Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Afriadi Sakit 4


__ADS_3

Waktu subuh menjelang, sekitar 15 menit lagi akan azan subuh.


Afriadi terbangun, melihat Latika yang masih tertidur.


"Em..."


Lampu kamar yang hanya menyala sebahagian melihatkan Afriadi sesuatu, baju Latika terangkat cukup tinggi sehingga ke lihatan kulit mulus Latika.


Cepat ia membetulkan baju Latika, menarik selimut.


"Em..." Latika membuka matanya.


"Hangat." Ia merasakan hangat, merapat.


"Huuuus..." Afriadi menepuk-nepuk pelan panggul Latika.


Sekejap Latika tertidur lagi


Afriadi tersenyum mengelus kepala Latika, sesekali mencubit pipinya penasaran dengan perkataan Viana.


"Kenyal."


Tiba-tiba...


Baaa...


Latika melek.


Afriadi terkejut menjauhkan tangannya dari pipi Latika. Mata mereka sling bertemu.


Dug...


Mulai sudah jantung Latika berdegup kencang, agak kaget kenapa ia bisa sampai di sini?


"Selamat pagi, dek." Afriadi menyapanya.


Batin Afriadi menjerit, "Gawat."


Tangan Latika menyentuh kening Afriadi, "Sudah turun. Lain kali jangan hujan-hujanan lagi, nanti sakit lagi. Jangan buat khawatir orang lagi."


Latika mencuil hidung Afriadi.


"Eg..." Wajah Afriadi merah bersemu, Latika tersenyum.


Azan berkomandan di masjid.


***


Jam 13:00 Siang.


Kamar Afriadi.


"Dimakan jangan di lihati saja," kata Latika merapikan Kamar Afriadi, itu kamar sudah rapi Latika hanya mencari kesibukan.


"Em..." Afriadi mengaduk aduk buburnya, memainkannya. Mata Afriadi melihat Latika keluar, menghela nafas cemberut.


Latika pergi ke dapur, mengupas buah-buahan lalu potong kecil - kecil.


Setelah itu di bawanya potongan buah-buahan tersebut ke Kamar Afriadi.


"Kenapa tidak di makan?," tanya Latika duduk di sebelah Afriadi melihat dia tak makan buburnya hanya di main-mainkan, "Tidak enak?"


"Mau di suap," guma Afriadi mau manja, suaranya mengecil mengembungkan pipinya, "Suapkan."


Latika baru ingat dengan perkataan Qilan. 'Jangan bingung dengan sikapnya yang sedikit bawal saat sakit ini.'


Latika terdiam sebentar. Batinnya berkata, "Oh... Mau di manja."


Afriadi mau menyuap sendiri bubur ke dalam mulutnya, lapar. Sangka Afriadi Latika tak mau menyuapinya, percuma juga pasang muka imut.


"Ha." Afriadi kaget Latika mengambil mangkok bubur itu darinya.


"Aaa..." Latika memberikan suapan pada Latika, tapi Afriadi engan membuka mulutnya, "Ayo di makan. Aaa..."


Afriadi tersenyum menerima suapan Latika. Setelah selesai makan bubur dilanjutkan dengan makan buah.


Enatah kenapa di tengah makan buah tiba-tiba Afriadi.


"Hwek..." Afriadi merasa mual kepalanya pusing, "Dek."


"Ada apa?" Latika meletak mangkok buah ke atas meja, wajahnya panik.


"Pusing." Afriadi memegang keningnya.


"Ah, minum obat dulu setelah itu baru istirahat." Latika memberi Afriadi obat.


Setelah Afriadi meminum obat ia istirahat


Berjam-jam Afriadi tertidur.


Terdengar suara ribut di sekitarnya, ia tak menghiraukan memejamkan matanya.


Tiba-tiba ada tangan yang menyentuh keningnnya. Membuat Afriadi terbangun.


"Em." Afriadi membuka matanya. Ia tak begitu jelas melihat siapa di sampingnya matanya masih rabun tak begitu jelas melihat.


"Adek." Afriadi mencubit pipi orang itu yang di sangka Latika.


"Hem, Pak."


"Kok, suatanya Adek berubah jadi laki."


Entah kenapa sepertinya Afriadi tidak asing dengan suara orang itu.


Afriadi mengucak matanya.


"Astaghfirullah." Afriadi kaget melihat siapa orang yang ia cubit pipinya.


"Pak 👐" Orang itu melambaikan tangan tersenyum.


