
Suara azan berkumandan di masjid dengan suara yang merdu, panggilan illahi mengema menyebar di mana-mana menyeru umat islam untuk melaksanakan sholat, Afriadi yang mendengar seruan Azan segera mengambil air wudhu dan mepaksanakan sholat di kantornya. Sedangkan di surau sekolah.
Sarifudin memimpin sholat zuhur berjama'ah, tak benyak jama'ahnya. Di antaranya Kemarudin, Kodir, dan beberapa siswa lainnya.
Surau sekolah memang disediakan untuk para siswa siswi maupun guru, yang ingin melaksanakan sholat, tapi kebanyakan mereka sholat di rumah.
Menit berlalu.
3 orang siswi yang baru saja selesai sholat, keluar berdiri memasang sepatu di teras surau, salah satu dari mereka menoleh kebelakang melihat Sarif dan pera jama'ah yang Sholat.
"Eh.. Eh.. Eh.. Lihat itu." Salasiah menepuk bahu Hana yang duduk di sebelahnya, memonyongkan mulutnya menunjuk seorang di sana.
"Siapa?." Hana memasang kaos kaki, ikut menoleh ke belakang, penasaran. Nana yang penasaran juga ikut menoleh, melihat serempak dengan tangannya bekerja memasang kaos kaki.
"Itu, yang di depan. Calon imam aku." tunjuk Salasiah tersenyum lebar, serempak dengan tangannya yang bekerja memasang sepatu.
"Hemm.. Pantang lihat yang tampan semua di sebut calon imam." Nana memasang wajah datar, kembali pada kerjanya memasang sepatu.
__ADS_1
"Suka hati aku lah, hum." pipi Salasiah mengembung, menjulurkan lidah mengejek Nana, yang di ejek melirik tajam, Salasiah mengalihkan mukanya fokus memasang sepatu, ia tahu apa yang akan terjadi jika ia ketahuan mengejek Nana, bisa-bisa ia lumet oleh Nana.
"Hem, kenapa cuman sedit orangnya yang Sholat, di mana yang lainnya?" Hana berdiri dari duduknya, menepuk-nepuk telapak tangannya yang berdebu, ia sudah selesai dengan sepatunya.
Salasiah yang masih memasang sepatu menjawab, "Jangan kau tanya lagi para laki-laki yang banyak itu kemana? Mereka kena haid jadi tak sholat."
Nana yang ingin mengikat tali sepatu sebelahnya, terhenti tertawa menengar perkataan Salasiah, "Prfff.. Ahahaha.. Laki-laki kena haid. Baru kali ini aku dengar."
Hana terperanjat tak menyangka dengan jawaban Salasiah, ikut tertawa juga, "Hahaha.. Ada-ada saja kau ini Salasiah. Masaa iya laki-laki kena haid."
Salasiah tersenyum lebar, gigi putih rapatnya kelihatan, "Iyalah itu. Laki-laki yang tak melaksanakan sholat, apa bedanya dengan wanita yang haid? Nah, berarti mereka haid juga ..."
Kamarudin mengajaknya untuk makan siang, "Sarif makan yuk."
Sarif mengangguk, tapi enatah kenapa langkahnya terhenti pandangannya teralihkan pada 3 siswi yang ada di ujung sana.
"Kau pergilah dulu nanti aku susul," ucap Sarif menyuruh Kamarudin dulu.
__ADS_1
"Oh, yalah. Aku dulu ya." Kamarudin pergi meninggalkan Sarif.
Sarif mendekati siswi itu, niatnya untuk menegur siswi itu agar tidak bicara kuat-kuat saat orang lagi sholat, namun nyatanya ia dapat hadiah dari salah satu siswi itu.
"Iya tak iya juga." Nana mengangguk, perkataan Salasiah ada benarnya juga.
Nana sudah selesai dengan sepatunya hanya tinggal Salasiah saja lagi.
Tiba-tiba di belakang mereka.
"Assalamu'alaikum," suara Sarif mengkagetkan 3 orang siswi ini. Mereka seperti tersengat listrik mendengar suara Ustadz Sarif. Terpatah-patah mereka mebalik kan badan melihat ke belakang melihat Ustadz Sarif yang tiba-tiba muncul di belakang mereka. Nana tersenyum lebar, Hana malah tersipu malu.
"Neng, kalau orang lagi sholat jangan bicara keras-keras," ucap Sarif menasehati dengan suara yang lembut.
Salasiah yang duduk menatap Sarif dari bawah, berdiri mata berbinar-binar menatap Sarif, yang di tatap merasa tak nyaman dengan tatapan Salasiah.
"Aak, tampan," ucap Salasiah.
__ADS_1
Sarif menyengir, sepertinya ia tak salah dengar, kata-kata Salasiah justru terdengar jelas di kupingnya. Temannya saja terkejut tak menyangka kalau temannya itu, mengucapka itu. Cepat Sarif berbalik badan mengucap, mengusap dadanya. Bergegas menjauh dari mereka terutama Salasiah.