
"Hello semuanya.
Kembali lagi bersama dengan saya salah...salah...salah Salasiah.
Hari ini saya akan membagikan tutorial cara make up untuk anak sekolah yang simpel banget..." Salasiah berbicara di depan kamera.
Salasiah merupakan youtuber dia memiliki channel yang bernama SALAH SALASIAH.
Em... Penontonnya lumayan banyak.
Video yang ia buat tentang make up, kebersamaan bersama keluarga, teman dan jalan-jalan, tapi kebanyakan tentang make up hobi dia itu.
Sama juga dengan temannya Hana buat video di hari minggu, tapi beda. Kalau Salasiah tentang make up nah kalau Hana tentang masak.
"Hah... Akhirnya selesai juga."
"Ini dia agar-agar ubi ungu."
"Sekian dulu ya, resep masaknya. Selamat mencoba." Hana yang berbicara di depan kamera, menujukan agar-agar ubi ungu yang sudah di potong dan di hias.
Emmm... Kalau teman mereka yang satu ini, Nana. Biasanya dihari minggu tidur.
Kalau Bu Kost.
Biasalah...
"Hiks... Hiks... Tega amat kau, tinggalin pacar kau, padahal dia cantik."
Bu Kost yang menangis di rumahnya menonton filem korea, adegan ceweknya ditingalin pacarnya, "Hahaaaaa... Biasanya di sini ada Latika yang menemani nonton, tapi sekarang nonton sendiri.
Haaa... Hiks... Sedihnya. Nasip kita sama, hidup sendiri tidak ada yang menemani."
__ADS_1
Memang Latika sering menemani Bu Kost nonton filem korea bersama, apalagi hari minggu, tambah jadi lagi, kadang - kadang Latika sampai makan gratis di rumah Bu Kost, kadang - kadang juga Latika tidur di rumahnya.
Biasanya kalau sudah terduduk di depan tv, jangan harap bisa pulang cepat, dicegatnya. Biasanya Latika pakai alasan mau pergi kerja, jangan pakai alasan kebelet, sebab toilet ada di rumahnya, jika tidak ada alasan yang tepat jangan harab bisa pulang cepat.
Tapi, sekarang tidak lagi, Bu Kost sekarang nonton sendiri, anak - anak kost lainya tidak berani, jika mereka nonton pasti dipaksa.
Sedangkan Latika yang mengurung di kamar karena malu untuk keluar, setelah berjam - jam ia di kamar, dan ia memberanikan diri untuk keluar kamar, tadi dia lihat di jendela kalau Afriadi sudah pergi.
Latika menuruni tangga menemui Bik Ipah, yang berada di dapur.
"Bik... Dia ke mana?," tanya Latika mendekati Bik Ipah yang sedang mencuci baju, berdiri di sebelah mesin cuci.
"Siapa Non, tuan?." Bik Ipah balik tanya, tangannya tetap bekerja memindahkan baju baju dalam mesin pengering ke mangkok untuk di jemur.
Latika mengangguk melihat Bik Ipah bekerja.
"Oh... Tuan... Katanya tadi ada perlu."
Tangan Bik Ipah berhenti sebentar melihat Latika, mulai menggodanya, "Kenapa Non? Rindu ya, Non?."
"Tuan tidak lama juga Non, palingan jam 12 nanti pulang." Bik Ipah kembali bekerja.
"Bukan rindu Bik, aku hanya tanya saja." Latika mengelak membuat Bik Ipah menyeringai melihatnya, "Engak Bik seriusan."
"Masaa..." Bik Ipah menghoda Latika tersenyum lebar.
"Ih... Bibik mah gitu." Latika menghentakkan kakinya ke lantai, geram dengan Bik Ipah.
Senyum Bik Ipah tambah lebah melihatkan gihinya, "Gak Non Bibik bercanda."
"Em... Bibik sudah masak?." Latika bertanya, memperhatikan Bik Ipah bekerja.
__ADS_1
"Belum Non,
sebentar lagi.
Non lapar ya?." Bik Ipah menjawab tampa melihat Latika.
"Engak bik, aku..." Latika ragu-ragu ingin bilang, suaranya semakin kecil, malu, "Aku... Aku cuman mau masak saja, Bibik yang beri petunjuk, boleh ya Bik?."
Bik Ipaj mendelik, berhenti bekerja, menatap Latika tak percaya dengan katanya tadi, "Seriusan ini Non mau masak makanan siang?."
"Hehe... Iya Bik." Latika cengengesan di depan Bik Ipah.
"Aaaa... Bibik tahu." Bik Ipah menyipitkan matanya tahu maksud Latika, jari telunjuknya bergoyang menunjuk Latika,
"Aku cuman mau belajar masak saja Bik. Bukan untuk dia, aku hanya mau belajar saja. Lagi tak ada kerja ini." Latika mengelak lagi dugaan Bik Ipah tepat sasaran.
"Iya... Iya Non. Tapi nanti ya Non Bibik cuci baju dulu," kata Bik Ipah melanjutkan pekerjaannya.
Latika memonyongkan mulutnya tak mau tunggu nanti mau langsung sekarang, memujuk Bik Ipah, "Sekarang saja Bik, biar Latika saja yang masaknya Bibik tetap bekerja sambil beri panduan. Ya Bik ya?." Latika menyangka kalau masak itu mudah seperti dalam pikirannya siapkan bahan lalu masak bahanya siap.
Latika mengharapkan sekali ia menyetujuinya, terus membujuk Bik Ipah, "Boleh ya Bik?."
Bik Ipah berpikir dua kali, hatinya berseru, "Untuk apa ditahan-tahan juga. Bagus Non mau belajar harusnya dukung dukung. Mana tahu ini langkah awal Non ingin jadi Istri yang baik, kalau sudah begitu berarti Non sudah betah di sini, Non sudah terima semua kejadian itu yang mempersatukan mereka, dan berarti Non jadi Istri tetap Tuan. Yah, betah."
Bik Ipah menghela nafas, meangguk membolehkan.
Wajah Latika langsung cerah, cepat masuk menyiapkan bahan-bahanya. Jiwanya membara semangat sekali.
Akhirnya Latika mulai masak, sudah lama ia tidak masak, semasa orang tuanya ada dulu ia pernah membantu ibunya masak, ya.. Cuman membalik-balikan gorengan dagangan ibunya, jarang ia membantu ibunya memasak makanan palingan ibunya menyuruhnya untuk belajar, dan setelah orang tuanya tidak ada Latika jarang masak ia sering beli makanan siap saji saja. Sekarang istimewa, dia akan memasak untuk satu orang.
Dengan petunjuk, dan arahan dari Bik Ipah Latika memulai memasak tampa rasa ragu ia memulainya.
__ADS_1
Bik Ipah yang berada tak jauh darinya meneriaki Latika, memberi petunjuk. Sesekali Bik Ipah mendekat melihat kerja Latika, meangguk-angguk.
Latika tersenyum lebar sepanjang ia memasak, halangan rintangan ia lalui dari memotong bawang membuat matanya perih rasanya ingin menangis, terus apinya yang kebesaran ketika goreng ikan, terlambat kasih garam atau lupa sudah kasih garam atau belum masakannya sehingga di kasih lagi garamnya masakannya, memasukan ikan dalam wajan gorengan seperti melempar kelereng dalam lingkaran sehingga terkena cipratan minyak meloncat ketakutan akhirnya ikan dalam wajan keras kayak kerupuk, gosong, dan lain - lainnya.