
Hay semua, author kembali. akhirnya bisa up lagi setelah hilang beberapa hari. maaf ya, selain terhalang mid author juga terhalang kuota jadi tunggu si baik hati pulang baru bisa kirim. rencananya semalam ingin kirim mau gimana lagi paket tidak ada. sorry lama.
***
"Ha! Serius?!" Latika syok dengar kata wanita asing di dekat dia itu, matanya yang melotot menatap wanita itu berbindah ke perutnya sekejap ia kembali menatap wanita itu, yang ditatap meangguk pelan meyakinkan Latika.
"A-aku a-aku c-calon i-ibu." Latika tergagap-gagap dengan gemetar tangannya menyentuh perutnya.
"Iya, selamat ya Latika." Wanita mengucapkan selamat pada Latika.
Latika terharu dengan kabar ini, rasa rasanya tidak percaya kalau dia hamil. Perasaannya campur aduk antara senang dengan terharu.
"Masih gak percaya, yuk periksa USG atau tas pack, " tawar Wanita itu.
Latika meangguk cepat ia ingin memastikan apa dia benar-benar hamil atau sekedar halu saja. Latika bangun dari baringnya di bantu sama dia, berjalan menuju ruang praktek yang tak jauh letaknya. Rupanya tadi waktu ia pingsan, satu kampus hampir dibuat geger sama doi laki-laki yang angkat Latika bingung mau bawa ia kemana gedung di kampus lumayan banyak dan yang dekat itu pada berisi semua dengan anak-anak kelas lain yang praktek. Latika di arak sana arak sini akhirnya jumpa juga dengan ruangan yang kosong dan biasa untuk praktek tepat di gedung B tempatnya jurusan bidan.
Sepanjang kaki melangkah Latika tahu ternyata wanita di samping dia ini anak bidan senior lagi, namanya Jenisa. Waktu Sampai di ruangan Latika terkagum-kagum lihat alas USG depan mata seumur umur baru kali ini ia lihat alat itu.
Latika disuruh baring di tempat yang disediakan sementara jenisa mengaktifkan alta usgnya. Baju Latika di buka sedikit melihatkan perut dan Jenisa mengoleskan lendir siput eh gel sejenisnya lagi ke perut Latika, di usap-usap perlahan-lahan dan disodorkan alat yang kayak mekropon kecil tu, perlahan alat itu berjalan-jalan kecil mengitari perut. Di layar sudah nampak kayak ada janin gitu.
"Tuh, lihat gak." Jenisa menujuk ke layar, walau gak kelihatan betul, masih kecil. Senyum Latika merekah rasa bersyukur pada illahi yang memberikan kepercayaan pada mereka untuk melihara serta merawat dan mendidik titipannya.
"Ternyata yang kemarin itu bukan tidak berhasil," gumam Latika.
"Terlalu cepat mungkin periksanya," kata Jenisa.
Latika komat Kanit menghitung datang bulannya, Jenisa hanya tersenyum lihat tingkah Latika menghitung datang bulannya.
***
"Cieeee... Selamat yeeee... Calon ibu."
Latika dapat ucapan selamat dari teman dekatnya lewat vc, kabar kehamilan Latika cepat tersebar ke teman temannya. Salasiyah sampai datang ke rumah menjenguk Latika.
"Cieee... Calon ibu," goda Salasiah. Latika menanggapi dengan senyuman terkukum.
"Ngomong-ngomong suamimu di mana? Dia sudah tahu?" tanya Salasiah. Hening sesaat, "Kau tak lagi berantem kan sama dia?"
Latika langsung cemberut dengan pertanyaan menyeleneh itu, "Hedeh, kau ni mudah kali ambil kesimpulan. Suamiku lagi pergi ke luar kota beberapa hari, aku belum bagi tahu dia takutnya ganggu."
"O..." Salasiah manggut-manggut, "Sudah berapa bulan?" tanyanya kembali.
"Hampir dua minggu."
Tak, lama mereka berbincang Bik Ipah datang membawakan sedikit kudapan dan air minum.
__ADS_1
"Eh, Paksi suguh air minum pula, merepotkan aja Bik," ujar Salasiah menyambar gelas minum langsung minum, buk Ipah sampai kaget Latika geleng geleng kepala lihat tingkah temannya ini, perkataan tak sesuai tindakan.
