Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Viral 4


__ADS_3

Video yang cepat sekapi viralnya, hanya butuh setengah hari sudah tersebar luas. Lagi-lagi video, itu jadi topik perbincabgan yang hangat-hangatnya, dan di liput di saluran tv.


Para netizen mulai membanding-bandingkan video lalu dengan video yang sekarang, saling mengaitkan para netizen seperti dektektif saja. Bahkan ada saja netizen yang iseng menambah-nambah cerita untuk kesenangan belaka.


Sedangkan di Kost lama Latika.


Bu Kost duduk di teras Rumahnya, mengomel sendiri setelah melihat video itu dan komentar dari netizen.


"Idiiih.. Jadi mereka berdua memang tidak bersalah. Parah ini orang berani memberi kesaksian palsu, tuh kan kena imbasnya. Padahal sudah di terangkan dalam Al-Qur'an, orang yang memberi kesaksian palsu atas perzinahan maka kesaksiannya tidak akan di terima selama-lamannya dan dilaknat dunia dan akhirat. Ini komentar kenapa lagi..."


Anak-anak Kost yang lewat di depan Rumahnya tidak berani menegur, takutnya nanti malah mereka kena sembur dengan Bu Kost.


Sedangkan di Rumah.


Suasana hening, lengang, tenang, dan damai. Si tukang buat ribut yang membuat rumah ini berwarna dan hidup sedang berjuang menuntut ilmu di Sekolah.


Bik Ipah bekerja membersihkan ruanang santai, angin berhembus pelan berbisik di telinganya membawa kabar gembira.


Ada saja yang merusak suasana.


Dap... Dap... Dap... Langkah kaki yang keras menghentak lantai berlari memasuki rumah berteriak.


"BIIIK... BIIIK...," teriak Mang Juneb memasuki ruang santai, menyambar remot Tv, menyelakan, mengotak-atik remot mencari saluran berita.


"Ada apa, Neb?." Bik Ipah yang membersihkan debu di foto di dinding, mendekati Mang Juneb.


"Lihat Bik," tunjuk Mang Juneb, nefasnya tak beraturan habis berlari tadi.


Bik Ipah melihat berita di Tv.


Sayangnya Mang Juneb terlambat, berita yang diliput sudah lewat sebahagian.


Pembawa acara sudah panjang lebar bicara, "... Kenapa Bapak bisa memberikan kesaksian seperti itu, padahal bapak kan tidak melihat kejadian yang senarnya dan dari berita yang kami mereka sudah mejelaskan. Itu kenapa anda tidak mempercayai apa yang mereka jelaskan? Malah ada memberikan kesaksian yang lain...," tanya si pengacara pada Narasumber, siapa lagi kalau bukan Haspu, si Hansip itu. Ia mewakilkan para saksi lainnya untuk hadir.


"Ya, saat itu saya tidak tahu kalau mereka benar-benar habis dibegal, saya kira mereka hanya alasan belaka. Maklumlah biasanya orang bisa mengeles dari kesalahan dengan bebagai alasan ... Saya manusia bukan Tuhan. Apa yang saya lihat itulah yang saya katakan.


Saya juga engak tahu, kalau akan jadi seperti ini... Saya mewakilkan yang lainnya, minta maaf kepada bersangkutan. Maaf telah menyeret dan mencemarkan nama baik SMA Ayyubiyah dalam video kami sebelumnya, dan telah berkata yang bukan-bukan. Terutama untuk pasangan yang kami fitnah saya minta maaf sebesar-besarnya..." kata Haspu memasang wajah penyesalannya, namun wajah itu tak berkesan apa-apa di mata Mang Juneb dan Bik Ipah.


Bik Ipah tidak bisa berkata apa-apa setelah melihat berita tersebut. Air mata Bik Ipah menetes, itu bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan.


"Tadi Bik di warung depan, ramai orang membicarakan berita ini di sana," kata Mang Juneb duduk di sofa, melihat Bik Ipah menangis, "Bibik nangis. Kenapa Bibik menangis?."


"Bibik nangis karena bahagia, Neb. Bibik bahagia. Hiks... Bibik bahagia Neb. Kebenaran itu pasti terungkap, bagaimanapun caranya..." Bik Ipah mendekati sebuah foto keluarga yang terpampang besar di dinding sana. Tangannya yang tua mengelus wajah Afriadi yang masih kecil.


"Benar Bik. Tapi, jika kebenarannya sudah terungkap. Lalu bagaimana kedepannya Tuan dan Non? Apa mereka akan cerai?." mendengar kata Mang Juneb, tangan Bik Ipah berhenti mengelus foto.

__ADS_1


Bik Ipah menghapus air matanya, mendekati Mang Juneb yang duduk di sofa, memotong kalimat Mang Juneb yang dari tadi bertanya-tanya kelanjutan hubungan Afriadi dengan Latika, "Neb, mana garamnya?," pinta Bik Ipah, tangannya sudah menagih.


