
Seminggu sudah berlalu. Kelas meting sudah selesai. Hari ini mereka menerima lapor serta pembagian hadiah juara kelas meting. Sayangnya Latika tak masuk sekolah, kelas mereka jadi juara umum, kelas yang paling banyak merebut hadiah.
Apalagi Latika dia yang paling banyak dapat hadiah. Kenapa Latika tak masuk sekolah?
Malangnya nasip Latika, ia terbaring lemah di kamar, jangkan mau main ponsel dan makan mau berbalik badan saja sakit. Badannya sakit semua gara-gara tarik tambang dan terlalu tamak dalam mengikuti pertandingan.
Afriadi tahu ia sakit sehari sebelum pengambilan raport, ia sadar setelah sholat subuh suara Latika berubah serak ketika mengaji, apa lagi saat salaman Afriadi merakasan panasnya tubuh latika.
Jadinya Latika di larang ke sekolah, dia di suruh libur lebih dulu.
Beberapa hari ini Latika di suapi Afriadi plus dia di jaga terus kompres tak pernah lepas dari keningnya, Afriadi selalu mengantinya. Sekarang Latika sudah membaik cuman panas tubuhnya saja lagi.
Malang nasipmu Latika.
Latika menduga teman-temannya sudah buka hadiah,
"Mereka sudah buka hadiah, mungkin. Aku mau ikut buka." Latika cemberut menepuk kasur.
Ia menguap merasa kantuk setelah minum obat tadi, ia memutuskan untuk tidur saja.
Tahu-tahunya saat Latika terbangun dari tidurnya ia sudah melihat Afriadi di sisinya dan hadiah bertumpuk di sampingnya, mengusap kepala Latika.
Kaget Afriadi lihat
Latika langsung segar lihat hadiah.
Tak merasa sakit dia, entah kenapa rasa sakitnya hilang, cepat ia menyambar hadiah membuka satu persatu hadiah, Afriadi tersenyum tipis menggelang melihat tingkah Istrinya itu.
"Bu Kost yang antarkan, katanya teman Adek mengantarkan ke kosan. Bu Kost tak beri tahu mereka kalau Adek tak kost lagi. Jadinya Bu Kost sendiri yang antarkan."
Latika tak mendengarkan betul kalimat Afriadi sibuk dengan hadiah di depan mata.
"Wow, piala, sartipikat."
"Adek dan tema Adek menang lomba cerdas cermat."
"Hilang sakitnya," bati Afriadi berkata.
Afriadi mengecek suhu tubuh Latika, tanganya menempel di dahi Latika.
Latika diam saja membiarkan Afriadi mengecek suhu tubuhnya.
"Aneh, banyaknya hadiahnya." Latika menghitung semua hadiah di tempat tidurnya.
Tring... Pesan masuk.
Grub 12 A.
------------------------------------------
-------------------------
Sania
Latika, semangat.
-------------------------
------------------------
Aril
Cepat sembuh ya.
------------------------
-----------------------------
Hana
Hadiahnya berlebihan ya?
-----------------------------
---------------------------
Salasiah
Itu dari kami. Berkat kau,
kelas kita juara umum.
---------------------------
----------------------------
Nana
Nanti kita rayakan makan
bersama di rumah Hana.
----------------------------
-----------------------------
Hana
Eh apa pula di rumah aku.
----------------------------
--------------------------
Nana
Yelah kau yang Masak.
--------------------------
__ADS_1
--------------------------
Sopi
Cepat sembuh ya.
π
--------------------------
------------------------
Dika
Cepat sembuh Latika.
------------------------
---------------------
Nadira
Lekas sembuh ya.
---------------------
----------------------------------------
Hadi Oneng.
Cepat sembuh Latika. Oh, ya jangan kecewa dengan nilai lapor kau. Semangat terus. βΊ
----------------------------------------
------------------------------------------
Latika membaca pesan dari grub, banyak kalimat do'a dan pesan Hadi menyadarkan Latika akan sesuatu.
Batin Latika berseru heboh,
"Nilai rapor." Ia menatap Afriadi.
"Adek."
Afriadi melihat raport Latika. Nada suaranya berirama.
Latika tersenyum gugup βοΉβ
Bayinya berkata,
"Aduh... Nilaiku hancur."
"Hah, belajar lagi." Afriadi memberikan raport padanya.
Latika melihat nilai raportnya, rengking 7.
Hatinya berseru lumayan ^_________^
"Ya. Berapa minggu liburan?" tanya Latika.
"2 minggu."
"Wah. Ja-"
"Tak ada jalan-jalan liburan ini Adek di rumah saja, belajar nilai Adek merosot terus."
Afriadi memotong kalimat Latika. Tahu apa yang Latika maksud,
"Sudah yuk, makan."
Lemah, Latika lemah dengar tak ada jalan-jalan, tak ada liburan. Padahal nilai Latika naik tidak turun.
Afriadi menghela nafas pendek tahu apa Latika kenapa,
"Hah, iyalah iyalah, kita jalan-jalan sebentar lalu sisa liburan Adek belajar. Oke."
Langsung segar Latika, matanya berbinar-binar.
"Yuk, makan." Afriadi menganjakanya makan, turun dari tempat tidur, memberikan tangannya.
Latika mengangguk menyambut tangan Afriadi, turun dari tempat tidur, mengikuti langkah Afriadi.
