Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Coretan


__ADS_3

Kamarudin merasa aneh dengan Afriadi, ia merasa Afriadi tidak mendengarkan perkataannya, lagian beberapa bulan ini Afriadi kelihatan aneh.


"Pak... Pak... Pak..." Berkalai-kali Pak Kamarudin memanggil Afriadi.


Tapi, Afriadi termenung memikirkan sesuatu. Ia tidak mendengarkan panggilan itu.


Kamarudin medekat.


"Pak..." Kamarudin menepuk bahu Afriadi.


Lamunan Afriadi terputus, menatap Kamarudin di sebelahnya.


"Bapak memikirkan apa?"


Afriadi menggeleng.


Kamarudin menjauhkan tangannya dari bahu Afriadi, "Em... Maaf ya pak.


Saya hanya mau bertanya. Bapak ada masalah, ya?"


"Apa terlihat jelas?" Afriadi melihatkan wajahnya.


Kamarudin meangguk duduk di atas meja Afriadi, melihat monster dingin itu mengusap wajahnya, "Ah... Maaf ya pak.


Saya mau tahu saja Bapak ada masalah apa?. Mana tahu saya bisa membantu Bapak."


Afriadi melirik Kamarudin, yang di lirik menelan ludah, khawatir kalau Afriadi akan meledak.


"Ahaha... Maaf ya Pak. Tidak usah dijawab. Saya terlalu-"


"Tidak apa-apa."


Batin Kamarudin mengebu-gebu menyuruhnya cepat pergi dari sana sebelum sesuatu yang buruk terjadi padanya.


"Ah... Saya pergi dahulu."


Pak Kamarudin bergegas pergi.


Baru beberapa langkah Afriadi mencegahnya.


"Tunggu." Nada suaranya kecil menghentikan langkah Kamarudin.


"Aku ingin tanya." Afriadi meangkat kepalanya, "Kenapa seseorang bisa menjauhi dirimu?"


Sontak Kamarudin langsung berbalik melihat Afriadi dengan tatapan bengong mengedipkan matanya beberapa kali, kepalanya tumbang penuh tanda tanya, jiwanya memburu penasaran.


Dia melamun sebentar, sadar dan langsung menjawab, "Eee... Kalau menurut saya. Mungkin karena diri ini kurang baik. Haha..." Kamarudin tertawa getir.


"Terus."


"Tidak pengertian."


"Terus."


"Kurang peka."


"Terus."


"Pemarahan."


"Em..."


Afriadi melirik, Kamarudin menelan ludah.


"Egh..."


"Terus"


"Ah... Hanya itu."


"Em... Begitu." Afriadi berpikir sejenak.


"Bapak lagi ada masalah dengan wanita, ya?" Kamarudin mendekat.

__ADS_1


Afriadi meangguk.


"Oh... Apa wanita itu menjauh?"


Afriadi meangguk.


"Eemm... Bapak tahu sesuatu." Kamarudin bersandar di meja Afriadi, menundukkan kepalanya, memainkkan jari-jemarinya.


"Tahu apa?"


"Wanita itu paling suka diperhatikan." Kamarudin meangkat kepalanya, "Mungkin Bapak harus memberikan perhatian kepadanya. Jika ia menjauh, dekati saja terus. Komunikasi jangan putus seterah mau bicara apa asal komunikasi jangan putus. Banyak-banyak habiskan waktu berdua, tapi jangan lupa waktu untuk ibadah, hehe..."


Afriadi menoleh melihat Kamarudin.


"Ke-"


Perkataan Afriadi terpotong bunyi bel, menandakan perpindahan jam pelajaran.


"Alhamdulillah, bel sudah bunyi." Kamarudin bersyukur sekali dengar bel berbunyi.


"Em... Pak, bel sudah berbunyi, saya ada jam mengajar, saya permisi ya Pak. Jika ada waktu lagi kita bicara lagi."


Kamarudin tersenyum.


Afriadi terlebih berdiri dari tempat duduknya mengambil buku, berjalan keluar kantor, sesampainya di depan pintu. Afriadi menoleh.


"Katanya ada jam. Apa yang ditunggu lagi?"


Afriadi melanjutkan langkahnya, menghilang di balik pintu, hanya terdengar suara langkah kakinya.


Kamarudin bergegas menyusul Afriadi dari belakang.


***


Afriadi masuk mengajar di Kelas 12 IPA A.


Latika berdiri di depan kelas, tangannya memegang spidol, ia disuruh Afriadi mengerjakan soal. Karena ketahuan tidur di jam belajar.


Latika lambat sekali berpikirnya, kepalanya penuh tanda tanya. Sebenarnya dia tahu cara menyelesaikan soal MTK itu, tapi ia ragu.


Terdengar olehnya suara desakan menyuruhnya cepat dan menyebutinya cari perhatian. Hati Latika jengkel mereka tidak pikir apa susah berdiri di depan sana, di suruh isi soal yang menguras otak.


