Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Kenangan Hadi bersama Kina.


__ADS_3

Suasana cangungg dapat dirasakan mereka berdua, kelihatanya sudah lama sekali mereka tidak dekat.


"Ehem..." Afriadi berdehem pemanasan untuk memulai pembicaraan, "Em... Tempat tujuan tadi, mau ke mana? Biar diantarkan."


"Tidak perlu, aku ingin pulang saja." Latika menjawab pelan, ia memainkan jempolnya khawatir jika Kina tahu dia pulang bersama Afriadi bisa gawat, bisa-bisa dia melakukan rencananya atau lebih.


"Oke." Afriadi meangguk.


Suasana menjadi cangung lagi, padahal baru saja cair, sungguh pembicaraan yang singkat.


***


Malam hari kemudian.


Hadi berbaring di tempat tidurnya, hari ini dia baikan dengan Latika.


Dia teringat kembali saat Kina menyiram Latika dengan es coklat.


Ia sadar kalau Latika di ganggu Kina.


"Hah... Kina."


"Apa lagi kau lakukan, Kina? Apa kau menganggu Latika?"


Hadi teringat masa lalunya, kenangannya bersama Kina, waktu ia pertama kali bertemu sampai sikapnya berubah seperti sekarang.


Waktu itu hari pertama Hadi masuk sekolah SMP. Ia masuk di Sekolah yang ia idamkan sejak kecil.


Masa itu tidak akan dilupakannya, apa lagi itu waktu pertama kali ia bertemu dengan Kina.


Kina sungguh wanita yang lugu, polos, dan pendiam masa itu.


Hadi pertamanya tidak suka dengan Kina. Namun ada satu kejadian yang membuat Hadi suka dengan Kina.


Waktu itu jam pulang, Hadi kebetulan tidak ingin pulang cepat, biasa lari dari tanggung jawab ia tidak mau mengantar Lili adiknya ke tempat les jadi Hadi kabur duluan, ia main basket di lapangan padahal orang sudah pulang dia masih main.


Sekitar 30 menit berlalu, Hadi memutuskan untuk pulang, karena Adiknya sudah les jam segini.


Sesampainya di kelas Hadi melihat Kina di depan papan tulis, naik di atas kursi ingin mengambil tasnya bergantung tinggi sekali.


Karena Kina lugu, polos dan pendiam banyak teman sekelas menjahilinya. Sebagai bahan olok-olokan.


Setiap kali di jahili Kina tidak mengadu ke guru, dia tahu apa yang akan terjadi dengannya lagi jika dia mengadu.


Sekarang dia di jahili lagi, tasnya di gantung tinggi.


"Jahil sekali, orang-orang tidak punya kerjaan. Sampai atau tidak, ya?"


Hadi memperhatikan Kina dari depan pintu, hatinya berkata.


"Ih... Tinggi sekali." Kina mengeluh kesal.


Batin Hadi berkata, "Kau yang kependekan."


"Hah... Tidak sampai." Kina meningkit menambah tingginya.


Batin Hadi mengejek lagi, "Dasar pendek."


"Egh..."


Mata Hadi membulat melihat kaki Kina berada di tepi bibir kursi jika bergerak sedikit bisa...


"AWASSSS!!!" Hadi meneriaki Kina.


"Eh..."


Kina bergerak melihat ke belakang, gerakan Kina menyebabkan kakinya bergeser, sehingga...


" Aaa..." Kina menjerit.


Tampa sadar Hadi bergerak cepat menyambut Kina.


"Hap..." Hadi menyambut Kina.


Brrruk...


Kina terjatuh menimpa Hadi.


"Egh... Sakit." Hadi mengeluh matanya perlahan terbuka.


Tess... Mereka saling menatap, seperti ada semgatan listrik tak kasat mata. Wajah Kina memerah sedangkan wajah Hadi bersemu.


"Apa yang kau pikirkan, menjauh dariku," omel Hadi. Cepat Kina menjauh dari Hadi.


"Maaf, maafkan saya." Kina menundukkan pandangannya, megigit bibir bawah wajahnya sedikit pucat kemerah-merahan.


Heboh hati Hadi bersorak menyebuti Kina mirip dengan Latika.


