
Tap.. Tap.. Tap..
Langkah kaki menaiki anak tangga, suaranya menggema di langit-langit rumah.
"Ah. Mengapa dia tak mau makan?," guma Afriadi dalam hati, menaiki anak tangga menuju kamar Latika, membawa bingkisan.
Baru saja pulang ia mendapat kabar kalau Latika tak mau makan lagi, ia hanya makan sedikit saja pagi ini.
Tok.. Tok.. Tok..
Afriadi mengetuk pintu kamar Latika, pelan ia membuka pintu, masuk. Ia melihat Latika yang terbaring membelakanginya, berjalan mendekat.
Merasa ada yang masuk, Latika terbangun
"Siapa yang membuka pintu?." ia mencoba bangun, melihat siapa yang datang, susah payah ia berusaha bangun. Karena ia masih lemah sulit baginya menjaga keseimbangan saat ia bangun sehingga ia terjatuh dari tempat tidur.
Aaa... Jerit Latika, metanya tertutup.
Cepat Afriadi menangkap dia.
Latika membuka matanya, wajahnya merah melihat Afriadi menangkapnya, Latika mengalihkan pandangannya, berseru dalam hati, "Dia lagi."
Afriadi mengangkat Latika ke tempat tidur.
Ia duduk di tepi tempat tidur. Latika terus mengalihkan pandangannya ia meresa tidak sanggup untuk melihat Afriadi, entah kenapa saat ia melihat Afriadi ia teringat lagi kejadian malam itu.
"Kenapa tidak makan?," tanya Afriadi, menatap makanan di atas meja di depannya.
"Aku tak lapar," jawab Latika bohong, padahal ia lapar.
Kruuuukk...
Perut Latika demo angkat suara ketika ditawarkan makanan.
__ADS_1
"Aduh, perut ini berbunyi pula," sorak Latika dalam hati, malu ketahuan bohong di depan Afriadi, wajahnya sempat bersemu, malu.
"Oh, tidak lapar." Afriadi menyeringai, melirik Latika, mengoda.
"Tidak." Latika menggeleng, bohong.
Kruuuukk... Perut Latika berbunyi lagi, mengungkapkan kebohongan Latika, ia seakan-akan mengadu kalau ia lapar.
"Iiiiihh.. Perut ini," kesal batin Latika pada perutnya.
Afriadi menghela nafas. Mengambil makanan di atas meja, "Makan." ia menyorongkan makanan kepada Latika, menyuruhnya untuk makan.
Latika menggeleng tidak.
"Kau hanya makan sedikit hari ini, setidaknya kau makan sedikit lagi untuk isi perutmu yang kosong." Afriadi sedikit memaksa.
Latika menggeleng tidak.
Eh.. Cepat Latika mengambil merampas makanan dari tangannya, hatinya mengerutu kesal, "Pakai ancam segala."
Dengan gemetar Latika memegang sendok, susah payah ia memasukkan makanan ke dalam mulut, tak masuk masuk juga. Tangan Afriadi gatal melihat Latika yang susah memasuk kan makanan kedalam mulut rasa-rasanya ia ingin merampas sendok itu.
Afriadu menghela nafas, tangannya yang sudah gatal dari tadi, merampas sendok dari tangan Latika.
Latika terkejut dengan reaksi Afriadi.
"Buka mulutmu, Aaa..," ucap Afriadi menyorong sendok kemulut Latika, ia seriusan mau menyuapi Latika.
Latika memasang wajah judes, menggeleng tak mau.
Urat kesal Afriadi kelihatan, "Buka mulutmu, cepat." Afriadi memaksa.
Kruuuk... Perut Latika demo terus, minta makan, memaksa Latika untuk terima saja.
__ADS_1
Namun Latika susah di bawa kompromi, ia tetap menggeleng tidak mau.
"Buka mulutmu, cepat." Afriadi memaksa, raut mukanya terlihat tidak enak.
Takut sesuatu terjadi dengan dirinya, mau tidak mau Latika Ia menerimanya. Sesuap makanan sudah masuk ke dalam mulutnya, saat menerima suapan pipi Latika sempat merah di buatnya.
"Perasaan apa ini? Bahagia," guma Latika, hatinya merasakan sesuatu yang bahagia yang sudah lama ia lupakan.
Ini merupakan pemgalaman pertama Latika disuapi pria selain Ayahnya selama ini.
Selama disuapi Latika mengalihkan pandangannya begitu juga Afriadi, sesak rasanya dada, sesekali Latika mencuri pandangan, sekali ia mencuri pandangan matanya langsung bertemu membuat jantung tersengat.
Sedikit demi sedikit makanan berkurang di dalam piring. Lama kelamaan habis, tak sangka Latika bisa menghabisakan makanan sebanyak itu.
Tidak habis sampai di situ saja, Afriadi memberikan Latika air minum, membantunya minum, Latika tak bisa nolak, dia terlalu lemah untuk mengangkat gelas berisi air saja mustahil baginya. Jadinya ia terima, ia menganggap itu sebagai pertolongan saja.
Afriadi mengambil barang yang ia bawa tadi yang ia taruh di bawah lantai.
"Kau tidak punya ponsel lagi bukan? Ini untukmu." Afriadi memberi sebuah kotak kecil kepada Latika.
Latika mengambil kotak kecil itu, membukanya.
Hoh.. Mata Latika melotot melihat ponsel baru ada dalam kotak, "U-untuk saya?," suara serak Latika keluar.
"Ya, untukmu," ucap Afriadi berdiri dari tempat duduknya.
Latika membolak balikan ponselnya, mengelus-elus ponsel baru itu.
Afriadi berjalan keluar kamar, saat sampai didepan pintu, Latika menghentikan langkahnya dengan perkataan disertai suara seraknya, "Terimakasih."
Afriadi tersenyum tak terlalu jelas mendengar kalimat itu, melangkah keluar, menutup pintu kamar.
Latika megenggam ponsel itu erat-erat memeluknya.
__ADS_1