Afriadi melihat sekitarnya sebahagian Guru datang menjenguk Afriadi sekitar 10 orang.


Wajah Afriadi pias bercampur malu mencubit pipi orang sembarangan, Pria lagi. Bukan itu saja Afriadi khawatir dengan Latika, para Guru ada di sini. Pikiran Afriadi melayang membayangkan Latika ketahuan sama mereka semua, lalu di serang dengan banyak pertanyaan dan Latika tak sanggup menjawab lalu lari.


"Maaf Pak, membangunkan," kata Sarif orang yang kena cubit pipinya.


Afriadi tak mendengar kata Sarif.


Lamunannya terputus setelah Sarif membenarkan posisi bantal dan selimut Afriadi.


"Sepertinya kita datang di waktu yang kurang tepat, pangeran masih ingin dimaja."


Afriadi mearahkan pandangannya pada Pria yang berkata, Raya. Dia duduk di sofa sebelah Laila anaknya bersama guru lainnya.


Kamarudin menahan tawa geli melihat Afriadi barusan mencubit pipi Sarif,


"Ustadz Sarif di sebut Adek."


Kamarudin dapat pelototan sempurna dari Afriadi.


"Egh, becanda Pak."


Tidak lama Viana datang membawa jamuan di bantu dengan seorang ukhty.


Afriadi melihat Ukhty itu lewat, batinya sibuk bertanya siapa dia?


Para Guru sibuk berbisik satu sama lain, melihat dua orang wanita itu yang mereka sangka tunangan Afriadi.


"Siapa wanita itu?"


"Ternyata benar Bapak akan menikah."


"Buktinya tuanangannya ada di sini merawatnya."


"Wah, sekali 2 dapat calon istri yang satu seperti artis, yang satu lagu yang di idam-idamkan."


"Silahkan di cicipi." Viana mempersilahkan mencicipi hidangan.


"Bagaimana kabar Bapak? Apa sudah baikan?," tanya Sarif.

__ADS_1


"Alhamdulillah, mendingan." Afriadi menjawab.


"Alhamdulillah.


Em, Pak Guru yang lainnya tidak bisa datang menjenguk jadi kami wakilkan saja. Mereka titip salam."


"Wa'alaikumssalam. Tidak apa." Afriadi melihat Raya mendekatinya, duduk di tempat tidur.


"Sehat Afriadi?," tanya Raya.


"Alhamdulillah. Mendingan."


"Banyak-banyak istirahat. Jangan sakit-sakit terus, kau mau nikah masa iya sakit. Dapat sekali 2 lagi. Kasihan kan mereka sedih."


"Aaa... Bukan 2-"


Perkataan Afriadi di potong Raya, "Ya, selamat ya. Undang nanti, jangan lupa."


"Bapak sakit tidak beri kabar lagi. Kemanalah Bapak selama beberapa hari ini. Kami cari Bapak, nomor tidak aktif, fb tidak aktif juga, ig tambah lagi. Untung saja ada anak murid yang beri tahu. Jika tidak, kami semua tidak tahu," kata Kamarudi


"Iya. Bapak Sakit tidak beri tahu lagu," sahut Guru lainnya.


"Siapa?," tanya Afriadi mengenai anak murid yang memberi tahukan soal dia sakit.


"Itu anak yang sering saya bawa ke kantor Bapak. Enatah dari mana dia tahu," jawab Kamarudin.


"Latika." Afriadi cepat menangkap tebakan Kamarudin.


"Haa... itu," sahut Kamarudin menunjuk Afriadi, "Sudah beberapa hari ini ia tidak masuk sekolah. Jadi saya telpon saja..."


Beberapa jam yang lalu.


Dreeett...


Ponsel Latika berbunyi di atas meja belajar.


Latika kebetulah habis mandi cepat mengangkat telpon.


"Hello."


"Latika," mengelegar suara orang dalam ponselnya serasa gendang telinga Latika mau pecah.


"Eh, Bapak." Latika kaget dengar suara Kamarudin wali kelasnya, panik Latika jadinya.


"Kemana saja kau tidak masuk sekolah?," tanya Kamarudin tegas.


"Ah... Itu-"


Kalimat Latika di potong Kamarudin, "Latika Latika Kau sudah kelas 12 sebentar lagi ujian. Kau malah libur tamapa alasan. Besok pokoknya kau harus sekolah. Jika tidak rapor di tahan. Sudah banyak guru-guru yang melapor tentang kau ke padaku. Aku bingung juga lihat kau ini. Sudah berkali-kali dinasehati tapi tetap saja... Haduh... Kau tidak hadir. Kepala sekolah juga tidak ada. Haduh... Bingung aku."


