Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Kesedihan


__ADS_3

Matahari mulai kembali keperinduan, di susul dengan langit yang mulai gelap, burung-burung beterbangan kembali kesarang, azan berkumandan di masjid-masjid panggilan yang sempurna menyeru umat Islam untuk melaksanakan sholat Maghrib, suara azan yang merdu membuat hati terasa damai, orang muslim berbondong-bondong pergi ke mesjid melaksanakan sholat Maghrib bersama.


Latika yang tertidur dalam larutan sedih yang mendalam, air matanya membasahi bantal.


Kreeet...


Pintu kamar di buka, ada yang masuk mendekati ke arahnya, duduk di sisi tempat tidur.


"Non Non bangun Non," panggil wanita paruh baya mengguncang-guncang tubuh Latika, wanita paruh baya itu merupakan pembantu di rumah ini, orang sekitarnya sering memanggil ia dengan sebutan Bik Ipah.


"Em." Latika terbangun.


"Bangun Non, sudah saatnya sholat maghrib, Non," ucap Bik Ipah dengan suara lemah lembut.


Latika kesulitan membuka matanya, matanya membengkak gara-gara menangis seharian, matanya jadi sipit.


"Non, Non tidak apa-apa?," tanya Bik Ipah, raut wajah cemas.


Latika menggeleng-geleng tersedu-sedu perasaanya masih sedih, ia meranjak turun dari tempat tidur. Pandangannya berputar-putar, perutnya kosong hari ini hari ini dia benar-benar tidak makan sesuap nasi pun, makanan yang di sediakan di atas meja di sebelah ranjang tidak ia sentuh sedikit pun. Perlahan-lahan Ia langkah menuju kamar mandi membersihkan dirinya, selama di kamar mandi Latika merasa mual.


'Apa aku benar hamil' pikir Latika melihat wajahnya kecermin tidak membengkak.

__ADS_1


Wajah yang mulus.


Cepat ia mengambil air wudhu.


Pakaian dan perlengkapan sholat sudah ada di sediakan Bik Ipah. Ia megenakan pakaian itu dan melaksanakan sholat Maghrib.


Menit berlalu.


Setelah selesai sholat ia berdo'a dengan suara pelan, "Ya Allah, engkau tuhan semesta alam, yang meciptakan langit dan bumi dan segalanya engkau yang maha mengetahui, mengatur, dan memberi. Tapi, kenapa? Kenapa ya Allah engkau harus timpakan semua ini kepadaku? Kenapa ya Allah? Kenapa? Hiks... Hiks... Hiks..." Setiap kalimat do'a Latika panjatkan di iringi tangisan, air mata tumpah membasahi pipinya, "Ya Allah, berikanlah petunjuk dan rahmatmu kepada hamba untuk menjalani ini semua, kehidupan yang baru ini, berikan kekuatan pada diri hamba untuk atas semua ini. Ya Allah jika benar dia jodohku berikanlah kelapangan dihati ini untuk menerimanya... Ya Allah semoga saja dia bisa membimbingku kejalanmu yang lurus, amin."


Bik Ipah diam-diam melihat dan mendengarkan do'a Latika dari belakang, di luar kamar bersembunyi di balik dinding, berkata dalam hati, "Kasihan sekali Non di umurnya yang masih muda ini. Ia dinikah kan secara paksa, apa lagi orang yang ia nikahi tidak sama sekali ia kenali dan ia sudah harus mengemban tanggung jawab yang sangan besar sebagai Istri. Ya Allah berikan kelapangan di hati Non untuk menerima ini semua, berikan kemudahan bagi Non menjalani ini semua. Amin ya Allah." Bik Ipah berbalik, pergi meninggalkan tempat itu. Ia turun kedapur, tangannya cepat dan lincah memasak makanan malam.


"Assalamu'alaikum." Afriadi datang, ia baru pulang dari masjid.


Bik Ipah yang berada didapur menyadari kalau Tuannya sudah datang, "Wa'alaikumssalam. Tuan sudah datang." Bik Ipah mesajikan makanan yang sudah jadi di meja makan, di lihatnya di ujug meja sudah ada Afriadi duduk rapi siap menyantap makanan.


"Bik, apa dia sudah makan?," tanya Afriadi lembut.


"Jujur Tuan, seharian ini Non tidak memakan makanan yang di sediakan, jangankan di makan di sentuh saja tidak." jawab Bik Ipah tangannya menumpahkan nasi kepiring di sertai lauk pauk secukupnya, memberikan kepada Tuannya.


"Hem." Afriadi menatap lamat-lamat makanan di meja, "Panggil ia turun Bik untuk makan."

__ADS_1


"Baik Tuan." Bik Ipah pergi memanggil Latika, baru ingin menaiki anak tangga langkahnya terhenti, mendengar telpon rumah berbunyi di atas meja kecil bundar di sana.


Triiing... Triiing...


Bergegas Bik Ipah berbalik badan, berlari-lari kecil menuju menja itu, tangannya cepat mengangkat telpon.


"Hallo, good night [selamat malam]," suara pria keluar dari telpon, "... Can me talk with Mr. Afriadi [Bisa saya bicara dengan Tuan Afriadi]."


Tanda tanya penuh di kepala Bik Ipah, ia tidak paham dengan apa yang di bicarakan pria didalam telpon.


"Siapa Bik?," tanya Afriadi, tangannya sudah siap memasukkan makanan kedalam mulutnya.


"Tidak tahu Tuan, bahasanya bahsa alien Tuan," sahut Bik Ipah benar-benar tidak paham dengan apa yang diucapkan pria tersebut, Bik Ipah memang begitu ia mendengar bahasa yang aneh di telinganya disebutnya bahasa alien.


Tangan Afriadi terhenti untuk memasukan makanan ke dalam mulutnya, ia meletakkan kembali sendok ke piring, segera meranjak dari tempat duduknya menuju Bik Ipah, Bik Ipah segera memberikan telponnya.


Afriadi mengambil telpon dari tangan Bik Ipah, "Hallo."


"Hallo...," sahut pria dalam telpon yang tidak lain adalah wakil kepala sekolah SMA Ayubiyyah yang bernama Raya arlangga.


Raya menelpon, kelihatanya penting sekali sampai-sampai wajah Afriadi tegang, pembicaraan yang serius.

__ADS_1


__ADS_2