
Tuuut...
Tuuut...
Afriadi menunggu sambungan telpon Latika.
Ia sangat galau kali jauh dari istri.
Ia menghela nafas kasar, panggilannya tak diangkat Latika.
"Kenapa ni?" Afriadi merebahkan kepalanya di meja kerja melihat ponselnya yang berkerja keras menghubungi istrinya.
Selama beberapa hari ini Afriadi kek mayat hidup tak dapat kabar dari Latika, vc tak bisa nelpon jaringan susah. Bagaimana tidak susah, Latika berada di desa yang kekuatan jaringannya lemah.
Yup, Latika KKN. Doi sudah masuk semester 7 dan mereka KKN sekitar satu bulanan.
"Assalamualaikum, Bang."
Telpon tersambung.
Afriadi bersemangat mendengar suara Latika, cepat menyahut, "Wa'alaikumssalam... Adek di sana apa kabar?"
"Alhamdulillah, baik... Maaf Bang baru bisa beri kabar, jaringan di sini susah Adek aja harus ke desa sebelah naik turun bukit baru dapat jaringan..." Latika cerita panjang lebar.
Afriadi tertawa geli dengar cerita Latika, "Adek sehat aja kan? Jaga kesehatan Disana, sholat jangan ditinggalkan."
"Adek rindu Abang," kata yang keluar dari mulut Latika ketika Afriadi selesai bicara.
Wajah mereka bersemu menghadap ponsel.
"Em, Abang juga rindu sangat dengan Adek," sahut Afriadi dengan nada suara rendah, tangannya menutupi wajah yang bersemu.
"Love you," bisik Afriadi sensual membuat Latika merinding di sana.
Lepas dari melepas rindu, panggilan berakhir.
Suasana kantor kepsek menjadi sunyi lagi, dalam keheningan Afriadi memejamkan matanya berharap ini semua berlalu begitu saja.
Memang berat bagi Afriadi melewati hari tanpa sang kekasih.
***
🎶Makan makan sendiri
Tidur juga sendiri
Kekasih jauh pergi 🎶 Afriadi bersenandung, menruh berapa tumpuk buku di atas kasur, beranjak naik.
Ia meraih satu buku, membalik balik buku tersebut mencari halaman. Tadinya ia ingin mengubungi Latika, karena mengingat waktu mungkin Latika sudah tidur jadinya ia urungkan untuk menghubunginya.
***
Minggu berganti Minggu.
Latika pulang dari KKN, bukan main Afriadi erat memeluknya melepas rindu yang selama ini ia rasakan.
"Cak elah, segitunya pang," sindir Bik Ipah mengambil tas Latika, "Baru satu bulan ditinggal belum satu tahun, apalah jadinya tuan jika ditinggal satu satu tahun?"
Afriadi melonggarkan pelukan, mencubit pipi Latika, "Ala Bibik tak rindu kah cubit pipinya yang tembem ni?"
"Isss, sakit lah," gumam Latika mengelus tangan Afriadi.
"Em, yelah tu." Bik Ipah berlalu pergi membawa tas Latika.
Semenjak kepulangan Latika Afriadi menjadi lebih maka, dan kadang tak tahan untuk ehem ehem, ya yang itu.
Lupa dengan tujuan awal.
Habis KKN semester 8 Latika dan temannya sibuk menyiapkan seminar lalu ia menyusun skripsi terus sidang.
Beh, mungkin kalian pada gak nyangka kalau pas siang itu Latika lagi hamil muda.
__ADS_1
Beh, awal pertanama ia tahu kalau dirinya hamil, seneng banget sampai gak menyangka. Hari tu Afriadi dapat kejutan yang besar yang pernah ada, habis pulang kerja lagi capek capeknya dikerjain istri sampai mau emosi terus dapat kejutan dari Latika, kalau dia hamil. Afriadi yang awalnya pengen marah tak jadi, malah ia tersenyum lebar seakan lupa dengan amarahnya.
