
Setelah berhari-hari Kelas 11 IPA A berlatih drama.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba.
Hari pementasan drama.
Kelas 11 IPA A berkumpul di Aula Sekolah, berpakaian layaknya karakter aslinya.
Para guru yang memiliki jam kosong pergi melihat drama, anak-anak Kelas sebelah yang gurunya tidak ada juga ikut berkumpul melihat drama.
Afriadi tidak mau ketinggalan melihat Latika beracting, kebetulan juga dia lagi jam kosong
Latika kelitan cantik sekali dengan mengenakan kostum putri salju berhijab, jilbabnya dibentuk sedemikian rupa seperti rambut putri salju. Ngomong-ngomong yang pasangkan jilbab Latika dan teman yang lainnya itu Salasiah dan Sinta teman sekelas, di bantu teman lainnya yang memiliki keahlian yang sama dengan Salasiah dan Sinta. Untuk kostum sendiri mereka dipinjamkan sama butik 'Saya Suka' tidak berbayar sebab anak pemilik butik itu teman sekelas dengan Latika, dia dapat peran yang cukup bagus jadi adik tiri cenderela.
Tidak kalah juga Hana kelihatan cantik juga mengenakan kostum Cenderela berhijab, jilbabnya dibentuk juga sedemikian rupa seperti rambut cenderela.
Kalau Nana kelihatan sangat mirip sekali dengan karakter ibu tiri Cenderela, bibirnya yang diberi warna maron.
Kalau Salasiah tambah mirip lagi dengan karakter penyihir atau ibu tiri putri salju, bibirnya yang diberi warna hitam mukanya yang dirias sangat mirip sekali. Toh dia sendiri yang merias jadi mirip.
Hadi juga tidak kalah gagah, dengan mengenakan kostum baju pangaran, dan pemeran lainnya juga tidak kalah menarik juga.
Para pemain bersiap-siap di belakang pentas.
"Wah... Hadi keren," puji Latika berdiri di samping Hadi.
"Benarkan. Haha... Malu jadinya. Latika juga tidak kalah cantik." Pipi Hadi bersemu, salah tingkah habis dapat pujian dari Latika.
"Heh... Gombal terus."
Hana tiba-tiba muncul di tengah mereka berdua menatap Hadi sensitip.
"Ada apa Hana?," tanya Latika.
"Tolong aku, pasangkan anting ini, terlepas tadi," sikap Hana berubah pada Latika jadi lembut.
"Sini." Latika mengambil anting di tangan Hana, "Bagaimana ini, pasangnya?"
"Di sini," tunjuk Hana dengan jari-jemarinya, walau ia tidak melihat.
"Di sini?" Latika menusukan tepat di tempat yang Hana tunjuk.
"Ya. Hati-hati jangan kau tusuk pula telinga aku..."
Hadi melihat mereka berdua, bukan lebih tepatnya melihat Latika, hatinya berseru, "Bilang sekarang atau tidak..."
Hadi memaikan jarinya.
Berhitung-hitung menungu waktu yang tepat.
Di ujug sana Salasiah dan Nana masih berlatih.
"Huahahahah..." Salasiah tertawa seperti buto ijo.
"Heh... Itu bukan tawa penyihir, tapi buto ijo. Bukanya sudah berkali-kali dibilang..." Nana menegur dengan menepuk pundaknya, yang di tepuk malah bertingkah. Mengulangi kesalahan Nana yang kesal menyumbat mulut Salasiah dengan tisu.
Akhirnya bertengkar.
***
Pementasan drama dimulai.
Kelompok satu, kelompok Cenderela.
Hana dan lainya menaiki pentas mulai bermain acting.
Hana bermain dengan baik, dari bahagia bersama dengan ayahnya, sedih kehilangan ayahnya orang yang sayangi, kesedihan dan siksaan yang diberikan ibu tiri dan saudara tirinya.
Nana juga tidak kalah bagus berperan sebagai ibu tiri Cenderela, ketika ia berbohong membolehkan Cenderela untuk ikut pesta pangaran malam ini
"Kau, boleh ikut. Tapi, kau harus menyelesaikan semua pekerjaan rumah...," kata Nana lengkap dengan gayanya.
Kelompok putri salju hanya melihat dari belakang pentas.
Memunculkan kepala masing-masing melihat kelompok Cenderela bermain.
