
"Apa! Sekolah kedokteran!" pekik serempak ibu-ibu arisan. Sebagian dari mereka yang minum tadi hampir tersedak dengar pengakuan Latika yang akan masuk sekolah kedokteran.
Latika menggaruk kepala yang tak gatal. Batinnya sudah menduga akan diintrogasi lama ini, ini semua tidak akan terjadi jika saja Bunda Dewi tidak bercerita tentang keponakannya yang akan masuk kuliah gara-gara itu Latika yang mereka ketahui baru tamat SMA langsung di tanya sama Bunda Kania kuliah atau tidak?
Latika jawab saja kalau dia mau masuk sekolah kedokteran. Pengakuannya berhasil menarik perhatian ibu ibu arisan lainnya.
Ya, ibu-ibu arisan. Latika lagi kumpul sama ibu-ibu arisan di rumah Bunda Kania.
Latika sudah jadi emak-emak ^∇^
"Seriusan?" Wajah mereka mendekat dengan mata yang ikut membesar persis mata Tarsius hewan primata kecil.
Latika meangguk, tersenyum manis menanggapi mereka.
"Ih, sudah dibilang kan, keruang jelas apa," kata Bunda Dewi, melambaikan tangannya pada ibu-ibu lainnya.
Itu namanya Dewi, wanita yang memiliki kulit putih bertubuh ideal, berbaju maron belah lutut sama dada, rambutnya lurus terurai, wajahnya berbentuk oval dengan tanda tahi lalat di bawah bibir.
Latika memanggilnya Bunda Dewi atau Bunda, soalnya umurnya lebih tua 15 tahun lebih dari Latika.
"Katanya~ Jeng, sekolah kedokteran itu susah-susah rumit. Harus bisa ini itu, apa lagi bh bukunya. Beh, bahasa latin kebanyakan apalagi buku yang terbaru keluar bahasa Inggris... Kada sanggup aku bacanya," ujar Bunda Kania, pemilik rumah yang duduk di sebelah Latika.
Wanita paruh baya ini, kelahiran banjar Masin dengan kulis sawo matang rambut ikal terurai, baju lumayan tertutup tapi ketat paha dan dada terjepit.
Sama Latika memanggilnya Bunda Kania atau Bunda saja.
"Ih, Latika kamu sanggup saja ambil sekolah itu, emang kamu pandai bahasa Inggris?" sahut ibu-ibu di seberang Latika, berbaju gamis kelelawar berwarna kuning kecoklatan, rambut terurai dengan Bandu selaras dengan wana baju, kulit putih umurnya sekitar 30-an.
Latika hanya menanggapi dengan tersenyum, meangguk.
"Ih, Jeng Lina. Suaminya kan kepala sekolah pernah kuliah di luar negeri lagi, ya pasti istrinya bisa berbahasa Inggris juga," ujar wanita yang duduk di sebelah wanita berbaju kuning kecoklatan itu yang ia sebut Lina, "Ya kan Latika, kamu bisa berbahasa Inggris?"
"Iya, Bunda Riska." Latika tersenyum canggung, kelihatan sekali kalau dia grogi.
"Wah, bagus itu. Suami Kepsek Istri Dokter, bagus bagus." Ibu-ibu di ujung meangguk meraih gelas tehnya, Latika kurang tahu itu siapa.
Lagi-lagi Latika meangguk, rasanya canggung sekali ia ada di sana. Dia yang termuda di sana, sisanya sudah jauh umur di atasnya dan satu-satunya yang mengenakan hijab. Latika harus terbiasa dengan lingkungannya dan orang-orang di sekitarnya. Lagian ini arisan pertamanya berharap bisa berjalan dengan lancar dan menjalin hubungan yang erat dengan tetangga.
"Istri Afriadi ini pendiam juga ya," tegur ibu-ibu lainnya, Latika hanya membalas dengan senyuman.
"Malu mungkin dia, baru bergabung. Maklum lah itu... Sudah jangan malu-malu anggap saja kami ini bocah kecil," ujar Bunda Kania, mempersilahkan mencicipi hidangan.
Latika tersenyum lagi.
"Betul itu Jeng jangan malu-malu," kata Jeng Jeng lainnya.
"Iya, bunda." Latika tersenyum lagi, dia memanggilnya Bunda pada Jeng Jeng lainnya, nunjukin rasa hormat lah ya pada yang tua dari pada panggil emak bukan ibu Latika pun, apalagi panggil Jeng adeh rasanya kayak ada jengkol yang nyangkut di tenggorokan susah menyebutnya.
"Haduh, kami kenapa sih nikah muda?" tanya ibu-ibu yang dari tadi sudah memperhatikan Latika, "Salut Bunda dengan kamu."
"Iya Jeng, lebih bagus nikah muda ya, jadi mencegah anak gadis buat itu."
"... Kalau gitu anak gadisku aku nikahkan muda saja ya?"
