Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Pesan


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu, tidak terasa sudah pulang waktunya pulang Sekolah.


Siswa dan Siswi keluar melewati gerbang pemisah dunia lengkap dengan kendaraan ajaib mereka, ada juga yang tidak pakai kendaraan.


Hari ini Latika sudah janji dengan Hadi untuk latihan dance, jadinya ia ikut pulang bersama Hadi menaiki motor ninja.


Sudah lama Latika tidak pulang bersama Hadi, sejak ia mulai bekerja di restoran itu ia sudah jarang pulang bersama. Masa-masa sekarang ini Ketika pulang bersama selalu teringat masa lalu waktu masih SD sering pulang bareng.


Latika memperhatika tubuh Hadi yang sekarang lebih tinggi darinya, dulu dia yang paling pendek dari Latika.


Beberapa menit kemudian, setelah perjalanan pulang menuju rumah, akhirnya mereka sampai juga.


Motor Hadi membawa Latika melewati halaman rumah yang tak terlalu besar, di sebelah kiri sana ada ayunan pohon, seperti ada bayangan masa kecilnya dulu main di sana dulu dia dan Hadi sering berebutan mau main ayunan, bisa ditebak selalu Latika yang tak dapat main lalu menangis, si tukang buat ulah tertawa mengejek Latika membuatnya tambah menangis sampai Mama Hadi turun tangan menjewer telinga Hadi yang jahil kepada Latika.


Bayangan masa kecilnya berpindah ke sebelah kanan, duduk di kursi taman saling berebutan makanan. Bayangan masa kecil itu hilang dari pandangan Latika saat Hadi menghentikan motornya di depan Rumah.


Rumah yang bersar bertingkat 2 itu sudah kelihatan asing di mata Latika. Yap, Latika sudah lama tidak menginjakkan kaki di rumah ini semenjak orang tuannya meninggal.


Waktu itu Latika sempat ditawarkan untuk tinggal di rumah ini, namun Latika menolak ia lebih baik tinggal sendiri agar mandiri ia tidak mau merepotkan orang yang selama ini sudah banyak membantunya.


Hadi membawa Latika masuk ke dalam, mereka disambut pembantu di rumah itu.


"Aden sudah pulang. Mau langsung makan den?," tanya pembantu itu pada Hadi yang memberikan tasnya pada pembantu itu, dia melirik Latika yang berada di belakang Hadi, "Eh, Non Latika. Sudah lama tidak main ke sini," kata pembantu itu kelihatan kenal dengan Latika.


"Iya, Bik. Soalnya kerja," jawab Latika dengan senyuman manisnya itu.


"Oooo.. Gadis-gadis sudah bisa bekerja bagus-bagus. Mau makan Non?," tawab pembantu itu.


Latika mau nolak soalnya malu makan di rumah orang.


"Jangan malu tika, lagian kau bukan orang asing lagi di rumah ini. Bik suni sudah menyiapkan makanannya tinggal makan saja. Ayo makan dulu habis itu baru latihan sambil tunggu Sahril." Hadi menarik tangan Latika membawanya ke meja makan.


"Jangan malu-malu Non, kan Non juga termasuk keluarga di sini," kata pembantu itu yang sering di panggil Bik Suni di rumah ini, berbalik badan menaiki anak tangga menuju kamar Hadi, meletakkan tas Hadi.


Latika duduk di kursi menghadap makanan di atas meja, ia malu mau makan.


"Apa yang ditunggu lagi, makan saja tak ada yang melarang." mulut Hadi penuh dengan makanan di paksannya untuk bicara.


"Kebiasaan, habiskan dulu makanan di dalam mulutmu itu Non Latika. Sudah lama tidak main ke sini," kata pembantu itu kelihatan kenal dengan Latika.


"Iya, Bik. Soalnya kerja," jawab Latika dengan senyuman manisnya itu.


"Oooo.. Gadis-gadis sudah bisa bekerja bagus-bagus. Mau makan Non?," tawab pembantu itu.


