
Dalam perjalanan Afriadi dan Latika menuju tempat pesta pernikahan Viana dan Nandi sehari sebelum pesta.
Mereka mengadakan pesta di luar kota, di Hotel xxx yang berluansa elit. Satu hotel di siapkan khusus pesta dan kamar untuk para tamu untuk yang khusus.
Jangan tanya kok bisa, lah pemilik Hotelnya Nandi.
Hampir saja mereka lupa dengan pernikahan Viana dan Nandi. Pagi tadi sebelum berangkat.
Afriadi masih tidur di kamarnya pulas, pagi ini ia tak mau olahraga mau tidur ngantuk malam tadi tak bisa tidur.
Dreett...
Ponsel Afriadi bergetar di meja kecil sebelah tempat tidur.
"Siapa yang nelpon pagi - pagi begini?"
Afriadi terbangun dari tidurnya, meraih ponsel yang dari tadi getar terus.
Matanya masih tertutup, mengusap rambut, menggeser tombol terima panggil.
Ia tak baca lagi nama nomor yang masuk asal angkat saja,
"Hallo."
"Af!!!"
Mata Afriadi langsung melek mendengar suara teriakan Viana dalam ponsel memanggilnya.
Langsung terbangun Afriadi, kaget. Nyawanya cepat masuk kembali absen hadir semua.
"Lo sekarang dimana? !!!"
"Di rumah."
"Apa !!! Aduh, Af lo tega jadi teman."
"Ada apa?"
"Besok aku nikah !!! Nikah!!! Kau janji akan datang bersama Latika. Sekarang kau belum datang.
Kau ini temanku apa bukan sih."
Afriadi mengusap wajah turun ke penghulu leher, ia benar-benar lupa masalah itu,
"Astaghfirullah, aku lupa vi. Yalah, kami berangkat sekarang."
Cepat Afriadi mengakhiri panggilan sebelum Viana merusak spiker ponselnya dengan suaranya yang nyaring.
Cepat Afriadi keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga, menemui Bik Ipah yang lagi mengemas dapur, meminta Bik Ipah mengembas bajunya.
Ia kembali naik lagi ke atas, mengetuk pintu kamar Latika.
Tok.. Tok.. Tok..
"Dek." Afriadi memanggil, tapi tak kunjung ada jawaban.
Tak mau memperlambat waktu lagi, ia masuk saja, menghampiri Latika yang tidur nyenyak terbungkus selimut.
"Dek, bangun De."
Afriadi menguncang Latika.
Merasa ada yang mengguncang, Latika terbangun, "Em.. Ada apa Bang?"
"Cepat bersiap," perintah Afriadi dengan nada mendesak.
Latika yang separuh sadar tak berapa nyambung betul, kepalanya dipenuhi tanda tanya,
"Ha?"
"Kita mau pergi ini." Afriadi mengguncang tubuh Latika sekali lagi.
Latika mengerutkan dahinya melihat Afriadi dengan mata yang sipit berat mau di buka,
"Pergi? Ke mana?"
"Ayo cepat." Afriadi mendesak.
"Adek ngatuk. Adek mau tidur." Latika kembali memejamkan matanya.
"Tidur di mobil saja. Ayo cepat bersiap. Adek lupa ya, besok resepsi pernikahan Viana."
__ADS_1
Latika melek, berusaha duduk dengan benar,
"Pernikahan kak Viana."
"Iya. Yuk, bersiap.
Kita berangkat sebelum siang."
Cepat Latika meranjak turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Afriadi keluar juga siap-siap.
Bik Ipah mengemas baju mereka memasukkan ke dalam koper, di bantu Sari.
Sesudah sarapan mereka berangkat.
Sesudah sarapan mereka berangkat.
Seperti kata Afriadi tadi. Latika tidur selama perjalanan. Latika kurang tidur malam tadi, gara-gara terlalu senang mendapat hadiah dari Afriadi, padahal hanya boneka beruang. Itulah yang ia peluk malam tadi tahu-tahunya ia tak bisa tidur.
Perjalanan yang panjang.
Akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan.
"Dek Dek, bangun dek." Afriadi membangunkan Latika dengan cara menepuk bahu Latika.
"Em, sudah sampai?" Latika terbangun.
"Sudah. Yuk, turun." Afriadi membuka sabuk pengamannya, membuka pintu mobil, keluar.
"Hoh." Latika mangap, membuka pintu mobil keluar.
JRENG...
Latika melotot melihat hotel besar berdiri gagah di hadapannya.
"Bang, ini tempatnya?" tanya Latika menutup pintu mobil perlahan. Baru bangun tidur sudah di kejutkan dengan ini semua.
Afruadi memberikan kunci mobilnya pada resepsionis untuk memarkirkan mobilnya.
Koper mereka di bawakan. Di depan pintu Viana sudah berdiri menunggu mereka.
"Akhirnya sampai juga. Aku kira kalian tidak datang." Viana menatap malas Afriadi.
