Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Akui Viana


__ADS_3

"Gelap," guma bantin Afriadi, ia tak melihat apa-apa, gelap gulita. Sebenarnya ada di mana ini?


Afriadi celengak-celengok lihat kiri kanan, benar-benar gelap.


"Af."


"Af."


"Af."


"Af."


Ada yang memanggilnya berulang kali, suara itu seperti tak asing bagi Afriadi, dia celengak-celengok lihat kiri kanan.


"Af." Suara itu terdengar lagi, suara yang hambar seperti tak bernyawa.


Sekali lagi Afriadi melihat kiri kanan atas bawah sekitarnya, tidak ada gelap.


"Af, tolong. Hiks..."


Suara itu terdengar lagi, sekarang ia merintih menangis.


"Af, Tolong. Hiks..."


"Af, tolong. Hiks..."


Afriadi mulai panik, cepat mencari suber suara itu ia berkari ke sana sini sampai akhirnya...


Bruuuk...


Ia terjatuh kesandung batu, matanya terpejam perlahan ia membuka matanya.


Afriadi memdesisi bangkit dari jatuhnya, pandanganya sialau dengan cahaya beberapa kali ia mengedipkan matanya.


Dia melongo melihat tempat yang tak asing, pemandangan di atas gedung.


Angin menggoda Afriadi dengan membelau lembut pipinya, Rambutnya ikut terbelai.


"Tolong Af." Suara itu terdengar lagi.


Afriadi memperhatikan setiap sisi. Perhatiannya teralihkan pada sosok Wanita yang lari di belakangnya menghilang di balik pintu. Tunggu ia seakan kenal dengan Wanita itu, ia meambil garis lurus Dari Wanita itu mearahkan pandanganya ke Sana sebelah barat.


"Af, tolong!" teriak seorang Wanita, tergantung di bibir gedung.


Mata Afriadi membulat sempurna, berlari menghampiri Wanita itu.


Namun naas Wanita itu tak sanggup bertahan tanganya terlepas dari sisi dinding.


"Hap." Afriadi menyambut tangan Wanita itu.


"Egh. Bertahanlah, aku mohon." Afriadi sekuat menarik tangan Wanita itu, berusaha membawanya naik. Urat tegangnya sampai terlihat jelas.


"Af, maafin aku. Aku tak bisa menemani kamu lagi. Aku harap kau bisa bertemu dengan wanita yang lebih baik lagi dari pada aku. Maaf kan aku Af."


Namun naas Wanita itu tak bisa bertahan lagi, tangannya terlepas dari gegaman Afriadi.


Tergambar jelas di mata Afriadi Wanita itu terjatuh terhempas ke tahan.


Bruuuk...


"Haaa..." Afriadi melek terbangun dari mimpinya, pandangannya melihat langit-langit kamar, nafasnya tersengkal. Ia seperti habis mimpi buruk, bertemu dengan dia.


"Mimpi itu lagi," guma hatinya, mengusap wajah tengangnya, "Kenapa akhir-akhir ini aku sering sekali mimpi dia."


Afriadi melihat Latika di sampingnya, tertidur pulas.


"Wanita peganti. Aku sudah menemukannya," guma batin Afriadi, ia mengelus wajah Latika dengan jari telunjuknya, yang di elus terbangun.


Cepat menjauhkan tangannya.


Latika membuka matanya, melihat wajah tegang Afriadi, "Kenapa Bang? Kenapa tegang begitu? Habis mimpi buruk?"


Afriadi mengkedipkan matanya 'iya'


"Mimpi apa?" Latika bangun duduk mengucak matanya. Penasaran ingin tahu.


"Dia." Afriadi menjawab lemah.


"Siapa?" tanya Latika lagi, memeluk bantal guling.


"Teman dekat Abang waktu SMA."


Mata Latika membulat sempurna, "Hem. Kenapa sampai terbawa mimpi? Dia sapanya Abang?"


Wajah cemburu Latika tergamabar jelas.


Afriadi tersenyum tepaksa, "Adek sudah tahu bukan ceritanya. Bukankah Bik Ipah sudah menceritakan semua dengan Adek."


"Oh, yang mana?" Latika menggaruk kepalanya.


"Hem, 5 tahun yang lalu." Afriadi mengingatkan Latika.


"Oh, ya. Wanita yang itu." Latika ingat dengan cerita Bik Ipah mengenai Wanita itu.


"Wanita yang dekat dengan Abang." Latika jadi sedih setelah teringat cerita Bik Ipah.


Setelah kepergian orang tuanya, Afriadi harus kehilangan orang yang beharga saat itu.