Latika mau nolak soalnya malu makan di rumah orang.


"Jangan malu tika, lagian kau bukan orang asing lagi di rumah ini. Bik suni sudah menyiapkan makanannya tinggal makan saja. Ayo makan dulu habis itu baru latihan sambil tunggu Sahril." Hadi menarik tangan Latika membawanya ke meja makan.


"Jangan malu-malu Non, kan Non juga termasuk keluarga di sini," kata pembantu itu yang sering di panggil Bik Suni di rumah ini, berbalik badan menaiki anak tangga menuju kamar Hadi, meletakkan tas Hadi.


Latika duduk di kursi menghadap makanan di atas meja, ia malu mau makan.


"Apa yang ditunggu lagi, makan saja tak ada yang melarang." mulut Hadi penuh dengan makanan di paksannya untuk bicara.


"Kebiasaan, habiskan dulu makanan di dalam mulutmu itu baru bicara." Latika menegur Hadi, yang di tegus tersenyum lebar, tetap melakukan kesalahan yang sama, menyeringai.


Latika hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkah Hadi yang dari dulu sampai sekarang tidak berubah juga. Latika menyantap makanan tampa malu-malu lagi sudah merasa kembali seperti dulu.


Habis makan Hadi membawa Latika ke kamar adiknya sebelah kamarnya.


Membuka lemari adiknya.


"Untuk apa kita ke sini? Ini bukanya kamar Lily nanti kalau dia marah bagaimana?" Latika melihat sekeliling kamar Lily adiknya Hadi, ia mendekati foto di meja belajar Lily melihat foto Hadi bersama dengan adiknya.


"Ini pas tidak?." Hadi menunjukkan baju dengan ukuran badan Latika.


Latika mengambil baju itu, "Ini bajunya Lily."


"Iya, pakai saja. Dia tidak akan marah, jika ia marah aku terlebih dahulu memarahinya,


. Soalnya itu baju mau ia kasih sama orang, lagian juga itu baju tidak muat lagi dengan dia, tahulah kan badannya itu sekarang tambah berisi." Hadi menutup kembali lemari adiknya, keluar.


Baru ke luar tiba-tiba kepalanya muncul lagi di depan pintu kamar mengagetkan Latika, yang mau menutup pintu kamar, "Pakai saja, aku ke luar dulu ganti baju. Kalau tidak muat cari saja di lemarinya."


Latika tersenyum kecil sedikit terhibur dengan tingkah Hadi yang tak berubah juga dari dulu dengan Latika.


Ia menutup pintu kamar, memakai baju yang di berikan Hadi. Setelah itu ia pergi turun ke bawah pergi ke ruang latihan tempat biasa mereka latihan. Ternyata di sana sudah ada dia dan si Sahril duduk di sebelahnya memainkan ponsel, mengenakan baju kuning dengan celana biru tua.


Latika ikut bergabung bersama mereka, "Dari tadi aku tidak lihat mamamu dan adikmu, di mana mereka?"


Sahril senyum-senyum sendiri, entah apa yang membuat dia tersenyum sendiri.


Hadi tidak menghiraukan, menjawab pertanyaan Latika, "Papa aku, biasa kerja. Mama aku pergi pulang kampung bersama Lily menjenguk kakek yang sakit."


"Oh, kau kenapa tidak ikut juga?." Latika bertanya lagi, memperbaiki sedikit jilbabnya.


"Tidaklah. Papa aku tidak ada yang temani di rumah. Lagian kalau aku pergi aku nambah libur lagi, biarlah aku tinggal saja." Hadi melirik Sahril di sebelahnya tak henti-hentinya ia tertawa, "Oi, Sahril."


PLAK... Hadi menepuk punggung Sahril dengan keras, yang di pukul merintih kesakitan, menatap galak Hadi, "Kenapa kau pukul aku Hadi?."


"Tidak ada apa-apa. Aku cuman mau mengetes kau saja, aku kira kau sudah ODGJ (Orang dengan gangguan jiwa) ternyata tidak bukan." Hadi tidak merasa bersalah sama sekali, santai saja dengan tatapan Sahril.