"Iya itu, sayangnya aku tak punya anak gadis."
Sahut ibu-ibu pada rame masing-masing.
Tiba-tiba suasana jadi senyap, mereka semua menatap Latika, memainkan jari telunjuk sambil menyeringai lebar,
"Ngomong ngomong malam pertama..."
Serempak mereka mengucapkannya berhasil membuat pipi Latika bersemu.
__ADS_1
Latika tersenyum getir, aduh ibu-ibu bisa gak jangan tanya itu kebiasaan menggoda pengantin baru.
Tuh, Latika jadi bingung mau jawab apa. Akibat diam jadinya kena goda sama ibu-ibu arisan ˘⌣˘
Aduh, habislah Latika kena goda terus menerus sama ibu-ibu arisan.
***
"Huh..." Latika loyo memasuki Rumah, ia kelihatan kecapean menangkis pertanyaan ibu-ibu arisan,
"Bagaimana Dek dengan arisannya?" tanya Afriadi ketika pas-pasan ketemu di tangga.
"Hah..." Latika menghela nafas berat, duduk di anak tangga.
Melihat istrinya mengeluh, Afriadi ikut duduk di anak tangga sebelah Latika, "Ada apa? Apa ada masalah dengan ibu-ibu arisan?"
Latika menggeleng lemah, menopang dagunya.
"Terus apa?" tanya Afriadi pelan.
"Adek rasa tak bisa bergaul dengan ibu-ibu arisan, Adek terlalu canggung..."
Afriadi tersenyum mendengar penjelasan Latika, ia menggenggam erat tangan Latika memberi ia keyakinan pada dirinya, "Biasalah itu Dek. Adek kan baru jadi kalau canggung sedikit itu tak masalah, macam mana Adek dulu waktu masuk sekolah canggung kan gak kenal siapa-siapa lama kelamaan Adek kenalkan dengan teman Adek. Nah begitu juga dengan lingkungan Adek ini, ingat tetangga adalah saudaramu sejauh apapun keluargamu pasti saat Adek sakit tetangga yang mengetahui lebih dahulu, yang menolong Adek... Lagian menjalin hubungan silaturahmi dengan tetangga itu baik kan Dek. Adek juga perlu kan bersosialisasi dengan lingkungan Adek? Ibu-ibunya ramah-tamah juga kan Dek?"
Latika meangguk, paham. Dia emang canggung, soalanya itu pertama kalinya dia kumpul-kumpul sama ibu-ibu kelas atas kan biasanya dia hanya sama anak-anak kost, ibu kost, teman-temannya, dan ada juga sih kumpul sama ibu-ibu temannya tapi itu kan sudah kenal sudah terbiasa gitu lah ini.
Sudahlah jarang keluar, jarang sapa tetangga, jadinya gitu akibatnya.
Untung kemarin Afriadi maksa Latika untuk bersosialisasi dengan lingkungannya.
Iya kemarin, menjelang asar Latika membuat donat dari kentang dibantu dengan Bik Ipah. Rencananya mau buat sedikit, tapi Latika terlanjur terbuat banyak gara-gara tertumpah air terlalu banyak jadinya harus tambah tepung lagi biar gak cair.
Selang beberapa menit.
Afriadi tersenyum tipis, "Masak apa Dek?"
"Goreng donat." Latika menjawab singkat.
"Eh, Dek." Tangan Afriadi menyapu pipi Latika yang belepotan tepung.
Lihat aja mata Afriadi sama noda di pipi Istrinya. Wajah Latika merah bersemu.
Di belakang sudah ada yang memperhatikan.
"Non, Bibik tinggal dulu ya mau sholat asar," kata Bik Ipah dari arah belakang selesai dengan tugasnya membulat-bulatkan adonan jadi kecil sebesar bola ping-pong biar mudah di goreng.
"Iya, Bik. Latika bisa kok," sahut Latika.
Sebenarnya Bik Ipah kabur memberi kesempatan pada mereka untuk berduaan.
Sari yang lagi asik menyiapkan toping untuk donatnya, malah di tarik paksa sama Bik Ipah untuk menjauh.
"Sari sudah sholat," gumam Sari tetap ikut di seret.
"Ya, udah kalau gitu sapu halaman saja," gumam Bik Ipah, tambahnya lagi berbisik di telinga Sari, "Kamu gak akan tahan di sini, jangan jadi pegangu kemesraan mereka."
Anu, Bik Ipah sayangnya mereka berdua mendengar jelas, mereka hanya melihatkan saja tingkah aneh dua orang itu.
Latika menggeleng, meangkat donat yang sudah mandi ke saringan. Memasukan donat yang lainnya ke wajan, tak lupa di lubangi tengahnya.
"Abang bantu Dek, ya?" Afriadi menawarkan bantuan dapat anggukan dari Latika, ia mencuci tangan sebelum membantu lalu menyapu telapak tangannya dengan minyak lalu melubangi adonan terjunkan ke dalam lautan minyak panas.
