Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Kebenaran Terungkap.


__ADS_3

Pagi itu Afriadi marah dengan Latika, dan siangnya ponsel Latika ia sita.


Latika di Ruang Keluarga santai menonton Tv. Tiba-tiba Afriadi datang menyambar Ponsel Latika di atas meja, sontak Latika kaget berdiri dari duduknya.


"Untuk sementara ponsel Adek Abang sita." Afriadi pergi tidak berkata lagi. Itu wajah masih hancur belum di baiki.


Latika tidak bisa apa-apa. Ia tak bisa mencegah Afriadi, hanya bisa tabah merelakan Ponselnya diambil.


***


Jam 15:35 sore.


Di luar pagar Latika menunggu mas Ojol.


Dari atas loteng Afriadi melihat Latika, masih dengan wajah hancur.


"Non, lebih baik sekarang Non masuk saja, biar saya saja yang menunggu Mas ojolnya," kata Samsul. Ia tahu Latika dan Afriadi bertengkar lagi, tadi tak sengaja Samsul melihat pertengkaran mereka berdua ketika ia ingin ke dapur membuat kopi dia mendengar pertengkaran dan melihat pertengkran.


Dan sekarang ia khawatir jika Latika berdiri di luar Afriadi akan semakin marah.


"Gak apa-apa Mas, saya saja."


"Haduh... Non sekarang masuk saja, nanti Tuan cari Non."


"Eh, tidak apa-apa. Saya saja yang tunggu."


"Tidak Non saya saja, kan hanya tinggal kasih. Tidak sulit juga. Sekarang Non istirahat saja di dalam, Non pasti lelah mengurus Tuan beberapa hari ini," usul Samsul mengambil paket itu dari tangan Latika.


"Terimakasih ya Mas. Oh, ya Mas.


Bilang dengan Mas ojolnya hati-hati nanti kuenya rusak," kata Latika sebelum masuk meninggalkan Samsul.


"Aman itu." Samsul mengacukan jempol.


Latika masuk ke rumah, sekarang ia tidak ada kerja, ponsel di sita mau nonton tak selera, main leptop tak selera juga, mau tidak mau ia masuk ke kamar tidur siang ia berharap setelah bangun nanti masalahnya terselesaikan atau Afriadi tidak marah lagi dan mau mendengarkan penjelasan Latika.


***


Jam 10:15 malam.


Kina endap-endap masuk ke Rumah, lampu Ruang tamu yang mati membuatnya luasa untuk masuk tanpa ke tahuan.


Baru beberapa langkah ia memasuki Ruang Tamu, lampu nyala seketika.


Kina di kejutkan dengan nyalanya lampu dan suara Papanya yang duduk di sofa tak jauh darinya.


"Kina kamu dari mana sayang?" tanya Papanya dengan nada sedikit tegas.


"Kina habis dari Rumah teman, Pa." Kina membalas, ia seperti mabuk.


"Sudah jam berapa ini?" tanya Papanya bangun dari duduknya mengetuk jam di pergelangan tangannya, "Kenapa kamu pulang ke malaman terus? Apa yang kamu lakukan di Rumah temanmu?"


Papanya mendekati anaknya itu, Kina melangkah mundur takut bau alkohol tercium sama Papanya, namun tetap saja Papanya mencium bau Alkohol.


Kina melambaikan tangannya, meanggap sepele pertanyaan Papanya, "Tidak ada apa-apa, Pa. Kina... Sudahlah Pa jangan mulai pertengkaran lagi, Kina mengantuk, Kina mau tidur."


Beberapa hari terakhir Papanya sering memarahi Kina, dia tegas dan menegur setiap melihat anaknya berpakaian terbuka dan sering pulang larut malam.


Sampai jalan tikus yang sering di gunakan Kina untuk keluar masuk Rumah kini sudah di tutup Papanya jadinya tadi Kina masuk lewat pintu depan.


"Kina dengarkan Papa!"


"Bla... Bla... Bla..."


Kina pergi meninggalkan Papanya, jalannya sempoyongan, menaiki anak tangga.


"Astaghfirullah, Kina." Papa Kina mengelus dada melihat kelakuan anaknya.


***


Ke esokan paginya.


Latika berangkat sekolah, ia tidak sempat sarapan, takutnya ia terlambat lagi, untung di antar Samsul.


Hari ini hari senin, upacara bendera.


Selama upacara wajah Latika pucat.


Teman-temannya sudah ingin membawanya ke uks, tapi Latika keras kepala tidak mau.