Oh boy selama Latika hamil Afriadi jadi lebih waspada, dia sampai jadi bodyguard 24 jam kemana Latika pergi ditemani sampai sewa orang untuk menjaga Latika, dia takut kejadian yg mengerikan itu terjadi lagi.
Makanan minuman selalu diperiksa dan diberi makanan yang bergizi untuk pertumbuhan janin, Latika juga tak lupa olahraga.
Perfek banget Afriadi.
Satu hari kekhawatiran terjadi.
"Bang Adek takut,"cicit Latika memainkan ibu jari, "Lahiran pasti sangat sakit."
Alis Afriadi terangkat sebelah seolah bertanya, apa?
"Kata ibu arisan melahirkan itu sakit..." Latika lemah mengatakan itu, ia takut melahirkan. Ini semua gara ibu ibu arisan yang cerita pengalaman melahirkan anak, Latika jadi ngeri lebih ngeri dari nonton film horor.
"Jalani dulu, jangan ambil pusing. Bukanya Adek sendiri yang bilang kalau Adek sudah siap jadi seorang ibu? Jangan takut yakinlah Adek bisa melewati semua ini, Adek tak sendirian Abang kan ada, kita lewati bersama." Afriadi tersenyum manis mengusap tangan Latika, yang diusap meangguk lalu tersenyum.
Afriadi meraih kepala Latika ia tumbangkan ke bahunya, lalu mengusap lembut kepalanya.
Pemandangan yang indah ditambah pemandangan matahari terbenam menambah suasana romantis.
***
Waktu berlalu.
Skripsi sudah sidang sudah masanya wisuda, tempat dan waktu sudah ditentukan, sayangnya Latika nampak tak bisa ikut wisuda sebab dia hamil tua, 9 bulan. Jelas saja Afriadi melarangnya untuk ikut, bukan latika namanya jika kemauannya tidak dituruti.
Terpaksa
Afriadi mengizinkannya untuk ikut, walau ada rasa khawatir-khawatir gimana gitu. Ia menyiapkan pasukan mana tahu lepas wisuda dedeknya keluar kan berabe.
Latika semangat sekali sampai rasa nyeri dan pegal-pegal bawaan hamil tak ia rasakan. Latika berdandan seala kadarnya dan menggunakan sepatu tak berhak, kalau berhak terus keseleo, jatuh, AMBYAR!!!
Weh Weh Weh...
Afriadi kasih pesan pada anaknya yang masih di perut, "Baik baik ya sayang, bunga mau wisuda (Jangan keluar saat acara)."
Sampailah di tepat acara, semua mata tertuju pada Latika yang menarik perhatian.
Seorang ibu-ibu menghampirinya.
"Sudah berapa usianya?" tanya ibu itu riang.
"Sembilan bulan buk," jawab Latika riang mengusap perutnya.
Latika berbincang sebentar dengan wanita paruh baya itu sebelum ia berkumpul dengan temannya.
Tak lama acara dimulai.
Acara demi acara terlewati sampai acara wisuda srjana. Sampai giliran Latika maju.
Eh eh eh eh...
Ada terjadi?
Tiba-tiba Latika meringis kesakitan, menuruni anak tangga. Afriadi yang lihat raut wajah Latika cepat bergerak menghampirinya, menyambut Latika yang hampir terjatuh.
Semua mata tertuju pada mereka, riuh satu ruangan dibuatnya.
"Mau teperanak kah?"
"Eh, nak berojol tu bininya!"
"Cepatlah, bawa rumah sakit!"
Seru para hadirin.
Nampaknya sudah dekat ini, tak sabar lagi dedeknya lihat dunia atau dedeknya mau wisuda juga ^∇^
Cepat Afriadi mengendong Latika membawanya ke rumah sakit terdekat.
__ADS_1
"AAA.. UUUGGH.. SAKIIIT!!" Latika merintih menahan sakit.