Sebentar saja Hadi terpesona dengan Kina. Ia menyadari kalau dari dekat kina itu cantik, imut, dan polos seperti temanya Latika.


Hadi tersadar, cepat menggelengkan kepalanya, "Hum... Lain kali hati-hati."


Ia bangkit, mengambil tasnya, keluar dari kelas.


"Hah..." Kina menghela nafas berat.


Tidak lama Hadi kembali lagi. Langsung naik atas kursi mengambil tas Kina.


"Ini..." berinya.


"Terimakasih," kata Kina memeluk tasnya, dia seperti keterbelakangan mental sikapnya mirip bocah.


Hadi mendelik, "Lain kali kalau ingin pamer tas itu jangan pakai gantung di tempat tinggi segala, akhirnya susah juga mengambilnya."


Hadi bercanda, dia tahu kalau Kina habis dikerjain.


"Ha... Pamer?" Kina menumbangkan sedikit kepalanya ke samping.


"Lain kali tumbuh itu ke atas tidak ke samping."


Hadi mengusap kepala Kina, bergegas pergi. Senang mengejek orang mentang-mentang tubuhnya tinggi.


Wajah Kina bersemu malu memegang kembali kepalanya bekaa di usap Hadi.


"Em... Dia mirip seperti Latika.


Hah, anak cengeng itu, sayangnya dia tidak satu sekolah denganku.


Tapi, jika dia mirip dengan Latika, maka dapat mainan baru ini. Hihihi..." Hadi berguma berjalan di lapangan Sekolah


Awalnya Hadi hanya ingin main dengan Kina karena ia hanya mencari tempat iseng saja. Hadi kurang lebih seperti murid lainnya, jahil.


Akhirnya lama-kelamaan ia mulai suka dengan Kina.


Setiap kali Kina dibully Hadi selalu melindungi.


Hadi sering pulang bersama dengan Kina, bahkan ia sering main di rumah Kina, Papa Kina juga sudah kenal dengan Hadi.


Satu minggu sebelum semua berubah.


Jam istirahat Hadi dan Kina makan di kantin.


"Hadi." Kina menatap Hadi di depannya, "Em... Kamu mau antarkan aku kesuatu tempat?"


"Ke mana?," tanya Hadi tetap fokus pada makanan.


"Em..." Kina ragu mau memberi tahu, "Mau tidak?"


"Iya, tapi ke mana?" Hadi bertanya balik.


"Kelab." Kina menjawab pelan


"Uhuk...," terkejut Hadi sampai tersedak, terbatuk-batuk mendengar kata Kina. Dahinya mengerut meminum air.


"Apa kelab!" Hadi menaikkan nada suarannya.


"Husss... Jangan keras-keras," kata Kina menutup mulut Hadi di depannya.


"Mau apa kau ke sana?" Hadi bertanya pelan, giginya mengeretak pelan.


"Hadi kau tahu bukan, Papa dan Mama aku cerai saat aku masih umur 6 tahun.


Saat aku lagi sayang-sayangnya dengan Mama. Tapi, Mama tidak menyayangiku, hak asuh diberikan kepada Papa begitu saja, Mama tidak merebut hak asuh tersebut. Kau tahu aku sudah lama berpisah dari Mama, aku rindu ingin bertemu.


Selama ini Mama sama sekali tidak pernah melihatku, keberadaannya pun aku tidak tahu. Tapi, itu dulu. Sekarang aku sudah tahu di mana Mama, aku ingin bertemu dengan Mama. Hadi, kau maukan menolongku?"


"Em..." Hadi berpikir dua kali.


"Aku mohon Hadi, sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu dengan Mama." Kina memohon, memasang wajah memelas, "Aku mohon."


"Em... Oke. Tapi, anak sekolah tidak boleh masuk ke sana. Bagaimana kita bisa masuk ke sana?"


"Em... Nanti aku pikirkan."


Jam berganti jam.


Waktu yang ditunggu datang juga.


Mereka janji akan bertemu sekitar jam 08:00 malam di Rumah Kina, Hadi akan jemput dan minta izin dengan Papa Kina.


Jam 08:00 malam.