Ini adegan yang paling Latika suka.
Di saat sepatu Cenderela terlepas di anak tangga kerajaan, ketika ia berlari di kejar pangaran.
Cenderala tetap kabur meninggalkan sepatunya, kembali pulang ke rumah.
Semua keajaiban peri menghilang dan Cenderela kembali menjadi gadis yang biasa saja.
Adegan terus berlangsung sampai akhirnya pangaran bertemu dengan Cenderela, dan hidup bahagia.
Tamat.
Akhir dari pementasan drama kelompok Cenderela mendapat tepuk tangan yang meriah, Afriadi juga ikut bertepuk tangan.
"Wah..." Latika ikut menepuk tangan juga dari belakang pentas.
Kelompok selanjutnya kelompok Putri Salju.
Kelompok drama Cenderela turun dari pentas, kelompok drama putri salju naik ke pentas.
Dak Dik Duk jantung para pemain berdegup kencang, rasa gugup datang melanda.
Latika mulai gugup, Afriadi yang berada jauh dari Latika merasakan hal serupa.
Afriadi meingat beberapa hari ini Latika berlatih dengan giat.
Sering ia jumpai Latika bicara sendiri, beracting dan Afriadi memperhatikan dari jauh.
Ada satu hari Afriadi tak tahu kalau Latika lagi acting di kamarnya.
Si Afriadi mau ajak Latika belajar bersama, ketika dia membuka pintu kamar di lihatnya Latika tergeletak di lantai sontak Afriadi langsung panik, mehampiri Latika, memangkunya. Matanya membulat sempurna, terkejut melihat Latika menatapnya malas, tangannya yang siap menepuk pelan pipi Latika urung ia lakukan. Afriadi sadar kalau Latika berlatih drama.
Plok... Plok... Plok...
Suara tepuk tangan memutus lamunan Afriadi.
Drama dimulai, Latika bermain dengan baik.
Salasiah juga tidak kalah bagus, ia seperti menghayati.
Adegan ketika Salasiah bicara dengan cermin ajaib, "Wahai cermin ajaib.
Siapakah wanita yang tercantik di negri ini?"
"Wahai ratu engkaulah wanita tercantik di negeri ini," ucap salah seorang siswa yang berada di belakang cermin besar, yang berperan sebagai cermin ajaib, "Tapi, Ada tapinya Ratu."
"Tapi apa?,"
"Mau tahu?"
"Iya."
"Mau tahu atau mau tahu bangat."
"Kelihatanya bosan hidup ini cermim ajaib.
Mau aku hancurkan kau berkeping-keping."
"Eh... Jangan Ratu."
"Nanti kalau saya hancur anak istri saya makan apa?"
"Memangnya kamu punya istri?"
"Em... Tidak. Masih proses."
"Jangan main-main, ya."
"Bercanda Ratu. Wanita yang tercantik itu adalah putri salju."
Wajah Salasiah berubah marah.
"Apa? Hah... Sakit hati ini.
Masih ada juga yang bisa menandingi kecantikanku," gaya lebay Salasiah.
"Saya lebih sakit lagi."
"Emang cermin bisa sakit?"
"Bisalah."
"Sakit apa?"
"Sakit hati dapat Tuan seperti ini."
Hahaha...
Tawa penonton, disertai tepuk tangan.
Kelompok putri salju ini memang agak berbeda, mereka menambahkan unsur komedi agar tidak terlalu bosan, cerita putri salju ini terlalu banyak yang sudah tahu jadi tidak asik lagi ceritanya, makanya mereka mengubah sedikit ceritanya agar kelihatan memarik.
Drama tetap berlanjut.
Latika memainkan peran dengan baik dan para pemain lainya, sejauh ini berjalan dengan lancar.
Adegan yang paling disukai ketika sang Ratu memerintakah salah seorang pengawal untuk membunuh putri salju.
"Pengawal!"
__ADS_1
"Pengawaaaall !!!"
"Panggil kepala pengawal !"
Salasiah memerintah pengawal yang bisertai mulutnya yang ikut terlipat-lipat tak berbentuk lagi.
Para penonton tertawa melihat Salasiah.
"Iya, Ratu."
Salah seorang siswa yang berperan sebagai kepala pengawal, keluar.
"Dari mana saja kau? Sampai kau tidak menjawab panggilanku."
"Maaf Ratu, tadi saya lagi ngopi."
