Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Baikan dengan Hadi


__ADS_3

Jam belajar masih berlanjut, Latika belum kembali juga dari Toilet. Sepertinya terjadi sesuatu dengannya.


Satu Kelas mencarinya, sudah menduga kalau kali ini dia mendapat hukuman yang lebih berat lagi, padahal orangnya lagi kesusahan di Toilet maklum cobaan itu datang lagi.


Afriadi menyuruh mereka mengerjakan tugas yang di berikan.


Yang benar saja baru 2 menit mereka kerjakan bel istirahat sudah berbunyi.


"Sudah siap?," tanya Afriadi, menutup bukunya.


"Belum." Semua menjawab serentak.


"Ya sudah kerjakan di rumah saja. Hadi siapkan." Afriadi berdiri dari kursinya.


Jam pelajaran habis Latika belum juga datang. Hadi menyiapkan di ikuti teman sekelasnya.


"Anak itu. Katanya sebentar, tapi lama." Afriadi menggerutu kesal dalam hati.


Afriadi keluar Latika datang, mereka berpasan di depan pintu Kelas. Latika menundukan kepalanya.


Bagian depan jilbabnya basah.


Afriadi melotot pandangannya tak lari dari itu, tak henti-henti hati Afriadi bertanya, "Basah??? Apa yang ia lakukan di Toilet? Kenapa bisa basah?..."


Afriadi menghelengkan kepalanya, melajutkan langkahnya.


Latika masuk ke kelas mengambil buku hariannya, pergi keperpustakaan bukan tapi ke atap sekolah berjemur mengeringkan pakaian sambil menulis.


Hadi mengikutinya dari belakang.


"Apa yang terjadi lagi? Kali ini ia basah lagi. Apa ia dibully? Siapa yang membulinya?"


Sesampainya di atas Hadi pura-pura menikmati pemandangan, sesekali dia mencuri pandangan pada Latika.


Latika duduk di ujung membelakanginya.


Angin bertiup kencang, jilbab Latika berkibar seiring berirama dengan tiupan angin. Angin seakan menggoda Latika, Hadi terpana mendengar kobaran jilbab Latika.


Latika tidak menyadari Hadi berada di sana, ia hanya fokus pada buku harian.


Waktu berlalu.


Jam istirahat pertama tadi Latika pergi ke atap gedung sekolah dan jam istirahat ke dua ini dia pergi ke perpustakaan, sendiri lagi. Menulis buku harian, duduk di meja paling ujung di mana tempat tidak banyak orang.


Lagi-lagi dari kejauhan Hadi memperhatikannya.


Pura-pura Hadi mencari buku di dekat Latika, Kepalanya memanjang mencoba melihat apa yang di tulis Latika?.


Ah... Percuma, sedikit lagi Hadi bisa melihat apa yang di tulis Latika, namun sayang Sahril datang mengejutkan Hadi.


"Hadiiii..."


"Ugh..." Jantung Hadi hampir melompat, bulu kuduknya naik.


Kejutan Sahril bukan mengejutkan Hadi saja namun juga Latika.


Latika cepat menutup bukunya, melihat ke belakang, Hadi juga cepat menarik Sahril ikut dengannya menjauh dari Latika.


"Oi... Ada apa ini tarik-tarik?" Sahril bertanya.


"Diam kau." Hadi membentak Sahril.


Latika menoleh melihat Hadi menjinjit leher belakang baju Sahril, ia seperti menjinjit kucing saja. Latika tidak memghiraukan kembali menulis.


Mereka bersembunyi di balik rak pura-pura cari buku. Sahril meajukan berjuta pertanyaan dan Hadi tidak menjawab pertanyaan Sahril. Sahril melotot minta jawaban dan Hadi juga melotot memandang Sahril memberi peringatan lewat tatapannya. Sahril tidak paham maksud tatapan itu terus berulang-ulang dia mengulangi pertanyaan yang sama. Rasa-rasanya Hadi ingin sekali jahit mulut Sahril biar tak bisa bicara lagi, lagian bertanya pada tempat dan waktu yang salah.


"Hah... Bosan... Baca buku saja mana tahu bosan hilang," guma Afriadi bangkit dari tempat duduk, melihat-lihat buku di rak.


Em... Dia meamati satu persatu judul buku dari atas ke bawah Kiri Kanan. Tidak ada buku seleranya, ia memutuskan pergi Ke Perpustakaan.