Naila, sosok wanita yang dulu hadir dalam kehidupan Afriadi, meninggalkan kenangan yang sangat berkesan bagi Afriadi, dia membantu Afriadi dalam masalahnya yup masalah pisikologi. Sosok Naila sudah dekat dengan Afriadi sejak ia duduk di bangku SMA.


Naila sering berkunjung melihat keadaan Afriadi. Afriadi yang saat itu seperti mayat hidup sangat sulut untuk di dekati, Naila paham betul masalah Afriadi toh dia seorang psikolok.


Selama berminggu-minggu Naila menemani Afriadi, ia mulai dari sering berkomunikasi dengan Afriadi walau sering di cukin sih, tapi Naila tak menyerah sampai Naila meneror Afriadi lewat pesanya menanyakan kamu sudah makan apa belum? Bagaimana makananya enak atau tidak? Sudah mandi? Sudah Sholat? Afriadi hanya membaca saja tak di balas. Kalau jalan lewat pesan gak mempan Naila menelpon Afriadi, di angat sih telponya tapi Afriadi bicara hanya em, hem persis mumi baru barung tidur.


Tak kehabisan akal Naila menghibur Afriadi. Ia mengajak Afriadi jalan-jalan mendaki gunung, nonton filem di bioskop, jalan-jalan di taman hiburan, dan tempat yang lagi banyak di kunjungi. Tapi tetap saja Afriadi hanya diam seperti Mumi.


Sampai satu waktu Naila mulai menyerah sama Afriadi.


Waktu itu.


"Sudah aku bilang, aku tidak mau makan!" Afriadi menyingkirkan makanan dari mejanya, "Harus berapa kali aku bilang!"


Praak...


Piring terhempas ke lantai, makanan terhambur di lantai.


Naila kaget, matanya berkaca-kaca. Afriadi benar-benar tak menghargai makanan yany susah payah Ia buat untuk dirinya.


"Af-"

__ADS_1


"Tinggalkan aku sendiri." Afriadi memotong kalimat Naila.


"Af-"


"Sudahku bilang tinggalkan aku sendiri!"


"Mau sampai kapan kau begini, Af!"


"Tak seharusnya kau sedih berlarut-larut. Ikhlaskan mereka pergi, itu sudah takdir mereka... Ingat Afriadi setiap yang bernyawa pasti akan mati..."


"DIAM!" Afriadi tak mau mendengar kalimat Naila lagi.


Bik Ipah yang baru datang membawa beberapa cemilan mendengar petengkaran mereka, ia tak bisa ikut campur hanya bersembunyi di balik dinding kamar Afriadi, Bik Ipah tak kuasa mendengar pertengkaran pergi meninggalkan mereka.


"... Mau sampai kapan kau begini, Af?"


"Aku bilang pergi." Afriadi terduduk di lantai kamarnya, bersandar di kaki sofa.


"Aku tahu Af semuanya pasti berat untuk melupakan mereka. Aku juga pernah ada di posisimu juga, emang berat untuk melepas kepergian mereka. Tapi, apa daya Af. Semua kehendaknya kita tak bisa berbuat apa-apa, mau sampai nangis darah pun mereka tak akan kembali. Sekarang yang bisa kita lakukan hanya pasrah dan tawakal mendoakan mereka mendapat tempat terbaik di sisi Allah... Kalau kau begini terus kau mau jadi apa, jadi mayat hidup seumur hidup... Kau jangan merasa tidak ada orang yang menyayangimu lagi Af. Bik Ipah, Mang Juneb, Hasan, Qilan, Aku, dan yang lainnya sayang sama buat sedih orang yang sayang padamu." Naila duduk di lantai tak jauh dari Afriadi, ia bersandar pada sisi tempat tidur.


Mata Afriadi melotot mendengar kalau dia sayang pada dirinya, rasanya kaya apa gitu.


"... Jangan buat mereka yang sayang padamu merasa sedih. Kai harus bangkit Af, Papa dan Mamamu pun tak mau lihat kau seperti ini. Mereka pasti sedih..."


Pintu Hati Afriadi terketuk dengan kata-kata Naila, benar juga apa yang di katakan Naila untuk apa dia bersedih berlarut-larut mereka juga tak akan kembali.


Afriadi mulai bangkit dari kesedihannya, meski sulit. Naila juga tak jadi menyerah, ia berusaha agar temannya itu bisa tertawa, ia memberi warna kembali di hidup Afriadi.


Selama itu Afriadi menaruh rasa padanya, mulai ada rasa di antara mereka. Ketika mereka saling mengetahui kalau mereka saling menyukai satu sama lain.


Afriadi tak mau menunggu lama lagi, takutnya Naila pergi, jadi ia mengajaknya ke jenjang yang lebih serius.