Aaa... 'Garam ???' Mang Juneb berusaha mengingat-ingat, dia tadi ke warung untuk apa ya?.


"Astaghfirullah.. Lupa mau beli." Mang Juneb menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, tertawa getir. Bik Ipah menggeleng kepalanya, "Tunggu sebentar Bik ya Bik, saya belikan dulu."


Mang Juneb lari lagi ke warung depan membeli garam yang lupa ia beli.


Bik Ipah mematikan Tv, hatinya berdo'a, "Ya Allah, apakah Tuan akan menceraikan Non? Atau Non yang akan meminta cerai dengan Tuan. Hamba mohon ya Allah, semoga mereka tidak melakukan perceraian, perbuatan yang tidak engkau senangi... Sudah lama Tuan kesepian, dengan kehadiran Non buatlah mereka saling mengerti walau mereka tidak kenal sebelumnya. Ikatlah hati mereka ya Allah untuk saling mencintai seperti cinta Rasulullah dan Khadijah, seperti cinta Ali dan Fatimah, seperti kisah cinta yang engkau ridoi, jangan kau pisahkan mereka ... Ya Allah."


Sedangkan di Sekolah Siswa Siswi berkeliaran, terhambur ke luar dari kelas, ada yang main Bola Basket, gosip, pacaran di pojok sana, baca buku di Perpustakaan, main Sepak Bola, bergurau dengan teman-teman, dan ada juga yang ke Kantin isi perut.


Seperti Latika dan teman-temannya yang hobi pergi ke Kantin makan-makan sabil cerita-cerita.


Salasiah membuka mulutnya yang habis minum es, "Em.. Segar. Eeeeeeegg.. Huh.. Kenyang."


"Iiiii.. Salasiah, jorok. Jangan seperti itu," ucap Hana yang duduk di sebelah Salasiah menutup mulutnya, merasa jijik dengan sendawa Salasiah yang cukup besar.


Umai.. Hahaha... Serempak Nana dan Latika tertawa sekaligus kagum dengan sendawa Salasiah yang cukup besar.


"Haha.. Hana seperti tak biasa saja." Salasiah menanggapi tanggapan Hana dengan santai, malah melanjutkan makan padahal baru juga kenyang sudah sumpal lagi.


"Iya, tapi setidaknya jangan di tempat dan di depan orang yang tak suka dengan sendawamu, kurang adapnya. Nanti susah lo kalau sudah kebiasaan," omel Hana bergeser sedikit menjauh darinya.


"Em, itu sudah kebiasaan keluargaku, jadi aku sudah terbiasa dengan itu." Salasiah menggaruk kepalanya yang tidak gatal, memasang tampang tak bersalahnya.


"Gini Sal, maksud Hana itu. Kalau kau bersendawa biasakan dengan suara yang elegan dan menutup mulut seperti ini, jadinya sedikit terkesan sopan. Seperti Hana, dia kan sering seperti itu." Nana yang duduk di sebelah Latika memberikan contoh kepada Salasiah, lengkap dengan suara sendawa yang kecil dan empat jari yang menutup mulutnya dengan jari yang dilipat ke dalam jadi terkesan seperti orang dewasa. Mengoda Hana dengan alisnya yang naik turun naik turun.


Ooh... Salasiah mengangguk pelan menerima nasehat dari temannya. Ia mengangguk antara paham dengan tidak, yang penting iyakan dulu untuk menunjukkan kesan mengerti soal paham dengan tidak itu urusan belakangan, entahlah apa ia akan ikuti atau tidak.


"Em.. Kalian sudah tahu belum. Berita yang viral itu, katanya mereka tidak bersalah." Salasiah seperti melupakan soal sendawa, berpindah topik ke berita viral yang pagi tadi baru saja ia bahas dengan teman-temannya di kelas.


Hana dan Nana hanya menatap Salasiah dengan memasang tampang malas mereka, Salasiah sepertinya lupa. Gampang sekali Salasiah melupakan hal tersebut padahal baru saja, tak melangar hari belum sudah lupa.


Nana yang dudul di seberangnya itu, memasukan cemilan ke dalam mulutnya, berkata, "Oi, Sal. Kau sudah lupa kah? Baru pagi tadi kita bahas. Masaa iya sudah lupa."


"Haha.. Iya juga ya. Aku lupa, terlalu semangat aku mau membahas itu lagi. Soalnya aku masih penasaran, siapa sebenarnya pasangan itu?." Salasiah membuat jiwa penasaran teman-temannya bangkit. Padahal suasana hati mereka berdua sudah bed mood siap mau makan Salasiah kapan saja karena kesal. Kenapa tiba-tiba berubah jadi semangat membahas itu lagi. Salasiah.. Salasiah pandai mengubah suasan.


Latika malah diam saja ikut memasang telinga besar-besar, mendengarkan.


