Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Afriadi vs Wilona


__ADS_3

Hello semua.


sebelum mulai baca, author minta perhatian sebentar.


Maaf ya baru up, soalnya cerita yang author tulis hilang gara-gara reset hp. lagi-lagi author bingung nulis cerita ini dan gak tahu harus potong cerita ini dimana, jadinya panjang deh.


terimakasih perhatiannya.


selamat membaca


******


"Jangan bagi dia kabur, serang terus." Qilan bermain dengan semangat sampai lupa kalau tangannya sakit.


Hasan saja sampai bingung dengan manusia satu ini.


Saat mereka asik asiknya main.


Tiba-tiba..


Bulu kuduk mereka berdiri, angin dingin berhembus menggelitik leher mereka. Mereka tersentak kaget, berhenti main rasanya seperti ada sesuatu dibelakang mereka.


Dengan berani mereka menoleh ke belakang.


BAAA...


Mereka tersentak kaget lihat sosok pria gagah berdiri dihadapan mereka dengan kumis tebal bertenger anteng ditengah-tengah hidung dan bibir.


"Paman," sapa Hasan tersenyum kaku, begitu juga Qilan tersenyum kaku lihat sosok Paman Hasan yang galak.


"Kau tak kerja Hasan?" tanya Dio, Paman Hasan.


"Diberi cuti berapa hari," jawab Hasan lancar.


Alis Dio terangkat sebelah curiga.


"Lalu kau Qilan? Tak kerja?" pertanyaan dilempar pada Qilan yang dari tadi kelihatan kaku.


"Lagi gak ada kerja," jawab Qilan berusaha santai, namun tetap saja kelihatan kalau dia gugup menjawab pertanyaan Dio.


"Aku dengar kau cukup sukses memenangkan setiap pengadilan." Dio kembali berujar.


"Gak juga." Qilan menggaruk pipinya melarikan pandangannya dari Dio yang dari tadi menatapnya terus.


"Paman kesini mau apa?" Hasan balik tanya.


Gak ada jawab saja sekali, Dio langsung pergi aja. Hasan dan Qilan menghela nafas lega lihat Dio pergi.


"Huh... Pamanmu tak berubah juga ya."


"Yah, begitulah." Hasan naik duduk di atas sofa, "Huuus... Diam jangan bahas dia lagi. Nanti kita kena seleding."


Qilan angguk-angguk paham, toh mereka pernah kena seleding sama Dio waktu SMA cuman gara gara becanda doang.


Waktu berlalu.


Malam menjelang.


Lepas sholat Maghrib Latika turun kebawah membantu buk Ipah menyisipkan makanan. Selama Latika membantu Sari sekali memperhatikan Latika yang sedikit berbeda dari biasanya, biasanya ia sering bicara sekarang tidak diam saja dan pandangannya juga kosong.


Buk Ipah berkali kali menepuk bahu Layla tidak membiarkan ia melamun.


Afriadi juga begitu, selama makan ia yang jarang bicara sekarang sering bicara, sadar kalau istrinya itu melamun terus mengenang sesuatu yang sudah pergi.


"Dek." Sekali lagi Afriadi membuyarkan lamunan Latika.


Saat Latika sadar didepan mulutnya sudah ada sendok siap masuk kedalam mulutnya.


"Aaa..." Mulut Afriadi terbuka lebar menyuruh Latika membuka mulutnya. Latika menggeleng tak mau, tapi Afriadi tetap memaksanya.


Terpaksa Latika membuka mulutnya membiarkan Afriadi menyuapinya.


Pipinya sedikit merah, walaupun sering bersuapan tapi masih saja bisa tersipu malu kadang jantung berdetak tak normal.


"Aaa..." Afriadi menyuapi Latika lagi sampai makanan di piringnya habis. Senyum puas terukir diwajahnya, senang lihat istrinya makan walaupun dia tidak makan.


Waktu berlalu.


Lepas sholat isya' Latika tak keluar kamar sedangkan Afriadi tak bisa menemaninya sebab ada tamu di luar.


Selama bicara dengan tamu Afriadi terus kepikiran Latika, berharap para tamu pulang cepat. Ia ingin disisi istrinya yang lagi bersedih.


Berharap mereka pulang cepat malah lambat pulangnya sampai pukul 9 setengah mereka baru pulang.


Setelah Mekah pulang Afriadi bergegas masuk ke kamar menemui istrinya.


Yang benar saja ia lihat Latika sudah tertidur nyenyak dengan mata sebab kek habis nangis sudah kelihatan dari air matanya yang tergantung disisi mata siap meluncur.


Perlahan Afriadi beranjak naik, menarik selimut tidur menghadap Latika. Perlahan tangannya naik membelai kepala Latika, menatap lamat-lamat wajah yang masih bersedih itu.


Sekilas Ia mencuri bibir Latika.


Perlahan berkata, "Maaf."


Raut wajah Afriadi berubah sedih.


"Maaf Dek, semua ini tak akan terjadi kalau dulu Abang tak mengusik urusan mereka," gumam batin Afriadi.


Iya teringat waktu ia dulu ikut campur urusan Wilona.


Duluuuuuuuuu... Pas Afriadi menginjak bangku kelas 2 SMA. Masa darah muda berapi-api.


Kalian tahu lah waktu remaja rupanya seperti apa, tampan dan berprestasi. Dia juga pangeran sekaligus ketua OSIS di sekolah. Selalu duduk di kelas A nilai seksi bagus, hal yang paling disukai berdebat pakai bahasa asing.


Kebiasaan Afriadi waktu habis bimbel atau pulang dari latihan silat Afriadi menyempatkan dirinya datang ke satu tempat.


Tempat ia mendapat latihan tambahan, seperti menembak, menggunakan senjata dan latihan ala militer bukan sembarang orang yang melatih, melainkan mantan TNI yang sudah pensiun.


Awalnya sih dia tak mau mengajari Afriadi, karena usianya yang dibilang tidak muda. Kalian tahu kan mulut Afriadi ini waktu muda sangat manis kek gula, sekali pujuk langsung kena sulit mau dihindari.


Afriadi memberikan alasan alasan yang logis, apa boleh buat sudah termakan rayuan Afriadi akhirnya sang tentara menerima Afriadi sebagai muridnya.


Makanya Afriadi kalau ada waktu luang atau habis bimbel selalu ke rumah sang tentara, tapi gak sering juga setiap hari Minggu Afriadi libur pergi ke sana, dia ada urusan lain yaitu mengasah kemampuan atau mencari hiburan untuk menghilangkan rasa lelah seminggu beraktivitas.


Afriadi kerap pulang malam dan orang tuanya sudah terbiasa kalau Afriadi pulangnya lepas isya' toh dia juga sudah dewasa.


Satu hari di Sekolah Afriadi dapat desas-desus tentang salah satu anak di sekolahnya ada terlibat kasus narkoba, Afriadi juga tahu dari ayahnya yang mengeluarkan murid itu tanpa surat pindah sama sekali. Kecewa tergambar di wajah ayahnya, bagaimana tidak kecewa siswa itu salah satu siswa kebanggaan di sekolah, ia cukup berprestasi.


