
Tak... Tak... Tak...
Suara pisau bertemu dengan papan potong.
Latika membantu memotong motong bahan masak sambil berkenalan dengan wanita desa ini.
Namanya Hisa, ia anak dari pekerja yang mengurus rumah ini. Ia banyak menceritakan mama, papa, dan Afriadi waktu dulu.
Dia kaget saat tahu wanita yang sedang bicara dengannya ini istri Afriadi, dia kira Latika teman Afriadi. Hisa sudah banyak mendengar cerita dari Bik Ipah mengenai istri Afriadi.
BAM...
Hisa mementak meja, melotot menatap Latika, "Beneran kekasih Afriadi?"
Latika meangguk kaku, masih kaget dengan bentakan Hisa.
"Kyaaa.. Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu... Aku sudah banyak mendengar cerita dari Bik Ipah mengenai istri tuan Afriadi, tapi tak pernah bayangkan kalau istrinya cantik imut kek gini..." Hira bicara kek mesin jahit, cepat.
Latika saja sampai bengong dengarkan kata-katanya, dan ada pertanyaan dibenaknya, "Emang suamiku artis di kampung ini ya? Sampai satu kampung riuh kedatangan diriku."
Tak lama Latika undur diri ketika Hisa akan memotong ikan, ia masuk ke kamar memindahkan baju dari koper ke lemari setelah itu ia merapikan tempat tidur.
Tiba-tiba saja Afriadi datang berlari-lari kecil terus melompat naik ke tempat tidur, berguling-guling kek anak kecil.
Urat kesal Latika muncul.
"Tepi," kata Latika.
"Tak nak," balas Afriadi dengan nada mengejek.
"Minggir lah, orang nak rapikan." Latika mengusir Afriadi, memukulinya dengan bantal.
Bukanya menjauh Afriadi malah nyengir lebar, menarik tangan Latika hingga ia terjatuh dalam pelukannya.
Wajah Latika bersemu, ia memukul pelan dada Afriadi. Saat ingin bangkit, Afriadi buru-buru melingkarkan tangannya pada pingang Latika, menahannya.
"Abang, lepas."
"Begini kan enak," gumam Afriadi membuat wajah Latika memerah.
Latika melirik Afriadi yang mejamkan matanya, ia kira Afriadi tertidur perlahan ia merebahkan kepalanya pada dada bidang Afriadi, ia tersenyum dengar detak jantung Afriadi.
Perlahan ia menutup matanya, tidur. Sudah dua hari di perjalanan ia kurang tidur.
Tak lama Latika hanyut sampai ke negeri ginseng.
AC alami masuk dari jendela menyejukkan ruangan. Di rumah ini tidak ada AC yang ada hanya beberapa kipas angin besar di atas.
__ADS_1
***
Sore
Latika tengah menyapu pelantar rumah, ia lihat Afriadi sibuk dibawah rumah.
"Apalah yang dibuat Abang," gumam Latika.
"Dek!" seru Afriadi.
Latika menoleh, sedikit kaget Afriadi bawa sepeda. Dari mana dia dapat itu sepeda?
"Yom, naik. Kita jalan-jalan," ajak Afriadi menggoyangkan stang sepeda, alisnya naik turun meyakinkan.
Tanpa diajak dua kali Latika berlari kecil mengambil tak lupa ia letak sapu dipagar rumah, segera naik sepeda.
"Cepatlah bang." Latika tak sabaran lagi jalan jalan naik sepeda, sudah lama ia tak masuk sepeda.
"Eeet. Siapa kata gratis?"
Latika mengerutkan dahi menatap Afriadi.
"Mestilah ada upahnya." Afriadi tersenyum licik, menggembungkan pipi.
Latika paham maksud Afriadi, dia minta kiss di pipi, tapi tak mungkin Latika melakukannya di tempat terbuka apa lagi ini di kampung. Apa kata orang nanti? Tapi, kalau tak kasih Afriadi tak jalan.
Latika menempelkan dua jari di mulutnya lalu ia tempelkan pada bibir Afriadi bukan pipinya lagi. Walupun hanya tempelan kiss ditangan, namun wajah Afriadi sedikit bersemu, bengong sesaat.
"Cepatlah," titah Latika sekali lagi.
Afriadi tersenyum lebar, "Bersiap, pegangan yang erat. Pembalap sepeda kampung beraksi."
"Gak usah lebay." Latika menepuk bahu Afriadi.
Afriadi mulai mengayuh sepeda, hati Latika senang sekali naik sepeda bersama sang kekasih.
Tak jauh Afriadi menghentikan sepedanya.
Di depan rumah seseorang, yang Latika tahu itu rumah Bik Ipah, toh orangnya melambaikan tangan padanya.
Mereka berdua membalas lambaian tangan tersebut.
"Mau kemana pengantin baru?" tanya suami Bik Ipah.
Mereka berdua hanya membalas dengan senyuman.
"Jalan-jalan sahaja," sahut Afriadi.
__ADS_1
"Ciee... Ehem..." Suami Bik Ipah menggoda Mereka berdua.
"Apalah Bang bilang mereka pengantin baru," tegur Bik Ipah pada suaminya.
"Apalah salahnya, walaupun sudah lama, tapi tetap terasa kek pengantin baru."
"Singgah Non," kata Bik Ipah.
"Nanti saja Bik singgah, mau jalan dulu," sahut Afriadi, "Kami dulu ya."
"Ya!" sahut Bik Ipah dan suaminya.
Afriadi kembali mengayuh sepeda, disepanjang jalan mereka bertemu warga kampung. Yah, mereka semua menyapa Afriadi dan Latika, so karena Latika baru di kampung mereka pada bertanya pada bertanya tanya.
"Itu ya istri Afriadi?"
"Itu ya istri Afriadi?"
"Itu ya istri Afriadi?"
Selama perjalanan Latika menikmati pemandangan sore, Latika antusias kali lihat orang main bola sepak di lapangan berlumpur, rasa-rasanya ingin bergabung.
Supaya tak bosan Afriadi bercerita masa kecil dia dikampung.
Eh, Latika tiba-tiba memeluk Afriadi saat melewati kek polisi tidur cuman dari papan.
"Hem... Ada yang pengantinan nampaknya," kata Latika lihat tenda biru dan panggung pentas Ben dan tempat bersanding.
"Nampaknya," sahut Afriadi.
Afriadi pulang ke rumah ambil jalan lain. Mereka tak sempat singgah lagi ke rumah Bik Ipah, toh sudah masuk magrib.
***
di sini Latika mau kasih pesan pada kalian semua para pembaca setia.
Latika: "Hay! apa kabar? semoga sehat selalu ya. Disini Latika mau bicara, sebelum tu saya mewakilkan author minta maaf karena lambat update.
em, pesan untuk kalian.
janganlah memakai ilmu-ilmu gaib seperti itu ya, yang memanfaatkan makhluk halus untuk kepentingan pribadi kalian. yang repot nantinya makhluk itu nuntut pada kalian, anak cucu juga ikut repot merasa takut dekat dengan kalian.
'Yang Satu' selalu tahu apa yang kalian perbuat.
sudah gitu aja pesannya.
semoga kalian semua terselamatkan dari mara bahaya.
__ADS_1
Amin
by semua. makasih sudah baca sampai habis 🤗