Heeem... Sahril menahan emosinya, ingin membalas Hadi, untungnya Latika keburu mengambil tindakan kalau tidak begulat mereka di sana.


"Sudah-sudah. Latihan sekarang saja yuk. Sudah lama kita tidak latihan, rasa-rasanya kaku otot-otot ini, kita mulai dari yang mudah dulu ya." Latika bangkit dari tempat duduknya berdiri di hadapan kaca besar membelakangi mereka berdua.


"Em, betul itu. Aku sudah hampir lupa beberapa gerakan." Hadi bangkit dari tempat duduknya, berdiri di samping kanan Latika, bersiul menyuruh Sahril berdiri.

__ADS_1


Hah.. Sahril menghela nafas, meletakkan ponselnya di lantai, bangkit berdiri di samping kiri Latika, "Kau masih beruntung cuma lupa beberapa gerakan, lah aku hampir semuanya lupa."


"Parah kau." Hadi menghardik Sahril.


"Untung aku bersama kalian jika kita masih di sana mungkin aku sudah kena marah dengan yang lainnya," kata Sahril sedikit bergerak-gerak di depan cermin besar itu.


"Makanya kita keluar membuktikan pada mereka kalau kita juga bisa, tampa perlu pandang bulu. Aku tidak suka dengan orang yang pandang bulu, padahal orang yang mereka angap remeh itu lebih baik dari pada mereka." Sahril mengajukan jempol pada Hadi, setuju dengan kata-kata Hadi.


"Sudahlah jangan di ingat lagi, aku jadi merasa bersalah gara-gara aku kalian juga ikut keluar," kapala Latika menunduk mengingat waktu itu.


"Jangan merasa bersalah Latika. Itu keinginan kami, itu bukan kesalahan kamu. Tidak mungkin waktu itu kami membiarkan kau dihina mereka." Hadi penepuk pelan bahu Latika, tersenyum ke arahnya.


"Yooo.. Kita latihan." Sahril semangat sekali, menyalakan musiknya.


Mereka mangatur barisan masing-masing.


Mulai bergerak mengikuti irama musik.


Ya, inilah kegiatan mereka. Dulu mereka ikut komunitas dence mereka latihan bersama setiap minggu sesuai jadwal yang ditentukan, namun mereka bertiga hanya bertahan beberapa minggu saja mereka di sana. Karena, Latika di keluar dari komunitas, entah apa sebabnya katanya Latika tidak pantas ada di sana dia tak selevel dengan mereka, akhirnya mereka berdua juga ikut keluar dari komunitas. Padahal mereka berdua merupakan anggota terbaik.


4 jam kemudian.


Berjam-jam mereka latihan, bukanlah baik-baik latihannya banyai main dari pada latihan. Sekali adalah mereka serius gara-gara di pelotiti Latika baru serius kalau tidak, main-main terus.


Lumayan juga Latika jadi pawang mereka berdua.


"Sudah jam segini harus pulang cepat ini." hati Latika berseru, melihat jam di dinding menunjukkan pukul 5 sore.


Perasaannya tidak enak, gelisah setelah lihat jam menujukkan pukul 5 sore, "Oi, sudah lagi, yok. Sudah jam Lima sore ini."


Hafi berhenti melihat jam di dinding ternyata benar menujikkan pukul 5 lewat beberapa menit sudah, "Cepat dia, tak terasa lagi sudah jam Lima." Hadi mengkacak pinggang, nafasnya tidak tersengkal, lelah.


Sahril terebahkan dirinya ke lantai tergeletak kelelahan, nafasnya juga ikut-ikutan tersengkal, "Sudahlah lagi. Lalah aku ini," suara Sahril mengecil kehabisa tenanga.


Latika bersiap mau pulang megendong tasnya, beranjak dari tempat duduknya, "Aku pulang dulu ya."


"Kau pulang pakai apa? Ikut aku saja, biar aku antar." susah Sahril bicara, kelelahan.