Awalnya Afriadi hanya diam tak ikut campur, karena rasa penasaran kenapa anak baik-baik seperti dia bisa terjerat kasus narkoba.


Terpaksa Afriadi mengunjunginya mahasiswa itu, ditempat ia direhabilitasi.


Nekat benar Afriadi, karena rasa penasarannya lebih besar mengalahkan rasa takut. Sampai di sana Afriadi mencari siswa itu sebelum masuk dia melapor dulu, tapi anehnya kata penjaga di sana tidak ada yang namanya siswa yang dicari itu dan katanya lagi siswa itu memang akan direhabilitasi di sini akan tetapi dia gak datang, karena dia kabur diperjalanan dibantu sama kelompoknya, polisi sedang mencarinya.


Afriadi sedikit kaget selain kecewa dan lelah yang ia rasakan, percuma juga datang kesini yang dicari tidak ada. Afriadi pergi meninggalkan tempat itu.


Diperjalanan Afriadi meriksa ponselnya yang sengaja ia matikan, takutnya nanti ada yang menelponnya menganggunya saja. Sekarang ia hidupkan mau menghubungi seseorang eh, waktu nyalakan ponselnya ada panggilan pesan suara masuk dari nomor yang gak dikenal, gak pakai lama ia dengarkan panggilan suara itu.


Awalnya dengar isi panggilan yang menyebut namanya dengan nafas tersengal dan lemah seperti habis kena hajar Afriadi segera Afriadi aktifkan rekaman, sekdama ia mendengarkan pesan itu.


Afriadi tahu siapa yang mengirimnya pesan siapa lagi kalau bukan siswa yang ia cari cari itu, cepat Afriadi tancap gas motornya ngebut dijalan.


Gesit ia melewati mobil-mobil, menyalip jalan orang lain. Terakhir ia berhenti di kantor polisi, melapor. Laporan Afriadi langsung ditanggapi ia diminta kejelasan, semampu dan sebisa Afriadi memberikan penjelasan.


Para polisi itu melacak nomor ponsel yang tak dikenal itu. Afriadi pun pergi setelah menjelaskan semua.


Ia ngebut membawa motornya melaju di atas aspal, melaju dengan sangat kencang menyalip kendaraan lain. Ia bergegas menuju satu tempat yang tak ia ingat saat pertama ia mendengarkan pamggilan suara itu bagian awalnya terpotong yang menunjukkan lokasi dia.


Afriadi melewati gang kecil, ia harus cepat takutnya siswa itu keburu ditemukan sama kelompok jahat itu yang ia dengar dari rekaman tadi.


Afriadi sampai ditempat tujuan, yaitu dibawah jembatan. Afriadi memperlambat gerak motornya celengak celengok lihat jangan kiri mencari keberadaan siswa itu.


Pandangannya teralihkan kebelakang. Ia lihat ada sekelompok orang bermotor dan satu mobil hitam, mereka seperti mencari sesuatu.


Hem... mencurigakan.


Alamak, mereka melihat Afriadi, yang dilihat bersikap biasa saja terus menjalankan motornya. Di spion Afriadi lihat salah seorang yang terlihat seperti bos diantara mereka semua, berbisik pada salah satu dari mereka.


Merasa tak enak Afriadi mulai menambah gas difikirkan Lebih cepat.


Tiba-tiba...


Dibelakangnya terasa berat seperti ada yang naik ke atas motornya. Afriadi menoleh ia sedikit kaget lihat orang yang ia cari cari ada di belakangnya, tapi wajahnya memar kek habis dipukul.


"Cepat Af pergi dari sini," perintah dia dengan nafas tersengkal, di belakang sana orang orang menyeramkan itu meneriaki mereka, naik ke kendaraan masing masing.


Tanpa pikir panjang lagi Afriadi cepat tambah gas melaju meninggalkan tempat itu. Mereka kena kejar, aksi kejar-kejaran tak terhindarkan lagi.


Gila, Afriadi ngebut bawa motor, menyalip memotong jalan orang lain. Afriadi bawa motor kek kesetanan yang dibelakang kasihan ngeri naik motor bareng Afriadi.


Mobil yang mengejar jauh tertinggal terhalang kendaraan lain. Dua motor datang dari arah kiri dan kanan, seperti mau menghimpit Afriadi.


Yang benar saja mereka menyerempet Afriadi, tak habis akal Afriadi beraksi stoppie Superman.


BRAAAK...


Kedua motor itu saling metabrak satu sama lain.


Siswa yang dibonceng Afriadi teriak histeris memeluk erat Afriadi, takut terjatuh. Afriadi putar balik, ambil jalan lain menjauh dari mereka. Terjadi kemacetan gara-gara kecelakaan itu.


Wiuuu... Wiuuu...


Suara sirene polisi.


Baru terlepas dari kejaran Abang Abang galak tadi.


Afriadi tak habis akal lagi didepan sana ada perempatan ia coba atraksi lagi, kali ini 'Burn out donut' aksi membakar ban belakang dengan cara gasspoooool dengan menarik rem sekuat-kuatnya sehingga ban belakang berputar kencang bergesekan dengan aspal menciptakan asap yang sangat banyak.


Afriadi sedikit kesulitan, toh dia lagi bonceng orang. Gumpulan asap itu menghalangi pandangan polisi bermotor itu, cepat Afriadi mengambil kesempatan kabur.


Afriadi mencari-cari tempat sembunyi yang aman, ia menghela nafas yang panjang merasa mereka sudah lepas dari kejaran. Ia tinggal lurus ke depan nanti ada penginapan semalam.


Eh, waktu tiba di ujung jalan mereka dicegat sama mobil yang tadi mengejarnya tadi.


Gila, jadi tadi hilang ketinggalan gara-gara ambil jalan lain.


Ada berapa orang keluar dari mobil.


Bagaimanapun mereka harus melewati mobil ini, kalau berbalik disana ada polisi dan Abang Abang bermotor itu.


Satu satunya cara untuk lari ialah melewati mobil itu, pandangannya teralihkan pada sisi jalan.


Hem, ada jalan untuk kabur.


Afriadi ngegas motornya tinggi.


"Pegangan yang erat," perintah Afriadi pada orang yang dibelakangnya.


Tanpa disuruh dua kali siswa itu cepat peluk Afriadi, ia sudah merasakan firasat yang tak enak.


"Af, kau mau ap-" tak sempat ia menyelesaikan kalimatnya Afriadi sudah ngegas memacu motornya laju melewati papan miring yang lumayan lebar di pojok sana.


Wuuus...


Motornya terbang melewati mobil itu.


Waktu seakan berjalan lambat melihatkan wajah terkejut mereka sampai ada yang ternganga.


Siswa yang dibonceng Afriadi teriak seluas mulutnya bisa dibuka.


Untung mereka selamat, mendarat dengan mulus terus melaju menjauh dari mereka.


Hem, cocoklah Afriadi main tong setan.


Mereka kembali mengejar Afriadi.


Afriadi melewati jalan yang sempit biar mobil itu tak bisa mengejarnya. Afriadi ambil jalan tikus.