Sesuai janji Hadi datang ke rumah Kina, dan minta izin dengan papa Kina.


"Om... Saya boleh tidak bawa Kina jalan sebentar?" Hadi menunggu di luar pagar.

__ADS_1


"Heeem..." Papa Kina berpikir dua kali, melihat Hadi dari atas sampai bawah.


"Pa, Kina hanya sebentar saja." Kina berdiri di belakang Papanya memakai gaun berwarna maron di lengkapi dengan sepatu berhak tinggi bewarna sepadan, dan bibirnya juga bewarana sama. Kina kelihatan seperti orang dewasa, toh dia emang sudah dewasa umurnya hampir menginjak 19 di lambat masuk Sekolah karena ada alasan tertentu.


"Hmmm..." Papa Kina masih berpikir.


"Pa, bolehlah." Kina membujuk mengoyang lengan Papanya.


"Hmmm... Pergilah. Jangan pulang larut malam, ya?"


"Iya, Pa." Kina kegirangan bertepuk tangan.


Papa Kina meusap kepala anaknya, "Hadi jaga anak aku ya.


Jangan kau bawa dia ketempat gelap atau apa-apakan dia."


"Em..." Hadi meangguk, memberi helem kepada Kina.


Kina menaiki motor Dilan Hadi, berangkat.


"Hati-hati dijalan."


Papa Kina keluar pagar melambaikan tangan pada Kina, Kina melambaikan tangannya.


"Hah, anak zaman sekarang malam mingguan. Hah, akhirnya dia bisa bergaul juga," gumanya pelan kembali masuk ke dal Rumah.


Hadi dan Kina pergi ke Kelab malam xxx tempat Mama Kina berada.


Sesampainya di tempat tujuan.


"Hadi ayo masuk. Em..."


Mereka berdua sudah berdandan sedemikian rupa, seperti gaya orang dewasa.


Mereka kira mereka tidak akan dibiarkan masuk ternyata mereka dibolehkan masuk, penjaganya mudah untuk dibohongi.


Ketika mereka masuk, kepala Hadi pusing mendengar dentuman musik yang keras dan lampu yang berputar-putar.


"Kina, kita cari Mama kau di mana? Di sini banyak sekali orangnya."


"Em... Satahuku Mama pemilik tempat ini. Jadi tanya anak buahnya mungkin tahu," guma Kina.


"Kina cepat, kita harus keluar dari sini secepat mungkin sebelum orang-orang menyadari kalau kita adalah anak SMA."


Hadi berkata di telinga Kina, dentuman musik membuat mereka sulit untuk mendengar perkataan yang diucapkan.


"Hadi ikuti aku." Kina menarik tangan Hadi membawanya menaiki anak tangga.


Belum sempat mereka menaiki tangga, mata Kina tertuju pada seorang wanita cantik di atas sana lagi bicara dengan seseorang.


"Kina..." Hadi memanggil Kina yang sudah berlari menaiki anak tangga bmenabrak orang yang menuruni tangga, ia tidak peduli, ia terus berlari menuju wanita tersebut kilihatannya Kina kenal dengan wanita itu.


Sedikit lagi Kina meraih tangan wanita itu, tapi tangannya di tangkap oleh seorang Pria yang ada di dekat wanita tersebut.


"Hy! Mau apa kau?," tanya Pria bertubuh tegap berkacamata hitam itu.


"Mama," panggil Kina.


Wanita itu menoleh melihat Kina penuh dengan kebencian, sembarangan memanggilnya Mama.


"Ha..." Pria yang menahan tangan Kina, tercengang mendengar kalimat Kina. Bergantian dia melihat Kina dan wanita itu yang tak lain bosnya sendiri.


"Kina," panggil Hadi baru sampai di atas berdiri di belakang Kina.


Mata wanita tersebut membesar mendengar Hadi memanggil Kina.


"Wilona. Kamu kenal dia?," tanya seorang Pira di sebelah wanita itu yang ia panggil Wilona berpakaian rapi lengkap dengan jas dan rambut tertata rapi.


Wilona tidak menjawab, dia menatap Kina sinis penuh kebencian.


