Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Jamu


__ADS_3

Hari ini Afriadi benar-benar tidak datang ke Sekolah.


Para Siswi dan Guru sibuk mencari Afriadi, kebiasaan tidak memberi kabar. Siswa malah asik main-main di lapangan.


Latika sudah pulang ke Rumah, saat sampai di depan pagar Rumah.


"Non! Non Sudah pulang." Mang Juneb menyapa Latika, berdiri di depan pagar Rumah.


"Eh, Mang Juneb." Wajah Latika langsung cerah, melambaikan tangan.


Mang Juneb membalas dengan lambaian di sertai senyuman.


Samsul terus melaju tidak berhenti, mengantar Latika ke rumah.


"Kalau Mang juneb ada berarti Bik Ipah juga ada," guma batin Latika.


Latika menepuk pelan bahu Samsul, "Em, Mas Samsul. Bik Ipah sudah kembali?"


"Hem, saya tidak tahu Non."


"Lah, kok tidak tahu. Itu Mang Juneb sudah datang." Latika menunjuk ke belakang.


"Oh, itu namanya Mang Juneb.


Tadi sih tidak ada. Rumah sepi saja, hanya itu ibu-ibu tua yang gayanya aneh saja," kata Samsul tadi waktu ia pergi jemput Latika, Mang Juneb belum datang rumah juga dalam keadaan sepi.


"Oh." Latika ber-oh pelan.


Ketika sampai di depan pintu Rumah.


"Assalamu'alaikum." Latika membuka pintu, memunculkan Kepalanya melihat sekitar lalu masuk ke dalam Rumah.


"Wa'alaikumssalam." Seorang pria seumuran Bik Ipah berjalan mendekati Latika.


"Ho." Latika melongo melihat Pria itu, batinya bertanya-tanya siapa Pria itu? Kenapa dia ada di sini?


"Eh, Non sudah pulang," sambut Pria itu.


"Bu Bu! Ini Non sudah datang!" panggil Pria itu memanggil Istrinya.


Latika bingung, siapa yang ia panggil Bu? Apa dia salah Rumah? Masa' sih salah Rumah.


Pria itu tersenyum pada Latika. Latika pun membalas senyuman Pria itu.


Bik Ipah berlari-lari kecil dari dapur ke depan setelah dengar panggilan Suaminya. Ya Suaminya, Pria yang berdiri di hadapan Latika itu Suaminya Bik Ipah.


Bik Ipah menghampiri Latika, langsung memeluknya. Latika membalas pelukan Bik Ipah.


Bik Ipah melepas pelukannya, "Non, Non sehat?"


"Alhamdulillah, sehat. Bibik bagaimana?"


"Alhamdulillah sehat juga Non."


"Ini siapa Bik?" tanya Latika menujuk Pria yang masih tersenyum itu.


"Ini suaminya Bik Ipah. Dia akan di sini beberapa hari." Afriadi muncul di belakang Suami Bik Ipah menepuk bahunya.


Latika meangguk, pandangannya teralihkan pada sosok seorang wanita yang kelihatanya seumuran Latika datang menghampiri Bik Ipah.


"Itu siapa?" tanya Latika.


"Oh, ini Sari keponakan Bibik." Bik Ipah menjawab, menarik tangan wanita itu yang di panggil Sari.


"Sari." Wanita itu memperkenalkan dirinya seraya menyorongkan tangannya.


"Latika." Latika memperkenalkan dirinya juga, menyambut tangan Sari.


Mereka berdua saling bersalaman.


"Cantik. Lebih cantik dari yang di ceritakan," puji Sari mengguncang tangam Latika, senyumnya lebar.


"Dia ikut Bibik, kerja." Bik Ipah menyela.


Latika meangguk, menatap Afriadi seolah memberi peringatan 'Jangan genit'


Kaget Afriadi paham maksud tatapan Latika.

__ADS_1


"Non ternyata lebih cantik dari yang di ceritakan Bibik," puji Suami Bik Ipah.


"Alhamdulillah, tidak juga." Latika tak ngambang kala di puji.


"Oh, iya Non. Bibik ada oleh-oleh untuk Non."


"Iya. Mana Bik?" segar Latika dengar oleh-oleh.


Afriadi tersenyum tipis ingin melihat ekspresi Latika ketika melihat oleh-olehnya.


Latika mengikuti Bik Ipah ke dapur, di kuti Suami Bik Ipah, Sari, Afriadi dari belakang.


Di meja makan sudah ada Bu Kost menyajikan makanan yang sudah jadi.


"Eh, Latika sudah pulang." Buk Kost menyambut Latika.


Di sana juga ada bungkusan kain aneh di atas meja makan.


"Apa ini Bik?" Latika membuka ikatan kain itu. Ia meambil salah satu botol berbau, memegang botol berbau khas itu.


"Jamu Non. Bagus untuk anak gadis. Ini khusus Bibik buatkan untuk Non." Bik Ipah meambil salah satu botol, kalimatnya persis lagi promosi kayak di Tv.


"Bagus." Afriadi menyeringai lebar.


"Hihihi." Sari tertawa kecil.


"Ya kan Sari?" Afriadi minta pendapat Sari.


"Iya."


Latika mengembungkan pipinya, menatap cemburu Afriadi. Dia kelihatan akrab dengan wanita itu.


"Ho, jamu. Emang bagus itu, merawat kulit kinclong, awet muda," kata Bu Kost.


"Di coba Non." Bik Ipah meletak botol meraih gelas di tengah meja.


"Mas, apa Nona bisa minum jamu?" tanya Sari mengundang rasa cemburu Latika yang lebih besar.


"Mas," batin Latika mendelik.