"Nai, aku mau tanya." Afriadi mendekati Naila yang berdiri di tepi pagar dermaga melihat pemandangan Sore.


"Tanya apa?" Naila malah balik tanya tanpa memalingkan pandangannya.


"Sudah punya pacar?" Afriadi malu-malau menanyakannya, sampai berdehem Afriadi, "Ehem."


"Em..." Naila berpikir, sengaja memperlambat memberi jawaban.


Afriadi salah tingkah lihat Naila menyeringai menatapnya.


"Aku hanya tanya saja?" Afriadi mealohkan pandangannya.


"Gak ada namanya pacaran sebelum Nikah," jawab Naila.


"Berarti kamu belum ada pacar?"


"Ahaha... Berapa kali harus aku bilang." Naila tertawa.


"Kalau gitu kita NIKAH bagaimana?" Afriadi terus terang sampai Naila terdiam dibuatnya, bengong.


"Aku mengajak ibadah lo. Kita pacaran setelah Nikah. Aku suka dengan kau."


Naila masih bengong menatap Afriadi. Kalimat yang di ucapkan Afriadi berdengung di dalam telinganya.


"Nai." Afriadi melambaikan tangannya.


"Eh..." Naila sadar.


"Kamu mau tidak Nikah dengan aku? Ya, kau tidak aku juga tak memaksa." Wajah Afriadi memerah.


Naila tak menjawab.


"Ah, sudaj lupakan saja. Aku-"


"Aku mau Nikah sama kamu," jawab Naila menerima ajakan Afriadi dengan wajah memerah.


Booom... Rasanya ada yang meledak gitu di tubuh Afriadi, gembira.


Batinya bersorak gembira, eth tunggu pastikan dulu.


"Seriusan?"


Naila meangguk, tersenyum, "Kan, Ibadah dan lagi pula aku juga suka dengan kamu."


Uuuuu...


Gemes, batin Afriadi berbunga-bunga rasa-rasanya ia ingin berguling berdua dengannya di hamparan seribu bunga.


Ehem, sore yang sempuran. Bukan hanya dapat menikmati pemandangan matahari tengelam tapi juga dapat lamaran dadakan.


Em, setelah mengungkapkan perasaannya. Beberapa hari kemudian Afriadi menemui keluarga Naila yaitu Paman dan Bibiknya di Bengkulu. Mereka membicarakan masalah pernikahan.


Hari itu lamaran Afriadi di terima baik sama keluarga. Tanggal Pernikahan dan lain-lainnya sudah di tentukan.


Bahagia sekali mereka, tak sabar menunggu hari besar itu sekitar 2 minggu lagi.


Namun sayangnya mereka tidak berjodoh, tepatnya seminggu sebelum pernikahan. Naila sudah pergi terlebih dahulu meninggalkan Afriadi. Ia meninggal karena kecelakaan jatuh dari atas gedung Apartemennya, sebab bercanda kelewat batas. Ia sempat di bawa ke Rumah Sakit namun naas nyawa Naila tak tertolong.


Afriadi yang sibuk mengurus persiapan pernikahan dengan bantuan Paman Naila, kaget ketika dapat kabar dari Bibi Naila yang menangis tersedu-sedu.


Afriadi dan Paman Naila langsung pergi ke Rumah Sakit. Selama perjalanan Afriadi ingat dengan Naila, kenangannya bersama dengan dia.


Sesampainya di Rumah Sakit. Afriadi hanya tertunduk menahan air matanya ketika di berhadapan dengan Naila yang terbaring kaku. Perlahan Paman Naila membuka kain putih yang menutupi Naila.


Tak kuasa mereka menahan tangisan, menutup kembali wajah itu.


Afriadi memalingkan wajahnya, keluar dari sana. Semua kenangan terbang memutar kembali kenangan itu.


Pemakaman Naila segera di laksanakan, ia di makamkan di pemakaman Umum.


Di saat semua orang pergi, Afriadi masih berdiri di sana menatap tempat peristirahatan Naila.


Hatinya kembali hancur, ia harus melepas lagi orang yang paling ia sayangi yang selalu ada di sampingnya saat ia susah dan senang, yang memberi warna dalam hidupnya, yang memberi semangat serta dorongan untuk bangkit dari keterpurukan.


Kini sudah pergi meninggalkan ia selamanya.


Hari-hari yang berwarna kembali buram, sifat Afriadi berubah menjadi pendiam dan pemurung. Sifatnya yang dulu ia kubur dalam-dalam sampai satu hari nanti akan ada yang mengembalikan sifatnya.


Afriadi merasa kejadian itu berasa terjadi kemarin.


"Maaf Bang. Adek menanyakan hal ini." Latika memutus lamunan Afriadi.


