Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Bertepuk Sebelah Tangan


__ADS_3

"Oh." Hadi hanya ber-oh pendek. Ia tidak bersemangat lagi, mentalnya terpukul hancur, hatinya juga ikut hancur bagaikan kaca retak seribu.


"Maafkan aku Hadi." Latika menundukkan kepalanya, matanya memerah meningat kejadian itu lagi, dia benar-benar telah suka sama Afriadi dan perkataan Pak Imam ada benarnya juga, "Sungguh maafkan aku. Hiks... Aku tidak bisa berbuat apa-apa, dia segalanya bagiku."


Hadi bangkit berdiri menghadap latika, dia kelihatan lemah sekali.


Para penonton tidak bisa berkutip sedikit pun.


Di saat semua tak berkutip Kina malah cengar-cengir tertawa dalam hati puas.


"Iya, aku paham." Hadi meangguk,


"Dia segalanya bagimu."


"Aha ha ha ha..." Hadi tertawa getir mengusap kepala yang tak berambut, "Lagian aku ceroboh. Sudah tahu kalau kau sudah punya pacar masih juga aku nyatakan perasaanku ini."


"Hahahaha... Sudahlah, lupakan saja Latika.


Jangan kau pikirkan perkataanku tadi." Hadi melambaikan tangannya, "Maaf ya, sudah membuatmu...Membuatmu... Membuatmu..." Hadi tak bisa melanjutkan kalimatnya, wajahnya kelihatan sedih sekali.


"Kau baik-baik saja Hadi?," tanya Latika, cemas.


Hadi tersenyum, pura-pura baik-baik saja. Padahal hatinya dan perasaanya hancur.


"Ooooww.." Para penonton ikut tersentuh, saling berbisik menyebuti mereka berdua.


Berita hari ini akan heboh, koran Sekolah akan buat berita yang bikin gempar dengan 'tajub' "Dikala cinta bertepuk sebelah tangan" dipastikan setelah itu Hadi akan jadi bahan omongan Siswa Siswi.


Latika menghapus air matanya, di lihatnya Afriadi sudah tidak ada di sana.


"Hadi..." Sahril memanggil Hadi dalam hati.


Sahril yang melihat Hadi dari belakang tirai merah ikut sedih juga. Pikirinya teringat beberapa hari yang lalu, di perpustakaan, Hadi memberitahukan kepada Sahril kalau ia suka dengan Latika sudah sejak lama.


Hari itu.


Sahril dan Hadi duduk di membaca buku di Perpustakaan.


"Sahril," panggil Hadi pada Sahril yang duduk di sebelahnya.


"Em..," guma Sahril masih fokus sama buku.


"Menurutmu Latika bagaimana?," tanya Hadi minta pendapat pada Sahril.


"Em..." Sahril tertarik, penasaran apa maksud Hadi, fokusnya teralihkan pada Hadi, "Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?"


"Ah..." Wajah Hadi bersemu,


"Jawab sajalah."


"Aaaa... Aku tahu." Sahril menatap Hadi curiga, dia tahu sesuatu, "Kau suka ya, dengan Latika?"


"Ha..." Hadi terkejut tak menyangka kalau Sahril bisa menebaknya, "Tidak mungkin."


"Aaa... Pakai ngeles lagi. Jelas-jelas kau menyukai ia." Sahril menyenggol bahu Hadi, menggodannya.


"T-tidak."


Hadi menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah dengan buku.


"Tuh tuh tuh... Kenapa sembunyikan sembunyikan wajah, benarkan." Sahril menarik buku yang menutupi wajah Hadi.


"T-tidak." Hadi tidak membiarkan Sahril melihat wajahnya.


"Hahaha..." Sahril tertawa getir melihat semua mata pengunjung Perpustakaan Sekolah menatap mereka, terlalu ribut.


"Habis itu kenapa kau tiba-tiba minta pendapatku tentang dia. Ala... Jujur saja, Hadi. Kau sukakan dengan Latika? Aku ini temanmu. Kita sudah berteman sudah lama, jadi aku tahu sifatmu. Kau tidak bisa berbohong."


"Iya, kau benar.


Aku suka dengan dia." Wajah Hadi bersemu.


"Aaaa... Sudah kuduga. Bagaimana?


Apa kau sudah menembaknya?," tanya Sahril.