"Dika usir mereka," kata Wilona Mama Kina, parasnya cantik berbody aduhai rambutnya pirang seperti Kina, tatapan mata yang tajam.


"Hy! Nona asal kau tahu bos kami paling tidak suka di sentuh orang seperti kalian," kata Pria itu yang di panggil Dika, melepas tangan Kina sampai terjatuh.


"Mama," panggil Kina, bangun dari jatuhnya.


Hadi membantunya berdiri, menatap judes Wilona.


"Kin, apa kau Mama Kina? Kejam anak sendiri tidak diakui. Dasar nenek lampir," kata Hadi dengan mulut pedasnya.


Anak buah dan orang-orang terdekatnya menahan tawa mendengar kalimat terakhir Hadi.


Wilona mendelik, mengeretak giginya.


"Heh... Bocil, jaga mulutmu. Sopan sedikit dengan orang tua," kata Dika lengkap dengan wajah galak.


"Ternyata dia anakmu. Kau seorang ibu dari anak lemah ini," cibir Pria berpakaian rapi itu, merangkuh Wilona.


"Hiiis..." Wilona mendesis menjuhkan tangan Pria itu, "Dika, usir mereka."


"Mama ini Kina. Kina rindu dengan mama," triak Kina.


"Hy! Lepaskan kami bisa jalan sendiri," teriak Hadi di seret dengan 2 bawahan Dika.


"Keluar kalian. Di sini bukan tempat untuk kalian," kata Dika.


Hadi dan Kina dipaksa keluar oleh anak buah Wilona yang bertubuh besar.


Kina menangis karena tidak diakui mamanya sebagai anaknya.


Hadi membawa kina pergi dari tempat itu, selama perjalanan pulang Kina menangis tersedu-sedu bersandar di punggung Hadi. Sakit rasanya tidak diakui sebagai anak, padahal Kina berjuang mati-matian mencari informasi keberadaan Mamanya berharap dia rindu juga bertemu dengan Kina namun nyatanya malah tak dianggap. Kenyataan pahit harus di terima Kina.


Kina meminta Hadi untuk berhenti sebentar di sana, Kina tidak siap untuk pulang dengan keadaanya seperti itu.


Hadi mencoba untuk menenangkan Kina. Mereka berdua duduk di tepi jalan, Kina menangis tersandar di bahu Hadi.


Hadi mencoba mencairkan suasana, Kina merasa nyaman di dekat Hadi, setidaknya sedihnya berkurang.


Setelah merasa tenang Hadi mengantar Kina pulang.


Hadi tidak menyadari kalau malam itu merupakan malam terakhir mereka berdua.


Satu minggu setelah kejadiab itu. Kina banyak berubah dahulu dia dibully sekarang dia yang membully, gaya juga sudah berubah dulu dia tidak pakai make up sekarang ia pakai make up. Gosip tentang Kina menyebar begitu saja, Hadi mendengar gosip tentang Kina membully, beberapa hari setelah kejadian itu Hadi merasa emang ada yang berubah dari Kina.


Seperti ada yang Kina sembunyikan darinya, hubungan mereka baik-baik saja di Sekolah tapi Kina sudah jarang mendekati Hadi.


Sekarang ia sudah pandai bergaul, Hadi tak ambil pikir juga lagian itu bagus untuk Kina, menurutnya.


Tapi, aneh Hadi sering melihat Kina di jemput sama om om, dan sering pula ke Sekolah bareng om om.


Hadi kira hanya dapat tumpangan gratis dari orang.


Oh... Hadi kau salah.


Kina menyembunyikan sesuatu darinya.


Sampai satu hari Hadi ingin mengatakan perasaannya kepada Kina, namun saat itu juga Hadi mengetahui semuanya.


Waktu itu malam sebelum Hadi menyatakan perasaannya. Sekitar jam 19:55 malam.


Papa Kina datang ke Rumah Hadi mengadu kalau Kina tidak pulang selama beberapa hari, dia sudah lapor kehilangan ke Polisi sampai sekarang belum ketemu juga, dia ingin bertanya dengan Hadi apa dia melihat Kina?


Dan Hadi mengiyakan, dia melihat Kina di Sekolah.