"Apa ngopi? Ngopi lebih penting dari Ratu mu ini."
"Ya, iyalah."
"Apa kata kau ulangi sekali lagi?"
"Eeee... Ratu ada apa memanggil saya?" Kepala Pengawal mengalihakan pembicaraan.
"Aku perintahkan kau untuk membunuh putri salju."
"Apaaaa?"
Gaya terkejut pengawal yang berlebihan, mengundang tawa penonton, "Ratu menyuruh saya membunuh tuan putri."
"Ya. Kenapa?
Apa kamu tidak mau?"
"Eeee..." Kepala Pengawal berpikir dua kali.
"Atau keluargamu yang akan jadi sasarnya."
"Ah... Jangan Ratu. B-baik Ratu saya akan melakukan perintah Ratu."
Seperti yang kalianketahui pengawal itu benar-benar membawa putri salju ke hutan untuk dibunuh. Tapi, karena tidak tega pengawal memberitahu yang sebenarnya pada Putri Salju dan melepaskan putri salju, membiarkan putri salju pergi.
Putri Salju tersesat di hutan tidak sengaja menemukan rumah kecil yang isi di dalamnya terdapan barang-barang yang kecil, karena lelah putri salju tertidur di tempat tidur kecil tersebut.
Hadi melihat Latika bermain dari belakang tirai merah, menunggu giliranya bermain.
Hati Hadi berkata, "Hebat. Ya Allah, berikan keberanian kepada hamba untuk menyatakan perasaan ini."
Sedangkan Afriadi juga dari tadi melihat Latika bermain, ia hanya fokus pada Latika tidak dengan pemain lainya.
"Bisa juga Adek beracting," batin Afriadi berkata.
Semua suka dengan cara bermain Latika. Tapi, ada juga yang tidak suka.
"Cih... Acting yang jelek, aku bisa lebih bagus dari itu," gerutu Kina tak suka dengan Latika.
Setelah Latika berpura-pura tertidur, para pemain yang berperan sebagai Kurcaci datang.
Para Kurcaci terkejut melihat Putri Salju, dan membangunkan Putri Salju.
Seperti yang kalian ketahui para Kurcaci awalnya tidak menerima Putri Salju untuk tinggal bersama dengan mereka. Tapi, akhirnya mereka menerima Putri Salju setelah Putri Salju menceritakan semua yang ia alami.
Tentu tinggal dengan Kurcaci tidak gratis, Putri Salju harus mengurus Rumah dan memasak untuk mereka.
Salasiah berdiri di depan cermin ajaib bertanya siapakah wanita tercantik yang ada di negri ini.
Ketika sang cermin ajaib menjawab dengan jawaban yang sama, Putri Salju lah wanita tercantik di negri ini, sang cermin ajaib memberitahukan kalau putri salju masih hidup, betapa terkejutnya Ratu mendengar kalau Putri Salju masih hidup.
Ini dia adegan yang ditunggu-tunggu penonton.
Ketika para kurcaci pergi meninggalkan putri salju sendiri di Rumah.
Ratu datang menyamar sebagai nenek-nenek dan memberikan apel kepada Putri Salju.
"Eh... Nenek. Ada apa nek?"
"Ini." Salasiah memberikan
"Nenek mau memberikan apel yang berkualitas kepada cucu."
"Ha... Untuk saya nek?"
"Iya, siapa lagi kalau bukan kamu, emangnya ada orang lain di sini?"
"Tapi inikan apel berkualitas punya nenek, saya tidak pantas untuk menerimanya, saya juga tidak punya uang."
"Tidak apa-apa ini nenek sedekah, lumayan untuk menambah amal nenek, nenek sudah tua berbau tanah sudah dekat dengan ajal."
"Terimakaih, ya Nek." Latika mengeluarkan suara lembutnya.
Putri Salju memakan apel yang di berikan, baru sekali gigit Putri Salju meras tercekik.
Ratu yang menyamar sebagai nenek-nenek berubah ke wujud aslinya, tertawa dan pergi
"Ahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha..." Salasiah sengaja tertawa panjang sampai ia tidak ada di panggung.
"Egh..."
Putri Salju terjatuh, terbaring tidak berdaya. Latika melakukannya sama dengan latihannya di Rumah yang keperhok Afriadi.