"Tembak apanya?" Hadi memunculkan separuh wajahnya,


"Aku masih belum berani, aku masih takut."


"Apanya yang kau takutkan? Takut kalau dia menolakmu? Kau suka dengan dia sudah berapa lama?" Sahril meintrogasi Hadi kayak dektektif cinta saja.


"Em... Sejak kecil," jawab Hadi.


"What?" Sahril terkejut, "Sejak kecil. Kau pendam perasaanmu.


Selama itu."


"Tidak gitu juga." Hadi memunculkan seluruh wajahnya, masih bersemu, tangannya menyeka hidung, "Aku tak tahu rasa apa yang aku rasakan waktu itu. Aku baru sadar beberapa bulan yang lalu."


"Oh. Kalau begitu tunggu apa lagi. Tembak dia. Sebelum terlambat," usul Sahril, menyenggol bahu Hadi.


"Ah... Kau enak saja bilang tembak... Tembak... Tembak...," omel Hadi.


"Terus kapan kau akan menembak dia?," tanya Sahril minta kepastian.


"Entahlah.


Aku lagi menunggu waktu yang tepat saja." Hadi merebahkan kepalannya ke meja, menatap buku yang ia main-mainkan.


"Kapan?," tanya Sahril lagi, minta kepastian.


"Hah..." Hadi menghela nafas berat, "Batu aku pikirlah. Di mana? Kapan aku bisa mengungkapkan perasaan ini?"


"Bagaimana di tempat umum? Seperti-"


"Kau gila apa? Masa iya di tempat umum.


Buat malu saja, yang ada aku malah ditolaknya mentah-mentah," omel Hadi.


"Hah... Bagaimana kalau di restoran, atau tempat-tempat yang indah, seperti taman, mal, tempat bermain naik kincir Ria terus kau tembak dia di sana, bagaimana?"


Hadi menyengir, kelihatan seram sekali, "Kalau di restoran, tempat yang indah, Taman, mal, tempat bermain.


Sama saja namanya tempat umum, banyak orang. Lagian kalau naik kincir ria aku takut ketinggian."


"Hah... Susah-susah cari tempat.


Di rumahmu saja," usul Sahril.


"Haha... Di rumah.


Kacaulah. Di rumah aku itu ada adik, mama dan papa aku."


"Ya. Apalah salahnya?"


"Jelaslah salah. Kalau di rumah aku semakin canggung, pasti diganggu sama keluarga aku, atau Latika bisa-bisa dipaksa menerima aku.


Aku tidak ingin Latika mencintaiku karena terpaksa."


"Oh... Begitu."


Sahril berpikir lagi mencarikan tempat, dan waktu yang tepat.


"Ah... Aku tahu." Sahril mendapat ide cemerlang.


"Tahu apa?"


"Di kelasmu akan ada drama, bukan?"

__ADS_1


"Iya."


"Nah, Kau ungkapkan saja perasaanmu itu kepadanya saat pementasan selesai. Mungkin tidak banyak orang.


Dengan begitu, dia pasti akan terharu dan menerimamu." Sahril semangat sekali.


"Kau yakin?," tanya Hadi ragu.


"Yakin." Sahril meangguk.


Hadi berpikir 2 kali.


Puk...


Hayalan Sahril terputus saat Hadi menepuk bahunya.


Sahril menoleh melihat Hadi sudah berdiri di sampingnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kau memikirkan apa teman?," tanya Hadi tersenyum pada Sahril yang memasang wajah pucat.


"Ah... Aku hanya teringat pesanan ibuku, untuk membelikan...


Ah... Apa ya?."


Sahril pura-pura lupa, agar Hadi tidak tahu kalau dia memikirkan yang kemaren.


"Kau tidak apa-apa teman?" Sahril balik bertanya.


"Iya, aku tidak apa-apa." Hadi tersenyum lebar, di balik senyumannya itu ada rasa sedih yang tak bisa ia ungkapkan dengan Sahril. Dia takut Sahril akan merasa bersalah dengan dirinya karena memaksa dia untuk menembak Latika, tapi Hadi berterimakasih juga pada Sahril berkat dia yang memaksa Hadi tahu kalau Latika sudah mempunyai pacar. Tapi fia khawatir Latika akan menjauhinya atau merasa tidak nyaman bila dekat dengan dia.