Hari mulai sore, jalanan padat dipenuhi kendaraan jam segini emang padat belasan dengan orang pulang kerja.


Afriadi terus mengendarai motornya menyalip jalan orang lain. Tujuan akhirnya kantor polisi, sebab siswa ini pasti tahu siapa yang mengedarkan narkoba atau apalah. Afriadi juga yakin dia bukan pecandu. Soalnya Afriadi kenal dengan dia, Orang pendiam kek dia ciri-ciri pemakai obat obatan saja tak ada.


Gila macet parah, Afriadi terpaksa cari jalan lain. Jalan yang sepi, tapi gak kek kuburan masih ada orang lalu lalang.


Afriadi lihat di spion ada motor yang mengikuti mereka.


Hem, mencurigakan.


Dikala ia ingin melaju tiba-tiba...


Saaap...


Ada sesuatu yang menancap pada lehernya. Afriadi menangkap benda dilehernya itu, ternyata itu peluru bius. Pandangannya berubah buram, perlahan ia melemah. Dibelakang, kepala siswa yang ia bonceng itu tumbang di bersandar di punggung Afriadi.


BRUUUK...


Mereka berdua tumbang. Perlahan matanya tertutup mereka berdua pingsan.


"Em," gumam Afriadi sadar dari pingsannya.


Matanya melihat sekeling, tempat yang asing dimatanya. Ia kesulitan menggerakkan tangan, dirasa kedua tangannya terikat kuat ditambah lagi mulutnya terikat dengan kain.


Afriadi berusaha melepaskan dirinya. Semakin ia berusaha melepaskan diri semakin sakit dirasa pergelangan tangannya.


Mulut Afriadi tak diam terus bergerak berusaha melepaskan ikatan yang menutup mulutnya.


Afriadi menghirup udara rakus setelah kain pengikat dimulutnya terlepas. Afriadi melihat kesamping siswa itu masih belum sadar, Afriadi menendang kaki siswa itu sambil menyenggol memanggil namanya.


"Her," panggil Afriadi.


Usaha Afriadi tidak sia-sia siswa itu terbangun juga, ia tampak kebingungan.


"Kuita imana," kata Heri nama panggilan siswa itu, bukan nama asli. Kata-katanya kurang jelas, sebab mulutnya tertutup.


Terpaksa Afriadi mendekatinya, menggigit kain di mulutnya menariknya turun.


"Makasih," kata Heri


Afriadi meangguk.


"Sudah berapa lama kita pingsan?" tanya Heri.


Afriadi menggeleng, ia tak bisa melihat jam ditangannya. Udin melihat ke belakang Afriadi, lalu ia menggeleng tidak melihat jam dilengan Afriadi.


Oh tidak, jam tangan dan ponselnya pasti diambil mereka. Sekarang tak ada yang bisa diperbuat tinggal tunggu tim penyelamat datang, yah semoga saja para polisi itu cepat menemukan mereka sesuai yang direncanakan.


"Af, maaf membuatmu masuk dalam masalah ini," kata Heri dengan raut wajah penuh rasa bersalah.


"Sudahlah."


"Aku serius, Af. Aku minta maaf, aku gak hapal nomor orang lain selain dirimu dan orang tuaku... Aku tak tahu harus menghubungi siapa lagi, orang tuaku-" Heri memutus kalimatnya, kerisnya tertunduk. Afriadi dibuatnya penasaran.


"Orang tuamu?"


Kepala Udin terangkat melihat Afriadi. "O-Orang t-tuaku." Heri mendadak gagap, ia seperti ingin memberitahu tapi ditahan. Afriadi semakin penasaran.


"Orang tuamu?" tanya Afriadi sekali lagi.


"Orang tuaku susah dihubungi, Af." Heri tersenyum getir. Nampak kali ia menyembunyikan sesuatu.


"Terus bagaimana kau kena kejar mereka?"


"A-aku tak sengaja mengetahui kebusukan mereka, bukan hanya mengedarkan obat terlarang saja mereka juga membunuh orang yang tidak bersalah..."


Alis Afriadi terangkat sebelah mendengarkan penjelasan Heri, ada kejanggalan disana. Dia seperti tidak menceritakan yang sebenarnya.


"Aku rasa kau melewatkan sesuatu." Afriadi mengagetkan Heri, "Bagaimana bisa kau mengungkap mereka melakukan itu semua? Semua itu sangat sulit untuk dilakukan, lihatlah para polisi saja memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengungkap. Sedangkan kau."


Heri menundukkan kepalanya dalam, benar dugaan Afriadi tu anak ada yang disembunyikan.


"Hey, tidak apa. Ceritakan yang sebenarnya, jangan takut mengungkap kebenaran."


"Bos mereka semua tak lain tak bukan adalah ayahku Afriadi," ungkap Heri. Afriadi kaget, sa dan sangking kaget dan tak menyangka matanya melotot hampir keluar.


"Dan orang yang dibunuh itu, ibuku sendiri... Ayah ketahuan selingkuh dan ibu ketahuan ingin melaporkan bisnis haram ayah. Semua yang jadi saksi mata dibunuh hari itu juga... Hiks... Aku pun baru tahu ayahku seperti itu."


Udin menjelaskan dengan air mata yang tumpah.


Afriadi turut bersedih juga, ia menyesal telah menanyakan hal tersebut mau bagaimana lagi ia harus tahu bibit bobot malah ni untuk nanti ia jelaskan pada polisi jika ditanya.


"Lalu bagaimana kau positif meng-" Afriadi menghentikan kalimatnya, rasa rasanya ia tak mau bertanya.


"Aku stress, Af." Heri menjawab, "Ibuku dihabisi dan ayahku berubah drastis gak seperti yang dulu, ia seakan-akan mendengarkan kata wanita munafik itu."


Oke oke Afriadi paham, yang dimaksud Heri wanita munafik itu pasti si ****** selingkuhan ayahnya.


"A-"


BRAAAK...


Pintu terbuka lebar, mereka berdua terperanjat kaget melihat ada sekelompok orang datang masuk.


Mata Heri melotot tertuju pada satu pria yang gagah nan mirip sepertinya. Afriadi duga itu Ayahnya, dan wanita di samping pria itu pasti kekasihnya.


Bisa Afriadi merasakan tatapan kebencian dari mata Heri pada ayahnya dan tatapan kemarahan dari ayahnya.


Ayah Heri menatap lekat Afriadi.


"Siapa dia?" tanyanya pada anak buahnya.


"Dia yang membawa tuan muda kabur," jelas salah satu anak buahnya.

__ADS_1


"Kau pasti sudah tahu banyak mengenai kami, katakan siapa yang mengirimmu?" ujar Ayah Heri.


"Aku yang memanggilnya untuk menyelamatkanku."


"Wahahaha... Kau merepotkan orang saja, nak."


"Lepaskan dia, dia tidak ada hubungannya dengan ini semua."


Perkataan Heri tak dihiraukan Ayahnya terus mendekat, duduk jongkok didepan Afriadi.


Plak...


Tamparan melayang menampar Afriadi, yang ditampar menatap tajam.