Kakinya sudah lemas tidak kuat lagi untuk berdiri, untunglah upacara senin ini cepat, sehingga Latika bisa duduk di kelas.


Wajahnya pucat terbaring di meja.


"Latika kau tidak apa-apakah?" tanya Hana datang menghampiri di ikuti dua temannya.


"Hem, aku oke." Latika menjawab lemah.


"Wajah kau pucatlah Latika." Nana menyentuh wajah Latika, panas dirasanya.


"Ha'aaah, wajah kau pucat ke UKS saja yuk istirahat di sana." Salasiah membujuk Latika untuk ke UKS.


"Tidaklah," kata Latika lemah, "Aku di sini saja. Sebentar lagi masuk."


"Hah, tidak apalah. Yuk, kita pergi ke UKS," ajak Hana.


"Yuklah... Latika. Kau pucat itu," ucap Salasiah.


"Haaaa... Panas lagi itu," ucap Nana.


Tiga teman Latika berkumpul, Latika merasa dekat lagi dengan mereka bertiga. Ada apa ya? Tumben mereka dekat? Apa sudah bebas dari Kina?


"Tidaklah." Latika tak mau pergi walau du paksa mereka, bisa gawat jika Afriadi sampai tahu bisa-bisa dia menunggu Latika.


Teng... Tong...


Bel masuk berbunyi.


Pelajaran demi pelajaran di lewati Latika, hatinya terasa pedih Maagnya kambuh.


Jam istirahat Latika ke kantin ingin beli makanan tapi uangnya tertinggal.

__ADS_1


Mau utang takut Afriadi marah lagi kalau ketahuan. Ya, walau Latika selama ini sering utang di sana.


Latika terpaksa kembali ke Kelas ia membuka tasnya berharap ada keajaiban, ternyata benar ada keajaiban ada sebungkus roti sisa jajan kemarin. Rasanya dia orang beruntung sedunia, ia meloncat-loncat kegirangan, untung kelas sepi kalau ada orang bisa di sangka Latika gila ^∆^


Perlahan-lahan ia membuka bungkusan roti.


"Hiks..." Latika menangis ketika roti ia gigit, sedih rasanya tak bisa makan kayak rakyat kecil yang belum tentu bisa makan setiap hari atau makan enak. Ia terbayang waktu dia masih anak kost dulu susah mau makan dan sekarang ia bisa makan apa saja, karena Afriadi menafkahinya.


Sepanjang makan ia menangis, ia bersukur kalau ia bisa makan. Tanpa sadar di pintu Kelas ada yang memperhatikannya.


"Kenapa menagis?" suara itu mengejutkan Latika sampai melotot berhenti mengunyah, kaget dengan suara itu. Cepat Latika menyeka air matanya.


"Kenapa sih kamu sering menagis? Jangan sering menagis. Aku tidak suka melihatmu menagis." Dia mendekati Latika, duduk di kursi depan Latika, "Jadi wanita itu jangan lemah. Kau harus kuat Latika. Kau harus kuat. Walau aku tidak tahu masalahmu apa? Tapi, kau harus kuat."


Latika tersenyum, menawarkan roti, "Kau mau Hadi."


"Tidak," kata Hadi.


"Oh, iya bagaimana dengan kue semalam?" tanya Latika.


"Hem, enak. Mas Ari bilang terimakasih merepotkan Latika saja padahal dia hanya bercana tapi di beri. Tapi, Dia suka kok sampai bilang enak kasih jempol 2 untukmu, kalau ia ada jempol lagi maka akan ia beri lagi. Tapi, sayangnya jempolnya hanya 2 jika 3 aku yang lari dulu, entah jempol siapa satunya."


"Hahaha... Uhuk..." Latika tertawa sampai terbatuk-batuk.


"Pelan-pelan. Ini air minum." Hadi memberikan air minumnya pada Latika.


Latika mengambil air minum dari tangan Hadi, meminumnya rakus.


"Pelan-pelan," kata Hadi.


"Hah, Hadi kakak yang terbaik." Latika tersenyum lebar.


"Egh, biasa saja." Wajah Hadi bersemu merah.


"Kau kemana saja beberapa hari ini?" sambungnya.


"Aku di Rumah."


"Kenapa tidak sekolah?"


"Aku merawat seseorang."


"Ha... Siapa yang sakit?"


"Em, A-"


Hadi memotong kalimat Latika, "Bu Kost. Wanita tua itu sakit, bisa juga sakit.


Aku kira tidak bisa. Wajar juga sakit-sakitan ia sudah tua."


"Huuusss... Jangan bilang begitu.