Tidak lama kemudian Kurcaci pulang, bertapa terkejut mereka melihat Putri Salju terbaring tidak bergerak walau berkali-kali dibangunkan.
Sebagai pemghormatan Para Kurcaci membuatkan peti dari kaca. Properti peti mati dari kaca itu, bukan kaca benaran melaikan plastik.
Tangisan Para Kurcaci tumpah.
Ini dia giliran Hadi keluar ikut berperan.
Dak Dik Duk jantung Hadi berdetak kencang.
"Hadi semangat, Hadi. Perhjuangkan.*
Sahril dari tadi menemai hadi di belakang tirai merah, kebetulan juga ia tidak belajar, gurunya tidak ada.
"Oke. Bantu do'a, ya?"
"Aman.
Tengan saja."
"Bismillahhirahmanirahim." Hadi melangkah.
Tap... Tap... Tap...
Suara langkah kaki mengema di langit-langit Aula, siapa yang mendengar membuat rasa penasaran akan suara langkah kaki siapa itu. Kapala para penonton panjang-panjang ingin lihat,
Pangeran dari negeri seberang keluar dari balik tirai. Gagah, tampan, berkarisma, tapi sayang botak rambut Hadi kayak rumput yang baru tumbuh.
Tasss...
Seperti ada sengatan listrik yang menyengat Afriadi.
"Egh..." Afriadi menyadari sesuatu, batinya berseru,
"Tunggu dahulu, Kalau tidak salah dalam cerita ini, Putri Salju akan dibangunkan dengan cara di cium.
Artinya Adek... Dan dia akan...
Tidak ini tidak boleh terjadi."
Afriadi bengkit dari tempat duduknya, berjalan cepat menuju belakang pentas.
"... Wahai Putri betapa malangnya engkau, izinkan aku membebaskan kau." Wajah Hadi mulai mendekat.
Hati para penonton sudah berdebar-debar menunggu adegan ini.
Semakin mendekat.
"Perasaanku tidak enak," guma hati Latika.
Tiba-tiba...
BAASSS...
Tangan Afriadi menyambar mulut Hadi, menutup. Membuat Hadi terkejut, dan para penonton terkejut. Mata mereka membulat sempurna.
Latika merasa ada angin yang menerpa wajahnya, menyeringit.
"Aduh... Gawat," kata Sahril di balik tirai merah.
"Kenapa?"
"Wah... Kenapa ini?"
"Bagimana kepala sekolah bisa ada di sana?"
"Apa kepala sekolah ikut bermain juga?"
"Apa yang terjadi ini?"
"Kenapa Bapak bisa ada di sana?"
"Bapak ingin ikut berperan juga?"
"Gawat."
__ADS_1
Siswa Siswi sibuk bertanya-tanya.
Laila yang duduk tak jauh dari murid-muridanya untuk beri penilaian, bertanya dengan hatinya, "Kenapa Pak Afriadi bisa ada di sana?"
Merasa tidak ada yang beres Laila menghampiri Afriadi, dan guru yang ada di sana menenangkan Siswa Siswi yang ribut.
Para penonton sibuk bertanya-tanya.
Merasa suasana menjadi ribut Latika membuka matanya, ia terkejut melihat Afriadi berdiri berhadapan dengan Hadi.
Latika juga bingung.
Tampang Afriadi kelihatan marah.
Dia bangun dari baringnya.
Hadi menatapnya dan Latika membalas tatapan Hadi penuh dengan pertanyaan.
"Abang," guma Latika pelan kayak tak bersuara, menarik sedikit lengan baju Afriadi merasa bajunya ditarik, Afriadi menoleh ke arah Latika yang berada dalam peti mati, melepaskan tangannya dari mulut Hadi.
Latika menatapnya penuh pertanyaan.
Afriadi merasa bersalah mengacaukan pertunjukan mereka, apa lagi Latika sudah giat berlatih. Tapi dia tidak bisa membiarkan Latika di sentuh peria lain.
"Apa-apaan ini, kau mau mencium dia," bentak Afriadi membuat Latika, para pemain, dan penonton terkejut.
Para penonton menjadi diam medengar perkataan Afriadi.
Saling berbisik satu sama lain.
"Bapak beneran ikut berperan ya."
"Kelihatanya."
"Tapi dalam cerita Putri Salju tidak ada pelakor."
"Ini cerita di ubah mereka mungkin."
