Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Ayolah damai ^^


__ADS_3

Kerena Afriadi sudah mendingan, panasnya sudah turun hanya tinggal batuk saja lagi.


Pagi Jam 06:00.


Latika membuka tirai jendela kamar Afriadi.


Afriadi duduk bersandar di sandaran tempat tidur. Lepas kejadian sore semalam malamnya mereka tak banyak bicara. Afriadi memaksa Latika bicara mengapa dia menjauhinya? Ada apa? Tapi tetap saja Latika mati sebuku tak menjawab, pertanyan Afriadi ia masih takut untuk beri tahu. Sampai Latika pun tidur di Kamarnya. Malam itu Afriadi tak bisa tidur ia membuka leptop melihat hasil kerja Hasan.


Afriadi membuka mulutnya mengajak Latika bicara, "Dek, hari ini libur lagi?"


"Iya." Latika menjawab singkat.


"Kenapa tidak sekolah saja?" tanya Afriadi lagi.


"Adek mau jaga Abang," jawab Latika.


Dug...


Jantung Afriadi sepertinya ucapan Latika menendang jantungnya masuk gawang, gol.


"Sekolah saja. Abang sudah mendingan."


Latika meangkat alisnya, Afriadi memaksanya dia tidak tahu apa hari ini hari apa?


"Sekolah saja. Tidak apa-apa atau Abang pergi sekolah juga.


Kita sama-sama pergi."


Latika terdiam sebentar, "Yakin?"


"Iya." Afriadi turun dari dari tempat tidur, menuju kamar mandi.


Baru saja Afriadi mau masuk.


"Hari ini hari minggu."


"Eh.." Langkah Afriadi terhenti, ia menoleh melongo, "Seriusan?"


"Iya, hari ini hari minggu." Latika menunjuk kalender di atas meja.


Latika tertawa kecil melihat wajah terkejut Afriadi.


"Oh.. Tahu. Abang mau mandi. Sudah berapa hari Abang tidak mandi."


Afriadi ngeles, dan Sore semalam dia juga sudah mandi.


"Hem.. Tadi malam begadang ya? Itu leptop kenapa ada di tempat tidur? Kalau masih sakit jangan paksa kerja."


Afriadi tersenyum manis, "Abang sengaja cari kebenaran."


Latika terdiam, itu batin sudah bertanya-tanya kebenaran apa? Kebenaran apa? Kebenaran apa?


Afriadi masuk ke Kamar mandi. Kali ini Latika tak melarangnya mandi, toh pansanya juga sudah menurun.


Latika menggeleng keluar membawa mangkok bubur.


Hari ini Bu Kost tidak datang lagi, ia sibuk mengurus saudaranya di Rumah Sakit.


Latika membersihkan dapur.


Piring cucian sudah banyak menunggu.


"Em.. Banyaknya." Latika mengeluh, tangannya mulai bekerja memcuci piring.


Afriadi keluar dari kamar, pelan-pelan ia melangkah menuruni anak tangga.


Ia ke dapur ingin minum.


"Beberapa hari ini Adek perhatian sekali, terus semalam setelah di tanya masalah itu dia menjauh lagi. Apa hanya karena aku sakit Adek mendekat? Apa setelah aku sembuh nanti Adek akan menjauh? Kalau begitu aku sakit saja."


"Astaghfirullah, tak bersyukurnya aku di beri kesembuhan. Ampuni hamba ya Allah."


"Em, ada yang aneh, biasanya Adek tidak teriak biasanya atau kaget lalu teriak. Tapi, subuh semalam tidak."


"Tapi, sore semalam Adek teriak pas buka handuk."


Plak...

__ADS_1


Afriadi menampar dirinya.


Sepanjang menuruni tangga dia berguma, bicara dengan dirinya sendiri.


"... Ya, jelaslah Adek teriak kau buka handuk di depan dia, dasar tak punya malu..."


Dari jauh Afriadi melihat Latika mencuci piring, dia sedikit bengong lihat punggung Latika. Pikiran itu sudah memikirkan rencana.


"Tes." Hatinya bersorak mendorong Afriadi. Pelan-pelan ia melangkah mendekati Latika.


Ketika sudah dekat, cepat ia melingkarkan tangannya ke pinggang Latika, memeluknya.


"Eh." Latika agak kaget tangannya berhehti bekerja, ia mulai khawatir akan terjadi seperti malam itu. Nafas Afriadi membelai lembut pipi itu.


"Ada apa?" tanya Latika lanjut mencuci piring.


Tanda tanya memenuhi otak Afriadi kenapa tak teriak? Kenapa tidak menghindar?...


"Ada apa?" Latika mengulangi pertanyaannya.


"Rindu.." Afriadi jahil berbisik pada Latika.


Wajah Latika memerah, tangannya berhenti mencuci. Ia mencoba mengendalikan dirinya, "Benarkah?"


Afriadi memegang tangan Latika mengerakan, mencuci piring.


"Boleh bantu cuci piring?"


"Ha.. Janganlah Abang baru sembuh, nanti sakit lagi."


"Tidak ada hubungannya dengan itu."


Afriadi melepaskan pelukannya, berpindah posisi ke sebelah Latika membantu dia mencuci piring. Latika tak dapat nolak.


Tidak butuh waktu lama mereka mencuci piring, akhirnya sudah selesai.


Afriadi bersandar di tempat cuci piring sibuk memperhatikan Latika yang memotong sayuran, tak jauh darinya. Ia membuka mulut mengeluarkan suara seraknya, "Adek oke?"


"Hem, Kok tanya oke?" tanya Latika balik, menoleh melihat Afriadi, "Adek oke."