"Hem, sayangnya kau tahu semuanya jika tidak aku pasti minta tebusan sama orang tuamu," ujar ayah Heri mengusap dagunya.


"Ayah dia ti-"


"Jauhkan anakku darinya," perintah Ayah Heri langsung dilaksanakan sama anak buahnya. Heri dibawa menjauh dari Afriadi.


Dagu Afriadi dipegang sama ayah Heri, ia memperhatikan wajah Afriadi.


"Hem, sayang sekali kalau aku harus menghabisimu dengan rupa dan keahlianmu diusia yang sekarang. Kau bisa berguna untukku, kalau kau dijual pasti banyak yang mau denganmu kan?" Dia tersenyum licik, tangannya menyentuh lembut pipi Afriadi. Afriadi yang gak senang dengan perkataan dan belaian darinya, ia gigit tu tangan. Menjerit Ayah Heri dibuatnya.


Plak...


Satu tamparan melayang menampar Afriadi.


"Cih... Bocah sialan," caci Ayah Heri, tangannya mengibas-ngibas merasa sakit, tak segan-segan Afriadi menggigitnya.


"Hey kalian! habisi dia," titahnya.


"Kenapa kau mau membunuhnya,? Dia bisa berguna." Wanita disebelahnya berkutik.


"Dia tahu tentang kita, dan itu tidak bisa dibiarkan bisa-bisa nanti dia laporkan kita semua," jelas Ayah Heri.


Wanita itu hanya meangguk, melihat Afriadi dihampiri anak buah Ayah Heri.


"Ugh," lenguh wanita itu ketika ayah Heri memeluknya mencium leher jenjangnya.


Afriadi menatap geli mereka.


"Wilona," bisik Ayah Heri ditelinga wanita yang ia panggil Wilona.


Afriadi melarikan pandangannya dikala ia melihat Wilona mengedipkan matanya, genit. Ia seperti tertarik pada Afriadi.


Oh My God.


Itu si tua Bangka mencium bibir Wilona. Afriadi mendengus mengalihkan pandangannya, tapi itu mata kek tertarik mau lihat.


"Isss..." Afriadi tambah kesal lihat mereka anak buah orang itu malah melongo lihat tuannya bermesraan.


"Hah, dasar orang tak punya malu. Tak pantas kau memperlihatkan kemesraan kalian pada orang lain," gumam Afriadi didengar mereka.


"Apa kau iri?" Ayah Heri memanasi Afriadi.


Afriadi berdiri, menggeleng kepalanya lalu tersenyum.


"Apa aku harus mengajarkanmu adab? Tua tua kok gak ada adab." Idih, pedas bener omongan Afriadi.


Urat kesal ayah Udin timbul. Merasa terhina dengan omongan Afriadi.


"Apa yang kalian lihat, aku bilang habisi bocah tengik itu!" pekikan Ayah Heri menyadarkan anak buahnya yang melotot melihat Wilona.


Afriadi tak tinggal diam jika dirinya akan dihabisi, bodoh kali dia membiarkan dirinya ditindas.


Afriadi menyenggol salah salah satu dari mereka yang mendekat sampai terjungkal. Ia meloncat mengayunkan tangan ke depan seperti main lompat tali, tangannya berada di depan. Waw, Afriadi beraksi kek di film film aksi.


Mereka semua tercengang, ni anak tak bisa diremehkan.


Seseorang berlari dari kejauhan sambil berteriak memanggil tuan, "TUAN!"


Semua mata tertuju padanya. Seorang pria mendekati Ayah Heri, ia membisikan sesuatu pada Ayah Heri seketika ekspresi yang dibisikkan itu berubah matanya membulat sempurna.


Cepat Ayah Udin meninggalkan tempat sampai ia lupa membawa Wilona. Wilona yang merasa ditinggalkan mendengus sebal menyusul kekasihnya itu.


Afriadi tersenyum miring ia tahu sesuatu, mengapa Ayah Heri cepat meninggalkan tempat ini.


"Hey!" Afriadi menyeru anak buah Ayah Udin yang masih berdiri dihadapannya, "Apa kalian tidak mengejar tuan kalian."


"Diam kau bocah tengik," seru salah satu dari mereka.


"Cepat kita habisi bocah ini." Yang lainnya turut bersuara. Afriadi ngambil ancang-ancang, kalau dilihat dan dibandingkan mungkin tak sepadan. Dalam jumlah mereka lebih unggul, tapi kalau tenaga mereka unggul juga toh mereka banyak walau badan mereka ada yang besar ada yang kecil juga.


Afriadi harus berhati-hati.


"HYAAA!!" Ada yang menyerang Afriadi dari sisi kiri. Afriadi yang melihatnya langsung menerjang orang itu sampai terjatuh.


Afriadi kembali diserang secara bersamaan. Curang, mereka main keroyok. Afriadi sedikit kewalahan apalagi tangannya terikat membuatnya sulit untuk melawan.


Curang, Afriadi didekap dari belakang.


BUUUK...


Perut Afriadi kena tinju. Berkali-kali ia diserang, sampai darah keluar sedikit dari mulutnya.


Karena orang dibelakangnya ini kuat kali mendekapnya membuatnya sedikit kesusahan bernafas.


Gawat, dia ingin menyerang kembali. Afriadi tak membiarkan dirinya dipukuli begitu saja, dengan sigap ia mengambil tindakan menerjang pria yang akan menyerangnya dengan bantuan pria dibelakangnya yang menjadi titik tumpu.


Ada serangan yang datang dari sisi kanan dan kiri, Afriadi melompat memaksa orang yang mendekapnya mangkatnya daaaaan...


BUUK...


Ia berhasil menerjang kepala si penyerang.


Sekalian Afriadi orang dibelakangnya, ia menyiku wajah dia, berkali-kali ia melakukan sampai wajahnya memar dan hidungnya mengeluarkan darah.


Dekapannya melemah Afriadi bisa lepas, cepat ia berbalik mundur berapa langkah dan...


BUUK...


Ia menerjang keras dagu pria itu, kembali menegang dengan tendangan putar yang keras menghajar sampai jatuh.


Afriadi mendarat dengan mulus, baru mendarat ia sudah diserang lagi dari belakang, ia kembali didekap. Di hadapannya datang lagi ingin menghajar.


Sekai lagi Afriadi melompat memaksa orang belakang menahan dirinya, menjadi pusat tumpuan. Kakinya menerjang orang yang ada dihadapannya sampai terjungkal. Kali ini ia tak mendarat didepan melainkan mendarat dibelakang orang yang merekapnya gara-gara terjangan berjalan itu.


Afriadi terlepas dari dekapannya, ia menerjang bagian belakang lutut pria yang mendekapnya tadi membuatnya bertekuk lutut, sekalian ia tendang keras bagi telinga sampai dia mengerang kesakitan.


Afriadi menggigit tamu yang membelit tangannya, ia bergegas menggigit melihat mereka bangkit kembali berkumpul siap menyerang Afriadi.


Afriadi dikelilingi mereka, kaki ini mereka tidak berkelahi dengan tangan kosong, tapi pakai senjata. Afriadi berhasil membuka tali, sekarang ia bebas menggunakan tangan untuk menyerang.


