Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Hobi baru


__ADS_3

Lepas pengalaman indah malam tadi Latika mulai tersenyum di paginya, Bik Ipah dan yang lainnya melihat Latika tersenyum ikut bahagia juga.


Afriadi melihat Latika membantu Bik Ipah kerja mengurus rumah, selama beberapa hari ia memperhatikan Latika. Ingin ia membujuk Latika kembali kuliah, tapi ia tak memaksa Latika.


Afriadi berdiri di halaman belakang rumah yang kosong, hanya ada rumput kuda saja.


"Tuan, lihat apa?" tegur Samsul yang keluar dari pintu dapur.


"Halaman belakang ni kosong. Bagusnya taruh apa ya?" Afriadi mengamati sambil mengusap dagunya yang tak berjenggot.


"Bagus taruh bunga saja tuan, sekarangkan musim bunga. Para wanita senang menanam dan merawat bunga," usul Samsul.


Afriadi terdiam sebentar memikirkan matang-matang, Samsul tak menunggu jawaban Afriadi ia langsung pergi membuang sampah.


"Adek taman bunga," gumam Afriadi, memikirkan usulan Samsul tadi.


Tak lama Samsul buang sampah tiba-tiba Afriadi memanggilnya.


"Samsul!" panggil Afriadi dari kejauhan melambaikan tangan menyuruh Samsul mendekat.


Alis Samsul naik sebelah, bergegas lari mendekati Afriadi.


"Ada apa tuan?" tanya Samsul.


"Ayo bantu bersihkan halaman belakang rumah," ujar Afriadi.


Tanpa bertanya lagi untuk apa cepat Samsul mengambil peralatan untuk membersihkan halaman belakang rumah yang cukup luas.


Samsul mulai membersihkan halaman belakang rumah, Afriadi juga turut membantu.


"Buat apalah kalian ni," tegur Bik Ipah berdiri di depan pintu dapur.


"Cari peluh Bik," sahut Afriadi girang membersihkan rumput pengganggu.


Buk Ipah hanya menggeleng kepala, lalu masuk. Bik Ipah masuk Latika keluar.


"Abang tengah buat apa tu?" tanya Latika tepat di tempat Bik Ipah berdiri tadi.


"Kami nak buat-" Samsul langsung tutup mulut saat ia melihat Afriadi melototinya, ia tahu maksud tatapan Afriadi menyuruhnya diam.


"Buat apa?" tanya Latika pada Samsul.


Samsul tersenyum getir bingung mau jawab apa, toh dia tak bisa bersilat lidah.


"Tak ada buat apa apa," jawab Afriadi.


"Habis tu?"


"A- sengaja cari peluh," jawab Afriadi.


Latika menatap penuh kecurigaan.


"Dek, belikan martabak ditempat biasa," suruh Afriadi.


"Adek tak pandai main motor," jawab Latika.

__ADS_1


"Oh iya, pergi sama Sari. Dia pandai main motor." Afriadi lihat Latika masih berdiri di sana.


"Cepat lah Dek, Abang lapar ni," pujuk Afriadi.


Latika merasa iba dengan Afriadi, akhirnya ia turuti juga. Ia pergi dengan Sari naik motor, sampainya di sana mereka berdua terkejut lihat kedai martabak di penuhi banyak orang.


Batin Latika sudah menduga bakalan lama ini.


Semakin lama Latika menunggu giliran, semakin leluasa Afriadi membedah halaman belakang.


Pas jam 5 sore, Afriadi dan Samsul selesai membedah halaman belakang.


Hem, lumayan rapi juga temboknya sudah di cat, rumput sudah rapi, tinggal rak dan tanaman saja lagi.


Kerja hari ini usai sudah.


Sekitar jam 17:25


Latika dan Sari datang.


Latika memberikan martabak pada Afriadi yang duduk diruang keluarga nonton tv.


"Wah, makasih Adek." Afriadi menyantap martabak uang sudah dihidangkan.


Latika meangguk kesusahan.


Sari datang membawa piring, diambilnya satu martabak untuk orang depan Mang Juneb dan Samsul, eh Afriadi tambahnya satu lagi.


