Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Akui Viana 3


__ADS_3

Afriadi bolak-balik mengunjungi tempat yang biasanya Viana kunjungi, tapi tetap saja Viana tak ada di sana.


"Di mana 2 orang ini. Di telpon tak di angkat," gerutu Afriadi, "Ke Rumahnya saja. Hanya tempat itu saja lagi yang belum di kunjungi."


Afriadi menuju tempat Viana.


Sedangkan di sana.


Nandi menenangkan Viana, duduk di sofa ruang tamu, mengusap punggung Viana, "Vi, sudahlah. Jangan menangis lagi."


"Aku takut."


"Tidak apa-apa. Aku ada di sini. Sudah ya." Nandi menyisipkan rambut Viana ke sela telinganya.


Teng Nong...


Bel Rumah Viana berbunyi.


"Aku buka kan pintu dulu." Nandi meranjak dari sofa tamu, membuka pintu.


"Af." Di lihatnya Afriadi sudah berdiri di depan Nandi.


"Af, dia di sini." Viana kembali gelisah.


Sekarang ia mau lari ke mana lagi.


Sebentar Nandi bicara dengan Afriadi, sebelum ia kembali ke dalam.


Ketika ia kembalu.


"Vi!" panggil Nandi, mengerutkan dahinya. Ia tak menjumpai Viana di sana. Ia melihat sekeliling ruangan, tidak ada viana di sana. Ia menduga Viana ketakutan lagi.


"Di mana dia? Katanya kau bersama dia." Afriadi muncul.


"Iya, tadi ia ada di sini.


Vi!" teriak Nandi.


Mereka mencari Viana ke seluruh sudut ruangan, bertemu kembali di kamar Viana.


"Ke-" Afriadi melihat pintu lemari terbuka sedikit di belakang Nandi.


Afriadi curiga Viana ada di dalam Lemari itu, "Apa kau bersama Viana tadi di sini?"


"Tidak, kami di ruang tamu tadi."


"Mas. Sini." Afriadi meminta Nandi mendekat. Tanpa di suruh dua kali Nandi mendekat.


Batin Viana menjerit, "Gawat aku ketahuan." Viana menutup mulutnya, dia takut sekali.


Pintu lemari di buka cepat Afriadi.


Viana kaget melihat Afriadi di depannya, ia ketahuan


"Vi." Nandi juga kaget lihat Viana jongkok di dalam lemari.


"Kyaaa..." Viana menjerit.


Bruuuk...


Viana mendorong Afriadi sampai terjatuh, lalu ia lari keluar dari lemari, untung Nandi menangkap Viana, membelitkan tangannya ke pinggang Viana, erat.


Viana memberontak, memukul beberapa kali tangan Nandi.


Nandi meneriaki Viana, "Vi, tenang Vi! Jangan takut!"


"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Viana meronta-ronta.


"Tenang Vi!!!" teriak Nandi terduduk di lantai, kakinya mengunci kaki Viana tangannya berpindah menahan tangan Viana, membuatnya tak bisa memberomtak lagi.


"Tenang Viana, temang." Nandi menenangkan Viana dengan suaranya yang berubah lembut.


"Vi, kau kenapa?" tanya Afriadi.


"Hiks..." Viana kembali menangis, tubuhnya lemas. Nandi pun melepas kunciannya.


"Ada apa vi kenapa kau begini?" tanya Afriadi lagi.


"Sudah Af, jangan di tanya dulu," larang Nandi, khawatir dengan keadaan Viana, "Sekarang-"


"Tidak." Viana memotong kalimat Nandi.


"Af, a-aku mi-nta maaf," kata Viana gagap.


"Ha, minta maaf?" tanda tanya mememuhi otak Afriadi, bingung minta maaf soal apa, "Minta maaf soal apa?"


"A-aku..."


"Jangan paksa untuk bicara Vi. Tenangkan dulu dirimu. Aku tidak pergi ke mana-mana juga, nanti saja bicaranya. Tenangkanlah dulu dirimu," kata Afriadi, meranjak berdiri keluar dari Kamar.

__ADS_1


Viana menengkan dirinya di Kamar kali ini Nandi tidak meninggalkannya takut nanti ia kabur lagi atau melakukan hal yang tidak-tidak lagi.