Afriadi melihat Latika yang berusaha mengerjakan soal. Batinya berkata,


"Diperhatikan, memberikan perhatian kepadanya, komunikasi jangan putus."


Teman sekelasnya di belakang sibuk membicarakannya.


"Hah..."


Afriadi berdiri dari tempat duduknya, berdiri di sebelah Kanan Latika, "Bisa Latika?"


"InsaAllah, bisa Pak."


"Bagian mananya yang kamu kesulitan?"


"Yang ini Pak." Latika menunjuk kebuku catatannya.


Afriadi menunduk melihat buku catatan ditangan kirinya.


"Husss... Latika... Latika..." Hana memanggil pelan, dia duduk di bangku nomor tiga tengah-tengah. Rencananya dia mau menunjukkan caranya.


Di sambung Salasiah dan Nana yang duduk di depan Hana, ikut juga memanggil pelan. Hadi hanya memperhatikan mereka bertiga tidak ikut campur.


Merasa ada yang memanggilnya


Latika menoleh melihat siapa yang memanggilnya. Tampa sadar tangan sebelah Kanannya yang memegang sepidol ikut tergerak, sampai mencoret pipi Afriadi.


Sontak satu kelas terkejut melihat tindakan Latika, mata mereka membulat sempurna sampai Hadi yang tadi cuek ikut melotot.


Latika kebingungga melihat wajah temannya, tanda tanya memenuhi otak Latika.


Hana menunjuk, "Itu..."

__ADS_1


Latika menoleh ke samping melihat Afriadi tambah tampan dengan coretan di pipinya.


"Hah..." Latika kaget dapat tatapan malas dari Afriadi.


Tak...


Spidol ditangan Latika terlepas, terjatuh ke lantai.


Latika cepat mengambil sapu tangan di sakunya, membersihkan coretan sepidol itu.


Bukanya bersih malah tambah hitam wajah Afriadi habis dah itu jadi tanda lahir.


Latika menyengir, satu kelas tertawa melihat wajah Afriadi, Latika mentahan tawa.


Afriadi menatap tajam Latika, tersenyum tipis memegang pipinya yang hitam, bergegas keluar ruangan menarik tangan Latika menyuruhnya ikut dengannya


Kepala mereka panjang melihat Latika dan Afriadi lewat di jendela, mereka semua menduga kalau Latika akan dihukum lagi.


Begitu juga dengan Kelas lainnya dan Kantor Guru yang mereka lewati, semua memanjangkan kepala melihat mereka berdua lewat.


"Bapak mau bawa saya ke mana? Apa saya akan dihukum lagi?"


Langkah Afriadi terhenti, membalikkan badannya melihat Latika, "Tangung jawab." Afriadi menujuk pipinya yang hitam.


Latika menyengir.


Wah ada maksud lain, Afriadi bukan hanya meminta Latika minta bersihkan pipinya tapi ia ingin dekat dengan Latika.


Afriadi membawa Latika ke kantornya.


Latika di suruh duduk di kursi tamu.


Latika duduk, Afriadi menutup pintu kantor biar tidak ada yang lihat, maklumlah ada orang kepo.


"Bapak mau apa?," tanya Latika di hantui rasa takut.


Afriadi duduk di sebelahnya mendekatkan wajahnya, jantung Latika berdetak kencang dak dik duk ser.


"Bersihkan."


Latika meloto, tadi pikirannya sudah lari ke sana ke mari tak menyangka, tangannya meambil beberapa tisu di meja pergi membasahkan tisu dengan air, kembali duduk di sebelah Afriadi perlahan-lahan ia membersihkan bekas coretan, Latika mendekatkan wajahnya Afriadi meliriknya.


Degub... Jantung mereka berdegup kencang. Mata mereka saling pandang seperti ada sengatan listrik kasat mata.


Wajah Latika merah bersemu begitu juga Afriadi pipinya bersemu.


Latika menjauh, "Sedikit hitam. Apa ada sabun pembersih muka?"


"Tidak ada." Afriadi menggeleng, menyentuh bekas coretan spidol.


"Terpaksa. Gunakan cara ini," guma Latika pelan.


Afriadi tidak mengerti, alisnya terangkat sebelah.


Cara apa yang Latika keluarkan?


"Aduh... Jangan keras-keras, sakit."


"Tahan."


Latika mengosok kuat-kuat pipi Afriadi dengan sapu tangan yang ia basahi.


"Pelan-pelan."


"Tidak bisa, ini harus kuat."


Selang beberapa menit, bekas Spidol hilang. Tapi...


Pipi Afriadi merah sebelah.


Satu Kelas melihat pipinya saling bertanya satu sama lain, ia kembali mengajar.


Sedangkan Latika pergi ke Toilet maklum ada keperluan wanita.

__ADS_1


Teman sekelasnya menyangka kalau Latika dihukum lagi.


__ADS_2