Papa Kina terkejut, meminta bantuan ke Hadi untuk mencari Kina.


Hadi tahu Ia harus kemana mencari Kina.


Di mana lagi kalau bukan di tempat Kelab malam itu.


Sesampainya Hadi di sana.


Hadi melihat Kina bersama dengan laki-laki hidung belang. Awalnya dia tidak mengenal Kina dengan pakaian yang waw, terbuka dan riasan wajah sempurna, lipstick merah menghiasi bibirnya menambah kesan waw, sempurna. Hadi tak menyangka kalau di seberangnya itu Kina, dia banyak berubah.


Hadi menghentikan Kina ketika Kina ingin masuk ke Kelab tersebut


"Kina!!!"


Hadi menghampiri Kina, menariknya menjauhkan dia dari laki-laki tersebut.


"Hadi apa yang kau lakukan di sini?," tanya Kina.


"Papamu mencarimu," tegas Hadi menariknya.


Kina terdiam.


Dari belakang Dika menarik lengan Kina,


"Hy! Anak muda jauhi dia."


"Kina jangan masuk ke dalam. Ayo kita pulang Papamu sudah menunggumu," ajak Hadi.


"Kina kau pilih mau ikut dia atau ikut mamamu?"


Pertanyaan Dika membuat Kina gundah, Kina melepas tangan Hadi dari tangannya.


Hadi mencekram bahu Kina,


"Kina ingat, siapa kau?


Kau orang yang baik Kina, jangan kau kotori dirimu oleh mereka. Ingat Kina kau mempunyai Papa yang menyayangimu bukan seperti mereka yang menyesatkammu. Ingat Kina."


Kina melepas tangan Hadi dari bahunya,


"Lebih baik sekarang kau pergi, urus saja urusanmu sendiri jangan ikut campur urusanku.

__ADS_1


Urusanku dengan Papaku bisa aku atasi."


"Apa? Hadi aku mohon padamu lebih baik sekarang kau pergi sebelum mereka menyakiti dirimu," teriak Hadi.


"Bagus Kina." Dika tersenyum.


Kina pergi masuk ke dalam kelab bersama Pria hidung belang itu.


"Kina!!!" Hadi mencoba mengejar Kina namun dihalangi Dika.


"Hoho... Lebih baik sekarang kau pergi anak muda," kata Dika.


"Tidak. Aku harus membawa Kina pulang, Papanya mencari dirinya. Kina!!!"


"Dasar anak zaman sekarang, susah betul untuk dibilangi."


BUUKK...


Dika meninju perut Hadi dengan kuat.


"Uhuk... Agh." Hadi menahan rasa sakit di perutnya.


"Pergilah sekarang. Kali ini kau aku lepaskan."


Ketika itu juga ada hal yang tidak di duga Hadi, ia melihat seorang Pria yang pasti bukan Pria hidung belang tadi sekarang yang lain lagi, Pria itu terlihat akrab di mata Hadi, ia membawa Kina keluar dari Kelab membawanya masuk ke mobil.


"Paman!" Hadi memanggil Pria itu, menghapirinya.


Tangannya mengepal erat dan...


BUUUKKK...


Hadi meninju Pria itu, tepat di bagian wajahnya, tangannya mencengkram kerah baju Pria itu.


"Apa yang Paman lakukan di sini? Selama ini yang membuat hubungan Rumah tangga Bibik suni berantakan karena Paman sering ke sini gitu, Paman main wanita selama ini, oh gitu. Bibi Suni menderita karena Paman, sadar diri dong jadi orang..." Hadi memaki-maki Pria itu yang ia panggil Paman.


Bibi Suni adalah adik Papa Hadi, beberapa hari yang lalu Rumah tangannya berantakan. Malam itu keluarga Suni bertengkar hebat, malam itu juga Suni pergi ke Rumah Hadi membawa anak-anaknya menangis tersedu-sedu. Anaknya yang masih kecil menangis menyebut Papanya jahat mau membunuh mereka.


"PAMAN!!!" Hadi ingin memukul wajah Pria itu.


BUUUKKK...


"Kyaaa..." Kina menjerit dari dalam mobil, cepat keluar melihat Hadi di hajar Dika, hidung Hadi berdarah dia menyeka darah di hidungnya.


