
Tak lama Afriadi selesai memasukan kertas yang akan di koreksi ke dalam tasnya.
"Abang." Latika muncul tiba-tiba dibelakang Afriadi sampai kaget Afriadi dengan kemunculan Latika.
Afriadi mengusap dada, menghembus nafas pendek, "Besalam masuk tu Dek."
"Assalamualaikum," kata Latika datar persis mukanya yang datar.
"Wa'alaikumssalam," jawab Afriadi.
Perasaan Afriadi lain lihat wajah datar Latika, pertanda buruk ini.
Afriadi meambil jaket, mengenakannya sambil bertanya, "Kenapa wajah Adek begitu?"
"Abang kenapa sih?"
"Kenapa apa?"
"Abang terlalu."
"Ha, terlalu? Maksudnya?" Afriadi mendelik.
"Abang terlalu juga, masa ia kertas ujian Salasiah harus di robek. Bukanya dia hanya menanyakan satu jawaban saja."
"Oh, jadi itu. Adek memebela dia." Afriadi melipat tangannya di depan dada.
"Menurut Adek, Abang terlalu menjadi pengawas."
"Hah, Dek. Ini ujian. Jadi usaha dengan kemampuan sendiri. Usahakan bersikap jujur, tanamkan itu di dalam diri."
"Bukanya Salasiah sudah usaha."
"Usaha?" Afriadi meangkat alisnya.
"Bukanya Salasiah hanya meminta satu jawaban. Apa itu salah?" Latika berusaha menentang Afriadi.
"Salah. Merugikan."
"Abang bilang merugikan. Merugikan apa?"
"Hah, misalnya Adek sudah susuah payah belajar. Lalu teman Adek minta jawaban apa Adek mau memberikannya begitu saja. Alih alih nilai Adek yang rendah dan nilai dia yang tinggi.
Sakit gak perasaan Adek? Sakit kan. Sekarang Adek sudah paham. Jadi Abang tegas."
"Kalau Adek juga contek. Apa yang akan Abang lakukan."
"Ha, Adek mencontek." Afriadi kaget.
"Ya, Adek mecontek."
"Mata pelajaran apa yang Adek contek?"
Afriadi memasang wajah pahitnya.
"Biologi. Adek tak sengaja melihat isian teman Adek. Apa Abang akan menghukum Adek sama seperti teman Adek?"
Afriadi memakai masker, tak banyak komentar menyandang tasnya.
"Yuk, pulang. Adek dalam masalah besar." Afriadi melototi Latika, menarik tangan Latika keluar, membawanya pulang.
Ketika mereka keluar dari kantor berjalan di lorong, bergandeng tangan untung saja sekolah sudah sepi hanya tinggal beberapa orang saja.
Kira mereka akan berjalan lancar, namun naas mereka bentrok dengan para guru yang berjalan menuju parkiran.
Afriadi tak peduli lewat saja, para guru menunjuk tercengang tak bisa berkata-kata.
Latika menutup wajahnya dengan telapak tangan.
Para guru saling pandang, bertanya-tanya.
***
"Jangan." Latika menangis tersedu-sedu terduduk lantai ruang kerja Afriadi.
"Adek tak buat lagi. Hiks..." Ia menangisi ponselnya yang di rampas Afriadi,
"Abang, jangan."
Latika menangis memeluk lengan Afriadi, "Jangan. Adek sudah mengaku salah. Adek tak buat lagi."
"Selesaikan koreksinya," kata Afriadi terbaring di sofa ruang kerjanya, tangan kanannya mengotak atik ponsel Latika.
"Jangan di hapus. Abang kembalikan ponsel Adek." Latika menguncang lengan kiri Afriadi.
"Kerjakan dulu tugas Adek." Afriadi tadi memberi Latika hukuman pembuka dengan menyuruhnya untuk koreksi.
__ADS_1
Latika lihat Afriadi mau menghapus foto di galerinya, cepat Latika mengguncang tangan Afriadi menghentikannya, "Jangan di hapus."
"Kerjakan dulu." Afriadi menyeringai.
Tadi ia memberi Latika tugas mengoreksi lembaran ujian.
"Jangan." Latika mengguncang lengan Afriadi sekali lagi.
"Lambat Adek siapakan lambat juga Abang berikan ponsel Adek," ancam Afriadi.
"Jangan di hapus."
Cepat Latika mengoreksi lembaran kertas ujian kelas 11 A pelajaran MTK.
"Abang lihat-lihat cuman," kata Afriadi lihat lihat galeri Latika.
Latika mengeluarkan jurus koreksi kilat.
Setengah jam kemudian.
Latika menumpuk kasar lembaran kertas ujian, meangkat kedua tangannya mengandalkan selesai,
"Sudah selselai. Kembalikan ponsel Adek."
Tangan Latika menagih.
"Ini. Lain kali buat lagi ya." Afriadi mengembalikan ponselnya.
Latika memeriksa ponselnya. Matanya melotot, "Abang. Kenapa-"
"Abang hapus, tak baik di lihat.
Foto laki-laki banyak sekali di ponsel Adek. Jadi Abang hapus. Abang ini suami Adek, masaa iya di ponsel Adek ada foto tak jelas seperti itu, video apa itu..." Afriadi menceramahi Latika, merasa tak bersalah telah menghapus semua Foto oppa Latika, video, stiker, lagu, semua yang manyangkut kpop di hapus Afriadi.
Hukuman buat Latika.
"Abang!" Latika menghentakkan kaki ke lantai, Wajahnya memerah padam, pergi meninggalkan tempat itu.
Gara-gara Afriadi menghapus semua yang berkaitan kpop Latika tidak keluar kamar saat makan malam. Sholat pun masing-masing.
