
Jam 16:45 sore.
Teng... Tong...
Bel Rumah berbunyi.
Afriadi menemui tamu itu.
Latika yang sudah mandi berpakaian manis, mencari Kakandanya.
Ketika ia ke Ruang Tamu ia melihat Papa Kina orang yang ia tolong dulu.
"Eh, Latika," sapa Papa Kina ceria, di balik cerianya ia berusaha menyembunyikan kesedihannya, "Haha... Tidak sangka akan bertemu lagi."
"Om, ada apa ke sini?" tanya Latika.
"Oh, itu..."
Lumayan lama perbincangan di antara mereka.
Intinya Papa Kina memita maaf sekali lagi dengan Latika.
Latika kaget mengetahui Kina di tangkap. Latika tak perlu khawatir foto video dan bentuk ancaman lainnya sudah di musnakan sendiri sama Papa Kina, dia membakar semua.
Waktu terus berjalan.
Papa Kina berdiri dari tempat duduknya, "Pamit dulu ya."
"Eh, sudah mau pergi," kata Latika.
"Iya, langsung mau berangkat," balas Papa Kina.
Mereka berdua meantar Papa Kina sampai di depan pintu.
"Paman benaran ingin pergi ke luar kota?" tanya Afriadi sebelum dia pergi.
"Iya. Mau kunjungi sanak saudara, lagi rindu-rindunya," alasan Papa Kina. Dia hanya mencari tempat untuk menyendiri, menenangkan dirinya, "Afriadi, jaga dia ya. Dia kan Istrimu, jangan marah-marahan lagi."
Afriadi melotot. Loh, dari mana dia tahu mereka berdua Suami Istri. Oh iya buku harian Latika.
"Jangan tanya, aku tahu darimana? Bukannya kau sudah tahu sendiri jawabannya. Awalnya aku kira kalian bukan suami istri, ternyata perasangka semakin kuat setelah melihat kalian berdua kejar-kejaran di waktu pagi, Adik Kakak gak seperti iti juga," goda Papa Kina.
Afriadi baru sadar soal itu, toh dia baru tahu kalau ada orang melihat mereka berdua kejar-kejaran.
Latika hanya diam tersipu malu.
"Latika, jadi Istri yang baik jangan jadi Istri yang durhaka," nasehat Papa Kina pada Latika.
"Baik Om."
"Saya pamit undur diri."
Afriadi menghentikan langkah Papa Kina, "Paman. Paman jangan sedih dan merasa tidak ada orang yang menyayangi Paman. Kami akan selalu ada untuk Paman, jangan segan bila ada masalah."
Papa Kina tersenyum memeluk Afriadi, matanya mulai berkaca-kaca. Cepat ia pergi sebelum air matanya kembali menetes.
"Semoga rahmat Allah selalu menyertai kalian," guma Papa Kina masuk ke dalam mobilnya melihat Rumah itu sekali lagi.
"Kita berangkat sekarang Tuan?" tanya supir pribadi Papa Kina.
Papa Kina meangguk.
Setelah dapat perintah mobil berjalan menuju tempat tujuan.
***
"Oi, Had. Dari tadi aku perhatika, kau melamun. Pikirkan apa?" tegur Ari Paman Hadi. Dia duduk di Sofa Ruang Keluarga memainkan Ponselnya.
"Entahlah, aku teringat dengan dia," sahut Hadi lemah mengotak atik remot Tv.
"Siapa? Latika," tebak Ari masih fokus sama Ponselnya.
"Bukan." Hadi menggeleng.
Perhatian Ari teralihkan sama Hadi, beberapa hari ini dia galau melulu, "Lalu?"
"Em, aku tahu siapa. Kina ya." Ari menebak lagi.
"Em." Hadi diam berati benar.
"Untuk apa kau memikirkan dia lagi. Wanita itu tidak pantas untuk di ingat."
"Hah, aku sudah coba untuk melupakannya. Tapi, aku tidak bisa," kata Hadi, nada bicaranya lemah.
__ADS_1
"Apa kau masih suka dengan dia?" tanya Ari penasaran.
"Entahlah." Hadi meangkat Bahu.
"Lupakan saja dia. Cari wanita lain.
Lagian Wanita itu juga tua darimu. Umurnya hampir sama denganku," kata Ari, Pria berumur dua puluh empat tahun pedas juga omongannya.
"Aku tidak peduli dia tua atau tidak," kata Hadi lemah. Dia seperti tak bernyawa.
"Hah, aku bingung dengan kau. Em, bagaimana apa sudah kau berikan surat undangan itu kepadanya?" Ari mealihkan pembicaraan, dari raut wajah Hadi sudah hapal kalau dia galau.
"Sudah."
"Baguslah. Dia bilang apa?"
"Terimakasih."
"Oh, lagi. Apa dia setuju."
"Kau tanya sendiri."
"Sudahku coba, tapi hasilnya aku kena marah seseorang. Kasar sekali tiba-tiba marah tampa arah."
"Em... Siapa? Latika."
"Bukan kelihatanya, dari suara sepertinya bukan Latika, suara serak laki-laki."
"Emm, Pacarnya itu," kata Hadi memainkan Ponselnya.
"Ha, sejak kapan Latika punya pacar? Aku kira kau pacarnya."
Hadi membalas dengan menatap malas Ari.
"Kau suka dengan Latika? Lalu kenapa dia yang dapat Latika bukan kau?" emosi Ari lihat kesantaian Hadi.
"Mana aku tahu." Hadi ngas.
"Kau malas berjuang." Ari juga ikut ngas.
"Hah, sudahlah ia sudah punya pacar." Hadi melambaikan tangan, malas ia membahas itu. Meranjak dari tempat duduknya.