Ada juga Siswi yang menambah cerita pada temannya,
"Jangan-jangan Putri Salju itu sudah menukah di masa depan dengan peran yang Pak Afriadi ambil dan Putri Salju kembali ke dunia dia. Lalu itu cowok datang ke dunia Putri Salju ingin membawanya kembali dan Putri Salju syok lihat dia."
"Oooh..." Dapat anggukan dari temannya, percaya.
Tidak ada yang turun tangan kecuali Laila dan guru lainnya yang ada di sana, semua duduk manis, ribut. Melihatkan mereka sangka Afriadi ikut berperan juga. Sedangkan pemain lainnya tidak berani ikut campur.
Hadi di depan sana menjawab terbata-bata, "... Ti-tidak, s-saya ti-tidak akan me-melakukanya. Ta-tadi itu h-hanya berpura-pura Ba-"
"Berpura-pura apa maksudmu?
Jelas-jelas kau benaran akan menciumnya." Afriadi mecengkram kerah baju Hadi dengan tangan kirinya.
"Eeee..." guru yang dari kejauhan, menahan Afriadi. Sahril yang lihat itu cepat turun tangan tidak peduli yang dia hadapi Afriadi Kepala Sekolah, dia hanya ingin membela temannya.
"T-tidak Pak," takut-takut Hadi mencoba menjelaskan, "Jadi begini muka saya memang mendekat ke muakanya Latika tapi ke arah samping, sehingga terlihat seperti benaran-"
Afriadi mengenggam erat tangannya, bersiap untuk meminju muka Hadi. Latika menahan dengan menarik sedikit lengan baju Afriadi, yang di tahan menatap Latika dengan tatapan penuh emosi Latika tidak membalas tatapan Afriadi ia lebih memilih menundukkan kepalanya penuh dengan arti. Afriadi tahu Latika tidak mau gara-gara emosi rahasia mereka kebongkar.
Afriadi melepas cengkramannya,
"Jadi sama saja kau mencari kesempatan bukan. U-"
Laila memotong kelimat Afriadi, "Pak Afriadi ini hanya drama.
Bapak mohon mengerti."
Laila menaiki panggung, menarik lengan Afriadi mencona membawanya turun, "Mereka hanya beracting Pak."
Sahril sudah berada di belakang Afriadi ingin menghampiri Hadi, tapi Hadi menggeleng melarangnya menyuruh kembali. Sahril mengikuti perintah Hadi.
"Tapi, tidak seperti itu juga... Seharusnya adegan seperti ini diganti saja dengan adegan lain atau dilewatkan saja... Tidak ada pelajaran yang dapat di arti..." Afriadi mengomel suaranya.
Kepala penonton panjang-panjang asik melihati yang mereka sangka drama.
Bahkan ada yang menambah-nambah cerita. Guru yang ada di sana menenangkan mereka semua.
"Maaf Pak," kata Hadi menundukkan kepalanya.
Drama mejadi di luar kendali.
Afriadi berhasil di bawa turun, dan drama dilanjutkan di luar dugaan, bukan drama Putri Salju lagi, tapi drama Putri Salju di tembak versi Hadi.
Hadi memegang tangan Larika. Latika yang memperhatikan Afriadi pergi terperanjat terkejut dibuatnya.
Latika menatap Hadi penuh tanda tanya.
"Latika." Hadi menatap mata Latika, terbata-bata ia bicara, "I-ni su-sudah l-lama se-sekali a-aku pe-pendam."
Mereka berdua menarik perhatian semua, bahkan guru-guru yang ada di sana juga ikut tertarik. Mereka semua menduga kalau Hadi akan menembak Latika.
"Apa yang Hadi lakukan sekarang?," tanya Hana di balik tirai merah.
"Entahlah." Nana meangkat bahu tidak tahu, "Apa ini masih berlanjut?"
"Gilaaa... Tidak mungkin." Salasiah menyadari sesuatu.
"Tidak mungkin apa?," tanya Nana menoleh ke sebelah kiri, melihat Salasiah.
"Ha-Ha-Hadi..." Salasiah tergagap-gagap menunjuk Hadi.
"Iya kenapa, Hadi?," tanya Nana geram.
"Ha-Hadi-"
"Hadi akan menembak Latika."
Sahril datang menyambung kalimat Salasiah.
"Apa?" serempak mereka bertiga terkejut.