"Pak Kepsek sekit, ups." Latika cepat menutup mulutnya, Latika keceplosan ia panik dapat telpon dari Kamarudin.


Cepat Latika mengakhiri panggilan sebelum Kamarudin bertanya.


"Apa-"


Tuuuttt...


Panggilan terputus.


"Hem, aku kira dia bohong. Ternyata tidak," ucap Kamarudin.


"Syukurlah. Dari dia kami bisa mengetahui Bapak sakit," sahut Guru lainnya.


"Beberapa hari ini polisi datang ke Sekolah." Afriadi kaget dapat kabar dari Raya Polisi datang ke Sekolah. Kenapa Polisi datang ke Sekolah? Ada apa ini?


"Papa jangan bahas sekarang, Pak Afriadi lagi sakit," kata Laila melarang Papanya membahas itu.


Kecewa Afriadi padahal ia sudah antusias ingin tahu malah dilarang.


"Oh, iya. Nanti saja saya ceritakan kepada anda. Sekarang istirahat yang banyak," kata Raya.


Afriadi jadi penasaran, apa kedatangan Polisi ada kaitannya dengan dia.


Afriadi meingat Info yang di beri Hasan semalam.


Semalam saat Hasan di tinggal berdua dengan Afriadi, dia membicarakan hal penting.


"Kau akan di undurkan dari jabatan. " Afriadi menyela, "Kenapa kau lakukan ini?"


Hasan terdiam, menghela nafas, "Yah, aku gak peduli masalah itu. Kau tahu kan aku ini oranya seperti apa? Aku tak bisa membiarkan orang lemah selalu di tindas. Apa lagi ini menyangkut keluarga, persahabatan. Aku tak bisa membiarkan kejahatan di lepaskan begitu saja, salah satunya Latika jadi korban dia hampir di lecehkan lihat Suaminya tidak turun tangan."


Afriadi menatap tajam Hasan, kasus penculikan Latika sudah lama tidak ada perkembangan dan Afriadi sudah melupan hal itu.


"Seharusnya kau tak melupakan kejadian itu Af!" Hasan membentak Afriadi.


"Aku tak ingin meningatnya San. Itu semua membuat hatiku sakit. Aku hanya fokus pada dia, dia yang menjauh."


Afriadi terlihat sedih.


"Aku tahu apa yang kau rasakan makanya aku membantumu, ini." Hasan memberikan sesuatu pada Afriadi, "Di dalam sana ada info yang aku cari mengenai kasus penculikan Latika. Dua orang yang kau hajar habis-habisan sudahku intro, cctv di jalan, dan orang-orang yang terlibat. Dan kau tahu siapa di balik ini semua? Tetangga baru itu."


Afriadi melotot dengar kalimat terakhir Hasan, 'Tetangga baru' kemarin dia meriksa cctv di Sekolah merasa curiga Latika sering menyendiri, dia mengaitkan kejadian dan perkataan Hana waktu di Gerbang kalau dia tidak dekat Latika. Afriadi curiga Latika di buly jadinya dia meriksa cctv Sekolah, hasilnya mengejutkan.


"Huh, aku hanya bisa mengorek sampai situ saja. Mereka menutupi dengan sangat bagus. Bahkan ada suruhan mereka sampai rela mati dari pada memberi Info. Jelas mereka punya maksud lain. Butuh waktu lama untuk membuka kedok mereka... Yang jelas sekarang kau harus hati-hati..."


"Jangan di pikirkan, lebih baik istirahat saja." Sarif menepuk pelan bahu Afriadi memutus lamunannya.


"Tau nih Pak Kepsek, diam melulu," sahut guru lainnya.


Afriadi merespon dengan senyuman pales.


"Hahaha..." Mereka semua tertawa lihat Afriadi tersenyum, momen langka bagi mereka.


Tidak lama kemudian mereka pamit pulang.


Di ruangan itu hanya tinggal mereka bertiga Afriadi, Viana, dan Ukhty.


Afriadi mefokuskan pandangannya pada Ukhty, sepertinya tak asing.


"Aman." Viana mengajukan jempol pada Ukhty.


Ukhty itu membuka cadarnya, menghembuskan nafas lega, "Huh."


Mata Afriadi melotot sempurna, tak menyangka kalau Ukhty itu.


"Huh, untung saja. Kalian tidak ketahuan kalau tidak. Haduh, tak tahulah lagi."