"Anak ini tidak bisa dikasih tahu," kata Dika menoleh pada Pria itu, "Maaf Tuan, tamu tidak diundang ini telah menghajarmu, akan kami beri ia pelajaran."


Pria itu meangguk.


Tampa butuh waktu lama Hadi di keroyok habis-habisan sama bawahan Dika.


BAAKKK... BUUKKK...


"Berhenti!!!" Kina menghalangi anak buah Dika untuk menghajar Hadi, "Aku mohon berhenti."


"Hadi cepat pergi dari sini. Kau jangan pikirkan aku, pikirkan saja dirimu sendiri," kata Kina berlinang air mata ia tak bisa melihat orang pertama yang ia cintai celaka.


Hadi bagun, menaiki motornya pergi meninggalkan tempat itu.


Hadi benar-benar tak percaya kalau barusan itu Kina, dia mendadak memberhentikan motornya membanting helem sekeras mungkin ke jalan.


"HAAAAA..." Hadi berteriak melepas kekesalannya.


Ia duduk di tepi jalan, melihat ke atas bintang bertaburan indah berkelap kelip tiba-tiba hilang di telan awan berkilat kilat menyambar sepertinya akan hujan.


Begitu juga dengan perasaan Hadi dulu indah berkelap kelip sekarang penuh dengan awan hitam dan gunturan amarah dan kekecewaan benih cinta pada Kina harus di cabut paksa dari hatinya.


Kacau, semua kacau.


Selang beberapa waktu Hadi


pergi ke rumah Kina, ia ingin memberitahukan kabar ini kepada Papa Kina.


Sesampainya ia di sana.


Papa Kina tidak ada, pembantunya memberitahu kalau Papa Kina belum kembali.


Akhirnya Hadi memutuskan untuk pulang.


Baru saja Hadi menaiki motornya, Papa Kina sudah datang dengan mobilnya.


"Hadi, bagaimana apa kau sudah bertemu Kina? Uhuk...," tanya Papa Kina keluar dari mobil menghampiri Hadi.


"Paman sakit?" Hadi balik bertanya.


Papa Kina melambai tertawa, "Engak... Uhuk... Uhuk... Wajahmu kenapa? Apa kau sudah ketemu dengan Kina? Uhuk..." Papa Kina menyentuh wajah Hadi yang memar.


Hadi mendesis menahan sakit, dia menggeleng, "Bukan apa-apa."


Melihat keadaan Papa Kina yang kurang baik Hadi mengurungkan niatnya untuk memberitahu. Hadi terpaksa berbohong, jika ia beritahu bisa saja penyakit Papa Kina akan bertambah buruk dan menambah beban pikirkannya.


"Tidak." Hadi menggelengm


"Hah..." Wajah Papa Kina berubah sedih, matanya berkaca-kaca, "Uhuk... Apalah nasip anakku di luar sana? Apa dia baik-baik saja?"


Rasa tak tega Hadi melihat Papa Kina sedih.


"Em... Hadi jika kau bertemu lagi dengan Kina, suruh ia pulang ya? Uhuk... Uhuk..."


Papa Kina menepuk bahu Hadi beberapa kali sebelum ia masuk ke rumah, dan Hadi pulang ke rumahnya.


Ke esokan harinya, di sekolah.


Papa Kina datang mencari Kina di sana ditemani Hadi namun Kina tidak ada di sana, satu sekolah sudah mereka kelilingi. Bertanya-tanya ke guru piket, Satpam dan siapa saja yang lewat di depan mereka.


Hari ini Kina tidak masuk sekolah.


Berhari-hari berlalu Kina tidak kunjung pulang juga, dan ke adaan Papa Kina semakin memburuk.


Sampai satu hari di saat yang bersamaan saat keluarga hadi Bibi Suni dan suaminya cerai gara-gara semua aset milik keluarga Bibi Suni sudah berpindah tangan menjadi milik Kina, enatah bagaimana Kina melakukannya dalam sekejap saja aset Bibi Suni berpindah tangan menjadi milik Kina.


