Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Belajar Main Motor


__ADS_3

Sorenya Latika memperhatikan mobil yang sering Afriadi bawa terparkir di garasi.


Lalu pandangannya tertuju pada motor bebek berwarna biru langit hadiah ulang tahunnya kemarin (Versi chat story' di ceritakan kejutannya di sini gak soalnya tanggalnya sudah lewat) kejutan yang sangat mengejutkan waktu itu, silih berganti Latika melihat motor dan mobil, mengusap dagu seakan berpikir keras.


"Mikirin apa?" tanya Afriadi tiba-tiba muncul di belakang Latika.


"Nanti kalau Adek sudah di terima dan masuk kuliah, apa Adek akan bawa mobil atau motor?" ujar Latika memperhatikan 2 batang tersebut.


"Adek tak mau di antar kan sama Abang?"


Latika melihat Afriadi, "Kalau Abang tak sibuk kalau Abang sibuk bagaimana akan mengantar Adek? Adek mau bawa kendaraan sendiri."


Afriadi meangguk pelan, "Ya sudah, Adek bisa bawa yang mana?"


Latika menyengir tak bisa bawa kedua-duanya. Afriadi tersenyum menggelengkan kepalanya, baru sadar juga kalau ia gak ngajarin dia mengendarai motor ataupun mobil.


"Mau belajar?" tanya Afriadi memberikan tawaran, "Abang ajarkan."


Latika meangguk mau.


"Adek mau bawa yang mana?"


"Em, motor sajalah. Mudah sedikit, sedang mudah di bawa kayak sepeda. Nanti kalau Adek terlambat atau terjebak dalam macet, toh bisa salip atau ngebut di jalan." Latika tersenyum lebar mendekati motor.


Gak kebayang Afriadi jika Latika pandai main motor, bisa-bisa motor ninja punya dia kena bawa, atau Latika ngebut di jalan macam Mak Mak +62 (─.─||)


Kacau sudah kalau macam gitu (´-﹏-`;)


"Bang, jadi kah?" Latika memutuskan lamunan Afriadi.


Afriadi melihat Latika yang sudah siap duduk di atas motor. Afriadi menggeleng, mendekati.


"Yuk, Bang. Cepatlah Adek tak sabar lagi dah ni." Latika semangat betul sampai lupa sesuatu.


Afriadi masih berdiri di sampingnya, tak naik hanya melihatkan saja.


"Kenapa masih berdiri Bang. Ayo naik," ujar Latika.


"Dek, kuncinya mana?" tanya Afriadi menyadarkan Latika, dia menoleh melihat Afriadi tersenyum lebar.


"Hehe, tunggu sebentar Adek ambilkan." Latika berlari masuk ke dalam rumah ambil kunci motor.


Afriadi membawa motor ke luar garasi.


Tak lama Latika datang membawa kunci,


Afriadi mundur membiarkan Latika duduk di depan. Cepat Latika naik.


"Adek belajar di halaman Rumah saja, kan cukup luas ini, nanti kalau sudah bisa baru ke jalan takutnya nanti Adek tabrak orang," kata Afriadi, "Nah, sekarang coba hidupkan motornya."


Latika memasukkan kunci, lalu memegang stang motor, Afriadi tak tinggal diam menyentuh menindih tangan Latika dengan tangannya.


"Tangan kiri jangan lupa siap-siap tarik remnya, Stater Dek," perintahnya.


Tanpa disuruh dua kali Latika langsung stater, Afriadi menggerakkan tangan Latika yang memegang stang bagian gas motor memutar mundur pelan.

__ADS_1


Latika gugup, jantungnya Dag Dig Dug.


Satu kali coba gagal, dua kali gagal juga, tiga kali baru berhasil hidipak n motor.


"Pelan, pelan saja ngasnya," kata Afriadi sambil menggerakkan tangan Latika.


Pelan-pelan motor melaju, perlahan juga Afriadi melepaskan tangannya.


Lambat nah motor berjalan persis kayak kambing, mungkin lebih cepat kambing jalannya.


"Em, bagus. Coba sekarang tambah kecepatan," perintah Afriadi.


Latika tambah gas sampai bekejut itu motor hampir stending untuk Afriadi sigap menarik rem, kalau tak is is is apalah nasif mereka.


"Jangan be kejut," kata Afriadi.


Latika sudah kaku, rasa-rasanya mau berhenti saja. Tapi, tak semudah itu juga Latika untuk menyerah nanti kalau dia tak bisa bawa motor kayak mana?


