
Hari menjelang sore.
Afriadi dari tadi duduk di sofa tamu menonton tv, bukan Afriadi yang nonton tapi tv-nya yang nonton Afriadi termenung mememikirkan kehamilan Latika.
"Kapan aku melakukannya?" batin Afriadi bertanya, "Apa malam itu? Apa benar aku melakukannya malam itu? Gak-gak mungkin, gak mungkin aku melakukan. Kau pingsan Af, kau pingsan. Tapi, dia hamil, bagaimana bisa? Dia hamil atau tidak, tapi perutnya sedikit buncit, mual-mual terus. Apa benar dia hamil? Haaa.. Apa malam kemaren? Aku tak sadar sama sekali, bisa saja aku melakukannya. Tidak Af kau tidur tidak mungkin. Agh.. Kalau benar dia hamil kau akan menjadi seorang ayah. Ayah, aku akan jadi ayah. Tapi, kau tidak melakukannya bagaimana mungkin dia bisa hamil? Apa jangan-jangan dia sudah hamil dulu sebelum kejadian itu, bukanya malam itu dia kelihata sedih sekali, pasti dia sedih karena itu, dan memanfaatkan aku." Afriadi berdebat dengan batinnya, mengusap dada isthgfar, "Astaghfurullah, jangan pikir yang tidak-tidak Af tidak mungkin dia begitu, berpikirlah positif. Kau menduga kalau dia hamil, tapi belum tentu dia hamil bukan."
"Tuan." suara Bik Ipah memutus lamunan Afriadi, membawa secangkir kopi dan cemilan, "Tuan lagi memikirkan apa?"
Afriadi menatap Bik Ipah, membuka mulutnya dengan wajah datar, "Hamil." suara Afriadi terlalu kecil membuat Bik Ipah tak mendengar kata Afriadi, "Haa.. Apa Tuan?" Bik Ipah menaruh kopi dan cemilan di atas meja, sedikit mendekati Afriadi, minta diulangi katanya.
Afriadi sudah membuka mulutnya siap untuk mengulangi katanya tadi, tapi dia tak jadi gara-gara melihat Latika turun menuruni anak tangga, memegang perutnya. Ia memilih membisikkan kenapa Bik Ipah, "Hamil."
Ha.. '???' tanda tanya memenuhi kepala Bik Ipah.
"Apa dia hamil?" tanya Afriadi dengan suara kecil.
"Siapa? Non?" tanya Bik Ipah.
__ADS_1
Afriadi mengangguk, "Apa benar dia hamil?"
"Sejak kapan disentuhnya? Hoo.. Jangan-jangan subuh itu," tanya batin Bik Ipah, pikirannya mengingat kembali kejadian subuh itu, tersenyum mengoda Afriadi, "Apa malam itu Tuan melakukannya?"
Afriadi menatap malas Bik Ipah, yang di tatap tertawa kecil, tahu maksud tatapan itu, Afriadi tak senang dengan kalimat bik Ipah barusan, "Habis itu kalau tidak disentuh bagimana bisa? Tuan menghayal, tidak sabar jadi seorang Ayah." Bik Ipah mengoda Afriadi.
"Cukup Bik, aku hanya mengira kalau dia hamil, soalnya beberapa hari ini dia selalu, memegang perutnya terus lalu mual-mual." jelas Afriadi dengan suara pelan, matanya melihat Latika menuju dapur.
"Apa benar Non hamil? Kalau benar hamil berarti Tuan benaran jadi seorang Ayah." Bik Ipah mengoda Afriadi lagi, disertai dengan tawa kecilnya.
Afriadi menghela nafas menggeleng. Bik Ipah seperti tidak takut-takutnya bercanda Afriadi, yang di candai juga bersikap biasa saja, mereka kelihatan akrab sekali, itu karena Bik Ipah merawat Afriadi dari kecil jadinya Bik Ipah tahu sifat Afriadi sebenarnya, kalau dia bukan orang yang dingin.
"Astaghfurullah. Istigfar Tuan, mana mungkin Non begitu, tidak baik menuduh istri yang bukan-bukan h-" perkaraan Bik Ipah dipotong Afriadi, "Mungkin saja-"
"Anda menuduh saya hamil dengan pria lain," suara Latika membuat Afriadi dan Bik Ipah terperanjat terkejut, cepat mereka menoleh kebelakang melihat Latika berdiri dengan air mata yang mengelir membasahi pipinya, "Anda menuduh saya hamil dengan pria lain." Latika mengulangi perkataannya dengan nada suara yang sedikit naik.
Bik Ipah mendekati Latika menyuruhnya duduk, Latika duduk tangannya menyeka air matanya. Bik Ipah meletakkan tangannya ke pertut Latika, memeriksanya.
__ADS_1
"Buk-" perkataan Afriadi dipotong Bik Ipah, "Tuan." wajah Bik Ipah kelihatan serius dusertai tangannya yang masih mengotak-atik perut Latika. Afriadi dan Latika ikut-ikutan memasang wajah serius 'Apa benar hamil?' pikir mereka.
Suasana di ruang tamu tambah sedikit tegang, mereka menunggu jawaban dati Bik Ipah.
Bik Ipah memasang wajah serius, "Kembung lah, bukan hamil."
Mereka berdua kena tipu dengan Bik Ipah, memasang wajah judes melirik malas Bik Ipah, yang di lirik tertawa kecil menepak pelan perut Latika.
Heeh.. Afriadi melotot melihat Bik Ipah, yang di pelototi malah tertawa terpingkal-pingkal dia tahu kalau Afriadi khawatir kalau perut Latika kenapa-kenapa, "Tenang Non, Non tidak hamil Bibik tahu soalnya Bibik ini mantan bidan kampung jadi tahu. Ini hanya kembung, masuk angin ... "
Dalam hati Afriadi yang dalam ia beristigfar karena sudah berprasangka buruk.
Ehem.. Dehem Afriadi memberi kode kepada Bik Ipah untuk pergi meninggalkan mereka, Bik Ipah yang paham tampa di suruh dua kali langsung pergi meninggalkan mereka.
Malu-malu Afriadi minta maaf, "Maaf sudah buruk sangka, menuduhmu yang bukan-bukan."
Latika hanya mengangguk, ia menarik nafas lega dalam beberapa waktu lalu ia sempat berpikir macam-macam soal kehamilannya. Bagaimana nasipnya jika ia benar hamil? Bagaimana sekolahnya? Apa kata temannya nanti?
__ADS_1
Tapi, Latika tidak gembira ia merasa agak sedih mendengar kalau dia tidak hamil, padahal di samping ia memikirkan dampak ke hamilannya ia juga sudah berangan-angan menjadi ibu.