Bik Ipah mengambil botol yang di pegang Latika, menumpahkan isi ke dalam gelas kecil.


"Nih, Non coba." Bik Ipah memberikan gelas berisi jamu pada Latika.


Latika menerimanya, sebelum minum ia terlebih dahulu mencium bau minuman itu. Bau yang khas dan kurang enak di hidung. Dari bau seperti bau jahe dan campuran lainnya, entahlah apa itu.


"Ayo Non, di coba." Bik Ipah memaksa.


Latika ragu-ragu mau minum.


"Di coba Non, enak kok." Sari mengajukan 2 jempol.


Latika menanggapinya dengan senyuman.


"Di coba dek," kata Afriadi.


Latika memcicipi sedikit minuman itu.


Sontak ia mengeluarkan ekspresi wajah yang berubah draktis seperti, mengecut itu wajah menandakan tidak enak.


Cepat Latika meletakan kembali gelas itu.


"Bagaimana Non rasanya?" tanya bik Ipah.


"Tidak enak." Latika menjawab jujur.


"Di habiskan Non."


Latika menatap Bik Ipah, seriusan minta di habiskan rasanya gak enak gitu.


"Tidak Bik." Latika menggeleng, menolak.


"Di habiskan dek. Kasihan Bik Ipah, susah payah ia buatkan untuk adek." Afriadi juga ikut-ikutan minta Latika menghabiskannya.


Bik Ipah mencuil suaminya dan Sari untuk segera meninggalkan tempat.


Bu Kost, Bik Ipah, dan Sari melanjutkan masak di dapur.

__ADS_1


Suami Bik Ipah keluar mau berbincang dengan anak baru itu Samsul.


"Ayo dek minum," pinta Afriadi.


Latika menatap Afriadi, menggeleng pelan, "Tidak enak."


"Belajar minum jamu dek."


"Tidak mau." Latika menutup mulutnya duduk di kursi.


Sari yang di dapur mencoba mengintip dengan memunculkan kepalanya.


Bu Kost yang penasaran juga ikut mengintip.


"Jangan di lihat. Kembali bekerja," tegur Bik Ipah seraya memasukkan sayur ke dalam kulkas.


"Huuuss... Nanti saja. Lagi penasaran ini," kata Bu Kost. Ia sudah tahu status Latika dengan Afriadi, jadi tak heran lagi.


Awalnya Bu Kost tak percaya dengan perkataan Samsul yang menceritakan kejadian malam itu, waktu Afriadi menggila. Dan kalian tahulah mulut Samsul itu sedikit ember jadi, ia dengan mudah menyebut mereka berdua Suami Istri.


"... Sebenarnya saya sih gak enak juga menghalangi mereka untuk bebuat kan mereka Suami Istri, tapi mau bagaimana lagi Non kelihatan ketakuatan dengan Tuan..."


Bulat mata Bu Kost dengar mereka sepasang Suami Istri, Samsul kira Bu Kost tahu status mereka.


Bu Kost langsung mengintrogasi Samsul, memaksanya untuk bicara.


Samsul menjelaskan apa adanya, Bu Kost tak percaya, tapi setelah di perhatikan Afriadi sering menggoda Latika dan itu tak mungkin terjadi dengan Abang Adik bukan? Apa lagi dari cara pandang Latika pada Afriadi begitu juga sebaliknya.


Karena sudah tahu, Bu Kost tak banyak bicara pada Latika. Ia paham kenapa ia merahasiakan statusnya.


"Penasaran juga jadinya." Bik Ipah ikut mengintip.


Afriadi duduk di atas meja depan Latika, sudah memegang gelas jamu, "Ayo Dek. Di minum jamunya."


"Tidak mau. Tidak enak. Pahit."


"Awalnya memang begitu.


Tapi, hanya sebentar.


Setelah itu hilang," kata Afriadi memengaruhi Latika.


"Tidak." Latika menggeleng.


"Kasihan Bik Ipah yang susah payah membuatkam jamu ini untuk Adek. Adek tidak ingin kecewain Bik Ipah kan? Lihat sini lihat sini. Lihat Abang ya. Nanti Adek lagi yang minum, oke." Afriadi membuju Latika


"Em..." Latika berpikir 2 kali.


"Lihat ini." Afriadi meminum sedikit jamu dengan santainya, menunjukkan pada Latika biasa saja.


"Lihat. Sekarang giliran Adek lagi."


Afriadi menyorong gelas ke Latika.


Kali ini Latika ragu-ragu ingin minum kembali.


Latika lambat meambil gelasnya,


Afriadi meambil tindakkan menyorong gelas itu ke mulut Latika. Tapi Latika engan membuka mulutnya, Afriadi mengedipkan matanya beberapa kali meyakinkan Latika.


Latika membuka mulutnya, saat ujung lidah Latika merasakan rasanya jamu itu lagi, membuat ia tidak ingin lanjut, tapi tidak bisa Afriadi yang memengang gelasnya terpaksa ia telan jamu itu.


"Huumm." Kaki Latika menghentak-hentak di sertai tanganya meremas, mulutnya terasa lain.


"Jangan dimuntahkan. Tahan."


Afriadi memgambil air putih, di minumkannya ke Latika, cepat Latika menghabiskan air putih satu gelas sedang itu.


"Bagaimana?" tanya Afriadi.


Latika tidak menjawab, mulutnya masih terasa aneh. Afriadi tersenyum tak banyak tanya, meluk Istrinya itu.


"Adek hebat," kata Afriadi.


"Ooooh... Soswit."


Di belakang 3 wanita sibuk melihati mereka. Mereka seperti melihat Drakor saja.

__ADS_1


__ADS_2