Selang beberapa menit.


Latika pergi meninggalkan Perpustakaan, di ikuti Hadi di belakangnya.


Latika ingin pergi ke Kantin.


Namun di perjalanan Latika beretemu Kina berjalan sendiri membawa minuman es coklat.


"Hy! Lat, kau mau ke mana?," tanya Kina menghadang Latika.


"Kantin." Latika ingin meambil jalan lain di halangi Kina juga.


"Mau beli apa?" Kina bertanya lagi dengan nada suara sedikit lembut.


"Minuman." Latika menjawab biasa saja.


"Oh... Sini, aku berikan gratis untukmu," katanya tersenyum tipis.


"Ha..." Latika kaget


Kina memberikan es coklat gratis kepada Latika dengan cara dilemparnya ke arah Latika.


"AAA..." Latika menjerit tangannya sudah bersiap menjadi benteng.


Brecc...


Es coklat itu mengenai baju.


"Eh..." Latika membuka matanya, bingung melihat bajunya tidak kotor. Tapi, baju orang lain.


"Ha..." Latika terkejut melihat Hadi ada di depannya, melindunginya, "Hadi..."


"Isss... Tidak seru." Kina pergi begitu saja.


Mata Hadi tak lari dari Kina, hatinya berkata, "Ternyata kau Kina."


Hadi melangkah pergi, cepat Latika menarik tangan Hadi, mencegahnya pergi, "Hadi kenapa menjauh?"


Hadi tidak menjawab.


"Latika ada salahkah? Apa karena tidak menerima cinta hadi?"

__ADS_1


"Egh... Tidak aku tidak marah dengan kau." Hadi menundukkan kepalanya.


"Terus, kenapa menjauh?"


"Em... Aku meresa tidak pantas di dekatmu. Hadi malu, malu dekat denganmu."


"Kenapa malu? Apa karena saya miskin?"


"Bukan. Bukan itu. Satelah aku meungkapkan perasaanku dan... Aku merasa tidak pantas untuk menampakan diriku di hadapanmu."


"Ha... Hadi kita sudah berteman sejak kecil. Kanapa mengaggap begitu? Jangan menganggap begitu? Aku tidak ingin kau menjauh hanya gara-gara itu..."


"Aku sudah menganggap kau sebagai Abang kandung."


"Abang kandung?"


"Iya, Abang yang selalu ada saat aku butuhkan.


Kau ingat dulu aku suka minta ini itu rewel dengan kau, dan kau selalu memenuhinya, disuruh jadi kuda kau mau saja, bahkan di naiki pun tidak masalah.


Hihi... Masa yang indah. Aku tidak mau kehilangan-"


"Kau menganggapku Abang?"


Latila meangguk.


"Abang kandung?" Hadi bertanya lagi, kali ini sedikit menggoda.


Latika meangguk, "Hadi Abang yang terbaik."


Hadi tersenyum. Dadanya lega, rasanya beban yang membuatnya sesak selama ini hilang, pikiranya melayang meingat masa kecil mereka, hatinya melenguh lega,


"Jadi selama ini aku salah, aku kira ini cinta monyat, ini bukan cinta monyat, tapi ini cinta rasa cinta dan kasih sayang kepada seseorang yang sudah diaganggap sebagai keluarga.


Hah... Hadi Hadi, kau salah selama ini.


Tapi, aku senag dia menganggapku sebagai Abang kandungnya yang selalu dihandalkan."


"Kenapa diam?" Latika memutuskan lamunan Hadi.


"Haha... Aku senang. Selama ini aku salah. Maaf Latika. Aku juga sudah menganggapmu sebagai Adikku. Hahaha... Maafkan aku ya, sudah menjauhimu tampa alasan."


"Iya. Oh ya. Bajumu harus di bersihkan, lepaskan biar aku bersihkan." Latika memarik lengan baju Hadi.


"Gak apa-apa ini hanya noda biasa, di tutup dengan jaket pun tak kelihatan kotornya." Hadi melihat noda di bajunya. Waw tumpahan es coklat tadi bukan sedikit.


"Hah, nanti jadi noda membandel kalau tidak di bersihkan, sini lepas." Latika memaksa.