"HYAAA!!!"


Gila, mereka main keroyok. Afriadi berusaha menghindar setiap serangan dan menyerang balik. Ia targetkan penyerangan pada senjata yang mereka pegang, menjauhkan senjata itu.


Hantaman dan pukulan dilontarkan Afriadi, satu demi satu ia habisi. Afriadi mengatur nafasnya, ia harus tetap siaga walau lawan di hadapannya tinggal satu.


Mereka sama-sama mengatur nafas. Perhatian Afriadi teralihkan pada serangan yang datang dari sisi kiri, tendangan siap menghantam telinganya, Afriadi tak sempat menghindar hanya menangkis serangan saja.


Oh tidak, ada serangan dari depan, kali ini Afriadi tak bisa menghindar lagi.


BUUUK...


"UHUK.."


Tinju yang begitu kuat sampai Afriadi batuk darah.


"Uuuugh..." Mendadak pria dihadapannya merintih kesakitan, tubuhnya semakin menyusut. Ternyata, Afriadi tendang tu aset masa depan pria itu.


Pantesan menciut kesakitan.


Afriadi menyepak kaki pria satunya lagi, membuatnya jatuh terjungkal.


Tinggal satu sentuhan ia tumbang. Afriadi berlari melompat memberi tendangan T.


Bruuuk...


K.O


Merasa sudah beres, bergegas Afriadi berlari meninggalkan tempat itu. Sejauh ia berlari dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya remang lampu berbaris di sepanjang didinding. Ia terus berlari tanpa tahu arah, sampai ia berhenti sejenak setelah dirasa lelah berlari, menarik nafas melihat sekitar sepertinya tempat yang sama yang ia lewati.


Oh tidak, Afriadi tak tahu jalan keluar.


Tiba-tiba...


Afriadi tersentak kaget saat ada yang memegang bahu kirinya. Ia tambah kaget lihat sosok dibelakangnya, yang tak lain ialah Heri dengan wajah babak belur.


Tangan Afriadi ditarik, diajaknya berlari lagi. Afriadi ingin bertanya kenapa wajahnya sampai babak belur gitu, tapi ia urung setelah lihat ekspresi wajah Heri yang tegang dan matanya sebab.


Afriadi menduga ada sesuatu yang terjadi padanya. Mereka terus berlari sampai terdengar suara tembakan yang menggema.


DOOR...


"Kenapa Din?" tanya Afriadi.


Heri menggeleng, ia kembali berlari. Afriadi acuh kembali berlari. Sampai sekian jauh mereka berlari, pas mereka mau belok langkah mereka terhenti melihat sosok pria besar menghadang mereka.


Hambatan lagi.


Kali ini pria itu membawa pemukul baseball. Afriadi mengepal tangannya bersiap jaga jaga kalau pria itu menyerang, begitu juga Heri bersiap menyerang.


"HYAAA!!" Pria itu mulai menyerang sambil tongkat baseball berayun.


Wuuus...


Afriadi menghindar serangan pria itu, mereka hanya menghindar sampai ada kesempatan mereka menyerang.


WUUUS...


Tongkat baseball terpelanting jauh setelah ditepis Afriadi. Secara bersamaan mereka menyerang pria itu.


Tanpa disadar di belakang mereka ada seorang wanita menyodorkan pistol. Heri yang melihat wanita itu ingin menebak Afriadi mengambil tindakan.


DOOR...


Pelatuk ditarik, peluru keluar menggapai target.


Afriadi tersentak kaget dengar suara tembakan. Ia menoleh melihat Heri melindunginya, mengorbankan dirinya.


Cepat Afriadi menangkap Heri yang tumbang.


"Her!" Panggil Afriadi, tangannya menutupi darah yang keluar. Ia lihat di penembak sudah kabur, Afriadi tahu kalau itu Wilona.


Nafas Heri tak beraturan.


Dibelakang pria itu menjauh meraih tongkat baseball, Afriadi lupa kalau dia belum menghabisi lawannya.


BUUUK...


Afriadi diserang dari belakang. Darah mengalir dari belakangnya. Pandangannya mulai buram melihat pria itu lari tunggang langgang.


Afriadi jatuh pingsan, sebelum ia tak sadarkan diri ia dengar dengan samar samar Heri memuji ayahnya.


"Ayahku Hero."


Kurang lebih seperti itulah.


"Em.." Afriadi sadar dari pingsannya.


Waktu ia sadar ia melihat wajah Mama papanya berada di sampingnya, mamanya menangis melihat Afriadi sadar.


Ia gak tahu apa yang terjadi setelahnya, yang pasti saat bangun ia sudah ada di rumah sakit.


Dengar kabar dari Hasan Wilona tak berhasil ditangkap, dia menjadi buronan. Afriadi juga dapat kabar kalau Heri gak bisa diselamatkan.


Afriadi bersyukur dan berterima, kalau gak ada Heri mungkin ia sudah gak ada di dunia ini lagi.


Afriadi kira itu pertemuan terakhir ia dengan Wilona. Namun tidak, mereka bertemu kembali setelah 4 tahun berlalu, Afriadi sudah masuk kuliah semester 2.


Afriadi lagi-lagi bertemu Wilona ditempat yang tak diduga-duga. Bagaimana tidak ia bertemu Wilona di kampus berpasan di depan pintu ruang kepala kampus. Dia keluar Afriadi masuk.


Afriadi kenal dengan Wilona, cuman gak tahu namnya siapa. Wilona sadar kalau itu Afriadi cepat bergerak pergi, Afriadi malas mengejarnya ia masuk kedalam ruangan setelah namanya dipanggil.


Afriadi merasa tidak enak dengan kepala pimpinan kampusnya yang kelihatan habis menangis, ia datang pada waktu yang gak tepat.


"Afriadi."


Afriadi di panggil suruh masuk, terpaksa ia masuk menyerahkan surat izin entah surat izin apa.


Ia berdiri menunggu kepala kampus selesai menandatangani surat izin.


"Apa kau melihatku menangis tadi?" tandanya disela sela kerjanya.


Afriadi tersenyum miring, ia melihat dengan jelas. Kepala kampus itu menatap Afriadi serius.


"Jangan bagi tahu siapa-siapa. Cukup habis sampai disini saja," katanya.


Siap meangguk, mengambil suatu izin yang sudah ditanda tangani. Ia permisi pergi, sebelum ia keluar dari ruangan ia dengar kepala kampus itu bergumam menyebut wanita yang tadi ****** tak tahu malu matre lagi.


Afriadi menggeleng kepalanya cepat pergi.


Waktu berlalu ia ngumpul di cafe bersama teman dekatnya Hasan dan Qilan kebetulan ada waktu senggang.


Hasan sekarang jadi polisi, karena hari ini Hasan diberi libur makanya mereka ngumpul, kalau Qilan masih kuliah lanjut S2.


Saat ngumpul-ngumpul Hasan menceritakan kalau buronan Wilona ada di kota, ada yang melaporkan melihatnya dengan para geng preman terbesar di kota.