Afriadi duduk di sofa tamu.


Pandangannya tertuju pada foto di dinding, sosok seorang wanita di samping Viana yang tersenyum indah.


Batinya berseru lemah, "Naila."


Afriadi mendekati foto itu, melipat tangannya di depan dada.


Ia cukup lama berdiri di sana melihat-lihat foto Viana dan wanita di sampingnya, Naila.


"Hah..." Afriadi tersenyum kecil, memory kenangannya bersama Naila teringat kembali.


"Af." Viana memanggil Afriadi dari belakangnya.


"Ya." Afriadi menoleh.


"Kau masih ingat dengan dia." Viana mendekati Afriadi, berdiri di sampingnya.


"Ya. Siapa yang tidak ingat dengan temannya sendiri."


"Sudah lama kalian berteman. Tapi sekarang dia."


"Itu sudah takdir." Afriadi menyela, ekspresi itu tergamabar lagi, ekspresi kesedihan sama saat ia melepas kepergian Naila.


"Iya." Viana duduk di sofa. Viana memainkan jarinya, ragu-ragu ia mau bicara.


"Af maaf," kata Viana tiba-tiba.


Afriadi kaget, "Kenapa kau minta maaf terus?"


"Kau tahu siapa yang membuat dia pergi darimu?" tanya Viana ragu-ragu.


"Aku tidak tahu."


"Jika kau tahu siapa orang itu, apa yang akan kau lakukan padanya?" tanya Viana lagi, jantungnya berdegup kencang.


"Hem," guma Afriadi membalikan badan, melihat Viana, "Entahlah. Aku tidak berhak atas itu."


"Kenapa? kau berhak atas itu.


Bukanya kau calon tunangannya dulu."


"Itu dulu. Sekarang tidak. Aku dan dia-"


"Kenapa?"


"Sudahlah jangan bahas. Pagi ini aku dibuat lelah oleh kalian. Aku mencari kalian sana sini, tahu-tahunya ada di sini." Afriadi duduk di sofa seberang Viana, ia menatap Viana yang kelihatan gelisah.


Viana mengenggam erat tangannya, panas dingin menyerangnya, jantungnya berdegup kencang bagaikan ia sedang menghadap Hakim di ruangan persidangan.


"Kata Mas Nandi kau ingin bicarakan sesuatu kepadaku. Apa itu?" tanya Afriadi.


"Ah, itu..." Viana menghentikan kalimatnya, Jantungnya berdegub kencang, ia tak sanggup mau meakui kesalahannya.


Bismillah, Viana memberanikan dirinya untuk mengakui kesalahannya, "Af, maaf. Maafkan aku. Aku sungguh minta maaf."


Afriadi terheran-heran dengan Viana, batinya terus bertanya ada apa dengan dia?


"... A-aku a-aku a-aku yang mendorong Naila saat itu."


"Apa!!!" Afriadi langsung berdiri kaget dengar pengakuan Viana yang tiba-tiba, matanya membulat sempurna. Dia tak menyangka kalau Viana membunuh Naila.


"K-kau..." Afriadi menujuk Viana, emosinya tertahan. Rasanya ada yang nusuk, dadanya sesak, Ia mengusap kasar rambutnya kembali duduk dengan posisi kedua tangan menopan kepala.


"M-maaf Af. Hiks..." Kepala Viana tertunduk, air matanya kembali tumpah, "Saat itu aku hanya bercanda dengan dia, aku tidak tahu kalau akan jadi seperti itu. "


"Kenapa lakukan itu Vi?" tanya Afriadi lemah.


"Aku tidak berniat untuk mencelakai dia, aku hanya bercanda... Kalau tahu akan jadi seperti itu, aku juga tidak akan melakukannya saat itu. Hiks..."


Viana meningat kembali kejadian hari itu.


5 tahun yang lalu, seminggu sebelum pernikahan Afriadi dengan Naila.


Jam 08:00 pagi.


Viana mendapat undangan dari Naila. Agak kaget setelah mengetahui mempelai Pria. Dulu Viana suka dengan Afriadi jadi ada rasa sedih, sakit, dan bahagia juga. Bercampur aduklah perasaannya dulu, sampai menangis dan berdebat dengan batinya.