"Tapi, Latika sudah punya pacar," kata Nana.
"Apa?" Kali ini gantian Sahril yang terkejut.
"Iya, pacarnya bujang lapuk," kata Salasiah.
"What?" Sahril terperanjat terkejut mendengar kata Salasiah, tidak percaya kalau Latika pacaran dengan bujang lapuk, dalam pikirannya Latika kekurangan uang sampai mau menjadi pacar bujang lapuk.
Sahril menatap Hadi khawatir.
"Latika aku, a-aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu, Aku sangat mencintai dirimu." Hadi meunhkapkan perasaannya, "I LOVE YOU."
"Kyaaaa.... Dia benaran menembak," teiakan histeris para Siswi.
Air mata Latika menetes, tangannya terlepas sebelah menutup mulutnya.
"Maukah Kau menjadi pacarku?"
Hadi bertekuk lutut, berharap penuh padanya.
"Wah..." Para penonton kagum melihat Hadi menyatakan cintanya.
Mulut Kina terbuka lebar, mengeleng kepala. Tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Afriadi yang baru turun, berhenti melangkah membalikan badanya melihat Hadi dan Latika.
"Terima... Terima... Terima... Terima... Tetima... Terima..."
Para penonton bersorak heboh menyuruh Latika untuk menerima Hadi, disertai tepukkan tangan.
"Jangan dek," batin Afriadi berseru jangan disertai dengan gelengan kepala.
"Kenapa kau baru bilang sekarang?"
Latika tersedu menangis. Ia benar-banar tidak percaya, pria yang ia kagumi selama bertahun-tahun menembaknya hari ini. Semua sudah terlambat sekarang Latika sudah mempunyai Suami, pria yang ia cintai saat ini.
Hadi menjawab penuh percaya diri, "Aku tidak memiliki keberanian saat itu."
Mata Afriadi merah.
Ia kehabisan kata-kata, tidak menyangka kalau Latika akan mengatakan itu, walau hanya sebuah pertanyaan. Kesannya dia seperti terpaksa mencintai dan menjalani hidup dengan dirinya.
Tidak perlu mendengarkan sambungan kata Latika Afriadi bergegas pergi meninggalkan Aula.
Latika sempat di serang rasa bimbang memilih Hadi yang jelas selama ini ia kagumi berharap Hadi akan peka dan menembaknya atau tetap bersama Afriadi menunggu dia menyatakan perasaannya pada Latika.
Hadi anak orang kaya, penerus dari perusahaan Ayahnya. Jika dia jadian dengan Hadi pun hubungan mereka dapat lampu hijau dari orang tua Hadi. Toh, setiap kali Latika ke rumah Hadi pasti di sebut 'menantu' sama orang tua Hadi. Tapi, jika hanya pacaran belum tentu Latika akan jadi Istri Hadi, lagian mendekati perzinahan. Kalau Afriadi, walau dia tidak mengungkapkan perasaannya pada Latika, tapi dia Suami sah Latika. Kenapa kejar yang haram sedangkan yang halal sudah ada.
"Hadi terimaksih telah mencintaiku, menyimpan rasa selama ini kepadaku.Tapi, maaf...
Sungguh aku minta maaf, aku tidak bisa membalas cintamu." Latika melepas tangannya dari Hadi, "Aku sudah memiliki pacar."
"Latika terima saja, bujang lapuk itu lupakan saja, dia lebih baik dari pada bujang lapuk," teriak Salasiah dari balik tirai merah.
"Oh." Hadi hanya ber-oh pendek. Ia tidak bersemangat lagi, mentalnya terpukul hancur, hatinya juga ikut hancur bagaikan kaca retak seribu.
"Maafkan aku Hadi." Latika menundukkan kepalanya, matanya memerah meningat kejadian itu lagi, dia benar-benar telah suka sama Afriadi dan perkataan Pak Imam ada benarnya juga, "Sungguh maafkan aku. Hiks... Aku tidak bisa berbuat apa-apa, dia segalanya bagiku."
"Kalau begitu maaf juga sudah membuatmu..." Hadi tak meneruskan kata-katanya.
Hadi bangkit berdiri menghadap latika, dia kelihatan lemah sekali.
Para penonton tidak bisa berkutip sedikit pun.
Di saat semua tak berkutip Kina malah cengar-cengir tertawa dalam hati puas
__ADS_1