Afriadi mendekati Latika.


Latika diam di tempat tidak bergerak. Ia dapat merasakan Afriadi mendekatinya, berdiri di belakangnya.


"Abang mau apa?" tanya Latika.


"Mau itu..." Kepala Afriadi muncul di samping Latika melihat ia lagi apa.


"Mau apa?" Latika tidak berpindah tempat walau wajah Afriadi sudah berada di sebelahnya hanya berjarak 1 jari saja. Latika melirik Afriadi, mata mereka bertemu.


"Aneh Adek tidak menjauh.


Tapi, kalau begini aku yang tidak berani untuk mendekat," guma batin Afriadi, mengedipkan matanya. Latika mulai khawatir dengan sikap Afriadi.


Ting...


Suara oven.


Latika segera pergi, membuka oven mengeluarkan isi yang ada di dalamnya.


"Hem, Kue." Afriadi megendus bau Kue


"Abang mau," tawar Latika cepat di respon dengan anggukan Afriadi. Ia meletakan Kue itu di meja, "Tapi masih panas. Tunggu dulu ya."


Latika mengambil ponselnya. Melihat pesan.


Batin Afriadi berkata, "Terlalu baper kau Af."


Afriadi mendekati Kue yang masih panas itu, tangannya sudah gatal mau mencubit itu Kue sedikit saja. Tapi perhatiannya teralihkan pada Latika yang tersenyum main ponsel.


Ia melihat lagi ada Kue lagi di ujung meja.


"Kenapa ada 2 kuenya? Untuk siapa satunya? Sudah di hias lagi," guma batin Afriadi.


"Dek untuk siapa kue satu itu?" tanya Afriadi.


"Oh itu untuk dia."

__ADS_1


"Siapa?" tanya Afriadi.


"Teman." Latika tersnyum. Ia meletakan ponselnya, berjalan beberapa langkah melanjutkan menghias kue.


Kepala Afriadi memanjang melihat ada pesan masuk. Matanya melek lihat isi pesan dan nama pengirimnya, "Eh... Siapa Mas Ari?'


———————————————————————


Mas Ari


Pagi Latika.


Maaf terlambat Mas kesiangan. Oh ya


Sayang baik-baik saja 😉


———————————————————————


Wajahnya seketika berubah deraktis, ia pergi meninggalkan dapur membawa ponsel Latika.


"Jadi ini. Adek baik karena ini, Adek tersenyum karena ini," geram Afriadi.


Langkahnya berhenti di depan jendela bersar menghadap halaman kolam renang. Tanpa buang waktu lagi Afriadi langsung menelpon Mas Ari.


"Eh, Ponsel." Latika sadar Ponselnya tidak ada di tempat setelah beberapa menit ia tinggal.


"Abang." Latika menyangka Afriadi meambil Ponselnya.


"Astaghfirullah. Pesan dari Mas Ari, jangan-jangan di baca Abang."


Latika cepet meninggalkan kuenya, mencari Afriadi.


Ia mendengar suara serak Afriadi memarahi seseorang.


Latika cepat menuju arah suara itu, saat sampai di sana dugaannya benar ponselnya ada di tangan Afriadi, dan dia memaki-maki orang dalam Ponselnya. Cepat Latika merampas ponselnya dan mengakhiri panggilan.


"Apaan ini. Kenapa Abang memarahi Mas Ari?" Latika kesal, nada bicaranya sedikit naik.


"Oh, jadi Adek membela dia. Siapa dia? Kekasih baru?" Afriadi ngegas. Rasa-rasanya ada api yang membakar hatinya.


"Astagfirullah. Dia bukan kekasih Adek, dia hanya teman."


"Begitu. Hanya teman, tapi panggil sayang. Itu teman."


"Eh," kaget Latika. Afriadi benar-benar salah paham, "Bukan. Abang jangan salah paham."


"Pantaskah seorang Istri panggil mesra seperti itu dengan laki-laki lain selain suaminya."


"Tapi, itu-"


"Adek masih sama saja."


"Adek bisa jelaskan!" teriak Latika.


"Tidak mengerti perasaan seseorang. Cinta dan kasih sayang, bagi Adek hanya mainan saja."


"Abang yang tidak mengerti perasaan orang." Latika membentak, matanya merah berkaca-kaca menahan air matanya tumpah.


Afriadi terdiam, ia dalam kondisi seperti ini mustahil baginya untuk berpikir, ia hanya mengikuti gejolak amarah, "Oh... Maaf kalau begitu... Lanjutkan saja.


Jangan hiraukan Abang, curahkan saja perhatianmu padanya."


Afriadi pergi wajahnya tidak beraturan lagi. Hancur lebur itu wajah persis tapai terjatuh dari tebing, ludes.


Air mata Latika tak bisa di tahan lagi, ia menerobos bendungan, terjun mengalir membasahi pipi Latika. Getar tangannya menyeka air mata, pergi mengejar Afriadi berharap ia bisa menjelaskan ini semua, namun Afriadi keburu sampai di kamar menutup pintu kamar, menguncinya.


"Abang jangan marah, Adek bisa jelaskan. Hiks..." Latika mengetuk pintu Kamar Afriadi.


"Pergi," kata Afriadi dengan nada datar.


"Ha.." Latika kagat, memanggil sekali lagi, "Bang."


"Aku bilang pergi!" bentak Afriadi.


Tangan Latika gemetar, menggeleng, melangkah mundur menjauh dari pintu. Latika semakin menjadi menangis pergi meninggalkan kamar Afriadi.


Afriadi kau terlalu kasar kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2