Tampa sadar dari kejauhan Afriadi melihat Latika memaksa Hadi melepas bajunya, dan mendengar perkataan Latika memanggil Hadi Abang. Perasaan Afriadi berubah menjadi buruk, api membara membakar hatinya bukan sepertinya seluruh tubuhnya. lagi-lagi dia merasakan perasaan itu setiap kali melihat Latika dekat dengan Pria lain. Dia sadar kalau dia cemburu.


Jarak Afriadi di belakang Latika sekitar 20 langkah membelakangi Latika, dengan cepat Afriadi berbalik, membatalkan niatnya untuk ke perpustakaan.


Hadi memberikan baju seragam putihnya pada Latika, hanya kaos hitam yang menempel di badanya.


Latika membersihkan baju itu di dekat keran yang tak jauh dari sana.


Hadi ikut bersamanya. Senang hati Hadi bisa dekat lagi dengan Latika di tengah kesenangannya ada saja peganggu datang, siapa lagi kalau bukan sohib Hadi, Sahril.


Buuuk... Sahril melempar kulit kacang pada mereka, menyengir.


Mereka menoleh mendengus sebal.


"Hehehe... Baikan nih."


Hadi menyengir menarik kerah baju Sahril, menjauh. Hadi seperti meangkat kucing.


Setelah sekian jauh membuang Si Pengacau Hadi kembali lagi, loh dia kebingungan Latika tidak ada di sana lagi. Ke mana Latika?


Tap... Tap... Tap...


Langkah kaki menaiki tangga menggema di langit-lagit. Latika sampai di atap Sekolah, ia mau menjemur baju Hadi lumayan cuacanya panas bisa cepat kering baju Hadi. Sebelum di jemur Latika terlebih dahulu mengkibas baju Hadi. Ia meangkat baju Hadi tinggi-tinggi siap-siap mau mengkibas baju Hadi. Bayangan mendekatinya.


Baaass... Latika mengkibas baju Hadi.


Waktu seakan melambat.


Perlahan-lahan baju Hadi jatuh, mata Latika melotot melihat ada orang di depannya, siapa lagi kalau bukan Suaminya Afriadi.


Wah tambah tampan wajah Afriadi setelah di semprot parfum. Latika bingung entah mengapa Afriadi ada di sana.


Afriadi mengusap wajahnya. Pucat wajah Latika tadi dia mencoret wajahnya dan sekarang mengibas baju ke wajahnya. Apa yang akan terjadi pada Latika setelah ini?


***


Afriadi dalam pejalanan pulang, tadi dia singgah ke Rumah sakit menemui seseorang.


Mobil Afriadi mendadak berhenti melihat di tepi jalan ada anak murid berseragam sekolah jongkok di tepi jalan, jalan yang sepi, bicara sendiri.


Entah kenapa ia tertarik mendekati gadis itu.


Afriadi perlahan mendekati anak murid. Kelihatanya dia kenal dengan anak murid itu.


Ketika sudah dekat Afriadi terkejut melihat siapa murid itu.


"Latika. Lagi apa?"


"Egh..." Latika terkejut, menoleh ke belakang.


"Aaa... Lagi itu."


Latika ragu ingin menjawab.


Ia menyembunyikan sesuatu di belakangnnya.


"Lagi apa?" Afriadi mencoba melihat ke belakangnya.


Meoww... Meoww...


Seekor anak kucing kurus memunculkan dirinya dari belakang Latika.


"Em... Kucing."

__ADS_1


Afriadi melihat sebungkus nasi yang tergeletak di tanah.


Tidak lain lagi, Latika memberi kucing itu makan


Batinya berkata, "Memberi kucing makan. Subanallah, sudah berpa lama ia lakukan ini? Memberi makan kucing. Sedangkan aku tidak tahu selama ini ia memberi makan kucing, ia terlalu tertutup.


Apa lagi yang kamu sembunyikan dariku? Egh... Latika."


Kucing itu melanjutkan makan.


"Um..." Afriadi mau bicara. Tapi Latika kabur mengejar anak kucing yang tiba-tiba lari. Sontak Afriadi ikut berlari mengejar Latika dia kira Latika lari karena takut dengannya.


"Latika!!!" Afriadi memanggil,


Latika menoleh tampa melihat-lihat lagi ke depan dan...


Pung... Kepalanya kejedor tiang listrik. Afriadi kaget, cepat mendekati Latika.