Panik panik panik Afriadi panik apalagi lihat air ketuban yang, ini bukan yang pertama kalinya ia lihat kalau yang kemarin bini orang lah ini bini sendiri paniknya beda.
"Sabar ya Dek." Afriadi mencoba menenangkan, "Tarik nafas hembuskan."
Latika mengikuti instruksi Afriadi tarik nafas hembuskan. Selama perjalanan Latika mencengkram lengan Afriadi kuat sambil mengatur nafas yang semakin cepat menahan sakit.
"Cepat Sam!" perintah Afriadi mendesak Samsul untuk cepat memacu mobilnya. Walaupun keadaan jalan ramai mobil mereka tak terjebak macet dan jalan terbuka untuk mereka, toh pawang mobil ada di depan siapa lagi kalau bukan Hasan dan rekan polisi yang membantu membuka jalan.
Syukurlah ada mereka kalau tidak mungkin saja Latika terjebak macet.
Tak lama mereka sampai di rumah sakit. Latika cepat ditangani langsung. Afriadi tetap setia menemani Latika.
Di luar ruangan Hasan menunggu sambil menelpon seseorang, "Lan, bentar lagi kita dapat keponakan. Kesini cepat."
Di dalam sana Latika mempertaruhkan nyawa melahirkan anaknya.
Sulit tuk digambarkan situasinya, para bidan dan perawat memberi panduan pada Latika untuk 'dorong', nafas Latika terengah-engah sudah
"Egggggh..."
"Yah, sedikit lagi Bu sedikit lagi," kata Bidan.
"Egggggh..." erang Latika panjang bersamaan dengan dorongan yang kuat, mendorong bayi di dalam untuk keluar.
Latika merasa lemas tenaganya terkuras banyak, namun semua terbayarkan dengan kelahiran anaknya. Ruangan dipenuhi tangisan bayi, Latika tersenyum lemah mendengar tangisan anaknya.
Sekilas ia lihat Afriadi yang senang sampai tak bisa di gambarkan. Afriadi tanpa malu mengecup kening istrinya, berterimakasih padanya telah berjuang untuk anaknya.
Bayi diserahkan pada Afriadi, tahu dengan tugasnya. Afriadi segera mengazankan anaknya, tak lupa Iqamah juga. Barulah anak itu di beri pada ibundanya, Latika.
"Dia tampan seperti ayahnya," ujar Latika.
"Siapa dulu dog, ayahnya." Afriadi membanggakan diri sendiri, anaknya benar terlihat mirip dengannya, laki, hidung mancung, mata sipit, dan bibir yang mungil ia dapat dari sang ibu.
Senyum Latika dan Afriadi merekah lihat anak mereka.
Hari ini hari yang membahagiakan sekali, seorang anak yang di dambakan sudah terlahir. Kedepannya mereka berdua akan mendidik anak tersebut, satu tugas yang sangat besar bagi orang tua.
tamat
***
Alhamdulillah, akhirnya cerita ini tamat juga.
sorry ya banyak typo dan ceritanya sedikit yah gimana gitu. author lagi ujian jadi lama update nya, sorry ya.
dan
Terimakasih pada kalian semua yang sudah baca cerita ini dan sport author untuk tetap semangat dalam menulis.
kita berjumpa pada cerita selanjutnya.
penasaran gak cerita cinta Hadi
atau anaknya Latika dan Afriadi
oayo, yang mana yang harus author tulis.
kedua kisah ini sangat menarik.
untuk chat story sebelah mungkin akan dilanjutkan lepas remedial atau liburan.
cinta terlaknat akan diubah
Mr . hantu lepaskan aku sudah lama tak up akan up lepas remedial.
oh ya ada satu cerita yang akan ditulis nanti. si tukang perusak plot, haduh mikir cerita ini pengen ketawa melulu.
oke sampai jumpa.
__ADS_1