"Kau bohong Hadi.


Jelas sekali kalau kau sedang tidak baik, hatimu pasti sakit bagaikan seribu pedang menusuk hatimu, kau rapuh Hadi," Sahril berkata dalam hati, menyesal telah memaksannya.


"Maafkan aku Hadi," kata Sahril menunduk tak berani menatap mata Hadi.


"Hem... Kenapa kau minta maaf?," tanya Hadi pura-pura tidak paham maksud Sahril apa.


"Maaf karena aku telah memaksamu untuk-"


Hadi memotok kalimat Sahril,


"Husss... Sudahlah, lupakan saja."


Hadi merangkuh Sahril, melihatkan kalau dia tidak ambil masalah soal itu, "Ayo, makan. Perutku lapar."


"Maafkan aku Hadi," batin Sahril bersorak, menyesal. Ikut melangkah bersamaan dengannya, "Aku menyesal Hadi."


Sedangkan Latika berlari menuju Kantor Kepala Sekolah.


Hosh...


Nafas Latika tersengkal berhenti berlari sebentar terus berlari lagi.


Hati Latika berkata, "Tadi aku melihat Abang pergi begitu saja. Pasti Abang salah paham, aku harus jelaskan. Aku harus menjelaskannya."


Ketika sampai di Kantor Kepala Sekolah.


"Hah..." Latika terkejut melihat Kantor sepi, Afriadi tidak ada di sana.


Cepat ia keluar dari sana, celengak-celengok melihat sekitar.


Batinya bertanya-tanya, "Dimana Abang? Abang kemana perginya? Apa Abang sudah pulang? Aku harus telpon Abang." Latika mengambil di saku rok Sekolah-nya. Kostum yang ia gunakan sudah diganti, tadi saat ganti Kostum Latika di serbu banyak pertanyaan dari teman-temannya dan dapat omelan lagi, karena tidak menerima Hadi dan lebih memilih Bujang lapuk.


"Yah, batrainya tinggal 25." Latika mengeluh melihat ponselnya sekarat.


Tampa buang waktu lagi lihat segera menelpon Afriadi.


"Angkat... Angkat... Angkat..." Latika mondar-mandir.


Dreeeetttt...


Afriadi mengambil ponselnya, melihat siapa yang menelpon?.


"Adek. Biarkan saja."


Afriadi menolak panggilan Latika. Bukan itu saja, Afriadi bahakan mematikan ponselnya.


Tampa merasa bersalah Afriadi kembali fokus mengemudi mobilnya.


"Ah... Tidak diangkat."


Latika mencoba lagi menelpon Afriadi.


Tutttt....


"Tidak aktif."


Latika kesal, menekan-nekan ponselnya. Ingin rasanya ia membanting Ponselnya itu.


Bantinya gundah, "Apa Abang marah?


Aku harus pulang menemui Abang


Tapi, ini masih jam sekolah. Belum jam pulang."


Langkah Latika terhenti.


"Ah... Masaa bodohlah.


Bolos saja. Tapi, gerbang dijaga Pak kodir. Lewat belakang saja, panjat tembok pagar seklah saja," guma Latika pelan.


Latika segera berlari pergi ke belakang sekolah, memanjat tembok Sekolah tampa sadar kalau ia sedang di ikuti.


***


"Hah..."


Afriadi menghempaskan dirinya ke tempat tidur, memijat-mijat kepalanya yang terasa berat dan pusing. Ia sudah berada di rumah.


Afriadi bangun dari baringnya, duduk di bibir tempat tidur, kedua tangannya mengusap wajah yang kusut.


"Hah..." Afriadi menghela nafas berat.


Melangkah Ke luar dari kamar menuju ruang fitnes.


Tangannya mengepal menghantam kuat pocong bergantung (Samsak).


Braaak... kemeja putihnya robek di bagian bahu.


Ia tak peduli, terus memghantam Samsak dengan kuat. Ia meluapkan kekesalannya pada Samsak yang tak bersalah.


Afriadi masih menginggat ucapan Latika.


"Kenapa kau baru bilang sekarang?"


Ucapan itu masih terbayang di pikirannya.


"Kenapa, Dek? Kenapa Adek berkata begitu?


"Adek seakan-akan tidak mencintai Abang. Adek terpakasa menjalani hidup dengan Abang. Apa yang salah pada diri Abang?"