Namun sebaliknya manis dengan Latika.
Afriadi melarikan pandangannya tak berapa suka lihat Istrinya di peluk orang lain.
Viana tahu ekspresi itu menatap tajam Afriadi. Afriadi melirik Viana tersenyum terpaksa, ngeri-ngeri sedap lihat ekspresi Viana.
Latika bingung ada apa dengan mereka berdua.
"Lelah ya, tika?" tanya Viana lembut.
"Tidak."
"Kalau gitu, ikut kakak yuk," ajak Viana.
"Ke mana?" Latika bertanya balik.
"Ikut saja. Aku bawa dulu ya, adeknya."
Viana membawa Latika, entah kemana. Afriadi pasrah saja lihat Istrinya di bawa.
"Af. Apa kabar?" tanya Nandi keluar dari gedung raksasa itu, menyambut Afriadi.
"Alhamdulillah, baik."
"Ayo masuk, kita bicara di dalam," ajak Nandi.
Afriadi ikut saja, mengikuti calon pengantin itu.
Selang beberapa menit Qilan masuk ke gedung raksasa itu, ia melihat Afriadi dan Nandi di hadapannya.
"Yo, yang akan nikah."
Paakk..
Qilan tiba-tiba muncul di tengah-tengah menepuk kuat punggung Nandi.
"Selamat ya."
Paaak.. Paaak.. Paaak..
__ADS_1
Berkali-kali Qilan menepuk punggung Nandi.
"Sakit Qi." Nandi mengusap punggungnya.
"Ciee.. Ciee.. Yang akan nikah besok." Qilan meledek Nandi.
Yang di ledek, menggaruk hidung, tersenyum tipis, "Aku juga tak mengira kalau aku akan menikah besok, aku kira masih lama lagi.
Bahkan aku merasa, seakan bukan aku yang menikah besok."
"Kau gugup?" Afriadi menyela.
"Ya, sedikit." Nandi meletakkan tangan kanannya di dada merasakan detak jantung yang sangat kecang, gugup.
Qilan merasa iri dengan dua sahabatnya yang sudah menempuh hidup baru, sedangkan dia masih sama seperti dulu, lembaran barunya belum terbuka,
"Hahaha, sepertinya hanya tinggal aku dan Hasan saja lagi yang belum nikah. Kalian semua sudah menikah.
Apa lagi Afriadi, yang tak terduga sama sekali."
"Hahaha.. Jodoh." Nadi gelak tertawa.
Afriadi terdiam ia mengingat do'anya saat itu dan niatnya saat itu. Pintu hatinya benar-benar terbuka.
Sepanjang jalan mereka becanda. Para pelayan hotel yang melintas memberi hormat pada mereka.
***
Waktu terus berjalan, tak terasa sudah malam. Afriadi pergi mencari Latika.
Ia sudah menelpon Viana.
Viana bilang mereka ada di kamar rias pengantin yang kusus di buat.
Afriadi menuju ke sana.
Tok.. Tok.. Tok..
Afriadi mengetuk pintu kamar, di buka sama pelayan, dia mempersilahkan Afriadi masuk.
Tanpa di suruh dua kali Afriadi langsung masuk, di sana ia melihat Latika duduk di sofa di sebelah Viana.
"Latika, yuk. Sudah malam," ajak Afriadi.
"5 menit lagi," kata Viana.
"Sudah malam Vi. Adek mau istirahat."
"Yah, panglima sudah manggil. Padahal mau curhat banyak dengan Latika." Viana menggembungkan pipinya.
"Kakak jangan lupa istirahat ya," pesan Latika.
Viana mengangguk.
"Vi, jangan di pikirkan betul. Bawa santai saja. Dia tadi juga gitu." Afriadi seakan tahu apa yang di rasakan Viana, terlihat jelas dari ekspresi wajahnya, tegang dan gugup.
"Apa dia sudah-"
"Ya." Afriadi memotong kalimat Viana seakan tahu kelanjutan kalimat itu apa.
Latika hanya diam dengarkan saja, ia tak nyambung dengan pembicaraan.
"Oh." Viana meangguk.
"Sekarang kau yang harus istirahat, besok hari yang panjang," pesan Afriadi.
"Selamat malam, kak." Latika bangkit dari tempatnya duduknya.
"Ya."
"Yuk, Dek," ajak Afriadi.
"Oh, iya Af. Jangan ganas ya." Viana menggoda mereka, menyeringai lebar.
"Hem??? Ganas apa?" tanya Latika, bergantian melihat Afriadi dan Viana.
Afriadi melirik Viana, bisa-bisanya ia menggoda lagi.
"Sudahlah, ayo pergi." Afriadi menarik tangan Latika membawanya pergi.
Pelayan yang ada di sana tertawa tertahan.
__ADS_1
Latika tak banyak tanya lagi, tahu kalau Afriadi tidak suka dan malas menjawab sudah terlihat dari raut wajahnya.