Hembusan nafasnya dapat di dengar kereka berdua.


"Mati. Sempat Sahril antar aku pulang bisa ketahuan." Latika berseru dalam hati panik, kalut, takut ketahuan temannya kalau dia sekarang sudah menikah.


"Aaa.. A-aku sudah pesan gojek." Latika memberikan alasan umum yang sering ia gunakan, bukan alasan juga sih. Latika memang sudah memesan gojek untuk mengantarnya pulang, ia sudah menduga kalau akan terjadi seperti ini.


"Batalkan saja," seru Sahril santai.


"Enak saja, aku sudah pesan masa iya di batalkan. Kasihan tukang ojeknya," Latika mejawab ketus.


Ooo.. Sahril meng-o pelan. Seperti tak bernyawa lagi itu anak.


Sahril tak berdaya mengangkat jempol oke.


"Aku pulang ya." Latika segera ke luar dari rumah Hadi, untungnya di depan tukang ojeknya sudah datang jadi Latika tidak perlu langi menunggu.


Cepat Latika memasang helem, naik ke atas motor, menepuk pelan bahu si mas ojolnya, "Cepat mas, antar saya pulang sebelum ia pulang," desak Latika.


Si Mas ojolnya mengikuti kata Latika, memacu motornya dengan cepat, mengikuti petunjuk dari Latika.


Perasaan Latika sudah lain, ia terus mendesak Mas ojolnya, "Ayo, cepat Mas. Nanti, dia marah. Mas mau gantikan saya kalau dia marah. Saya takut dia marah Mas."


"Sabar Mbak, ini sudah cepat," sahut si Mas ojol, tetap fokus.


Latika gelisah sekali selama perjalanan ini. Sebentar pikirannya teringat dengan video yang viral itu, hatinya berkata-kata, "Kalau kebenarannya sudah terungkap, lalu bagaimana dengan kami? Apa aku akan di ceraikan dia? Tapi, aku tidak mau jadi janda diusiaku yang semuda ini. Atau hubungan kami tetap terjalan dengan ikatan pernikahan ini tampa cinta sama sekali. Apa ini akan jadi awal yang baru? Apa dia suka denganku? Agh... Apa yang kau pikirkan Latika, gak mungkin dia suka dengan dirimu yang jauh dari kata sempurna. Tapi, bisa saja seperti di filem-filem. Agh..." wajah Latika bersemu merah setelah di ajukan pertanyaan oleh batinya, "Apa sebenarnya kau suka dengan dia? Apa kau cinta dengan dia? Dia tampan lo."


Mas ojol yang membawanya merasa aneh dengan Latika yang tiba-tiba malu wajahnya bersemu merah.


"Jalani saja dulu Latika. Cerai itu merupakan perbuatan yang tak disukai Allah. Jadi jalani saja dulu, kalau urusan cinta biat Allah yang atur. Sekarang usaha yang terbaik, ingat sekarang kau adalah istrinya. Maka lakukan yang semestinya," seru hati Latika di benarkan oleh akalnya.


Setelah sekian lama perjalanan akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan.


Latika membayar ojeknya, memberikan helem lalu pergi.


Di depan pagar rumah sudah ada Mang Juneb menyembut dengan senyuman.


"Mang dia sudah pulang?," tanya Latika mendekati Mang Juneb.


"Sudah Non. Baru saja." Mang Juneb menjawab, mengangguk dengan senyuman.


"Mang kawankan saya masuk Rumah, saya tak berani," pinta Latika pada Mang Juneb yang sulit untuk Mang Juneb tolak. Toh, Latika cuman minta kawankan masuk Rumah saja tidak berat.


Mang Juneb mau menemani Latika.


Sepanjang langkangkah kaki Latika, ia menunduk berharap agar Afriadi tidak menghadangnya di luar, Latika berharap ia istirahat di kamarnya melepas lelah.


Mang Juneb menyeriangai paham dengan perasaan Latika sekarang ini, "Non, sudah sampai."