"HAAAA..."


BUUUKK... BAAAKK... Afriadi memukuli Samsak dengan keras dan cepat.


Ia meanggap Samasak itu dirinya yang bodoh dan payah tidak bisa menyatakan perasaannya pada Latika.


Ting... Nung...

__ADS_1


Bel rumah berbunyi.


"Iya, sebentar."


Bik Ipah yang berada di ruang tengah lagi bersih-bersih, bergegas meninggalkan pekerjaannya membuka pintu.


Ketika pintu sudah di buka, Bik Ipah terkejut melihat Latika berdiri dengan nafas yang tidak beraturan.


"Non. Cepat sekali Non pulang?"


"B-Bik, A-Abang di mana? Hosh."


"A-ada di kamarnya. Baru juga habis pulang." Bik Ipah sedikit tergagap-gagap, syok lihat Latika datang tiba-tiba dengan nafas tak beraturan dan pakaiannya sedikit berantakan.


Latika bergegas menaiki anak tangga menuju kamar Afriadi.


"Non, kenapa Non?" Bik Ipah memanggil, cemas. Namun panggilan Bik Ipah tidak dihiraukan Latika, ia terus berlari.


Hosh... Hosh... Hosh...


Latika menaiki anak tangga nafasnya terengah-engah.


Batinya memanggil Afriadi, "Abang."


Panggilan itu seakan terdengar samar di telinga Afriadi.


Tangannya yang memukul Samsak terhenti, merasa ada yang memanggilnya.


Afriadi menoleh ke belakang, nafasnya tersengkal.


Tok... Tok... Tok...


Pintu kamar Afriadi diketuk keras oleh Latika.


Tak ada jawaban.


Tok... Tok... Tok...


Latika keras mengetuk pintu kamar Afriadi sampai tangannya sakit.


Afriadi yang mendengar suara ketukan pintu, perlahan-lahan ia membalikkan badan berjalan pelan ingin melihat siapa yang mengetuk pintu kamar.


"Hiiisss..." Latika mendesis geram membuka Pintu kamar Afriadi,


"Ha..." Latika terkejut, ia tidak menjumpai siapa pun di sana.


Latika tak mengerti, kata Bik Ipah Afriadi ada di kamarnya tapi dia tidak ada di sana.


Latika membalikkan badannya.


BAAA... Dia dikejutkan dengan kemunculan Afriadi, berdiri di hadapannya dengan penampilan berantakan.


"Adek."


Afriadi pun kelihatan terkejut dengan kehadiran Latika. Bukanya ini masih Jam Sekolah. Kenapa Latika bisa ada di sana?


Latika menarik nafas lega, nafasnya masih tak beraturan.


Ia melangkah mendekati Afriadi, menatapnya dengan penuh rasa lega.


"Abang, Adek minta maaf. Adek ingin menjelaakan.


Tadi itu, Adek tidak bermaksud untuk-"


Kalimat Latika dipotong Afriadi, "Sudahlah Dek, tidak ada yang perlu dijelaskan, Abang sudah lihat. Adek memang tidak bisa menghargai abang.


Jangankan ingin menghargai cinta Abang menghargain Abang saja Adek tidak bisa."


"Apa maksud Abang?," tanya Latika wajahnya berubah draktis.


Suasana berubah draktis menjadi panas.


"Sudahlah Dek. Jangan pura-pura tidak tahu. Adek selama ini dekat dengan Hadi, kan? Adek cinta dengan Hadi, kan?!" Afriadi melotot.


"Ya, Adek memang dekat dengannya.


Adek cinta kepadanya. Adek berharap dia menebak Adek!" Latika ikut melotot, "Tapi, itu dulu sebelum Adek terikat dengan Abang. Sekarang-"


Afriadi memotong perkataan Latika, "Sudah kuduga. Abang kira selama ini Adek dan dia hanya teman biasa, ternyata bukan.


Hubungan Adek dan dia lebih dari itu.


Abang curiga kepada Adek. Kenapa Adek suka di sekolah dari pada di rumah? Ternyata Adek suka di sekolah, karena ada DIA, KAN!!! Di Rumah Adek gak bisa bebas hanya bertemu bujang lapuk ini, merasa tertekan dan terpaksa menjalani hidup dengan Bujang Lapuk ini Kan," intonasi suara Afriadi naik turun-naik turun.