"Eh, banyak kali Mas," kata Sari kebingungan.


Sari tersenyum cepat membawa makanan itu pergi. Latika hanya melihatkan Sari pergi.


"Dek. Aaa..." Afriadi menyorong sepotong martabak ke mulut Latika.


Latika menggeleng tak mau, namanya bukan Afriadi kalau tujuannya tak berhasil dalam tujuannya.


"Cepatlah rasa, Adek yang beli tak makan pula," pujuk Afriadi, Latika menggeleng tak mau.


Afriadi mengerutkan dahi, "Nanti kalau habis, jangan cari ya."


Entah kenapa tiba-tiba Latika langsung gigit martabak di tangan Afriadi.


"Kata tak mau," ujar Afriadi sedikit kaget.


"Lapar," jawab Latika.


Afriadi tersenyum puas, Latika makan martabak.


***


Keesokan harinya.


Afriadi pulang, ia langsung mencari Latika yang ternyata duduk di depan kolam membaca buku.


Perlahan ia mendekat, berdiri dibelakangnya.

__ADS_1


Latika tak sadar kalau Afriadi ada dibelakangnya, tiba-tiba matanya melotot lihat ada tangan yang memberikan tanaman kaktus dihadapannya.


Latika menoleh kebelakang.


"BAAA!"


Afriadi mengagetkan Latika, reflek Latika menepuk Afriadi, yang ditepuk tertawa geli.


Afriadi berpindah duduk disebelah Latika. Ia memberikan tanaman kaktus tersebut pada Latika.


"Dek, Adek tahu kan ini apa? Dia tanaman yang istimewa bisa bertahan di panas gersangnya gurun. Seharusnya kita belajar darinya, bertahan dari segala cobaan dan ujian yang diberikan, karena dibalik ujian ada hikmah..."


"Dia kan memang tanaman istimewa."


Afriadi menatap malas Latika, lalu menggaruk-garuk kepalanya, susah mau menjelaskan.


"Adek paham apa maksud Abang," kata Latika tersenyum.


"Tumben Abang beli kaktus?"


"Biar Adek tak bosan di rumah terus." Afriadi menarik tangan Latika, "Ikut Abang."


"Mau kemana?"


"Ikut saja."


Latika ikut aja, sampai di halaman belakang rumah.


"Tuan, ini taruh dimana?" tanya Samsul membawa sejumlah tanaman bunga.


Latika kaget, sejak kapan halaman belakang rumah jadi gini, Latika melirik Afriadi, apa ini semua ulah Afriadi?


"Nih, tanya sama nyonya." Afriadi mendorong Latika, berbisik ditelinga, "Atur Dek, ini semua untuk Adek."


Semua mata tertuju pada Latika, siap mengikuti perintah. Latika segera melakukan mengatur tata letak bunga, bahkan Latika juga tak segan mengotori tangannya memisahkan bunga dipindahkannya lagi ketempat yang cocok.


"Waaah, Abang beli janda bolong juga."


"Ha?" Afriadi menggaruk kepala heran, ia beli bunga itu ya?


"Itu dari emak non," kata Samsul memindahkan tanaman, "Emak kasih non, dilihat akhir akhir ini lagi viral tanaman itu."


"Makasih ya mas Samsul."


"Sama-sama non."


"Habis ni Adek rawatlah tanaman ni biar tak bosan di rumah." Afriadi turut membantu Latika.


"Makasih ya bang sudah bikin semua ni."


Mereka menghabiskan waktu untuk mengatur bunga Bik Ipah dan mang Junen juga turut membantu.


Rencana Afriadi berhasil, berapa hari ini ia memperhatikan Latika genset berkebun bahkan bukan bunga saja yang ia tanam sayuran seperti tomat.


Afriadi juga mengajak Latika mencoba yoga bersama. Latika bisa saja melakukan gerakan yoga cuman Afriadi kesulitan melakukan gerakan yoga, namun ia tak menyerah terus mencoba.

__ADS_1


Setelah berapa hari mencoba Afriadi sudah menguasai gerakan yoga.


__ADS_2