
Malam gelap gulita di hiasi dengan bulan dan bitang di atas sana, dan lampu di atas bumi. Hari sudah larut, jalanan semakin sepi, lengang. Orang-orang sudah banyak terlelap dalam mimpinya yang indah, lelah seharian dengan aktivitas.
Berbeda dengan suasana di Rumah Laila, Guru SMA Ayyubiyah.
Ia bersama Papanya duduk di sofa ruang tamu, mereka berdua sibuk dengan leptop masing-masing.
Suasana hening, sepi tak ada suara percakapan di antara mereka hanya suara keyboard laptop saja yang memecah keheningan malam.
Laila meingat sesuatu, membuka mulutnya bicara dengan Papanya, "Pa, menurut papa dia bagamana?" Ia minta pendapat kepada papanya tentang seseorang.
"Dia, siapa?" Raya Papa Laila, bertanya balik.
"Siapa lagi." Laila berhenti mengetik, memutar bola matanya.
Raya berhenti mengetik menatap anaknya, "Mas Pur, Sancong, Buyung, Uda, Utoh, Ujang ..."
Laila tersenyum malas mendengar nama-nama yang disebut Papanya
"Aaa... Kamarudin." Raya menunjuk Laila, menyeringai, merasa benar dengan tebakannya.
Laila tambah senyum malas mendengar nama kamarudin disebut Papanya. Entah kenapa ia tak suka dengar nama itu.
Raya menjentikan jari, "Aaaa... Papa tahu siapa." Sengaja lambat beritahu biar Laila tambah penasaran, yang benar saja Laila benar penasaran ia melihat Papanya, "Sari~fu~din dan Afri~adi." Raya menyebut nama tersebut sampai berlagu-lagu
Laila tersenyum malu, tebakan Papanya tepat.
"Ah... Siapa nih yang disuka?" Raya bertanya menggoda anaknya.
"Entahlah Pa, Laila bingung." Laila malu-malu.
"Jangan bingung-bingung, pilih salah satu aja."
"Em... Menurut papa, siapa yang paling lumayan?"
"Loh, kok nanya papa.
Menurutmu mereka bagaimana?"
"Emmm... Kalau Sarif, orangnya baik, tampan, perhatian, kalau Laila salah dalam sesuatu di depannya dia pasti tegur Laila, terus dia ustadz lagi."
Papa Laila mengangguk, "Kalau Afriadi?"
Laila meregangkan jari-jemarinya, "Em... Kalau Afriadi.
Hihi... Dia tampan banget. Tapi, dia orangnya tak terlalu banyak bicara, kalau Laila dekatinya rasanya tak enak walau dulu..." Laila tidak menyambung kalimatnya.
Papa Laila sekali lagi mengangguk,
"Terus kamu pilih yang mana?"
"Ah... Bingung, Pa."
"Kalau bingung, dekati saja mereka dulu..."
Perbincangan ayah dan anak ini harus terputus, mengingat hari sudah semakin malam, dan waktunya untuk istirahat.
__ADS_1
Sedangkan di Rumah Afriadi.
Penghuni rumah semua sudah tertidur pulas, terbuai akan mimpi-mimpi indah, tak semua juga.
Afriadi juga sudah tertidur pulas di tempat tidur.
"Hehm...
Ja...ngan d...ek, ge...li."
Afriadi mengigau
Mimpi apa ya Afriadi?.
Sedangkan di kamar Latika, dia tertidur dengan raut muka pias, mengeleng-geleng tidak karuan.
Di dalam mimpi Latika.
Haa...
Latika kaget setengah mati melihat Afriadi bersanding dengan Kina, ketika acara potong kue mereka saling suap satu sama lain, dan minum 1 gelas berdua saja.
"Kina, Abang panggil kina Adek saja bagaimana?"
Hati Latika geram dengar Afriadi menawarkan panggilan sayang pada Kina.
"Tidak boleh panggilan Adek hanya untukku saja."
Akhirnya Latika meledak, emosi Latika yang sudah tidak terkendali lagi.
"BERANINYA KAU MENGAMBIL SUAMIKU."
"KYAAAA..." Kina teriak menahan sakitnya di jambak Latika.
Afriadi memisahkan mereka. Tapi, Latika memberontak sampai Afriadi menghardik Latika.
"LATIKAAAA...."
"HAH.." Latika terbangun dari tidur, dengan wajah yang panik.
Tangannya menyapu rambut yang menutupi matanya.
"Ternyata hanya mimpi," katanya dalam hati, jantungnya berdetak kencang, peluh dingin menyerangnya.
Sekejap Latika teringat dengan kata Afriadi malam tadi.
"Apa Adek tidak takut kalau Abang diambil orang?"
Kata-kata itu berdengung terus di pikiran Latika.
Matanya menatap jam di dinding, sudah jam 04:35 subuh.
Pas sekali azan berkumandan di Masjid.
Segera Latika mengambil air wudhu, bersiap-siap melaksanakan sholat subuh.
__ADS_1
Berapa menit kenudian, setelah sholat subuh, Latika belajar sebentar.
Tidak perlu waktu lama, perhatian Latika teralihkan pada ponsel yang berada di sebelahnya.
Tangannya membuka fb, dan memainkanya sebentar.
Tak sangka Afriadi di dalam kamarnua juga membuka fb, dan memainkannya.
"Em... Aku tidak ada bertemanan dengan Adek."
Afriadi mencari fb Latika, dan jumpa,
"Em... Minta pertemanan tidak ya?
Tapi, adek mau tidak ya menerima?"
Tuk...
Tampa sadar Afriadi menekan tombol minta pertemanan.
"Eh..." Matanya melotot melihat itu.
Langsung terkirim.
"Agh..." Hati Afriadi berteiak.
"AAAA.... Bagaimana ini?.
Sudah terlamabat untuk membatalkannya.
AGH..."
Afriadi salah tingkah setelah mengirim permintaan pertemanan.
Ia menutupi mukanya dengan bantal karena malu, sesekalai ia melihat ponselnya yang tergeletak.
Tring...
Permintaan tersebut masuk di ponsel Latika.
"Eh..." Mata Latika membulat sempurna,
"Egh... Abang minta pertemanan."
Tampa pikir panjang Latika menerima pertemanan tersebut.
Tring... Ponsel Afriadi berbunyi.
Afriadi menjulurkan kepalanya mengintip ponsel.
"Ah... Tidak mungkin. Adek menerimanya."
Afriadi kegirangan tidak tahu arah lagi, kadang-kadang malu sendiri, karena permintaan pertemanannya di terima.
Berkali-kali Afriadi menghentak kakinya kekasur, berguling-guling kesenangan.
__ADS_1
"Ha ha ha..." Ia tertawa kecil.