Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
La tahzan innallaha ma’ana


__ADS_3

Pagi menjelang.


Hari ini Afriadi dan yang lainnya sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Sudah berhari-hari mereka dirawat di rumah sakit. Selama berhari-hari di rumah sakit Bik Ipah dan Mang Juneb silih berganti menjenguk dan teman-teman yang lainnya. Latika juga dijenguk sama teman-temannya, mereka turut berduka atas luka Latika.


Afriadi dan Latika dijemput sama Mang Juneb. Samsul pulang dengan emaknya pakai motor bebek.


Selama diperjalanan Afriadi memperhatikan Latika yang murung sebenar Afriadi sudah memperhatikan Latika sejak di rumah sakit, ia tahu apa yang dirasakan istrinya, sakit kehilangan anak yang ia kandung.


Ingin Afriadi memeluknya, tapi ada Mang Juneb. Malu dilihat orang tua.


Disisi lain.


Hasan dan Qilan terpaksa pulang naik taksi, beneran tak ada satupun keluarga mereka yang datang menjemput supir pribadi pun tak ada jemput. Bagaimana mau jemput keluarga tidak tahu mereka dirawat di Rumah Sakit, mereka sengaja tak bagi tahu bahkan teman mereka yang menjenguk pun dilarang untuk bagi tahu keluarga dua orang ini.


"San," tegur Qilan.


Hasan yang melihat pemandangan diluar jendela langsung memalingkan wajahnya ke Qilan. Alisnya naik satu seakan bertanya 'apa?'


"Wajahku tak nampak betulkan hancurnya?" tanya Qilan menujuk wajahnya.


Hasan memperhatikan secara seksama lalu menggeleng, "Tidak jugalah kelihatan, kau kan rutin kasih salap di Rumah Sakit, palingan besok hilanglah. Agak kelihatan lah sedikit."


Qilan meangguk, yah Hasan tahu kenapa Qilan menanyakan soal wajahnya.


"Kalau khawatir sangat tutupi saja pakai bedak lapis, cari warna kulitmu." Hasan membagi saran.


Qilan tersenyum, lalu menghela nafas, "Aku malas pulang San. Seharusnya aku di Rumah Sakit saja dulu berapa hari."


Hasan menatap mata teduh Qilan, ia berkata, "Ke rumahku saja bagaimana? Kalau kau tak mau balek tidurlah dekat rumah aku."


"Betul ni?" Qilan tersenyum lebar menampakkan gigi putih tersesun rapi.


Hasan menghela nafas berat, menyesal ia mengajak Qilan ke rumahnya rasanya ingin ditarik kembali kalimatnya, tapi ya sudahlah dah terlanjur ajak.


"Ya, kau tidur di rumah aku saja kalau tak mau balek. Ayah dan ibuku lagi pergi ke luar kota, aman lah."


Qilan merasa senang sekali, tapi sekarang giliran Hasan yang gelisah, entahlah gelisah soal apa. Hasan merasa tak enak, ada yang jangal.


Disisi lain Latika dan Afriadi mengubah arah perjalanan ke makam Cacan. Afriadi ingin menemui temannya itu. Saat sampai di makam Cacan Afriadi, matanya memerah tak terasa air matanya keluar cepat Afriadi menghapusnya jangan sampai kelihatan Istrinya.


Mereka duduk membaca surah Yasin untuk Cacan dan tak lupa do'a. Tak lama setelah selesai, Afriadi merenung melihat makam Cacan kenangannya masa remaja dulu teringat kembali, Afriadi sebisa mungkin menahan air matanya.


"Bang." Latika menepuk pelan bahu Afriadi memutus lamunan Afriadi.


"Pulang yuk Bang," anak Latika.


Afriadi meangguk meraih tangan Latika menggandengnya. Di jalan yang sempit mereka bertemu Jeni istri almarhum Cacan.


Kepala Latika tertunduk melihat Jeni.

__ADS_1


"Jeni," sapa Afriadi.


"Afriadi, kamu sudah keluar dari Rumah Sakit rupanya, maaf ya aku tak sempat jenguk kamu."


"Gak gak apa-apa, aku mengerti kok."


"Latika sehat?"


"Alhamdulillah sehat kak." Latika menjawab dengan gelisah, seperti ada sesuatu yang ingin ia bicarakan tapi ia tahan.


"Adek tunggu di sini dulu ya, Abang kembali ke sana ada yang tertinggal," kata Afriadi setelah sadar ada yang tertinggal dimakan Cacan.


Latika meangguk pelan.


"Jeni jaga Latika sebentar ya, aku kena dulu," kata Afriadi menitip Latika pada Jeni.