Selama menggoreng donat di bantu Afriadi, sempat saja dia menggoda Latika dengan menyenggolnya, Latika yang tak terima membalas senggolan Afriadi habis itu mereka tertawa.
__ADS_1
Sayangnya berbalas senggolannya hanya sebentar saja, takutnya nanti malah celaka tersenggol wajan dan minyak tumpah ke badan.
"Dek, Adek kan sekarang sudah terjun ke masyarakat dan Adek juga sudah dewasa. Kapan Adek mau kenalan dengan tetangga, berbaur dengan ibu-ibu di sekitar sini?"
Afriadi bertanya di sela-sela pekerjaan mereka.
"Adek sudah jarang keluar selama ini, Kan status Adek Istri Abang sekarang. Mereka ingin tahu Istri Afriadi itu orangnya seperti apa sih? Dengar-dengar gosip Istrinya cantik, imut, muda lagi." Afriadi melawak ditambah sedikit garakkan lebaynya sedikit berhasil mengundang tawa Latika.
"Iya, tapi nanti." Latika merespon dengan tersenyum manis.
"Em, bagaimana kalau mulai dengan tetangga depan, Bunda Kania. Orangnya ramah dan mudah bergaul," usul Afriadi, "Kan Adek buat donat lebih ni, antar ke tetangga depan rumah Bunda Kania dia biasanya sore-sore begini temani anaknya main sepeda di luar atau Adek kasih sama anak-anak yang lagi main di jalan."
Latika meangguk, menganggap mudah kacang aja. Namun nyatanya.
Twewewewww...
Latika berdiri di depan pagar dengan membawa donat di piring. Celengak-celengok lihat anak-anak kecil lalu lalang main sepeda, pandangannya tertuju pada seorang orang ibu-ibu yang berdiri sambil memantau anak-anaknya di seberang sana.
Latika menelan ludah, gugup. Ia ragu-ragu mau mendekat, di belakang Afriadi sudah mendorong Latika dengan isyarat mulut yang menujuk suruh ke sana. Dia duduk di pos, memperhatikan Latika.
Bismillah, Latika melangkah melewati garis gerbang, membawa piring mendekati wanita itu yang Afriadi panggil Bunda Kania.
"Sore Bunda," sapa Latika ramah, tak lupa pakai senyum terbaik.
Wanita itu menatap teliti Latika dari atas sampai bawah, mulutnya cemberut 180° kalau pas pelajaran MTK mungkin mulutnya bisa dijadiin busur kali ya.
Latika sudah gugup, jantungnya sendri tadi berdetak kencang, sudah mulai berprasangka buruk kalau dia pasti... Ya, kayak menolak kehadiran Latika.
Latika memberikan sepiring donat itu pada Kania tak lupa tersenyum, tapi kali ini senyum Latika sudah tak seceria tadi, efek gugup kali ya.
"Oh, makasih ya." Wanita itu menerima dengan penuh gembira.
Batin Latika melongo, di luar dugaannya. Ternyata benar kata dia wanita yang ramah, untuk apa di takutkan.
"Kamu Istri Afriadi kan?" tanyanya dengan ukiran senyum yang merekah.
"Iya," jawab Latika ikut tersenyum juga.
"Ah, ternyata benar. Saya lupa, kemarin sudah lihat di pelaminan... Kamu jarang keluar ya. Aduh, benar seperti yang diceritakan orang-orang tentang kamu, cantik dan manis..." Panjang lebar ia bicara sampai akhirnya dia mengajak Latika untuk bergabung di kumpulan curhatan uang gajian suami, eh maksudnya arisan.
"Eh, mau gak ikut arisan baru ibu-ibu sekitar sini? Lumayan loh, isi waktu luang" tawarnya.
"Em, boleh. Tapi, saya izin dulu sama Abang,"
Sejak itu Latika ikut arisan dan arisannya di mulai tadi.
"Dek." Afriadi menepuk punggung Latika, memutus lamunannya.
"Eh," Latika menatap Afriadi.
"Mikir kan apa?" tanya Afriadi meangkat kedua alisnya.
"Bukan apa-apa." Latika menggeleng, "Dah lah Adek mau mandi."
Latika berdiri melanjutkan langkahnya.
"Oh, ya Dek. Soal daftar kuliah sudah Abang uruskan, MOS nanti ada di beritahukan di grup," kata Afriadi.
Latika menoleh dengan ekspresi wajah kagetnya, "Abang sudah daftar kan?"
"Iya, berkat bantuan dari tim."
Afriadi sok comel, nusuk kedua pipinya dengan jari telunjuk seraya tersenyum manis.
__ADS_1
Latika menahan tawa, lihat ekspresi Suaminya, bisa-bisa aja ngelawak di waktu yang pas.