Tidak baik ejek orang."


"Haha... Maaf." Hadi menyengir.


"Tapi, bu-"


Kalimat Latika di potong Sahril yang tiba-tiba datang, "Hoy! Hadi. Lagi apa itu?"


"Eh, Latika. Sekolah rupanya.


Aku kira sudah tamat. Kemana saja kau tidak masuk sekolah?"


Latika mau menjawab, keburu Hadi yang menjawab, "Itu Latika mengurus Bu Kost."


"Kenapa dengan Bu Kost?" tanya Sahril antusias, duduk di kursi sebelah Hadi.


Latika mau menjawab tapi keburu Hadi yang menjawab, "Sakit."


"Oh... Inalillahi wainalillahi roji'un."


"Kantin yuk," ajak Sahril.


"Sebentar lagi masuk, Nyong." Hadi membalas.


"Oh... Iyakah, Nyong?" Sahril ikut-ikutan panggil Hadi Nyong.


"Ha'aaah... Nyong."


Latika hanya bisa menahan tawa melihat tingkah temannya itu.


Teng... Tong...


Bel berbunyi.


"Ha... Nyong, sudah masuk. Pergi sana kau, Nyong." Hadi mengusir Sahril dengan menendang kakinya.


"Jangan kasar Nyong." Sahril meranjak dari tempat duduknya, membalas mendendang kaki Hadi sebelum pergi.


Hadi menghentakkan kakinya. Sahril berlari sampai terjatuh.


"Ahahaha..." Pecah tawa mereka berdua dan Siswa yang masuk ke Kelas.


Malunya.


Gembira di rasa Latika, sedangkan pahit di rasa Kina.


Batin Kina mesumpahi Latika, kesal dia sama Latika gara-gara Afriadi memanggilnya ke Kantornya, kiranya Afriadi kangen sama dia namun nyatanya Kina malah kena tegur habis-habisan sama Afriadi sampai di skor, di suruh panggil orang tua ke Sekolah, dan membuat surat perjanjian di tanda tangani orang tua. Toh dia ketahuan mebully Latika. Afriadi tak diam memberi sangsi yang tegas.


Bagimana Kina tak kesal coba. Ditambah lagi dengan pemberontakan teman Latika yang tak mau mengikuti dia lagi sampai ancaman pun tak di dengarkan mereka malah mereka bertiga menantang Kina suruh sebarkan saja mereka tak peduli, mereka bertiga sudah muak dengan Kina.


Doubel kesialan yang Kina dapat. Satu kena tegur sama Afriadi, kedua di jauhi dengan teman hasil rebutanya.


Sial Kina hari ini, entahlah pulang Sekolah ini bisa-bisa ada kejutan lagi.


***


Pulang sekolah Latika berjalan, sambil menunggu Samsul menjemputnya.


Pandangannya berputar.

__ADS_1


Di lihatnya di ujung jalan Samsul melaju menghampiri dirinya.


Samsul yang merasa aneh dengan Latika melaju, tidak jauh Latika sudah tumbang.


Sontak Samsul meneriaki Latika, "Non!"


Cepat Samaul turun dari motornya, mendekati kerumunan masa, "Permisi permisi permisi." Samsul menerobos benteng masyarakat yang mengerumuni Latika.


"Aduh, bagaimana ini? Non bangun Non." Samsul menepuk pelan Pipi Latika.


Salah seorang menghentikan mobil yang lewat, tapi tak ada yang berhenti


untung saja ada Taksi yanh berhenti.


Cepat mereka memasukkan Latika ke dalam Mobil Taksi. Untung saja berkat kebaikan masyarakat yang peduli Latika bisa di antar pulang. Kalau tidak kulang kabut Samsul sendirian.


Tak lama Afriadi sampai di Rumah, Mobil Taksi juga sampai dengan Samsul.


"TUAN!!!" teriak Samsul.


Afriadi menoleh, melihat Samsul dengan wajah paniknya dan Mobil Taksi di belakangnya.


"Siapa?" Afriadi mendekat.


Samsul panik membuka pintu mobil.


Afriadi terkejut melihat Latika terbaring di dalam Mobil tidak sadarkan diri.


"Tuan to-" Samsul melongo.


Tanpa di perintah, Afriadi cepat mengangkat Latika mengendongnya membanya ke Kamar di ikuti Samsul di belakangnya. Sekarang Afriadi yang panik.


"Cepat telpon Dokter!"


"Ah... Nomor... Nomor... Nomor..."