Jeni oke oke saja.


Audio pergi tinggallah mereka berdua. Jeni mengajak Latika untuk duduk disana sambil menunggu Afriadi. Lagi lagi Latika menjawab dengan anggukan, mengikuti langkah Jeni.


Sesampainya di sana mereka duduk diam-diam tanpa ada suara yang keluar dari mulut mereka.


Merasa tak enak Latika membuka mulutnya, "Kak Jeni."


Jeni menoleh. Latika masih tertunduk. Jeni merasa heran ada apa dengan Latika? Kenapa ia menunduk terus?


Air mata Latika jatuh membasahi telapak tangan Latika, Jeni yang lihat kaget.


"Latika!"


Latika menghapus air matanya, Jeni yang merasa kesedihan Latika mendekat memeluknya. Tangisan Latika tumpah diperlukan Jeni.


"Kak, aku minta maaf... Gara-gara aku mas Cacan tiada."


Jeni yang dengar kalimat Latika tak sanggup menahan air matanya, ia kembali teringat dengan Cacan.


"Maaf kak, hiks..."


"Iya Latika. Itu semua bukan salah kamu..."


Jeni memeluk erat Latika.


Ada sedikit rasa lega di hati Latika, sedikit beban di dadanya yang membuat ia sesak perlahan berkurang.


Afriadi melihat mereka dari kejauhan, ia tidak meninggalkan apa pun di makam Cacan itu semua hanya alasan belaka, sekarang Afriadi tahu ternyata Istrinya itu merasa bersalah atas kematian Cacan, menganggap kemauan Cacan gara gara dia.


Afriadi menghampiri mereka, sadar Afriadi mendekat mereka melepas pelukan bersikap biasa saja menghapus air mata.


"Sudah Bang?" tanya Latika. Afriadi menepuk kantong celananya menandakan sudah, padahal ia tak ngambil apa-apa.

__ADS_1


"Kami dulu ya Jeni," kata Afriadi mengandeng tanya Latika. Jeni meangguk. Mereka berpisah, sesekali Jeni memalingkan muka melihat mereka, ia merasa sedih teringat dulu ia dan Cacan sering bergandeng tangan sekarang tinggal kenangan.


***


Sesampainya di rumah Latika langsung masuk ke kamar, sekilas ia memberikan senyuman pada mereka senyuman yang pahit gak ada rasa manis-manisnya.


Bik Ipah tak mau banyak tanya ia tahu perasaan Latika, mereka turut sedih.


Di kamar Latika memeluk bantal menumpahkan air matanya. Afriadi melihat Latika menangis dari balik pintu, tanpa ragu ia menghampiri Latika. Merasa ada yang datang Latika cepat cepat hapus air matanya, duduk ditepi tempat tidur.


Tanpa banyak tanya Afriadi memeluk Latika.


Pelukan yang hangat membuat Latika tak sanggup menahan air matanya lagi.


"La tahzan innallaha ma’ana, janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. Ikhlaskan dia pergi, semua ni cobaan dari Allah. Mungkin kita masih belum dipercaya untuk menjadi orang tua..."


Afriadi melepas pelukannya, tangannya lembut menghapus air mata Latika.


"Jangan bersedih lagi ya Dek, nanti semua orang yang berkorban untuk Adek jadi sedih. Yang tabah Dek..."


Latika meangguk.


Tak puas lihat istrinya hanya meangguk Afriadi meangkat sedikit dagu Latika mensejajarkan pandanganya lalu kedua jadi telunjuknya menarik pipi Latika memaksanya untuk senyum.


"Senyum Dek."


Latika tersenyum malu, mukanya memerah malu.


Afriadi tersenyum puas lihat istrinya tersenyum, ada sedikit rasa bahagia dalam dirinya walaupun yang diberikan Latika hanya sebuah senyuman kecil.


Disisi lain.


Hasan dan Qilan sudah sampai di rumah, yang benar saja rumahnya sepi hanya dihuni beberapa pembantu.


Mereka berdua bukan istirahat melainkan main game PS di ruang keluarga.


"Saaah... Habisi mereka Qilan, jangan kasih ampun." Hasan bersemangat sekali. Apalagi Qilan sampai lupa rasa sakitnya.


Pas lagi asyik-asyiknya main.


Tiba-tiba...


Mereka merasa merinding, seperti ada sesuatu yang mengerikan berada dibelakang.


***


Apa yang membuat Hasan dan Qilan merinding ya? ada sosok apakah di belakang mereka?


Author duduk manis nunggu like and komen.

__ADS_1


__ADS_2