
"Bang, Adek mau ikut boleh?" Latika menggoyang lengan Afriadi.
"Tidak." Afriadi menjawab tegas.
"Kenapa?" tanya Latika.
Afriadi menghela nafas, "Hah, kemaren Adek bilang kalau Adek mau belajar untuk ujian, tapi kenapa tak belajar juga malah nonton tv, main ponsel."
"Hahaha, ada ya Adek bilang begitu." Latika pura-pura lupa, menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Afriadi memutar bola matanya, "Adek seminggu lagi ujian bukan?"
"I-iya." Peluh sebesar biji jagung keluar, muncul di kening Latika.
"Mana ponsel." Tangan Afriadi menagih.
"Ha?" Latika melongo melihat tangan Afriadi.
"Ponselnya, Dek. Berikan pada Abang," tagih Afriadi.
Latika mengeluarkan ponselnya dari saku depan bajunya, gak rela memberikannya pada Afriadi.
Afriadi menarik ponsel Latika dari tangannya, tapi Latika malah menahannya.
Afriadi tersenyum menarik ponsel Latika juga ikut tersenyum menarik ponselnya, seketika senyuman Afriadi berubah jadi geretakan menarik paksa ponsel Latika.
"Sebelum ujian selesai, ponsel Adek Abang tahan." Ponsel Latika sudah berpindah tangan ke Afriadi.
Latika cemberut, "Ha, tapi-"
"Tidak ada tapi tapi." Afriadi memotong kalimat Latika, menarik tangannya masuk ke dalam, "Sekarang Adek belajar. Abang temani."
__ADS_1
Hari minggu ini Latika habiskan dengan belajar di temani Afriadi, kalau ada soal yang susah atau materi yang tidak di pahami langsung ia tanyakan pada Afriadi.