Afriadi sedikit kaget ia teringat dengan wanita yang ia temui di kampus tadi, rupanya mirip dengan Wilona.


"Bagaimana bisa dia ada disini? Bukannya dia sudah hilang 4 tahun yang lalu, lagian untuk apa dia datang ke sini lagi?" Qilan berkomentar.


"Entahlah, toh cuman isu bisa jadi mereka salah lihat. Bodoh kali dia menampakkan diri, toh dia kan buronan," celetuk Hasan.


"Jangan salah San, 4 tahun dia menghilang dan jadi buronan, apa kau tak curiga? Orang yang liat itu mungkin benar melihat Wilona, pasti menimbulkan pertanyaan kenapa dia memunculkan dirinya disini kembali? Apa kau ingat 4 tahun yang lalu, dia membunuh siswa hanya karena tidak mau bisnis busuknya terungkap..." Afriadi buka suara.


"Berarti dia kesini ada maksud tertentu," kata Qilan menyimpulkan.


"Apa tujuannya kesini?" gumam Hasan berpikir.


"Mudah saja," ujar Afriadi menarik perhatian temannya, "Dia pasti ingin ngambil kembali barang haram miliknya. 4 tahun yang lalu polisi menyita barang haram miliknya, habis berapa kilogram saja. Aku tak yakin orang sepertinya hanya menyimpan segitu, kalau sudah beroperasi lama maka paling tidak dua memiliki simpanan yang banyak sekitar satu ton mungkin ada, atau lebih. Bukankah begitu?"


Hasan dan Qilan mangut mangut setuju dengan apa yang dikatakan Afriadi.


"Dan kenapa dia baru muncul sekarang? Kenapa dia tak ambil waktu dulu? Sebab kalau dulu dia ambil, dia bisa tertangkap. Sekarang sudah berlalu 4 tahun kasusnya mulai dilupakan, dan lagi dia pasti memiliki anak buah yang cukup banyak..." Afriadi menjelaskan lagi.


"Dia datang kesini ambil barang miliknya, sekarang dia pasti mencari-cari keberadaan barang miliknya," kata Hasan.


"Hah, pemburuan harta Karun," gumam Qilan, "Hey! Apa kalian mau main pemburuan harta Karun."


"Kau main saja sendiri, lagian kita mau cari barang haram itu dimana?" Hasan mencicipi minuman yang ia pesan.


"Aku rasa Afriadi tahu tanpanya." Qilan melirik Afriadi, tersenyum padanya.


Afriadi tersenyum miring mengaduk-aduk minumannya, "Entahlah, aku tak berapa tahu betul kalaupun aku tahu pasti sudah aku beritahu ke pihak polisi, biar diamankan."


"Yah, kirain tahu." Qilan mengetuk meja.


"Kok kau yang kesal. Kenapa ni?" tanya Hasan.


"Mau pindah profesi jual 'itu' biar jadi Milioner. Ha ha ha ha..."


Hasan mengambil potongan kue yang besar lalu ia sumbat mulut Qilan yang tertawa lebar.


"Banyak cakap, ni kue mu habiskan," kata Hasan.


Afriadi tersenyum geleng geleng kepala lihat tingkah temannya.


Qilan menatap tajam Hasan sambil mengunyah kuenya, melahap rakus sampai habis. Hasan memberikan tisu pada Qilan, yang dikasih cemberut menerima tisu.


Hasan tertawa singkat, sedangkan Afriadi terdiam seperti memikirkan sesuatu sampai.


Waktu berlalu.


Malam hari kemudian. Sekitar jam 9 malam.


Afriadi baru pulang dari rumah tentara. Ia melaju di jalanan, menepi sejenak saat dirasa ponselnya dikantong celana bergetar. Afriadi ngangkat panggilan dari Qilan yang gak penting sama sekali.


Afriadi lanjut jalan setelah ia panggilan dari Qilan berakhir. Sekitar 1 km perjalan, Afriadi dihentikan lagi sama panggilan, nepi lagi Afriadi angkat panggilan.


Rupanya dari Qilan lagi, ngapain tu bocah nelpon melulu. Afriadi menarik nafas panjang sebelum angkat panggilan Qilan.


"Ha, apalagi Lan?"


"Af, lu dimana?" Qilan malah tanya balik.


"Lagi dijalan XXX."


"Pas banget."


Tut...


Panggilan berakhir. Afriadi geleng kepala, sudah terbiasa. Saat ia ingin kembali jalan, bagian belakang terasa berat seperti ada yang naik.


Kaget ia lihat Qilan ada dibelakangnya. Tanda tanya penuh di otak Afriadi, bagaimana Qilan ada disini? Apa dia ada disini tadi?


"Sook, jalan Af." Qilan menepuk keras bahu Afriadi, yang ditepuk masih bengong dari tatapan mata seakan bertanya 'Datang dari mana lu?'


"Ya elah, bingung lu aku datang dari mana? Dah, gak usah bingung, aku dari tadi sudah disini. Yuk jalan."

__ADS_1


Afriadi masih natap Qilan.


"Apalagi?"


"Helem untuk mu gak ada."


" Dah, gak apa-apa. Kepalaku kebal, jalan saja."


Afriadi menghela nafas berat jalankan motor.


"Af nanti singgah di bar sana ya. Mau ambil barang yang ketinggalan."


Afriadi angguk saja, jujur saja Afriadi pengen cepat pulang, bobo malam. Yah, nampaknya jadwal tidurnya bakalan terpotong.


Sesampai di sana, Qilan masuk dan Afriadi tunggu diluar. Ia tak mau masuk, sebab orang tua melarangnya.


Afriadi masih duduk di motornya meluk helem nunggu Qilan keluar, matanya sudah ngantuk.


Hadeh, Qilan lama amat keluar berlumut Afriadi nunggu dia. Afriadi bekali kali nguap.


"Hey!"


Afriadi noleh melihat siapa yang memanggilnya. Alisnya terangkat sebelah melihat seorang pria dan tak jauh dari dibelakangnya ada sekelompok orang yang tak lain anak buahnya.


"Kamu Afriadi ya?" tanya salah seorang dari mereka, wajahnya tergambar galak kali dengan kumis tebal dan tato di sekujur tubuh.


Afriadi heran ia tak kenal sama pria ini, namun ia tahu namanya.


"Kalau ia, kenapa?" kata Afriadi kek nantang mereka. Dilihatnya tangan pria itu mengepal kuat.


Tanpa banyak basa-basi pria itu langsung menuju Afriadi, Untung Afriadi berhasil menghindar sampai terbaring dimotor. Kemudian ia membalas serangan balik menuju dagu pria itu, sebab posisi Afriadi tepat di bawahnya.


Dia terjatuh Afriadi cepat-cepat pakai helem lalu ngebut pergi. Qilan tak tahu lagi, ia tak ingat lagi dengan Qilan asal ngebut saja.


Qilan yang baru keluar dari bar lihat Afriadi sudah pergi, ngebut melaju dijalan. Ia kaget lihat Afriadi dikejar-kejar sama kelompok geng motor, firasat Qilan tak enak cepat ia hubungi Hasan. Ada motor lewat ia palak, lalu kejar Afriadi.


