
Balai desa kampung ini menjadi saksi kejadian malam itu. Balai desa sekarang kedatangan tamu. Di dalam balai desa, seorang pria gagah duduk di kursi menjelaskan kejadian itu kepada Pak Kades, Pak RW, Pak Imam, warga yang jadi saksi malam itu di suruh datang, dan para warga kepo yang ada di sana.
Hansip terdiam duduk di sebelah Pak Rw di depan pria gagah itu, yang tak lain adalah Hasan.
Dalam pikiran Hansip, ia teringat dengan perkataan Afriadi, saat ia menantang Afriadi dan perbuatan yang ia lakukan.
"Apa? !!! Jadi mereka tak bersalah." nada suara pak Rw bergetar.
Pak Kades terdiam dalam penyesalannya, ia menyesal tak mendengarkan mereka, saat itu ia hanya mengikuti egonya saja tampa memikirkan lagi ke depannya akan jadi seperti apa?
"Benar sekali, mereka tidak bersalah. Malam itu mereka benar dibegal. Pelaku pembegalan sudah kami tangkap ...," jelas Hasan yang merupakan anggota kepolisian, ia berpangkat letnan. Hubungan Hasan dengan Afriadi sangat dekat, bisa dibilang mereka sudah seperti saudara.
Setelah kejadian itu, Afriadi cepat mengambil tindakan, ia melaporkan kejadian itu ke polisi.
Para polisi bekerja sangat cepat tak perlu waktu lama mereka berhasil menangkap para pembegal itu, saat mereka mau melakukan transaksi jual beli di markas mereka. Lalu kenapa para polisi datang kedesa?
"Jadi kedatangan kalian ke sini maksudnya apa?," tanya seseorang di antara para warga
yang tak lain adalah Hansip itu, Hansip yang memberikan kesaksian palsu atas kejadian itu.
Hasan berdiri dari tempat duduknya, menunjuk pria berkumis bermuka pucat itu, "Kami kesini untuk menangkap anda dan mereka yang menjadi saksi atas."
"Kenapa kami harus ditangkap? !!!," sergah Hansip dengan pertanyaan, wajah yang semakin pucat.
"Karena, kau mencemarkan nama baik mereka, tuduhan dan kesaksian palsu yang kalian berikan, Haspu." wajah datar Hasan terlihat serius, ya mereka semua berhasil melacak orang yang menyebarkan berita itu. Fb, ig, twiter atas nama Haspu ini merupakan akun peribadi Hansip itu sendiri.
"Hah, mentang-mentang dia orang yang berkuasa, sekehendak hatinya menyeret kami kepenjara, di-"
Kata Haspu dipotong seorang pemuda yang masuk menerobos para polisi dan warga, dari pandangan pria yang berpakaian rapi dengan tampilan wajah manis namun pahit di lihat waraga, ia tak suka melihat orang-orang kampung itu, "Bukan karena orang kaya atau berkuasa bisa bertindak semena-mena, mereka melakukan itu karena ia tak bersalah makanya ia melakukan tuntutan atas kejadian itu."
"Kau ini siapa? !!!," teriak Haspu, urat tegangnya, kelihatan, suara seraknya menghantam wajah Qilan.
Qilan memalingkan wajahnya, tangannya mengkibas-kibas bau mulut Haspu.
Haspu merasa tersinggung dengan balasan Qilan.
"Saya Qilan pengacara Afriadi," ucap Qilan dengan tatapan jijii melihat Haspu.
"Sudah cukup bicaranya, tangakap mereka," perintah Hasan langsung dilaksanakan anggota polisi lainnya.
"Hah, lepaskan kami!" waraga yang dangkap memberontak.
"Hey! Kepaskan kami !," teriak Haspu.
Salah seorang pemuda tanggung yang kepo ingin tahu apa yang terjadi di balai desa namun niatnya diurungkannya saat di jalan dari kejauhan ia melihat para saksi dan Haspu ditangkap, cepat ia berbalik badan lari memberi kabar kepada keluarga mereka, kocar-kacir pemuda tanggung itu berlari mengambil jalan pintas melewati kebun masuk ke kolong-kolong rumah panggung warga, tak tahu lagi kalau ada anjing warga di bawah kolong, sehingga ia terpijak ekor anjing tersebut, hasilnya pemuda itu kena kejar, cepat dia lari di bawah kolong, sampai kepalanya kejedor tiang rumah saat keluar dari bawah kolong.