"Et, kau mau menyerah begitu saja. Helo~ sebelum jamur kuning melenhkung dia masih bisa kau miliki.
Dia kan cuman pacar belum tentu ia Suaminya!" Ari meneriaki Hadi, yang di teriaki menutup kuping.
***
Malamnya Latika duduk di meja belajar, mengerjakan tugas. Fokus banget Latika mungkin itu hati sudah adem dan pikiran pun tenang, beban yang membuat ia sesak selama ini.
Tak lama ia meranjak dari meja belajar, masuk ke kamar mandi, setelah itu meranjak naik ke tempat tidur siap-siap mau tidur biar besok bangun lebih awal.
Selang beberapa menit Latika menutup matanya, Afriadi muncul membuka pintu Kamar Latika.
"Adeeeeeek."
Latika langsung melek, kaget lihat Afriadi.
"Eh, maaf Abang membangunkan Adek."
"Tidak apa. Ada apa Bang? Masuk saja Bang."
Afriadi masuki Kamar Latika duduk di sisi tempat tidur sebelah Latika.
"Ada apa Bang?" Latika mengulangi pertanyaan.
"Ini." Afriadi mengembalikan buku harian Latika.
Cepat Latika bangun, meambil buku hariannya, mengusap buku itu, "Eh, buku Adek. Sudah lama Adek cari.
Di mana Abang jumpa?"
"Papa Kina yang berikan," jawab Afriadi.
"Abang baca semuanya?" tanya Latika, sadar itu buku berpindah tangan dari Papa Kina ke Afriadi, otomatis Afriadi baca dong isi bukunya.
Tuh kan benar, Afriadi meangguk-angguk berarti benar itu. Gawat tuh dalam buku itu kan di tulis awal mereka bertemu sampai nikah dan masalah-masalah sepele sampai yang besar.
"Jadi Abang tahulah isi buku ini?" tanya Latika, itu wajah bersemu.
"Bisa dibilang begitu." Dia tersenyum.
"Kacang sekilo berapa?" goda Afriadi dia masih ingat dengan pertanyaan kocak itu. Afriadi ingat semua bahkan ketika Latika menabraknya sampai sakit itu bokong.
__ADS_1
Latika mengembungkan pipinya. Gatal tangan Afriadi mau cubit itu pipi.
"Hihi... Adek comel seperti ini!" Afriadi mencubit pipi Latika, tak tahan Afriadi mau cubit itu pipi, "Gemesnya."
Latika meaduh pelan.
"Dek, Abang minta jangan ada rahasia lagi di antara kita. Abang tidak ingin salah paham lagi." Afriadi serius melepas cubitanya.
Latika meangguk.
"Ini ponsel, Abang kembalikan." Afriadi mengembalikan Ponsel Latika.
"Alhamdulillah."
Latika menyalakan Ponselnya.
Tak lama Ponsel nyala pesan masuk dari Mas Ari.
Kepala Afriadi memanjang melihat pesan Latika.
"Mas Ari." Afriadi baru ingat soal Mas Ari. Baru saja Latika memainkan ponselnya, sudah di ambil Afriadi lagi.
"Sayang." Keluar sudah nada dingin Afriadi. Api cemburu membakar hatinya.
"Siapa Mas Ari? Kenapa Adek panggil dia sayang? Bukankah tadi baru saja-"
Tup...
Tangan Latika menempel pada mulut Afriadi, menghentikan mulut mesin jahit itu.
"Huuuuss... Adek jelaskan, Abang jangan marah, jangan pakai emosi ingat tak tadi."
Afriadi terdiam menahan gejolak cemburunya, ia baru ingat dengan kalimatnya tadi.
Latika turun dari tempat tidur, membuka tasnya mengambil surat pink itu lagi.
"Ini." Latika memberikan surat itu kepada Afriadi.
Afriadi menatap Latika meambil surat itu, ia buka surat itu sedikit kasar. Matanya melotot lihat isi dalam surat.
"Itu surat undangan ulang tahun Lili, Adiknya Hadi. Keponakannya Mas Ari.
Mas Ari itu pamannya Hadi, umurnya seumuran dengan Abang. Adek dan Hadi sering bermain dengan dia waktu kecil dulu."
"Terus kenapa panggil dia sayang?"
"Sayang itu nama panggil Adiknya Hadi.
Dia memanggil Lili yang yang yang jadinya sayang, jadi Adek ikut juga panggil Adiknya Hadi sayang. Jadi pesan yang abang baca sayang itu panggilan adiknya Hadi."
"Oh.. Aataghfirullah, salah paham lagi."
"Em, Adek boleh pergi?"
"Bolehlah."
"Abang cemburu ya."
"Siapa yang tidak cemburu kalau lihat Istri memanggil sayang sama orang lain. Sudahlah. Tidur lagi. Sudah jam berapa ini."
"Em..."
Latika meranjak naik ke tempat tidur, baring di sampaing Afriadi yang duduk di tepi tempat tidur.
"Jangan lupa baca do'a." Afriadi mengusap kepala Latika.
Afriadi meranjak dari tempat tidur, menarik selimut menyelimutinya.
Setelah itu ia keluar.
"Sudah itu saja, tidak ada lagi," guma batin Latika. Menepuk-nepuk bantal.
Tiba-tiba...
Ia kembali lagi.
"Ada yang terlupa."
"Apa?"
Afriadi mendekat dan cup...
Kiss di kening Latika.
__ADS_1
"Mimpi yang indah." Afriadi mengusap kepala Latika sebelum ia pergi.
"Kyaaa..." Latika menjerit dalam hati ketika Afriadi sudah tidak ada di sana. Ia menutupi wajah yang merah itu dengan selimut.