"Alhamdulillah." Latika memgelus dadanya.


Afriadi diam saja tak tahu apa yang terjadi.


Beberapa jam yang lalu setelah Pak Kamarudin menelpon, Viana yang kebetulan ada di sana, melihat Latika panik.


"Ada apa Latika?"


"Gawat kak."


"Gawat kenapa?"


"Itu para guru sudah tahu kalau Abang sakit."


"Ya bagus. Jadi apa masalahnya?"


"Masalahnya saya takut mereka datang," kata Latika cemas.


"Ya bagus. Jadi?"


"Masalahnya kak. Mereka tidak tahu saya istrinya Abang. Jika mereka tahu. Agh, susah untuk dijelaskan."


"Tunggu-tunggu dulu. Kau dan dia merahasiakan pernikahan kalian."


"Iya." Latika meangguk.


"Karena kau murid di sana?"


"Iya."


"Kenapa kalian main rahasia-rasaia? Ya bongkar saja. Biar tidak ada kesalah pahaman lagi di mata mereka."

__ADS_1


"Bukan begitu kak."


"Lalu apa?"


"Kakak tahu, kenapa saya dan Abang bisa menikah? Kami bukan dinikahkan karena perjodohan orang tua. Tapi, karena kecelakaan."


"Apa?" Tanda tanya memenuhi pikiran Viana, "Tunggu dulu. Kecelakaan. Bukanya kalian nikah karena perjodohan atas kekuarga kalian."


"Bukan."


"Kenapa kecelakaan? Ceritakan."


"Em.." Latika ragu mau menceritakan semua.


"Jangan takut Latika ceritakan saja. Percaya dengan kakak. InsaAllah kakak bisa jaga mulut."


Latika menceritakan semuanya mengenai terikatnya mereka,


Viana mendengarkan dengan baik. Sampai akhirnya Viana tahu alasan Latika dan Afriadi menyembunyikan setatus mereka.


"Jadi selama ini aku salah paham. Hiiiss.. QILAAAN.. CARI MATI ITU ANAK. BERI INFORMASI YANG TIDAK BENAR. Tapi, ada benarnya juga ia beri informasi seperti itu, jadi kejadian itu tidak tersebar luas," guma Viana, "Jadi sekarang bagaimana?"


"Em, aku pergi saja."


"Et... Tunggu. Jangan pergi." Viana menahan Latika, "Kakak ada ide. Sini mendekat."


"Em..


"Kau pakai cadar saja. Ini cadar teman kakak yang mau aku balikan, nanti Kakak beritahu ia." Viana memakaikan cadarpada Latika, "Nah, begini mereka tidak akan mengenalimu."


Tidak lama para Guru datang.


Latika gugup menyambut mereka, takut ketahuan.


Para Guru agak kaget dengan kemunculan Latika di balik pintu, saling tatap satu sama lain sampai mereka sangka tunangan Afriadi. Apa lagi Kamarudin menatap Latika seakan kenal, yang di tatap memalingkan wajahnya.


Kamarudin terus meamati Latika, peluh sebesar jagung timbul.


"Ah, Istrinya Afriadi ya?," tunjuk Kamarudin. Guru lainnya tercengang.


Latika kaget Kamarudin tidak mengenalinya, ia meangguk saja, "Iya."


"Em.." Kamarudin meangguk mengusap dagunya merasa orang paling tahu di antara Guru lainnya.


"Huuusss.. Datang-datang tanya itu." Sarif menepuk bahu Kamarudin.


Selang beberapa menit Viana keluar, muncul di belakang Latika, "Kenapa tak di suruh masuk? Ayuk masuk semua," ajak Viana tersenyum manis.


Tercengang para Guru melihat Viana persis Artis, mereka menduga Viana calon Istri Afriadi.


Kamarudin mulai menduga selama ini Afriadi galau bahasa gaulnya gitu gara-gara Istri pertamanya tak mau dipoligami. Kamarudin meangguk, paham.


Mereka semua di persilahkan masuk.


***


"Huh... Untung ada aku. Menyelamatkan kalian. Ha ha ha.." Viana mengacak pinggang tertawa sombong, itu hidung memanjang persis hidung petruk.


"Terimakasih kak," ucap Latika.


"Sama-sama."


Latika pergi keluar membawa gelas kotor dan piring, cemilan. Ia meninggalkan Viana dan Afriadi yang tengah berbincang.


"Afriadi aku mau pergi beberapa hari. Jaga dia baik-baik ya," raut wajah Viana berubah sedih.