Bintang-bintang kecil mengelilingi kepala Latika.


Afriadi ingin membantunya berdiri tapi...


"Kau tidak apa-apa?" Seorang Pria terlebuh dahulu mengulurkan tangannya. Latika menyembut.


Lagi-lagi Afriadi merasa ada yang membakar hatinya. Perasaannya sakit melihat Latika di sentuh Pria lain. Apa lagi mata Latika sama sekali tidak berkedip melihat Pria itu, padahal pandangan Latika kabur.


Pria itu menatap Afriadi, tersenyum lebar malah sebalikanya dia mendapatkan pelototan mata yang sempurna dari Afriadi. Pria berambut gondraong itu melepaskan Latika, tersenyum tipis.


Latika membalas senyumnya, Afriadi tambah cemberut melihat itu.


Afriadi merangkuh Latika memberi tanda kalau dia sudah punya Kekasih. Latika melepas tangan Afriadi dari bahunya.


Wah sepertinya Pria gondrong itu tahu kalau hubungan mereka lagi rengang.


Wah, si Gondrong kayak lagi beradegan dalam Drakor.


Meow... Meow...


Suara kucing.


Ooo... Kucing kurus itu ada di dalam tas Pria gondrong itu.


Latika menunjuk Kucing kurus itu.


Pria gondrong itu meangguk. Ternyata itu kucing milik Pria gondrong itu, dia berterima kasih pada Latika dan mendoakan mereka agar baikan.


Sekarang mereka di tinggal berdua.


Wush... Suara angin sampai terdengar.


Latika mulai merasa tak nyaman dengan.


"Permisi."


Latika berbalik, jalan menunduk, menjauh dari Afriadi.


Afriadi menarik lengan Latika, "Naiklah ke mobil."


"Tidak." Latika mencoba melepaskan tangan Afriadi dari tangannya, malah Afriadi megenggam erat lengan Latika.


"Kau mau ke mana ke arah sana?"


"Ada yang ingin aku beli." Latika menghindar beralasan mau beli sesuatu.


"Kalau begitu naiklah ke mobil, biar saya antar." Afriadi memaksa.


"Tidak." Latika berusaha keras melepas tangan Afriadi.


"Latika nurut." Afriadi membentak.


"Egh... Lepas atau-" Latika mulai memberontak.


"Latika kau kenapa?" Nada suara Afriadi menaik.


"Lepas atau saya teriak."


Afriadi melepaskan cengkramannya sampai Latika terjatuh di buatnya.


"Aduh... Hisss..." Latika merintih kesakitan, menatap kesal Afriadi.


"Sudah cukup bertingkah?" Afriadi berubah jadi dingin lagi.


Latika berdiri menepuk-nepuk kedua tangannya, berdebu. Wajahnya cemberut, mengerutu pelan, "Tak punya hati."


"Eeeh..." Latika kaget.


Tampa aba-aba Afriadi mengendong Latika dengan gaya memikul beras, membawanya menuju mobil.


"Lepaskan!" Latika menjerit memukul-mukul punggung Afriadi, kakinya menemdang-nendang, Ia memberontak.


"Kyaaa... Tolong," teriak Latika. Percuma di sana sepi.


Bruuk... Latika masuk ke dalam Mobil. Ia memberontak ingin keluar dari mobil, Afriadi menghalanginya di depan pintu mobil, sehingga tidak bisa keluar.


"Latika ini aku, bukan pencuri. Kenapa susah sekali diatur." Afriadi tidak bersahabat, nada suaranya naik terus.


"Tak mau masuk mobil. Tak mau diantar. Mau pulang sendiri." Latika mencari celah untuk keluar.


"AKU BUKAN ORANG LAIN, LATIKA. NURUT SAJA. MAU KE MANA? BIAR AKU YANG ANATAR!"


Latika terdiam tidak menjawab, kali ini Afriadi membentaknya dengan kuat.


Dalam lubuk hatinya yang paling dia dia beucap, menenangkan dirinya, meatur nafas sebaik mungkin, berkata lembut dengan gigi merapat geram,


"Latika, aku tanya ini."


"Mau pulang saja." Latika menjawab pelan.


"Hah..." Afriadi menutup pintu mobil, berpindah ke sisi lainnya.


Tidak lama mobil melaju menuju rumah.

__ADS_1


__ADS_2