"Gak juga non Salasiah, kan non Salasiah tamu di sini. Harus dilayani," kata Bik Ipah meletakkan cerminan di atas meja, "Di cicipi non, ke dapur dulu ada yang dikerjakan lagi."
"Terimakasih Bik Ipah." Salasiah mulai mencicipi cemilan, ia menyantap dengan lahap. Latika hanya melihatkan saja.
"Mau," tawar Salasiah dengan mulut yang penuh dan belepotan remahan biskuit. Latika menggeleng, tak selera. Hah, kebiasaan Salasiah tak berubah juga.
***
Afriadi tersenyum lebar ke arah layar ponsel melambaikan tangannya, rupanya lagi video call sama istirnya.
"Sudah sholat Maghrib Dek ?" tanya Afriadi.
"Sudah."
Hening sesaat, mereka diam diam bae. Saling tatap, lalu tersenyum malu. Kayak anak ABG aja.
"Dek." Afriadi serius.
"Em," gumam Latika menatap mata Afriadi yang berbinar-binar.
"Abang rindu."
"Adek juga rindu sama Abang. Sabar ya Bang, cuman beberapa hari je." Latika berusaha tersenyum.
Keduanya tersenyum satu sama lain, menahan rindu itu berat juga.
"Bang."
Alis Afriadi terangkat ketika ia dipanggil Latika.
"Adek mau pesan sama Abang."
"Apa de?"
"A b a n g A f r i a d i j a n g a n g e n i t y a.
J a g a m a t a d a n h a t i a b a n g u n t u k a d e k, j a n g a n l i r i k y a n g l a i n." Latika mengeja memperingati suaminya berkali-kali, ini sudah kesekian kalinya Latika memperingatkan Afriadi.
Afriadi tertawa kecil, mengubah posisinya dari duduk jadi baring.
"O k e." Ia mengikuti Latika mengeja seraya matanya ikut berkedip.
"Oh ya Bang, Adek nak bagi tahu sesuatu ni."
__ADS_1
"Apa de?"
"Tunggu ya, Adek ambilkan." Latika menghilang di layar ponsel Afriadi.
Rasa penasaran menghantui Afriadi, apanya yang Latika ingin bagi tahu, nampaknya spesial sekali.
Latika kembali muncul di layar ponselnya.
Dengan senyum yang tertahan membuat Afriadi semakin penasaran.
"Cepatlah tunjuk, apa de yang nak dibagi tahu? Jangan buat lambat lah, penasaran ni."
Latika salah tingkah, tersenyum lebar salah tingkah melihatkan benda panjang dengan garis negatif ditengahnya, "ADEK HAMIL ANAK ABANG!"
Afriadi melongo lihat alat tes pack yang negatif. Latika terdiam lihat ekspresi Afriadi yang tak ada ekspresi gembira sama sekali.
Afriadi tersenyum miring, melayang dalam hayalannya yang teriak di atas gedung tertinggi di dunia mengumumkan berita gembira ini.
Hayalan yang jauh kali.
"Bang." Latika heran dengan suaminya yang tersenyum miring.
"BANG!!"
Afriadi tersentak kaget pas dibentak, senyumnya melebar kek Joker.
"Abang tak senang ya Adek hamil?" tanya Latika.
Afriadi terkekeh pelan dengar pertanyaan Latika, bicara lembut, "Lelaki mana yang tak senang di karuniai anak? Abang gembira Dek, sekian lama akhirnya punya anak juga."
"Sudah berapa Minggu Dek?"
"Hampir dua minggu Bang." Latika mengelus perutnya.
"Dek. Sebelum Abang pulang, Adek jaga anak kita baik baik ya... Makan jangan sembarangan, ingat apa yang Abang pesan waktu itu."
Latika meangguk ingat pesan Afriadi waktu itu.
"Sebelum tes ni, ada terjadi apa apa dengan Adek?"
"Iya Bang."
"Apa tu?"
Latika menceritakan apa yang ia alami hati ini di kampus, Afriadi mendengarkan cerita Latika yang heboh sempat terkejut tahu Latika pingsan di arak sana sini cari temoat singgah.
__ADS_1