Ia mencoba lagi, masih sama pakai kejut ngasnya, Afriadi sampai terperanjat beberapa kali. Tahu kesalahan Latika di mana, di situ ia betulkan.


Dari kejauhan Mang Juneb dan Samsul asik melihat Latika belajar main motor, kaku kali kelihatannya.


Sekitar 1 jam kemudian, Latika sudah mulai bisalah bawa motor walau lurus saja.


Sudah lama dah Latika belajar main motor, Afriadi niat menyudahinya tapi Latika malah nawar mau belajar membelok.


Ya, sudah Afriadi ajarkan.


Tapi tapi tapi tapi, anehnya pas Latika yang coba mau membelok malah...


Latika menabrak pohon yang ada di sana.


Afriadi mental ke tanah gara-gara stending, Latika terjatuh tertindih motor.


"Astaghfirullah, Dek."


Cepat Afriadi bangun menolong Latika, Mang Juneb dan Samsul yang melihat kejadian itu langsung menolong.


Muka Latika merah, kelihatan sedih dan menahan sakit di kakinya.


Ooo... Motor hadiah ultahnya sudah rusak moncong depan pecah, lampu sein retak, wajah motor tergores.


"Adek tak apa-apa kan?" tanya Afriadi lihat sekeliling Latika ada lecet atau tidak.


Latika melihat Afriadi, itu mata sudah berkaca-kaca mau nangis, "Maaf."


Afriadi tersenyum, "Sudah, gak apa-apa. Garansinya ada juga. Adek tak apa-apa kan?"


Mang Juneb dan Samsul geleng-geleng kepala, lihat nasip motor baru.


"Gak apa-apa Non, namanya juga belajar," kata Mang Juneb, menenangkan Latika.


"Saya dulu parah lagi, nyungsep ke got," kata Samsul lagi.


Latika masih sedih, Afriadi berkata sekali lagi, "Gak apa-apa nanti ganti baru lagi. Jangan sedih."

__ADS_1


"Sakit," rengek Latika mengejutkan 3 pria di sana, ketiganya melirik Latika.


"Bagian mana sakit?" Afriadi langsung jongkok lihat kaki Latika.


Ehem, Mang Juneb dan Samsul memilih untuk pergi takutnya nanti mengganggu saja, bawa motornya menjauh. Itu motor juga akan terbawa suasana jika ada di sana. Mereka pergi


"Ada saja jalan romantisnya," gumam Mang Juneb.


"Tuan panik sangat, palingan memar," gumam Samsul.


"Woy, kedengaran lah," batin Afriadi berseru.


"Bisa jalan Dek?"


Latika meangguk, baru mau jalan Afriadi keburu menggendongnya, membawa masuk ke dalam.


Sesampainya di dalam rumah Afriadi menurunkan Latika di sofa ruang tamu, jongkok lihat yang mana yang sakit.


Latika menujuk betisnya kirinya, Afriadi membuka sedikit melihat. Ternyata benar memar saja.


"Tunggu ya," kata Afriadi pergi meninggalkan Latika.


Tak lama, ia datang membawa memangku air hangat-hangat kuku dan handuk kecil.


Dia duduk di lantai meangkat sedikit celana Latika, meletakkan handuk hangat di bagian yang memar.


Latika melihat Afriadi dengan wajah yang merah, jantungnya sendri tadi berdegup kencang terus.


"Lumayan kan Dek?"


"Em," gumam Latika meangguk.


Tak habis sampai di situ, setelah itu ia memijat atau mengurut betis Latika.


Woy AF, kau itu bukan tukang urut kalau salah urat bagaimana bisa bengkak itu betis, bisa bisa besok jalannya Latika bisa berubah. Latika menikmati saja.


Ah, mungkin emang ada bakatnya jadi tukang urut.


"Lain kali pelan-pelan saja Dek, tuh kan jadi gini jadinya..." Afriadi nasehatnya.


Latika meangguk paham.


Lagian Latika kapok sudah, gak mau main motor.


***


Besoknya.


Sari pergi ikut tes, dia juga kuliah di bidang pertanian.


Latika bosan di Rumah, ia menghabiskan waktunya di kamar main ponsel.


Jangan ditanya lagi kenapa Latika di kamar saja, toh kakinya masih sakit gara-gara semalam jatuh tertindih motor + dapat urutan dari Afriadi jadi tambah sakit dan bengkak.


Tuh, kan Afriadi tak bisa urut.

__ADS_1


Untung saja Bik Ipah tahu dan cepat ambil tindakan.


__ADS_2