"Aduh...," rintih pemuda itu, kakinya cepat melangkah menaiki tangga rumah warga menutup pintu pagar.
Nafas pemuda itu tak beraturan, terduduk.
"Ada apa, cep?," tanya seorang nenek tua yang duduk di kursi teras rumah, memengang tongkat kayu yang bagus.
Hosh.. Hosh.. Nafas pemuda itu yang di panggil Acep, masih tak beraturan.
"Itu..," tunjuk Acep, jari telunjukanya menunjuk kearah balai desa.
Tap.. Tap.. Tap.. Langkah kaki terdengar dari dari dalam rumah, suaranya langkahnya mendekat.
"Ada apa, cep kau kesini?," tanya seorang wanita, keluar berdiri di depan pintu, mengunyah sirih.
"Anu, i-itu i-itu i-itu aduh, i-itu i-itu -" Acep gagap, ia kesulitan untuk bilang.
"Anu apa? !!!," geretak wanita itu, sirih dimulutnya sedikit mencret keluar.
Sekali di geretak lancar Acep bicara, "Itu suami Ayuk ditangkap polisi."
Pruuuf... Sirih di dalam mulut Wanita itu tersembur keluar mengenai wajah Acep yang ada di hadapannya.
Aha ha ha ha ha ha ha.. Tawa getir nenek yang duduk di sana melihat wajah Acep disembur, gigi palsu yang ia kenakan longar, terlepas dari singasananya, terjatuh ke lantai, melihat giginya jatuh tambah jadi lagi nenek itu tertawa menguncang perut.
Acap mengelap wajahnya dengan bajunya, ikut tertawa melihat gigi palsu nenek itu terlepas.
"Kau jangan main-main ya, cep. Aku lumet kau," ucap wanita itu dengan nada suara yang naik.
"Ya Allah, ayuk Crik ini tak percaya juga. Kita ke balai desa, saja gitu. Biar ayuk percaya," ucap Acep, melihat ke bawah memastikan anjing itu sudah pergi dari tadi suara gongongnya tak kedengaran lagi.
"Yuk, lah." Crik memperkuat ikatan sarung batikanya, membuka pagar.
__ADS_1
Langkahnya terhenti ketika mendengar permintaan nenek tua di sana yang ingin ikut, "I-ikut."
"Nenek di sini saja balai desa cukup jauh, nanti kaki sakit." Crik melarang nenek itu ikut, "Ayo, cep. Jangan kabur kau." Crik sudah turun, memasang sendal.
Goook... Gonggong anjing di bawah kolong rumah mendekat, siap mau menggigit Crik.
Syiiing... Mata maut Crik melirik, kakinya mengehentak ke tanah disertai wajahnya yang galak membuat anjing itu lari menjauh.
Acep bertepuk tangan kagum dengan Crik.
"Cepat, cep," perintah Crik melangkah meninggalkan rumah.
Acep turun mengikuti Crik dari belakang.
Pagar rumah lupa di tutup Acep.
Nenek bangkit dari tempat duduknya, hatinya berseru, "Kau meremehkan aku, Crik. Tubuhku memang tua tapi juwaku muda." cepat nenek itu berjalan menuruni tangga, baru saja turun nafasnya sudah sesak, terpatah-patah ia melangkah menyusul Crik dan Acep yang berjalan bagaikan kilat baginya.
***
"Pak, tolong !!!," rintih warga yang di tangkap, meminta tolong dengan Pak Kades, Pak RW, dan Pak Imam.
Mereka semua sudah masuk ke dalam mobil, awalnya mereka memberontak tapi apalah daya mereka tak cukup kuat, mau lari di tembak, mau tidak mau mau mereka masuk ke dalam mobil.
Tinggal satu lagi yang belum masuk, si bandel, tangannya ditekankannya di pintu mobil kakinya ditekankannya ke tanah sekuat tenaga supaya tak masuk ke dalam mobil, padahal mobil sudah berada di hadapannya tinggal masuk saja lagi cuman dia saja yang tak mau masuk, "Pak, tolong saya Pak. Anak bini saya di rumah, kasihan pak." mata Haspu berkaca-kaca tetap bertahan.
