
Subuh itu cukup dibilang dingin, Afriadi yang memeluk Latika dengan pelukan yang hangat membuat
Latika terlalu terbuai olehnya, tapi pelukan itu hanya bertahan beberapa menit saja.
Ketika Latika sadar kalau ia berada pelukan Afriadi.
Mata Latika menatap Afriadi dengan tatapan yang tajam, Afriafi melirik ke arah Latika.
Perasaannya mulai tidak enak dengan tatapan itu. Ia melepaskan pelukannya.
"MODUS." Perkataan yang Latika keluarkan dari mulutnya memuat Afriadi membeku.
Latika keluar meninggalkannya, ia ingin marah, tapi tidak bisa perasaannya berkata lain, perasaannya...
Ah... Latika tidak tahu itu perasaan apa? Yang ia rasakan bahagia.
Ekspresi Latika memang kelihatan kesal, tapi perasaan tidak bisa diungkiri, perasaannya berbanding terbalik.
Beberapa jam kemudian.
Latika berdiri di depan pintu rumah, sudah rapi dengan segragam sekolah, menghirup udara segar pagi, ujung sepatunya mengetuk lantai beberapa kali menandakan ia siap untuk berangkat ke sekolah.
Afriadi keluar sudah rapi, tangan kirinya memegang tas, kali ini ia juga mengajak Latika ke sekolah bersama, "Yuk, berangkat."
Eh... Latika kaget, sudah berapa kali Latika bilang jangan mengajaknya pergi ke sekolah bersama nanti satu sekolah bisa heboh. Latika menggeleng, "Tidak. Bukannya Mang Juneb yang mengantarku."
Afriadi meangguk, "Hati-hati di jalan, Abang pergi dulu." Ia melangkah turun, masuk dalam mobil.
Latika menatap mobil Afriadi yang sudah jalan. Tak lama kemudian Mang Juneb datang, "Maaf Non. Mamang terlambat." Ia memberikan helem kepada Latika.
"Gak apa-apa Mang masih pagi juga." Latika menambil helem itu, mamakainya, naik ke motor, "Yuk berangkat, Mang."
Mereka segera berangkat meninggalkan rumah.
Sesampainya Latika di sekolah, ia melihat banyak siswa berkumpul di depan gerbang, duduk antusias dengar cerita Kodir.
Langkah Latika sempat terhenti penasaran. Tapi, ia mengurunkan niat dan melanjutkan langkahnya menuju kelas, sepanjang jalan ia mendengar siswa siswi mengatakan HANTU... HANTU... Dalam pikir Latika mereka hanya membicarakan filem hantu.
Latika jalan menuju kelas, ada 3 jalan menuju kelasnya. Di sana jalan ke kelasnya juga tapi harus melewati kantor kepala sekolah, ia tidak mau bertemu dengan dia jadi ia pilih jalan lain. 2 jalan lainya ada di sini, ia tinggal pilih kanan atau kiri, kalau ke kanan jalannya jauh sekali, kalau kekiri agak dekat, tapi harus melewati gudang.
Ketika ia ingin berbelok ke kiri Salasiah memangilnya, "Latika... Latika... Sini dulu."
Em... Latika menghentikan langkahnya dan menemuinya, "Ada apa?."
__ADS_1
"Jangan lewat sana." Salasiah melarang mengakibatkan timbulnya pertanyaan dari Latika, "Kenapa?."
"Jangan banyak tanya.
Pokoknya jangan lewat sana." Salasiah tidak menjelaskan, wajahnya pias ketakutan.
"Tapi, aku mau ke kelas." Latika menggeleng tidak mau ikut salasiah.
"Lewat jalan lain." Salasiah memaksa. Dibenarkan dengan Nana yang berada di sampingnnya, "Ya, Lewat sana dengan kami."
"Hah... Yang betul sikit, masa ia harus lewat sana, jauh.
Tidak mau, aku mau lewat sini saja." Latika berbalik mau lanjut jalan. Tiba-tiba...
Eeet... Salasiah menarik tangan Latika, "Jangan lewat situ, lewat sini saja, biarkan jauh yang penting selamat."
'Hah... Selamat dari apa ini?," tanya Latika.
"Selamat dari, Ha-"
Belum selesai salasiah mengucapkan kalimat terakhirnya, tiba - tiba...
BRAKKKKK....
"HANTUUUU....," terisk Salasiah dan Nana, deluan lari meninggalkan Latika.
"Salasiah... Nana....
Oi... Jangan pregi, Oi..." Teriak Latika memanggil mereka.
"Ada apa mereka melarangku lewat sini? Ah... Peduli amat, lewat saja."
Latika mengambil jalan kiri, jalan yang dekat dengan kelasnya, walaupun harus melewati gudang, ketika ia melewati gudang, perasaannya agak aneh sih, hawa dingin yang ia rasakan, dan bunyi keresak kerusuk dari dalam gudang.
Bulu kuduk Latika berdiri semua rasanya mulai aneh tapi, ia tetap melanjutkan langkahnya, tidak berani mengintip ke jendela gudang, terus saja berjalan.
Tiba - tiba...
BRUKKKK...
Suara barang jatuh dari dalam gudang.
Latika meloncat kaget dengan suara itu, hatinya sudah merasakan hal yang lain, pikirannya terbayang-bayang satu sosok, tertawa getir memberi keberanian pada dirinya, "Hahaha... Pasti tikus... Ya... Hanya tikus....
__ADS_1
Hanya tikus saja, bukan apa - apa Latika."
Latika mempercepat langkahnya, bukan mempercepat lagi, tapi lari.
Berapa menit kemudian setelah lari, ia sampai di depan kelas, nafasnya tersengkal tidak beraturan.
Tap...
Ada yang memegang bahunya, Latika membalikan badan.
Haa... Terkejut ia melihat Hana sampai tersandar ke dinding.
"Latika." panggil Hana memegang sapu habis piket.
"Hana... Aku kira siapa tadi." Latika mengusap dadanya masih terkejut.
"Kenapa ini?," tanya Hana tak tahu apa yang baru saja menimpa temannya itu.
"Tadi di gudang-" perkataan Latika terpotong oleh Hadi yang mucul di jendela, "Hah... Kau lewat sana?."
"Ya.. Aku lewat sana tadi." Latika menunjuk gudang.
"Seriusan..." mata Hadi melotot hilang dari jendela, muncul di depan pintu.
Latika dibuatnya kaget, "Yalah... Apa lagi."
"Kau tidak merasakan ada yang aneh lewat sana itu?," tanya Hadi penasaran.
"Ada sih. Ada apa memangnya lewat sana itu?." Latika tak tahu berta pagi ini.
"Kau tidak tahu?." Hadi menunjuk Latika, beralih menujuk Hana, "Kau tahu Hana?."
Latika menggeleng, Hana meamgkat sebelah alisnya.
"His, kata Pak Kodir malam tadi dia lihat HANTU di gudang itu." Mulut Hadi monyong menunjuk gudang.
"Haa... Seriusan ada hantu di gudang itu?." Latika kembali bertanya.
"Dengar kabar macam itu." Hadi menyeringai, menjawab santai.
"Pantesan saja aku merasa aneh lewat situ tadi." Latika menusap-usap lengannya yanh tiba-tiba merinding kembali meingat waktu di gudang tadi.
"Jangan percaya hantu itu tidak ada yang ada hanya setan yang menakuti manusia." Hana berkata bijak, menyapu teras kelas.
__ADS_1
Mereka berdua meangguk mengiyakan