"Nah, itu dia yang menjadi persoalan. Si saksi itu tidak memberitahu pula siapa mereka itu? Sampai sekarang belum terungkap juga, publik belum ada tahu siapa mereka." Nana bersemangat sekali mulut dan tangannya sambil bekerja memasukkan cemilan ke dalam mulutnya lalu mengunyah sambil bicara sebentar.


"Oh, ya. Aku harus memberi tahu dia kalau aku mau ke rumah teman. Em.. Lewat pesan saja, kalau telpon bisa gawat," seru Latika dalam hati. Tangannya mulai mengetik keyboard ponselnya menulis pesan, selesai, langsung kirim. Perhatiannya langsung teralihkan dengan perkataan Hana.


"... Kata siapa yang tidak tahu. Eh, itu Pak Imam dan Pak Kades pasti tahu siapa mereka. Soalnya mereka pasti bertemu dengan orang itu minta cabut tuntutannya atas warga desa mereka, bukan?," kata Hana memgotak-atil ponselnya melihatkan video viral beberapa waktu yang lalu, Pak Kades dan Pak Imam ikut masuk dalam video itu dan beberapa saksi beserta warga, "Ini pasti Pak Imam Pak Kades, dan bapak-bapak yang satu ini, pasti mereka tahu." Hana menunjukkan satu persatu.

__ADS_1


Latika sampai terkejut mendengar kata Hana, matanya melek lehernya ikut-ikutan memanjang melihat dengan jelas. Oh.. Tidak Pak Imam ikut masuk juga dalam video itu, apa lagi Pak Kades yang berada di sebalah Pak Imam.


"Jangan-jangan Hana tahu," guma Latika dalam hati, kalut, panik.


"Kita ke sana saja tanyakan, atau minta alamat mereka lalu kita datangi mereka. Jadi kita bisa tahu siapa mereka. Bagaimana?," usul Salasiah membuat Latika yang duduk di seberangnya cepat menyangah, "Untuk apa jauh-jauh ke sana. Lagian apa urusannya kita dengan mereka. Itu urusan mereka, biar mereka yang urus, kita pun belum tentu bisa menyelesaikan masalah mereka. Coba kalian berada di posisi mereka. Kalian bisa merasakan apa yang mereka rasakan..." tampa sadar Latika asal lepas saja dengan nada suara sedikit naik, matanya berkaca-kaca menatap mereka. Tatapan Latika membuat teman-temannya engan untuk menatap balik, menunduk perkataan Latika ada benarnya juga. Untuk apa mereka ikut campur urusan orang sedangkan urusan mereka saja tak becus mereka urus.


"Ya, apa yang dikatakan Latika ada benarnya juga. Untuk apa kita ikut campur urusan mereka. Lebih baik kita urus urusan kita sendiri ..." Hana membenarkan mematikan ponselnya.


Tiba-tiba...


Dreeet...


Panggilan masuk ke ponsel Latika.


"Astaghfirullah. Kenapa pakai telpon segala? Haduh, harus cepat ini cari tempat aman," seru Latika dalam hati, panik sampai tak teliti lagi melihat nomor siapa yang masuk.


"Oi, aku ke toilet dulu ya."


Cepat Latika berlari menuju toilet yang tak jauh dari Kantin.


Sesampainya di Toilet.


Latika celengak-celenguk melihat kiri kanan apa ada orang, untung sepi.


Latika segera mengangkat telpon, "Hallo."


"Hallo," suaranya terdengar aneh di telinga Latika, seperti bukan suara dia tapi suara orang lain, "Hallo Non. Mamang bilang Tuan sudah perintahkan mulai sekarang untuk antar jemput Non ke Sekolah adalah saya. Nah, pulang ini Non mau di jemput pakai apa?."


"Ternyata Mang Juneb," kata hati Latika bersyukur bukan dia yang menelpon.


"Non," panggil Mang Juneb dalam telpon.


"Em, tak usah jemput Mang. Hari ini saya mau ke rumah teman, sore baru pulang. Nanti, saya naik ojek saja . Sudah ya Mang. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumssalam. A-" Mang Juneb menjawab, keburu terputus.


"Huh... Aku kira dia ternyata bukan. Terlalu gugup sampai tak lihat lagi nomornya." Latika ke luar dari toilet.


Tring...


Pesan masuk.


Hoo... Ini pesan dari dia, mata Latika melek membaca isi pesan, "Boleh, jangan terlalu lama."


Entah kenapa saat baca pesan darinya Latika langsung tersenyum bahagia, karena dia memberi izin, Latika kira dia tidak akan beri izin. Sebenarnya bukan itu saja sih, ada perasaan lain gitu di hatinya tapi sulit untuk dijelaskan.

__ADS_1


Dengan senyuman Latika kembali ke Kantin, duduk melanjutkan makan.


Teman-temannya hanya heran dengan Latika, menggelang kepala merasa aneh tadi marah lalu pergi bergitu saja sekarang kembali dengan senyuman.


__ADS_2