Saat itu juga Hadi disuruh untuk menjauh dari Kina, kalau bisa sejauh mungkin, Hadi juga saat itu sudah tidak mau lagi kenal dengan namanya Kina, ia mencoba menghapus nama itu dari dalam hati dan pikirannya, ia tidak mau berurusan dengan yang namanya Kina, Hadi menaruh benci kepada Kina.


Di saat itu juga Hadi di telpon oleh pembantu Rumah Kina, ia memberi tahu kalau Papa Kina masuk Rumah Sakit.


Awalnya keluarga Hadi tidak membolehkan ia pergi untuk melihat Papa Kina, apa boleh buat mereka tidak bisa menahan Hadi, akhirnya mereka bolehkan.


Pukul 07:30 malam.


Hadi segera pergi ke rumah sakit xxx tempat Papa Kina dirawat.


Sesampainya di sana, tidak ada satupun keluarga yang menemani Papa Kina, anaknya saja tidak ada.


Papa Kina memegang erat tangan Hadi.


"Had, Paman ingin bertemu dengan Kina. Hadi bisakan membawa Kina pulang untuk Paman," suara Papa Kina bergetar lemah.


Hadi tidak menjawab ia hanya tertunduk bingung, keluarganya melarangnya untuk berurusan dengan Kina, dan ia juga tidak mau lagi berurusan dengan Kina.


"Paman istirahat dahulu, ya?"


Papa Kina hanya menurut saja.


Hadi meninggalkan rumah sakit setelah Papa Kina tidur, ia mencoba pergi ke sana lagi, ke mana lagi kalau bukan Kelab malam itu.


Lagi-lagi ia bertemu Kina keluar dari mobil laki-laki.


Hadi menghampiri Kina yang akan masuk ke dalam, walau Hadi sempat dicegat anak buah Dika, Kina meminta mereka melepaskan Hadi.


"Ada apa Hadi kau ke sini lagi?," tanya Kina belagu.


"Kina lebih baik kau pulang sekarang," kata Hadi dengan nada tegas.


"Sudah berapa kali aku bilang kepadamu jangan ikut campaur urusanku."


"Kina aku bukan ingin ikut campur urusanmu, aku hanya ingin memberitahu Papamu-"


"Kenapa Papaku?


Apa ia rindu lagi dengan diriku?


Ah... Sudahlah." Kina berbalik tak mau mendengar kata Hadi, "Usir dia."


"Asal kau tahu saja Kina, Papamu masuk ke rumah sakit xxx, ia terkena serangan jantung.


Ia merindukanmu Kina, pulanglah temui dia. Sebelum terlambat, perbaiki kesalahanmu..."


Mata Kina bergetar mendengar kabar Papanya masuk Rumah Sakit, ketika ia ingin berbalik


Hadi pergi meninggalkan tempat tersebut.


Beberapa hari kemudian Kina pulang, menjenguk Papanya di rumah sakit, Papa Kina sungguh bahagia melihat anaknya pulang, Hadi ada di sana juga melihat kehadiran Kina. Beransur-ansur Papa Kina mulai membaik.


Sebelum Hadi menjauh ia ingin memberitahu tenatang Kina tapi, ia tidak jadi lagi karena takutnya Papa Kina terserang sakit jantung lagi, jadi Hadi lebih memilih untuk menutup mulut tidak ikut campur urusan mereka.


Hadi menyesal seharusnya dia tidak mengantarkan Kina ke sana, dia menyesal andai saja hari itu Hadi tidak meantarnya Kina pasti tidak seperti sekarang ini.


Lamunan Hadi terputus mendengar suara berisik di bawah tempat tidurnya, dia melihat keponakannya berebut mainan dan...


Buuuk... Mainan yang mereka rebut terlempar ke wajah Hadi.


Hadi emosi mengejar mereka, lantas 2 bocil itu keluar dari kamar Hadi lari ketakutan.


Ya, 2 anak kecil itu anaknya Suni Bibi Hadi.


Hadi sudah mengubur kenangan Kina sedalam-dalam mungkin, ia tak mau lagi berurusan dengan Kina.

__ADS_1


Enatahlah setelah hari itu apa yang terjadi dengan Kina.


__ADS_2