Sekitar jam 08:30 pagi.


Cepat Viana pergi menemui Naila ingin memberikan kejutan dan memberikan ucapan selamat pada Naila untuk pernikahannya.


Di perjalanan dia membeli kue dan bunga untuk Naila.


Setibanya di Apartemen.


Viana chat Naila, memastikan dia apa ada di Rumah atau tidak.

__ADS_1


——————————————————————


Nai, kau ada di Rumah?


Aku mau berkunjung nih.


——————————————————————


Tring...


Balasan Chat dari Naila.


——————————————————————


Naila 😉


Temui aku di atap Apartemen. Aku lagi di sana, seperti biasa.


——————————————————————


Viana tersenyum kaku baca chat Naila, "Kebiasaan itu Anak, hobiy sekali memotret pemandangan."


Yup, Naila emang hobiy memotret pemandangan dan pas sekali pemandangan di sekitar Apartemennya lumayan.


Viana membawa bingkisannya, masuk ke Apartemen Naila memaruh bingkisannya, saat masuk meja tamu penuh dengan bingkisan serta kartu ucapan selamat, ia meletakkan bingkisannya di antara bingkisan yang ada.


Lalu Viana keluar, menuju atap Apartemen menemui Naila di sana.


Saat sampai ia melihat Naila asik memotret berdiri di tepi bibir pembatas Apartemen.


Viana berniat mengejutkannya, ia menjalankan idenya.


Viana mengendap-endap mendekat mau mengejutkannya, yang benar saja ia melakukan ide jahilnya tanpa tahu akibatnya.


BAAA...


Viana mengejutkan Naila memegang ke dua bahu Naila mendorongnya seta menahanya agar tak jatuh. Namun perkiraan Viana salah, Naila kaget setengah mati menjerit sejadi-jadinya melihat tubuhnya sudah serong 120° sehigga Viana juga kaget melepas tangannya.


Braaak... Naila terhempas ke tanah.


Viana gemetar melihat itu, cepat ia kabur dengan air mata yang tumpah.


***


"... Hari itu juga aku lari ke korea. Aku... Aku... Telah membunuh seseorang.


Aku membunuh tunanganmu Af.


Aku telah membunuhnya.


Aku takut kau... Kau... Hiks..." Viana melanjutkan kalimatnya, menangis tersedu-sedu.


Afriadi menahan emosi.


"Hiks... Maafkan aku Af. Sungguh maafkan aku. Hiks..."


Sekali lagi Afriadi mengusap kasar rambutnya.


"Maaf Af. Inilah alasannya kenapa aku pergi ke Korea. Aku menghindari itu...


Af, aku menyesal. Maafkan aku... Hiks..."


Afriadi diam, ia masih tak percaya dengan itu semua.


Nandi tak tahu apa yang terjadi di luar sana. Ia terbaring tertidur akibat efek samping dari obat yang ia minum pagi tadi.


Ingin Afriadi melampiaskan kemarahannya pada Viana, percuma juga. Itu tidak akan merubah apa-apa, dia juga tidak akan kembali.


Sekarang Afriadi tahu siapa yang membunuh Naila, pertanyaannya selama ini sudah terjawab hari ini.


Hanya ikhlas dan sabar saja lagi.


Merelakan ia pergi untuk selamanya.


Lagian dia juga tidak ingin kehilangan teman terbaik untuk yang ke dua kalinya.


Viana menyesali perbuatannya sungguh dia sangat menyesal, di samping itu semua juga Viana merasa lega beban di dadanya hilang dan terasa lapang.


Hari ini mereka bertiga pergi ke makam Naila, Berziarah.


Viana menangis terisak-isak di atas makam Naila, memeluk batu nisannya.


Nandi mengusap pinggung Viana menenangkannya.


Afriadi tidak menuntut Viana atas kecelakaan itu.


Toh, ia tidak sengaja.


Itu mengajarkan kita semua untuk saling memaafkan dan tak berlebihan dalam bercanda bisa-bisa saja katena berlebihan bisa melayangkan nyawa seseorang.

__ADS_1


__ADS_2