Suara Mang Juneb membuat Latika mengangkat kepalnya.


Alama... Bulu kuduk Latika berdiri semua, merinding, jantungnya tambah berdengup kencang, panik melihat Afriadi berdiri di depan pintu dengan wajah kusut dan tangannya yang dilipat di depan dada.


Latika sudah di hadang sama panglima.


Rasa-rasanya Latika tidak mau masuk ke Rumah ingin kabur saja kalau bisa.


Mata Afriadi terus menatap Latika.


Ia membuka mulutnya, "Kenapa pulang jam segini? Adek dari mana?," suara dingin Afriadi keluar membekukan Latika saat mendengar ada kalimat yang jengal di telinganya.

__ADS_1


"What? Dia memanggilku Adek." batin Latika terkejut mendengar kata Adek.


Woooyy... Kata Adek itu yang jangal.


Afriadi mengerutkan dahinya menunggu jawaban Latika.


Salah tingkah Latika dibuatnya, sampai menjawab pertanyaan dengan cepat sampai ada kesalahan dalam kata-katanya, "Bukanya Adek sudah bilang kalau Adek ada kegiatan jadi pulangnya agak lama, Adek juga sudah kirim pesan sama Aba-" Latika menutup mulutnya, menyadari kesalahan pada kalimatnya. ia baru saja menyembut dirinya sendiri Adek, dan baru saja ia mau menyebut dia Abang, untung mulutnya sempat ditutup.


"Kenapa aku ikut-ikutan juga panggil diriku sendiri Adek. Aduh.. Bahaya ini, gara-gara kemarin, merubah penggilan jadi seperti ini," batin Latika berkata.


Ha.. Afriadi mengangkat alisnya seakan tidak paham dengan kata-kata Latika, terlalu cepat hanya sebahagian saja yang ia dengar, "Adek ada kirim pesan?"


Afriadi mengeluarkan ponselnya, melihat kotak pesan, sekejap ia melirik Latika kembali lagi ke ponselnya, heran, ekspresinya bingungnya keluar, "Sejak kapan ada pesan ini, dan sejak kapan aku balas pesan ini. Egh, Qilaaaan.." Teriak


Afriadi dalam hati.


Ahahahaha... Qilan tertawa sejadi-jadinya mengingat kejahilannya. Hasan datang membawa minuman untuk Qilan, duduk di sebelahnya, "Senang betul kelihatanya. Ada apa ini? Cerita sedikit."


Hahaha... Qilan berhenti tertawa sebentar membisikan kejahilannya pada Afriadi kepada Hasan.


Hasan terkejut, "Seriusan." alisnya terangkat sebelah, "Kau tadi main ponselnya waktu ia pergi ke toilet, lalu ada pesan masuk dari Istrinya. Jadi, kau balas pesan itu tampa diketahui dia."


Qilan mengangguk tersenyum lebar. Hasan terdiam sebentar, lalu ikut tersenyum lebar, tertawa terbahak-bahak, "Haha.. Gila, cari mati kau."


Qilan tertawa lagi, "Hahaha.. Coba kau bayangkan dia saat Istrinya pulang nanti, tiba-tiba ia marah dengan Istrinya pulang terlambat, lalu sang Istri menunjukkan pesan itu. Bayangkan ekspresinya seperti apa melihat pesannya dan di ponsel Istri."


Mereka berdua tambah jadi tertawa membayangkan ekspresi Afriadi saat melihat pesan itu.


"Kenapa tadi kau tidak tambahkan kata sayang dalam pesan itu, pasti seru sekali jedainya. Si cewek baper dan si cowok malu melihat pesannya," usul Hasan, tak sempat kepikiran oleh Qilan saat itu.


Tapi, kalau emang iya juga, seperti apa lagi ya ekspresi mereka berdua.


"Tapi, aku heran bagaimana kau tahu itu pesan dari Istrinya sebelum kau buka?," tanya Hasan, menghentikan Qilan minum.