Afriadi menatap Latika, menggeleng, "Tidak apa."


"Abang jangan sedih lagi Adek ada di sini temani Abang."


Wajah Latika berubah jadi imut-imut gitu, tak tahan Afriadi ingin mencubit pipinya itu.

__ADS_1


"Iya." Afriadi mencubit pipi Latika.


"Aduh, jangan kuat."


"Mochi."


"Huh..." Latika megembungkan pipinya, menatap malas Afriadi.


Afriadi melepas cubitanya, "Gak mau di cubit lagi ini."


"Em..." Latika menatap Afriadi.


"Kalau begitu boleh kan?" Afriadi menaik turunkan alisnya.


"Ha." Latika kaget, apanya yang boleh roman-romannya lain ini.


"Boleh atau tidak?" tanya Afriadi sekali lagi dengan senyum lebar.


"Boleh apa?" Latika tanya balik ia kurang mengerti.


"Ganti."


"Em..." Latika menumbangkan kepalanya ke samping.


"Halah, kelamaan mikir." Afriadi melambaikan tangan, bangun meranjak turun dari tempat tidur.


"Abang mau sholat dulu," lanjutnya lagi.


"Boleh. Boleh kok Bang. " Latika setuju setelah Afriadi hilang di balik pintu.


"Yah, sudah pergi." Latika lihat Afiadi sudah pergi menjauh, natanya tidak.


"Boleh apa ya?" Latika mektuk-ketuk dagunya dengan jari telunjuk, "Ah, tak usah di pikirin."


Latika merapikan tempat tidurnya, setelah itu pergi ke dapur buat sarapan.


Sedangkan di rumah sakit.


"Na~i~la...


Ma~af Na~i~la."


"Viana mengigau lagi."


Viana tertidur duduk kepalanya terjatuh di tempat tidur, ia berkali-kali memanggil Naila.


"Naila. Sepertinya aku pernah dengar nama itu. Tapi, siapa?" tanya batin Nandi.


"Hem.." Nandi menutup matanya, memaksa otaknya untuk bekerja, menginggat siapa Naila. Ia seakan kenal dengan wanita bernama Naila itu, namanya seperti tak asing do telingannya


'Ah, wanita itu.' Nandi ingat dengan Wanita itu, dan apa yang menimpa atas dirinya.


Batin Nandi berkata, "Vi, kau harus katakan yang sebenarnya kepada Afriadi? Kau harus Vi."


Nandi mengusap kepala Viana, menatap wajah wanita itu yang sekarang tertidur pulas.


Sekitar Jam 07:00 pagi.


Latika bersiap-siap untuk pergi sekolah.


Mas Samsul sudah menunggu di depan pagar.


Latika menuruni anak tangga menuju Pintu Utama.


Gerakan tangan Latika yang mau membuja pintu di hentikan dengan pertanyaan Afriadi.


"Hari ini Adek mau ikut Abang bareng ke Sekolah?" Afriadi merapikan dasinya.


Latika menggeleng, "Tidak."


Afriadi meangguk, ia teribgat sesuatu, mendekatkan wajahnya ke Latika, "Dek sini."


Latika memoleh melihat Afriadi, "Apa-"


Cup...


Latika dapat kiss dari Afriadi di pipinya.


Wajahnya seketika merah merona.


"Hueh... Ken-"


"Huuuss..." Jari telunjuk Afriadi menempel pada mulut Latika menghentikan kalimatnya.


"Jangan tanya kenapa?


Bukannya Adek yang bolehkan."


Tanda tanya memenuhi otak Latika, ia tak mengerti maksud Afriadi apa.


"Tak ingat lagi. Subuh tadi."


Baru Latika ingat permintaan Afriadi subuh. Batin Latika berkata, "Abang mendengarnya. Jadi itu yang tanyannya boleh,"


"Hehehe..." Latika hanya tertawa.


"Sudah berangkat lagi, Mas Samsul sudah tunggu," printah Afriadi mengusap kepala Latika.


"Em...." Latika meangguk, menyorongkan tangannya minta salam. Afriadi tersenyum menerima permintaan Latika.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumssalam."


Latika pergi keluar menyusuk Samsul yang sudah menunggu dari tadi.


Afriadi berbalik meambil tasnya di kamar, ketika ia meambil ponselnya.


Tring...


Pesan masuk, ia melihat siapa pengirim pesan itu, lalu membaca isi pesan.


——————————————————————


Nandi


Af, bisa datang kesini sebentar, ada yang Viana ingin sampaikan.


Penting.

__ADS_1


——————————————————————


"Hem, sampaikan. Apa yang ingin Viana sampaikan?"


__ADS_2