Saat di meja makan pun Latika tak ada di sana. Cukup lama Afriadi menunggu sampaiSari menawarkan untuk memanggil Latika, tapi Afriadi melarangnya dia sendiri yang pergi memanggil.
Afriadi meranjak dari tempat duduknya.
Tok... Tok... Tok...
"Adek, Abang boleh masuk," kata Afriadi dengan suara lembutnya.
Tak ada jawaban sama sekali. Afriadi memegang ganggang pintu kamar Latika, di putarnya.
Cklk....
"Eh..." Ia kaget pintu kamar Latika tak berkunci.
"Abang masuk ya?" Abang mesuk ke kamar Latika. Ia mendapati Latika menangis memeluk bantal guling di tempat tidur.
Afriadi duduk di bibir tempat tidur, samping Latika, ia meraih tangan Latika, "Adek."
Latika menepis tangan Afriadi. Tak mau tangannya di sentuh Afriadi.
Aftiadi menghela nafas, "Adek marah sama Abang? Makan dulu yuk."
Latika tak menjawab.
"Adek. Jangan lah marah-marah lagi. Abang salah kah? Adek." Afriadi mencoba membujuk Latika, "Kalau Abang salah, Abang minta maaf."
Latika tak berkutik membuat Afriadi terpaksa menarik bantal Latika, dirasanya basah. Cepat ia melempar bantal itu ke tepi.
"Hiks..." Latika menangis. Air matanya jatuh membasahi pipinya, banjir.
"Sudahlah tu jangan nangis lagi." Tangan besar Afriadi menempel di pipi Latika menghapus air mata Latika.
Latika menepis tangan Afriadi, "Jangan dekat. Abang jahat."
"Eh, bagus mulut."
"Hiks... Abang hapus semua. Adek tak mau lihat Abang."
"Adek lebih memilih mereka yang tek pernah lihat Adek, yang entah memikirkan Adek atau tidak itu. Adek acuhkan Abang demi mereka. Jadi Adek memilih mereka gitu. Abang Adek mau kemanakan?"
Latika menatap sinis, cemberut.
"Abang jahat."
Afriadi melirik Latika.
__ADS_1
Tanpa aba aba dia langsung.
Cup...
Afriadi mencium Latika bibir Latika.
Jantung Latika terserang, berdegup kencang.
Latika mendorong Afriadi, wajahnya memerah.
"Abang!!!" jerit Latika mengusap bibirnya.
"Pelajaran. Abang tak mau mendengar Adek bicara kasar seperti itu."
"Abang tak izin dulu."
"Kalau Adek bicara kasar, Abang tak segan segan melakukannya lagi." Wajah Latika memerah, ia tertunduk menyembunyikan wajahnya.
"Hah, Adek. Abang ini Suami Adek. Abang tak suka lihat Adek kagumi mereka. Adek tahu kan apa hukumnya kalau Suami tak suka, tapi Adek lakukan. Adek tahu kan? Para Pria di luar sana juga pasti tidak suka melihat Istri mereka mengkagumi Pria lain, pasti rasanya sakit, jadi hargai perasaan itu. Jangan di sakiti. Adek paham." Afriadi menasehati Latika.
"Senyumlah. Bidadariku."
Tangan Afriadi mengangkat wajah Latika, Jari Afriadi memaksa Latika senyum.
Eh, Latika senyum sendiri disebut bidadari.
"Adek salah." Latika mengakui kesalahannya.
"Tahu pun."
"Adek minta maaf."
"Ya."
"Tapi kalau video dan lagu tak masalah kan?"
"Bolehlah."
Batin Afriadi berseru mengalah, "Nanti merajuk pula, susah kali ini pujuknya sempat merajuk."
"Dari pada Adek menyimpan mereka lebih baik Adek simpan foto Abang saja. Keren lagi. Abang tak kalah tampan dari mereka bukan."
Aftiadi mengusap dagu tak berjenggot, kepedean.
Latika tertawa terbahak-bahak melihat suaminya memuji dirinya sendiri. Emang sih itu tampang asli dan tampan, tapi yang buat lucu itu dia memuji dirinya sendiri.
"Apa yang lucu?"
"Abang." tunjuk Latika.
"Hem???"
"Abang memuji diri sendiri. Hahaha..."
"Apa salah nya? Abang menang tampan kan?"
Afriadi memuji dirinya lagi, ia tahu cara membuat Latika tertawa lagi dan berguarau dengan Latika.
"Ahahaha..." Latika tertawa terbahak-bahak.
"Oh, gelak ya." Afriadi mengelitiki pingang Latika. Latika tertawa sejadi jadinya.
"Sudah berhanti. Perut Adek sakit," pinta Latika mencoba menepis.
Kruuuukkk...
Perut Latika berbunyi.
Afriadi juga merasakan hal yang sama yaitu lapar.
"Makan yuk Dek," ajak Afriadi.
Ia memberikan tanganya, Latika menyambutnya.
Mereka turun ke bawah, Bik Ipah dan Sari tersenyum lihat mereka akrab kembali.
Afriadi menarik kursi, mempersilahkan Latika duduk. Tak henti sampai di situ saja makanan latihan dia yang ambilkan, Latika sempat melarang tapi dia tetap lakukan katanya ini bukti permintaan maafnya.
Setelah itu makan bersama.
"Nih, buka mulutnya. Aa."
Afriadi memberikan suapan pertama untuknya, Menyuapinya. Latika tersipu malu menerimanya.
2 kepala manusia dari ke jauhan sudah mengintai mereka, tertawa terik-kikik.
__ADS_1
"Hihihi... Ternyata Mas Afri romantis juga." Sari berkata pelan.
"Gitulah. Mereka berantem lalu baikan. Nanti kamu juga gitu." Bik Ipah membalas.