Aksi kejar kejaran tak terelakan lagi, Afriadi tak tahu kenapa ia dikejar. Perasaan ia gak ada buat rusuh sama tu orang. Dengan skill mengendara motor yang diwariskan ayahnya Afriadi menyalip kendaraan lain dengan lihai.


Siapa sangka ia akan terlepas begitu saja dari mereka, nampak kali mereka bukan anak jalanan biasa dari motor modifikasi saja sudah menunjukkan mereka ahli dalam berkendara.


Afriadi mendadak ngerem sampai ban motor belakang terangkat. Ia kaget lihat sebagian kelompok yang mengejar tadi ada didepannya. Ia menoleh kebelakang mereka ada juga, gawat Afriadi terkepung maka jalan satu ini cuman.


Ada sekitar 10 moto yang mengepungnya. Afriadi kurang tahu kemana yang lainnya, mungkin ambil jalan lain mau kepung dia, soalnya tadi gak segini yang mengejarnya.


Beberapa motor maju, mereka mengelilingi Afriadi. Gak ada jalan keluar. Untung akal masih berjalan memberinya sebuah jalan keluar walau sedikit beresiko, apa boleh buat ia harus mencoba.


Afriadi menghidupkan mesin motornya, mereka semakin waspada. Afriadi atraksi lagi, kali ini 'Burn out donut' aksi bakar ban belakang dengan cara gasspoooool menarik rem sekuat-kuatnya sehingga ban belakang berputar kencang bergesekan dengan aspal menciptakan asap yang sangat banyak. Trik yang sama ia lakukan dulu.


Asap mengelilinginya. Gerakan mereka terhenti takut saja saling tabrak, tapi tak lama setelah asap hilang Afriadi juga turut hilang. Ia sudah melaju jauh dari mereka kedua teman mereka yang, menghadang Afriadi tadi jatuh terjungkal gak sadarkan diri.


Dugaan Afriadi benar 2 pengendara datang dari sisi kiri dan kanan Afriadi. Ia menduga kalau mereka mau menyerempet Afriadi, yang benar saja dugaan Afriadi benar lagi.


Waktu mereka mau menyerempet secara bersamaan, Afriadi keburu rem sampai roda belakangnya terangkat.


BRUUUK...


Mereka saling tabrak.


Bergegas Afriadi pergi, Afriadi terlalu laju membawa motor sampai ia hampir saja menabrak orang.


"Kyaaa!!!" teriak remaja putri itu.


Lagi-lagi Afriadi ngerem sampai ban belakang terangkat. Ia minta maaf habis itu lanjut lagi.


Tak jauh ia melaju tiba-tiba ada mobil menggalang jalannya, pintu mobil bergeser melihatkan pria berbaju hitam memegang senapang bius. Afriadi kaget, ia langsung melakukan atraksi Circle aksi roda depan terangkat dibawah berputar-putar.


Ia berhenti menghempas ban depannya berbelok lalu mengambil jalan lain.


SYAAAP...


Peluru lepas landas mengejar target, Afriadi menghindar.


Setiap tembakan ia berusaha menghindar.


Lepas dari kejaran motor sekarang dikejar mobil pula. Apa salah dia maka dikejar? Namun naas Afriadi tak menyadari kehadiran mobil yang lain dari arah samping yang ikut mengejarnya.


Satu peluru bius berhasil menacap di paha Afriadi, ia hilang kendali dan menabrak pohon pembatas jalan.


Terus gak sadarkan diri.


Waktu berjalan terus.


Silau matahari menyadarkan Afriadi dari pingsan, kepalanya terasa sakit. Afriadi menggeleng kepanya agar pandangannya jelas melihat sekitar, tempat yang asing, tapi kalau diperhatikan ini seperti sebuah kamar.


Ia kesulitan bangun tangannya terikat kebelakang dan kakinya juga, ia berusaha duduk di tempat yang empuk ini yang tak lain ialah kasur.


Afriadi semua tubuhnya pegal-pegal.


"Sudah bangun," sapa seorang wanita duduk di sofa.


Afriadi menatap tajam wanita itu yang kini berjalan menghampirinya. Ia mendorong tubuh Afriadi sampai terbaring lagi, lalu naik menindihnya. Tangannya yang lentik membelai leher Afriadi.


"Singkirkan tanganmu dariku ******," kata Afriadi kasar.


"Ternyata kau masih ingat dengan ku," ujar wanita itu.


"Kubilang Singkirkan tanganmu dariku!" Afriadi membentak.


"Ugh." Afriadi melenguh tertahan saat dirasa hembusan nafas wanita itu menerpa kulit lehernya, ditambah lagi bagian bawahnya digesek terus sama bokong wanita ****** itu.


"Hiiis..." Afriadi mendesis.


PUUUK...


Afriadi menggantungkan keras kepalanya sama kepala wanita itu.


Wanita itu mendesis kesakitan, menjauh dari Afriadi ketika pintu kamar terbuka.


Batin Afriadi bertanya lagi, "Siapa lagi dia?"


Pria bertubuh atletis dengan tato menghias leher dan tangannya yang terlihat. Preman kali dia.


"Sayang, dia menindasku," adu wanita itu memeluk lengan tangan kekasihnya.


Afriadi mendengus sebal, munafik kali dia.


Gila, tuh cowok termakan omongan kekasihnya langsung pakai nyambar kerah baju Afriadi.


BUUUK...


Pria itu meninju wajah Afriadi. Untung Afriadi banyak akal kakinya menendang aset masa depan pria itu.


"Ouuh.." Pria itu melenguh kesakitan.


"HYAAA!!"


PUUUK...


Kepalanya ia benturkan kuat pada pria itu.


Pria itu menjauh mengusap-usap kepalanya.


"Dasar kadal," maki pria itu.


"Paksa ia bicara!" perintah pria itu.


Ha? Afriadi bingung, apanya yang harus ia bicarakan? Ia bahkan gak kenal mereka sama sekali, kecuali wanita itu yang tak lain ialah Wilona.


Yang benar saja, Afriadi benar-benar dipaksa bicara. Semua pertanyaannya yang dilontarkan mereka, harus dijawab kalau gak jawab maka dapat sengatan listrik.


"Jawab gak! Dimana dia menyembunyikan 'barang' itu?!" tanya mereka lagi.


Afriadi menggeleng kesekian kalinya. Ia tak tahu dimana barang itu disembunyikan, kalaupun ia tahu tak akan ia bagi tahu semudah itu pada mereka.


BEEEEZZZT...


"Agh," erang Afriadi saat disengat listrik lagi, tubuhnya sudah gemetar menahan sengatan listrik.


"Jangan bohong, kau pasti tahu dimana tempat dia menyembunyikan barang itu!"


"Aku berkata jujur~" kata Afriadi melemah lalu matanya tertutup kembali.


"Pingsan," seru mereka.


"Sudah tinggalkan dia, dan kau jaga dia," kata pria itu menunjuk salah satu anak buahnya.


Mereka pergi dan tinggallah satu orang yang menjaga.


Sebenarnya Afriadi tak pingsan ia hanya berpura-pura, lebih baik pura pura pingsan dari pada kena sehat listrik melulu.