3 orang polisi mendorong Haspu, "Masuk."
2 lainnya mencoba melepas tangan dan kaki Haspu.
"Berani berbuat berani bertanggung jawab," ucap para polisi itu.
"Kuat juga dia." Hasan mendekat, "Minggir semua," perintah Hasan, cepat semua minggir.
"Masuk," bentak Hasan.
"Tidak !!!." Haspu masih bertahan.
"Bandel." Ucap Hasan dingin, 2 jari telunjuk menusuk pingang Haspu.
Agh.. Haspu terkejut bagaikan tersengat listrik, melepaskan tekanannya, seketika tubuhnya menjadi lemah, cepat Hasan memborgol tangan Haspu, memasukknya ke dalam mobil.
Pak kades, Pak Imam, Pak Rw mendekati Qilan yang mau masuk ke dalam mobilnya, Pak Imam menghentikan Qilan, "Tuan Tuan Tuan, tunggu Tuan. Bisakah Kita bisa selesaikan ini baik-baik."
Qilan menoleh, tersenyum licik "Selesaikan baik-baik. Boleh, kita selesaikan di pengadilan."
Betapa terkejutnya mereka mendengar perkataan Qilan, "Astaghfirullah. Pengadilan." serempak mereka.
"Aduh, Tuan. Lepaskanlah mereka. Dia hanya rakyat biasa mana bisa mana bisa menyewa pengacara seperti Tuan," ucap Pak Kades meminta keringanan.
"Benar Tuan. Mereka hanya rakyat biasa mana bisa." Pak Imam ikut meminta keringanan.
"Itu bukan urusan saya." Qilan mengangkat bahu tak peduli, "Mereka yang cari perkara, ya tanggung sendiri resikonya. Berani berbuat berani bertanggung jawab." Qilan segera masuk ke dalam mobil, pergi meninggalkan mereka.
Hasan mendekati mereka bertiga, "Terimakasih atas kerja samanya."
"Iya," jawab mereka serempak.
Ketika Hasan ingin berbalik, Pak Imam menghentikannya, "Ah, Pak. Tunggu sebentar Pak. Bisakah kita selesaikan masalah ini baik-baik, kesihan mereka Pak, mereka hanya rakyat biasa, jangan bawa kepengadialan. Bisakan pak?"
Hasan mengangkat bahu, tak mau tahu, "Itu bukan urusan saya, kecuali kalau si penuntut mencabut kasusnya. Yah, mereka yang bersalah mereka yang harus bertanggung jawab. Oke, saya permisi." Hasan pergi meninggalkan mereka, "Ayo semua kita pergi," perintah Hasan masuk ke dalam mobil.
Mobil polisi pergi, Crik dan keluarga warga yang di tangkap itu datang.
"Pak Kades, suami saya mana?," tanya Crik menanyakan suaminya.
Pak Kades menunjuk mobil polisi yang sudah berjalan, "Tuh, sudah di bawa."
"Mas Haspu !!!" Crik lari mengejar mobil polisi, baru beberapa langkah Crik terjatuh, "MAAAASS.."
Sayangnya mobil polisi sudah jauh.
Crik bangkit dari jatuhnya, cepat ia menyambar kerah baju Pak Kades, mengenggam kerah baju Pak Kades, "Pak, lakukan sesuatu!"
Dari kejauhan Nenek yang tadi mengikuti Crik dan Acep dari belakang, nafasnya kurang baik, langkahnya semakin melambat bergatar, tangannya gemetar memegang tongkat.
"Astaghfirullah, Nek." Acep terkejut melihat dari kejauhan nenek yang ia tinggal itu mengikutinya, berjalan dengan gemetar hampir pingsan dengan tidak saja lagi terhuyung-huyung berjalan antara mau jatuh dengan tidak saja lagi. Cepat Acep berlari menghampiri Nenek itu.
__ADS_1
Warga yang ada di sana juga terkejut melihat nenek itu, terutama Crik tambah terkejut lagi.
"Nenek!!!" teriak Crik di depan Pak Kades. Pak Kades menutup telingannya.
Acep membawa nenek itu mendekat.