Afriadi tersenyum terus dari tadi, ada yang aneh dengan dirinya.
Hadiah 2
Ada yang aneh dengan Afriadi. Dari siang tadi sampai malam asik tersenyum terus. Bik Ipah saja heran.
Di dapur Sari yang mencuci piring habis makan malam, di bantu Latika dan Bik Ipah mengelap piring itu.
3 serangkai berkumpul membicarakan urusan negara pasal Afriadi <(οΏ£οΈΆοΏ£)>
"Non, ada apa dengan Mas Afri, dari tadi tersenyum terus? Aneh lah." Sari berkata seraya mengerjakan tugasnya mencuci piring.
"Em. Biasa aja." Latika tersenyum.
"Hati-hati Non," bisik Sari
"Hati-hati apa?" Latika menatap Sari.
"Sekarang kan libur, mana tahu-"
Belum selesai Sari menyelesaikan kalimatnya, Bik Ipah keburu memotong pembicaraannya,
"Jangan pikir yang macam-macam. Tuan tak akan sentuh sebelum nama dia dan Non tertulis di surat nikah. Apalagi Non masih sekolah."
Tanda tanya memenuhi kepala Latika. Arah tujuan pembicaraannya sudah mearah ke satu titik yaitu ehem ehem. Wajah Latika segera memerah, salah tingkah bayinya menjerit tak siap tapi Afriadi pasti meninggikan hari ini.
Dalam pikirannya terbayang Afriadi tersenyum dengan liciknya.
__ADS_1
Latika dilanda dilema.
"... Sudahlah jangan pikir yang seperti itu...
Jangan rasuki pikirannya dengan itu..."
Kalimat Bik Ipah tak terlalu banyak lagi Latika dengar, pikirannya sudah melayang-layang entah ke mana.
***
Jam 08:35 malam.
Latika di kamarnya main ponsel, duduk besila memeluk bantal di atas tempat tidur balas chat temannya.
Tiba-tiba..
Tring...
Pesan masuk dari Afriadi.
ββββββββββββββββββββ
Lak***
Dek, ke kamar Abang sebentar.
ββββββββββββββββββββ
Kalau di pesannya di baca secara ekpresif, itu terkesan datar gitu.
Mata Latika melotot membaca pesan itu, rasa gugup melandanya.
Ia membalas.
ββββββββββββββββββββββββ
Lak***
β°βΈ**********
ββββββββββββββββββββββββ
βββββββ
Ngapain?
βββββββ
βββββββββββββββββ
Ke sini saja dulu. Cepatlah.
βββββββββββββββββ
ββββ
Ya.
ββββ
ββββββββββββββββββββββββ
Peluh dingin keluar, panas dingin badan Latika teringat pembicaraan di dapur tadi.
Perlahan-lahan ia turun dari tempat tidur berjalan keluar kamar.
Gugup melandanya ketika ia sampai di depan pintu kamar Afriadi. Jantung Latika berdegup kencang, ia panik, takut sesuatu yang ia pikiran yang aneh-aneh akan menimpanya.
Tangannya gemertar memegang ganggang pintu, lalu mebukanya. Ketika pintu terbuka mata Latika tertutup, sebuah tangan menutupi matanya, hangat dirasanya.
Latika mau teriak namun terasa hembusan nafas di telinganya, terdengar bisikan.
"Huuuss.. Jangan teriak."
Latika kenal dengan suara ini, suara suaminya,
"Abang, gelap."
Latika memegang erat tangan Afriadi yang menutupi matanya.
"Jangan takut, ada Abang di sini. Terus jalan saja."
Latika nurut saja. Perlahan Afriadi melepas tangannya. Pandangan Latika tak jelas melihat di depannya, ada sosok yang duduk di kasur.
Kaget Latika lihat sosok besar, berbulu putih, dengan mata bulat hitam dan pita di telinganya.
"Suka tak?" tanya Afriadi gugup Latika tak menyukainya dari ekspresi kelihatan kaget.
"Suka."
Latika langsung menyambar hadiah Afriadi, memeluk hadiah dari Afriadi, yaitu sebuah boneka beruang betina yang besar, berbulu putih dan pita di telinganya. Baru kali ini ia dapat boneka sebesar ini hampir sebesar tubuhnya.
Cup...
Latika mencium boneka itu, gembira lah sangat.
Perlahan Afriadi mundur meambil sesuatu di laci, Ia mendekat kembali memeluk Latika dari belakang.
"Eh?" Wajah Latika memerah Jantungnya bukan main Degap Degup. Itu detak jantung bisa terdengar sama Afriadi sangking kerasnya dentumannya.
Perlahan Afriadi memberikan sekuntum mawar yang ia buat sendiri dari kain panel, susah payah ia membuat bunga itu sampai tangannya tertusuk jarum. Afriadi sempat saja menyisihkan waktunya di malam hari membuat mawar untuk hadiah.
Latika melihat di daunya tertulis.
"Selamat Dek, berjuang terus. Adek yang terbaik, Abang sayang Adek."
Senyum Latika merekah terhias di wajahnya, ia merasa terharu.
"Terimakasih."
__ADS_1
"Ha, sama-sama. Abang sayang dengan Adek."
"Ya, Adek juga sayang dengan Abang."