Jangan kalian tanya Afriadi ada 'pelindung' gak? Dia kan pandai silat. Maksud pelindung disini makhluk gaib ya. Afriadi gak pakai yang kayak gitu, ia hanya sekedar belajar, toh ia sadar yang Maha Melindungi akan selau melindunginya dari mata bahaya.


Afriadi merasa ada yang naik ke tempa tidur, badannya sudah merinding dirasa ada yang menyentuh aset masa depan.


Woy! Afriadi berteriak dalam hati saat dirasa resleting celananya ditarik, tapi ia aneh tindakan selanjutnya tidak ada malah ada suara tertahan.


Afriadi mencoba mengintip.


Hooo! Matanya langsung melotot lihat ada sosok hitam menyekap wanita.


Oh tidak, itu bukan pelindung Afriadi kan? Itu bukan makhluk gaib kan? Pandangan Afriadi buruk, mungkina gara-gara sengatan listrik tadi.


Itu seperti manusia. Afriadi tak kenal siapa yang menyelamatkannya itu, toh wajahnya tertutup topeng.


Dia mendekat melepaskan ikatan ditangan dan kaki Afriadi, yang dilepas tak banyak komentar.


"Af kau tak apa kan?"


Suara yang tak asing di telinga Afriadi.


"Qilan," kata Afriadi menebak.


Saaah...


Yang disebut langsung buka topeng, nunjukin wajah tampannya tangannya mengusap dagu berlagak keren.


"Yah ini aku penyelamatmu."


Rasa ingin muntah Afriadi lihat gaya Qilan, tapi


"Gak apa-apa kan Af?" tanya Qilan.


Afriadi menggeleng.


"Yuk, pergi." Qilan menuju jendela.


OOO... Jadi dia masuk dari sana.


Pas buka jendela, ia lihat ada anak buah Wilona yang lihat dia dari sebelah dan Hasan


"Gawat," gumam Qilan menutup kembali jendelanya.


"Kenapa?" tanya Afriadi bingung.


"Kita ketahuan."


Afriadi mencegah Qilan membuka pintu, ketika pintu dibuka.


BAAA...


Ada anak buah Wilona, dia siap menangkap Qilan.


"Uwaa!!" Qilan menjerit membanting pintu, sampai pria itu mencium pintu. Berkali-kali Qilan melakukan sampai dia pingsan.


Dari jendela Qilan lihat ada anak buah yang masuk, Qilan menarik Afriadi yang masih duduk di ranjang.


"Ayo lari Af, gerakkan kakimu," kata Qilan lihat Afriadi lambat berlari.


Oh tidak, mereka lari kejalan yang salah. Malah bertemu sama kelompok preman itu.


"Uwaaa!!" Qilan teriak berbalik arah.


Afriadi teluntang Lantung berlari mengikuti Qilan.


Afriadi sadar kalau dia berada di hotel.


OOO...


Jangan jangan ini sarang mereka.


Afriadi melepas genggaman tangan Qilan, mereka berpencar cari jalan keluar.


Alih alih berpencar malah ketemu lagi, kali ini mereka ketemu Hasan.


Gila, kocar kacir kek semut lari sana sini. Sesekali mereka menghajar, melawan mereka.


"Cepat cepat cepat tutup," geram Qilan menekan tombol lift.


"Cepat tutup," kata Hasan turut geram. Maka mereka semakin mendekat.


Untunglah pintu cepat tertutup. Mereka ngos-ngosan lelah berlari.


Ting...


Pintu lift terbuka.


Mereka kaget setengah mati lihat depan lift mereka berkumpul penuh.


Mematung mereka menatap tiga orang ini.


"Permisi Om," sapa Qilan cengar-cengir menekan tombol lift.


Untung selamat.


Ting...


Pintu terbuka.


Mereka cepat keluar saat dirasa aman.


Ealah, baru keluar mereka berjumpa lagi.


"Uwaaa!" jerit Qilan lari lebih dulu lihat mereka.


Habis sudah mereka bertiga berpencar lagi,


Afriadi menumbangkan setiap barang memberi halangan pada mereka.


Gila, Afriadi nyasar. Ia harus menuruni banyak anak tangga, berkelak kelok lagi.


Ia berlari menuruni anak tangga, langkahnya terhenti lihat Wilona ada dihadapannya menyodorkan senjata api. Afriadi bingung bagaimana Wilona ada disini?


"Aku tahu kita akan bertemu disini, Afriadi," ujar Wilona kalem.


Idih, jadi peramal doi.


"Kau tak boleh per-" belum sempat Wilona menyelesaikan kalimatnya, Afriadi bertindak lebih dulu menendang tangannya yang memegang senjata api.


Itu senjata jatuh terjun bebas kebawah, menghantam lantai.


"Jangan banyak bicara. Aku muak lihat kau," kata Afriadi mau menyerang.


Wuuus...


Wilona menghindar sampai menabrak dinding. Merasa Afriadi lebih unggul, Wilona ingin cepat kabur.


Mungkin hari itu hari terburuk Wilona, ia terpeleset saat hendak menuruni tangga. Afriadi bergegas bergerak ingin menyambut tangan Wilona, namun naas Wilona terjatuh terhentak kuat di tangga.


Afriadi lebih kaget lagi, Wilona pendarahan.


What? Berati dia sedang hamil dan kemungkinan dia keguguran.


DOOOR...


Suara tembakan terdengar.


Woy, yang benar saja mereka masih mengejar dan sekarang pakai senjata api.


Terpaksa Afriadi meninggalkan Wilona yang kesakitan, toh kalau dia tetap di sana bisa bisa ditangkap.


Afriadi lompat dari tangga sekian ke tangga sekian sampai kebawah, mereka di atas terus menembak terus.


Syukurlah Afriadi sampai dilantai dasar. Dan siapa sangka ia bertemu dengan tim penyelamat. Bersyukur sekali ia bertemu dengan mereka.


Afriadi segera diselamatkan.


Afriadi tak tahu apa dah jadi dengan Hasan dan Qilan, yang pasti mereka selamat walau Hasan terluka cukup parah ia tertembak dibagian lengannya.


Dengar kabar para penjahat itu sudah ditangkap, kecuali bos mereka sempat melarikan diri dan yah, jadi buronan.


Sedangkan Wilona dengar kabar lagi dia gila gara-gara keguguran. Afriadi duga dia tidak gila melainkan hanya berpura-pura, dan benar saja dugaan Ariadi benar. Berapa hari kemudian sampai berita ke telinganya, kalau Wilona berhasil kabur. Entah bagiamana dia bisa kabur yang pasti dia tidak bisa kabur tanpa orang dalam dan bantuan dari kelompoknya.


Yah, begitulah jadinya Wilona dendam sama Afriadi.


Tapi, yang anehnya ia baru muncul setelah berapa tahu kemudian saat Afriadi sudah menikah.


***


Alhamdulillah akhirnya selesai juga.


Author lega.

__ADS_1


Bagaimana episode kali ini?


Author duduk manis nunggu like and komen kalian.


__ADS_2