Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Rencana


__ADS_3

Ketika Afriadi memakan masakan Latika.


Raut muka Afriadi terkejut, matanya melotot saat suapan pertama.


Merasakan masakan yang Latika buat.


"Harus habiskan makanan ini...


Dia sudah susah payah membuat ini untukku. Walau... Asin, tapi harus dihabiskan."


Jadi dia memutuskan untuk tidak berkomentar, dan lebih memilih untuk menghabiskan makanan yang ada di piringnya, demi menjaga perasaan Latika dan menghargai masakan yang Latika susah payah ia buat.


Afriadi tersenyum melihat Latika, dan melanjutkan makannya.


Dengan susah payah Afriadi menghabiskan makanan itu sampai tersedak - sedak


Latika yang melihatnya tersedak, segera memberi ia air teh yang Latika buat.


Ketika ia meminumnya, raut mukanya berubah, matanya berkedip - kedip.


"Manis... Madukah ini," seru Afriadi dalam hati. Perutnya sudah terasa lain.


Makanan yang asin, minuman yang terlalu manis, komplit betul sudah.


Setelah selesai makan Afriadi bergegas pergi, karena ia tidak bisa lagi menyembunyikan.


Afriadi yang pergi dengan berjalan terhuyung - huyung, seperti mabuk


Latika melihat ia berjalan menjauh darinya, dan menghilang di balik dinding.


Ternyata dia bersembunyi di balik dinding menguping pembicaraan Latika.


Ekspresi Afriadi terlihat sedih juga, mendengar pembicaraan mereka, terutama isakan tangisan Latika.


Dreeetttt....


Telpon masuk di ponsel Afriadi.


Ia melihat telpon dari siapa yang masuk, ternyata dari Hasan

__ADS_1


Afriadi pergi menjauh dari tempat sembunyinya. Setelah sekian jauh berjalan, ia mengangkat telpon tersebut.


"Hallo. Begaimana masakan Istrimu?." pembukaan yang bagus Hasan, kau langsung masuk ke inti pembicaraan yang melelahkan untuk Afriadi jawab.


"Em ... Seperti itulah." Afriadi menjawab lemas.


"Emm... Biar ku tebak, masakanya pasti...


Aaaaaaaasiiiin."


"Dari mana kau tahu? Kau memata mataiku ya."


"Ya... Engaklah, untuk apa aku memata-matai kau, lebih baik aku memata matai pacarku," sahut Hasan.


"Jadi dari mana kau tahu?."


"Ah... Bukanya sudah aku bilang kalau aku hanya menebak saja.


Sebenarnya Itu biasa, kalau masakan para wanita itu terasa asin, karena mereka baru belajar. Adiku juga begitu dulu saat ia masak aku selalu takut untuk memakanya, karena asin bagaikan makan nasi dengan sebubungkus garam..."


"Apa sudah bicaranya." Afriadi terlihat kesal, nadanya bicaranya sedikit di tekankan. Kata-kata Hasan menusuk tembus telinganya.


"Em... Begitulah." Afriadi melirik ke arah dapur, ekspresinya ikut sedih.


"Hy!... Apa yang kau lakukan, hibur dia," sergah Hasan, tahu saja kalau Afriadi tidak bertindak apa-apa.


"Hibur..." Afriadi sudah lama tidak menghibur wanita, apa lagi setelah kepergian dia, Naila. Ia sudah tak tahu lagi bagaimana menghibur wanita yang lagi sedih.


"Ya... Lah... Kau hibur dia," paksa Hasan.


"Hemmm... Hibur..." Afriadi kebingungan mau menghibur Latika dengan apa.


"Hibur dia dengan apa yang dia suka," suara Hasan sedikit di tekan pada ujung kelimat.


Emmm... Afriadi berpikir, apa yang Latika sukai?


"Tunggu - tunggu....


Apa kau tidak tahu apa yang dia sukai?."

__ADS_1


"Ah... Jujur aku tidak tahu, Soal itu." Afriadi menjawab jujur, dia emang tidak tahu apa yang Latika sukai, bicara panjang lebar saja jarang. Bagaimana tahu apa yang Latika sukai.


"Astagufirullah...


Suami macam apa kau ini, tidak tahu apa yang Istrimu sukai. Em... Begini saja.


Kau ajak dia jalan - jalan makan angin, atau ke suatu tempat kah," usul Hasan.


Afriadi tersenyum mendengar usulan Hasan, kepalanya meangguk-angguk, "Ah... Benar sekali, aku membawanya jalan - jalan, terus nanti kalau di jalan aku ketemu anak muridku bagaimana?. apa yang harus kubilang pada mereka?.


Dan lagi, aku yakin dia pasti tidak mau juga, kau tahu keadaan kami sekarang seperti apa."


"Ah... Benar juga ya. Ah, apa yang kau khawatirkan, kau tinggal pakai masker, dengan begitu anak muridmu pasti tidak akan mengenali dirimu, palingan mereka hanya mengenali latika, dan mengira kalau kau pacarnya. Lagian kau juga jarang dekat dengan dia. nah, sekaranglah saatnya kau PDKT dengan dia," ide cermerlang Hasan bagus juga.


"Em... Kau benar juga,


Terimakasih."


"Sama sama. Em... Kau mau bawa dia ke mana?."


"Adalah." Afriadi merahasiakan, ia ingat tempat yang bagus untuk membawa Latika jalan-jalan.


"Aaaa... Aku usulkan sih, bawa dia ke mall. Yah... Biasanya semua cewek suka pergi ke sana..." lagi-lagi Hasan memberi usulan pada Afriadi, yang di beri usulan mau menjawab keburu di potong dengan Panggilan Bik Ipah yang tiba-tiba datang, "Tuan..."


"Em... Sudah dulu ya,


oh ya Terimakasih."


Tut ... Afriadi memutuskan panggilan, memasukan ponselnya dalam saku celana, membalikkan badan menghadap Bik Ipah, ternyata ada Mang Juneb juga, "Ada apa Bik?."


"Em... Ini soal bisik - bisik tetangga," kata Bik Ipah mengecilkan suara agar Latika tak mendengar kata-katanya.


Mang Juneb ikut mengecilkan suara, "Benar tuan, saya juga terus ditanya - tanya sama ibu-ibu sekitar sini. Mereka melihat Non yang keluar masuk rumah ini, sudah ada beberapa gosip yang beredar..."


"Bibik sudah mau beritahu ini dari kemaren tapi tuan kelihatan sibuk sekali."


"Apa saja yang mereka bicarakan?," tanya Afriadi siap mendengarkan.


Bik Ipah, dan Mang Juneb menceritakan bisik - bisik tetangga itu kepada Afriadi.

__ADS_1


__ADS_2