"Nenek kenapa ikut?," tanya Crik.
Gemetar nenek menjawab, "Mau lihat orang. Ramai juga. He he he he.."
Acep menepuk dahinya. Ternyata hanya itu alasannya.
Warga mengantar nenek ke dalam balai desa.
Pak Kades, Pak Imam, Pak Rw tak ikut mengantar, mereka sibuk membicarakan masalah ini.
"Astaghfirullah. Bagaimana ini?." Pak Rw pusing.
"Ini semua salah kita, karena tak mendengarkan mereka, kita hanya ikut ego saja." Pak Kades merasa bersalah.
"Sudahlah jangan meresa bersalah. Bukanya sudah benar kita menikahkan mereka." Pak Imam mengusap punggung Pak Kades menenangkan beliau.
"Pak, bapak harus lakukan sesuatu." Crik datang menyela pembicaraan.
"Iya, kami lagi pikirkan caranya. Sabar ya Crik," pujuk Pak Rw.
"Ah, bagaimana kalau kita susul mereka. Mana tahu kita berjumpa dengan pemuda disana, bisa kita minta bantuan dia untuk mencabut tuntutannya," usul Pak Imam.
"Ya, kita susul mereka. Tunggu apa lagi cepat kita pergi susul mereka." Pak Kades pergi menaiki motornya, pergi meninggalkan balai desa.
Di belakangnnya di susul Pak Rw dan Pak Imam. Mereka bertiga pergi menyusul para warga desa yang ditangkap.
Waktu berlalu, perjalanan panjang yang mereka tempuh akhirnya sampai juga di kantor polisi
Ketika mereka masuk ke dalam kantor, kepala mereka celengak-celengok melihat isi dalam kantor, mata mereka menyapu semua wajah orang yang ada di kantor polisi.
"Anak muda yang kemaren kita lihat tidak ada," ucap Pak Rw.
"Iya aku tak melihat batang hidung dia," ucap Pak Kades terus melihat penghuni kantor. Penghuni kantor yang dilihat merasa aneh dengan mereka bertiga.
"Bagaimana kita bisa kenal itu orang, wajahnya saja kita tak kenal. Lah, kemarin wajah mereka belepotan tanah," jelas Pak Imam.
'Iya juga ya' pikir mereka membenarkan perkataan Pak Imam.
"Ada yang bisa kami bantu bapak-bapak?." seorang polisi mendekati mereka.
Kepala Pak Rw memanjang melihat sosok pria yang tak asing di matanya mendekat.
Polisi itu masih berdiri menunggu jawaban.
"Ah, kami ingin mencarinya." Pak Rw menunjuk pria itu, yang ia tunjuk tak lain adalah Qilan pengacara Afriadi yang mau pulang.
Polisi itu hanya mengangguk meninggalkan mereka.
Qilan yang lewat langsung di cegat Pak Rw, "Tuan, tunggu sebentar."
Qilan berhenti, matanya menatap malas mereka bertiga, "Ada apa?"
"Kami ingin bertemu dengan pemuda yang melakukan tuntutan ini," pinta Pak Imam.
Qilan tak menjawab ia mengetik ponselnya. Mereka kira Qilan mengacuhkan mereka.
"Hallo Af, ini ada yang mau bertemu dengan kau ... Em..." Qilan menelpon Afriadi, "Ya ... Oke." Qilan mengakhiri panggilan.
"Ayo, ikut aku. Akan aku antar kalian untuk menemuinya," ajak Qilan melewati mereka, menuju mobilnya.
"Ikut dengan Tuan?," tanya Pak Rw.
Qilan mengangguk.
"Naik mobil?," tanya Pak Rw sekali lagi.
"Tidak, naik unta. Ya naik mobillah." Qilan sedikit kesal.
"Motor kami bagaimana?," tanya Pak Imam.
"Tinggalkan saja, bisalah para polisi yang jaga." Qilan menahan kesalnya, "Cepat naik."
__ADS_1
"Pak polisi, titip motor kami, ya," ucap Pak Kades kepada Pak polisi yang duduk tak jauh dari mereka, Pak Polisi itu hanya mengangguk mengiyakan.
Cepat mereka masuk ke dalam mobil Qilan. Setelah semua masuk, mobil Qilan berjalan.