Samsul panik mengeluarkan Ponselnya sampai mau lompat itu Ponsel dari tangannya, "Saya tidak punya nomornya."


"Ah," Afriadi mengeluarkan ponselnya, ia memanggil Dokter kepercayaannya.


Heboh sekali padahal Latika hanya pingsan saja, heboh satu RT.


"Halo..." Wajah Afriadi cemas bercampur panik terlihat begitu jelas. Samsul saja sampai dapat melihat betapa besarnya kasih sayang Afriadi pada Latika.


Tut...


Panggil di akhiri Afriadi. Ia mendekati Latika yang terbaring di tempat tidur.


Ia duduk di bibir tempat tidur mengenggam erat tangan Latika. Samsul keluar tak mau mengganggu.


"Kenapa, Dek? Kenapa Adek membuat Abang cemas terus?"


Tidak lama Dokter datang dengan kecepatan kilat gara-gara di desak Afriadi lewat telpon tadi.


Dokter memerikasa Latika.


Afriadi tetap di samping Latika menemaninya.


Kata dokter Latika anemia, kekurangan darah. Dokter memberikan catatan obat kepada Afriadi.


Afriadi menyuruh Samsul pergi membelikan obat sekalian mengentarkan dokter itu sampai di depan pintu Rumahnya


Tidak lama Samsul kembali.


"Tuan, coba Tuan lihat di depan."


Afriadi mengerutkan dahinya.


Ada apa di depan? Terdengar keributan. Ia melihat dari belakon Kamar Latika, ada Mobil polisi di depan Rumahnya.


Afriadi terkejut, cepat keluar melihat apa yang terjadi. Di sana ia lihat Hasan bersama teman-temannya ada di sana, itu wajah Hasan ceria amat sepertinya ia puas kerja kerasnya tak sia-sia.


Afriadi menghampiri Hasan, dia dapat pelukan dari Afriadi, "Kau sudah tahu kebenarannya sekarang."


Afriadi menggeleng ia tidak tahu batul kebenarannya yang ia tahu hanya Kina di balik itu semua, tapi ia tak tahu apa alasan Latika. Ia hanya menyangka Latika takut dengan Kina.


"Kau tanyakan saja padanya," usul Hasan, ia seperti membaca pikiran Afriadi.


"Aku sudah bertanya, tapi dia malah menjauh sampai berteng... "


Hasan menepuk bahu Afriadi, "Kau tanyakan sama Papanya dan kau akan tahu kebenarannya."


Tapi masalahnya Kina sudah di tangkap lo, siapa yang melaporkan?


"Siapa yang-" tak sempat Afriadi menyelesaikan pertanyaanya, Hasan keburu memotong, "Papanya."


Afriadi melotot mendengar itu, tak sangka tapi dalam benaknya paling dalam ada pertanyaan yang timbul, "Dari mana dia tahu?"


Kina menangis di depan Papanya berlutut memohon, "Pa, lepaskan Kina. Lepaskan Kina. Hiks... Kina mohon."


"Kau harus berubah Kina. Jangan ikuti jejak ibumu." Mata Papa Kina berkaca-kaca, ia menahan air mata itu untuk keluar. Keputusan yang ia ambil tepat.


"Pa..." Kina meguncang kaki Papanya.


Papa Kina membantu anaknya berdiri, "Kina... Kina... Kina dengar Papa, Kina sayang kan dengan Papa?" Tangan yang besar itu mengusap air mata Kina. Tak terasa air mata Papa Kina mengalir membasahi pipinya.


"Hiks... Sayang." Kina menjawab. Bagaimana dia tak sayang sama Papanya selama ini yang ada bersama dirinya, yang selalu megengam erat tangannya, yang ada di sisinya saat ia takut sedih, yang selalu memahagiakannya, dan sekarang dia baru sadar akan semua itu selama ini dia terjerumus dalam dunia malam. Semalam sebab Kina mabuk dia tak dapat akuan lagi dari Mamanya karena gagal dalam tugas dan banyaknya saingan.


"Kina mau melihat Papa sakit terus?"


"Tidak." Kina menggeleng memeluk Papanya.


"Papa sakit melihat Kina begini. Kina jangan begini lagi."


"Maafkan Kina, Pa."


"Kina berubah ya, Nak. Jangan begini lagi."


"Pa..." Kina di tarik dari Papanya, dan Papanya terpaksa melepas anak semata wayangnya di tangkap polisi.


****

__ADS_1


Maaf semua jika bahasanya itu...


Hehe.. Fokus terbagi-bagi, jujur ini bagian yang sulit.


__ADS_2