
"Hem, KB?" Bik Ipah tampak berpikir keras meingat-ingat soal program keluarga berencana.
Tak lama Latika dan Afriadi berbalik lagi, dia kembali dengan wajah yang suram terutama Latika di belakang mereka disusul sama Jeni dengan anak dan suaminya Cacan.
Tanda tanya memenuhi kepala Bik Ipah, matanya tertuju pada Afriadi seolah bertanya padanya 'Gak jadi pergi?'
Afriadi memalangkan kedua tangannya gak jadi. Batin Bik Ipah bertanya-tanya kenapa gak jadi? Kenapa gak jadi?
Bik Ipah baru teringat soal program KB setelah dengar Jeni menceritakan pengalamannya menemani KB.
Toh, Latika tak tahu mau soal KB.
(Sebenarnya Author nya yang tahu 😅)
Latika dapat cerita dari Jeni dan Bik Ipah soal KB itu apa? Afriadi juga baru ingat soalnya sudah lama ia tak dengar kata itu sekitar beberapa tahun yang lalu semasa almarhum ibunya masih ada itu pun tak tahu betul, soalnya ia malu mau bertanya.
Dia simpul kan saja KB (Keluarga Berencana) sudah berencana dari awal anaknya besar akan seperti apa kan?
Pemikiran orang berbeda bukan ◡ ω ◡
Lumayan lah Latika tahu soal KB.
Waktu berlalu.
2 Minggu sejak pembuahan
Tepatnya 15 hari.
Afriadi di bawah sedang sarapan, ia tak mendapatkan istrinya ikut sarapan.
Matanya melihat ke arah tangga menantikan istrinya datang.
"Non ke mana Tuan?" tanya Bik Ipah.
"Lagi di kamar mungkin Bik," jawab Afriadi.
Mulut Bik Ipah terbuka, gatal sudah mulutnya ingin bertanya soal hasil pembuahan, tapi ia urungkan memilih untuk sabar saja nanti juga tahu tinggal panjangkan telinga dengar Latika mual-mual AAAAA iyalah tuh tak lain lagi.
Afriadi selesai makan Latika tak kunjung turun juga, merasa aneh Afriadi menemui Latika sekalian meambil ponselnya yang masih makan di kamar.
Ketika Afriadi masuk kamar terasa tenang, ia menghampiri ponselnya yang lagi makan di atas meja tv, tangannya mencabut charger dari ponselnya, tiba-tiba...
"Abang."
__ADS_1
Afriadi dikagetkan dengan suara panggilan yang serasa tidak bernyawa. Ia menoleh melihat Latika di belakangnya dengan mata yang merah. Latika langsung memeluk Afriadi menangis dalam pelukannya.
Afriadi bingung Latika, dengan tenang dia bertanya, "Ada apa Dek?"
"Maaf Bang," kata Latika pelan.
"Maaf untuk apa?"
"Yang kemarin gagal," kata Latika.
'Gagal itu... Maksudnya... Anak?' batin Afriadi berkata. Ia tak mau banyak tanya lagi ia tahu perasaan Latika bagaimana. Tangannya mengelus kepala Latika lembut memeluknya erat.
"Sudahlah jangan bersedih lagi, bukan salah Adek juga... Yah, gak semua langsung jadi kan?... Bersabar dulu ya sayang..." Afriadi mengelus pipi sang istri, "Anak itu titipan dan amanah illahi diberikan pada mereka yang bisa dipercaya. Yang penting berdo'a dan berjuang bersama."
Cup...
Afriadi mengecup kening Latika.
Latika sedikit tenang.
Air matanya di lap Afriadi dengan telapak tangannya yang besar.
"Nanti kita coba lagi sampai dapat." Afriadi sempat aja bercanda dengan istirnya.
***
"Hem." Afriadi menatap sinis pria yang duduk di hadapannya, Kamarudin. Afriadi seperti mau menerkam Kamarudin dengan sorotan mata seperti itu.
"Haha..." Kamarudin yang duduk di hadapan Afriadi itu tertawa getir.
"Dia tidak bilang apa-apa?" tanya Afriadi.
"Tidak, hanya memberikan pesan lalu nomornya sudah tidak aktif lagi," jelas Kamarudin.
Afriadi terdiam sebentar.
"Saya permisi ya Pak, ada kelas setelah ini."
Kamarudin pergi setelah dapat anggukan dari Afriadi.
Suasana kantornya sudah tenang, ia menyempatkan untuk berpikir keras soal salah satu guru yang menghilang tanpa jejak. Ia dapat kabar pagi ini, guru yang mengajar Sosiologi itu menghilang dan keluarga sampai melaporkan pada polisi.
Oh, ya bukan satu guru saja hilang. Malah dua guru di sekolahnya hilang siapa lagi bukan si guru pengacau Afriadi itu.
__ADS_1
Afriadi tak memikirkan dia, toh ia malah senang kalau si dia tidak ada.
Dreeet...
Ponsel Afriadi berdering.
Afriadi melihat nomor asing masuk, Afriadi menerima panggilan itu. Sungguh ia terkejut dikala mendengar suara yang keluar dari ponselnya.
"T-tolong s-saya... Bar... Hah..."
Mata Afriadi membuat sempurna panik menghampiri dirinya saat mendengar suara yang putus-putus dengan nafas yang tersengkal sepertinya orang yang menelpon Afriadi sedang berlari menghindari seseorang.
"Baim!!!" Afriadi balik teriak memanggil nama orang itu saat tak terdengar lagi kata-kata yang keluar hanya nafas yang tersengkal saja yang terdengar.
Baim, nama guru yang mengajar Sosiologi yang ia duga orang yang menelponnya sekarang.
"H-hati... Agh!!!"
"Baim!!!" teriak Afriadi mendengar suara tusukan dan erangan. Afriadi tambah panik lagi saat panggilannya terputus.
Berkali-kali Afriadi mencoba menelpon balik nomor itu namun hasilnya nihil gak ada jawaban sama sekali. Akhirnya Afriadi pergi terburu-buru menelpon seseorang mengajak ketemu.
Dan saat ia menutup panggilan pas di depan pintu ruangan Afriadi dikejutkan dengan kemunculan Gita yang tiba-tiba.
Karena kaget si Gita mundur ke belakang hampir terjatuh untung Afriadi menariknya kalau terjatuh bisa-bisa geger otak sebab di depan teras kantornya itu ada tangga apabila jatuh kena bagian yang tajamnya, alamatnya ke Rumah Sakit lah.
Namun Afriadi tak menyangka ia malah ke peluk si Gita nya. Cepat Afriadi medorong Gita menjauh darinya.
Karena terburu-buru Afriadi meminta maaf dengan tergesa-gesa sambil berlari pula menuju parkiran mobilnya. Si Gita terdiam kemudian tersenyum menoleh ke belakang, lalu pergi.
***
Yuhu, author kembali lagi. aku kembali cepat-cepat soalnya kepikiran kalian terus yang menunggu cerita ini.
terimakasih atas do'a dan dukungannya.
oh ya
Alhamdulillah, author mulai membaik cuman sulit makan aja ditambah sariawan tambah sulit lagi.
Pipinya... lumayan lah, bengkaknya tidak terlalu juga mengecil lah ibaratnya.
so, jumpa di episode selanjutnya.
__ADS_1
by