"Abang jangan memotong perkataan orang. Dengarkan dulu penjelasan Adek!" Latika meneriaki Afriadi.


"DIA, KAN, DEK...


DIA, KAN?!!!" Afriadi penuh dengan emosi, mencengkram bahu Latika, menguncangnya pelan.


Latika mematung melihat raut muka galak Afriadi, ia gemetar ketakutan, air matanya ingin menetes.


"Hari itu rasa curiga Abang melanda diri ini, setiap kegiatan sekolah Abang mengawasi Adek dari jauh membuktikan kalau curiga ini salah, namun ternyata itu benar... Adek dekat dengan dia. KETIKA IA HAUS ADEK MEMBERI IA AIR MINUM, KETIKA IA LELAH ADEK PIJITTIN, BERPEGANG-PEGANGAN TANGAN. SELAMA INI ADEK JARANG BEGITU DENGAN ABANG!!! Tidak sepantasnya Adek begitu."


"Selama ini Abang mengawasi Adek?"


Larika terkejut baru menyadari, matanya berkaca-kaca.


"Ya, Abang mengawasi Adek. Hari itu, Adek ingat ketika Adek baru pulang, ada sesuatu yang ingin Abang tanyakan saat itu."


Latika menginggat waktu itu, Afriadi ingin menyakan sesuatu.


[Afriadi ingin bertanya kepada Latika, tapi, tidak jadi (Ada di bab rayu)].


"Itulah yang ingin Abang tanyakan, Adek tadi kenapa dekat-dekat dengan dia? Tapi, Abang tahan Dek. Abang tahan." Afriadi memukul-mukul dadanya, "Sampai sekarang Abang tahan. Abang sadar selama ini Adek tidak mencintai Abang!!!"


Nada suara Afriadi meninggi, di tambah mukanya yang merah padam, matanya ikut berkaca-kaca.


Afriadi melepas cengkramnanya, "Adek hanya mencintai dia. Hanya dia. Hanya dia," perlahan-lahan intonasi suara Afriadi merendah,


"Apalah arti pernikahan kita ini? Pernikahan ini hanya main-main saja, tiada artinya sama sekali bagi Adek."


Latika tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Hanya air matanya yang menetes, keluar membasahi pipinya, ia mengigit bibir bawahnya.


Ia baru menyadari itu semua, semua salahnya ia tahu sudah menikah tapi masih dekat dengan laki-laki lain.


Dan apa yang dikatakan Afriadi semuanya termasuk tentang pernikahan benar, ini hanya main-main saja, tiada artiya.


"SELAMA INI KENAPA ABANG JARANG MENYENTUH ADEK? BUKAN KARENA ADEK MASIH SEKOLAH.


TAPI, ABANG TIDAK INGIN MENYENTUH ADEK, KERENA DI DALAM HATI ADEK ADA LAKI-LAKI LAIN.


BAGAIMANA ABANG INGIN MENYENTUH ADEK? BAGAIMANA ABANG INGIN MENDEKATI ADEK?


SETIAP KALI ABANG DEKATI ADEK, ADEK LARI. TAK PERNAHKAH ADEK SADAR DENGAN STATUS ADEK SEKARANG APA? KEWAJIBAN ADEK APA? POSISI ABANG DI HATI ADEK ADA DI MANA, DEK? APA ABANG ADA DI HATI ADEK SELAMA INI? ATAU HANYA BAYANGAN SAJA!!!" Afriadi keras mencengkram bahu latika, menatapnya. Latika melarikan pandangannya.


Tes...


Air mata Afriadi menetes membasahi pipinya.


"A-adek tidak mencintai Abang. Apa kurangnya Abang, Dek? Apa kurangnya Abang? Apa kurangnya Abang di hidup Adek? Apa kurangnya Abang dengan laki-laki itu? APA DEK?!!!"


"Hiks..."


Latika tidak sanggup lagi mendengar semuanya. Lagian tidak ada yang dijelaskan lagi, dia pun tidak akan mendengarkan penjelasan Latika.


Latika melepas cengkraman Afriadi, menabraknya yang berdiri di ambang pintu, berlari keluar dari Kamarnya.

__ADS_1


Saat itu juga Latika lari dari rumah.


__ADS_2