"Aku tebak saja, dari kontaknya saja sudah bisa ditebak oleh kita yang paham dengan sifat Afriadi, penasaran aku buka saja pesannya, ternyata benar dari Istrinya. Kau tak tahukan nama kontaknya apa?" mendengar kata Qilan menyuruh Hasan untuk mendekat, biar ia bisikkan.


Hasan jadi penasaran ingin tahu nama kontak Latika di ponsel Afriadi apa, mendekatkan kupingnya siap mendengarkan. Qilan membisikkan, mata Hasan langsung melek tersenyum lebar, tak menyangka.


Sedangkan di Rumah, Mang Juneb pergi menemui Bik Ipah lewat pintu belakang, ingin memberitahu penemuan langka itu kepada Bik Ipah.


Bik Ipah lagi membersihkan dapur dengan tenang, senandung shalawat terdengar damai sekali keluar dari mulut Bik Ipah.


Tiba-tiba...


"Bik.. Bik.. Sini Bik." Mang Juneb datang-datang langsung menarik tangan Bik Ipah mau membawanya ke depan.


Bik Ipah kaget, menyergah Mang Juneb, "Kenapa, Neb?"


"Sini Bik, ikut saya ke depan." Mang Juneb tetap menarik tangan Bik Ipah.


"Mau apa ke depan? Ada apa di sana?," tanya Bik Ipah, melepaskan tangan Mang Juneb dari dirinya, menetap emosi Mang Juneb.


Mang Juneb malah tertawa, "Haha... Itu Bik.


Haha... Lucu Bik, penemuan yang langka, Bik. Sebelum ketinggalan, cepan ke depan." Mang Juneb menarik kembali tangan Bik Ipah.


"Apa maksud kau ini? Penemuan langka apa?." Bik Ipah tak paham sama sekali, melepaskan tangan Mang Juneb dari dirinya.


"Itu Bik. Tuan panggil Non Adek."


Tampa dua kali Mang Juneb mengulangi kalimatnya, Bik Ipah sudah meninggalkan dapur, menuju depan.


Mang Juneb menyusul dari belakang.


"Kenapa ada yang salah kah?," tanya Latika dengan wajah serius melihat ekspresi kaget Afriadi.


"Tidak ada." Afriadi tak bisa menyangkal Latika, pesan itu jelas-jelas dari nomornya, kalau dibilang pesan itu bukan dia yang balas melainkan temannya yang balas mungkin Latika tidak percaya menganggap Afriadi bohong mencari gara-gara dengan dia, bertengkar gara-gara masalah kecil ini, nanti dia merasa tidak nyaman di Rumah ini minta pergi pula.


"Masuk sebentar lagi Maghrib." Afriadi berbalik badan, masuk ke dalam.


Latika ikut masuk ke dalam.


Tiba-tiba...


Ketika sampai di depan anak tangga, langkahnya terhenti, berbalik badan.


"Tadi Adek ke Rumah siapa?"


"Ke Rumah teman." Latika menjawab ikut menghentikan langkahnya.


Afriadi tambah serius, "Laki-laki atau penemuan?."


"Laki-laki." Latika menjawab santai.


Wajah Afriadi berubah sulit ditebak, "Kenapa Adek ke sana?."


"Latihan dance." Latika tetap menjawab santai, tak peka dengan ekspresi Afriadi yang tak suka dengan jawaban Latika.


"Aa-" Afriadi menghentikan kalimatnya, menoleh ke belakang. Ia melihat Bik Ipah dan Mang Juneb menguping pembicaraan mereka berdiri tak jauh darinya.


Afriadi melototi mereka berdua, yang di pelototi berbalik badan berbisik.


"Betulkan Bik," Bisik Mang Juneb.


"Iya." Bik Ipah membalas dengan bisikan juga.


Pelan-pelan mereka melangkah menjauh, sesekali mereka mepihat ke belakang melihat keadaan di belakang. Afriadi menghela nafas, berbalik badan menaiki anak tangga, Latika memperbaiki posisi tas di punggungnya ikut melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2