"Kau mau kemana?," tanya Afriadi


"Biasa urus semua persiapan pernikahan."


"Oh, tidak lama lagi ya."


"Hah.. Iya hanya tinggal beberapa minggu saja lagi. Cepat sembuh ya. Nanti datang ke pernikahanku. Bawa Latika sekali."


"InsaAllah. Titip salam buat dia."


"Oke. By, aku pulang dulu."


Afriadi meangguk melihat Viana pergi meninggalkan Kamarnya.


***


Sore hari waktu yang tepat untuk bersantai menghabiskan waktu bersama keluarga. Di saat sumua orang sibuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan sejuta kesibukan lainnya. Sebaliknya Afriadi kena omel Latika.


"... Kenapa mandi? Orang jangan dulu, itu panas belum turun nanti naik lagi. Abang mau sakit terus? Lambat sembuhnya, mau?..." Latika mengomeli Afriadi serentak dengan tangannya mencari baju di Lemari. Latika mirip emak emak marahi anaknya.


Afriadi duduk di tempat duduk bundar menciut, mengenbungkan pipinya, nunjukin wajah imut ketika Latika menatapnya biar dia tak marah lagi.


"Abang tak bisa di beritahu?..."


Percuma Afriadi masang wajah imut, tak mempan juga Latika tambah jadi.


Afriadi yang di kenal dingin, jutek, kiler di Sekolah sekarang menciut kena omel sama Istri ^0^


"Maaf, tak enak jika tak mandi berhari-hari," kata Afriadi coba tersenyum manis di hadapan Latika, "Tak apa juga kan. Lihat Abang masih kuat."


– _ – Latika menatap malas Afriadi yang bergaya munjukin itu otot.


"Sudah selesai bertingkah?" Latika melipat tangannya ke dada.


"Heh." Afriadi bingung lihat ekspresi Latika yang biasa saja, dia kira tadi Latika akan bilang 'Wah, Abang keren' atau melongo lihat tubuh ini.


"Nih, pakai baju nanti masuk angin." Latika memberi baju yang ia pilihkan.


"Oke."


Sruuuut...


Afriadi melepas handuk membelit tubuhnya.


"Kyaaa...," jerit Latika menutup matanya wajahnya memerah, berbalik badan, "Jangan di sini juga."


Jantung Latika berdebar keluar jalur.


"Lah, kenapa? Di sini emang untuk ganti baju." Afriadi mengenakan pakaian.


Latika terdiam, melangkah keluar menutup pintu.


Afriadi tersenyum, mengenakan celananya.


Menit berlalu.


Afriadi ingin keluar membuka pintu ruang ganti, kerika pintu terbuka.


Baaa...


"Astaghfirullah." Afriadi mengusap dadanya, terkejut lihat Latika berdiri di depan pintu dengan wajah kusut, " Haduh, kenapa Adek berdiri di sini? Buat kaget saja."


"Abang," ucap Latika datar, "Abang selama ini sakit apa?"


"Ha." Afriadi meangkat alisnya, "Apa maksud Adek? Abang tak paham?"


Latika menghela nafas menujukkan obat xxx, raut wajah Afriadi berubah.


"Di mana Adek jumpa?" Afriadi ingin meambil itu dari Latika. Tapi Latika tak memberikannya, menyembunyikan di belakangnnya.


"Abang sakit apa selama ini?," tanya Latika sekali lagi matnya berkaca-kaca.


"Bukan apa-apa, itu hanya obat biasa."


"Apanya yang bukan apa-apa, jelas jelas ini... Hiks..." Latika menangis, ia menghapus air matanya, "Abang tak mau jujur dengan Adek.


Afriadi menghapus air mata Latika, "Abang sulit tidur saja, setiap malam terus terjaga bingung kenapa Adek menjauh dan tak mau jujur juga," katanya tangan besar itu menempel di pipi Latika, meangkat wajah itu sejajar dengan pandangannya, "Adek tak beri tahu Abang kalau Adek di buly di Sekolah."


Latika terdiam, ia bingung dari mana Afriadi tahu.


"Dan..."


Kalinat Afriadi di potong Samsul yang memanggil Latika, "Non Non paket datang."

__ADS_1


Latika melepas tangan Afriadi dari pipinya, ia pergi meninggalkan Afriadi. Jika ia masih di sana ia tak tahu harus jawab apa pertanyaan Afriadi, sedangkan saat ini dia masih harus menyembunyikan itu semua dari Afriadi.


__ADS_2