Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Kejadian Berdarah


__ADS_3

aku kembali lagi.


maaf ya lambat up, soalnya author kesulitan di bagian ini apalagi di bagian bawah beh pusing kepala dibikinya.


selamat membaca.


***


"Sudah dulu ya Dek, sudah masuk waktu isya ni," kata Afriadi setelah Latika selesai cerita.


Di layang ponsel Latika hanya meangguk setuju vc mereka berakhir.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumssalam."


Afriadi memutus panggilan video call setelah Latika menjawab salamnya.


"Ha ha, aku akan jadi Ayah," lirih Afriadi. Cairan bening keluar dari sisi matanya, terharu dengan kabar gembira ini sampai ia lupa masalahnya.


Batinnya bersyukur pada masa kuasa atas anugerahnya.


Dalam keheningan kamar Afriadi ingat sesuatu yang identik dengan ibu hamil, yaitu ngidam.


Timbul pertanyaan di hati Afriadi, 'Adek ngidam ya? Ngidam apa ya?'


"Hem...." Afriadi tampak berpikir sebentar. Ia memikirkan Latika ngidam apa? Yang ada dipikirannya saat ialah mangga muda yang asem tu, biasanya orang ngidam suka yang asem asem.


"Hah..." Afriadi menghela nafas kasar, bingung mau beli apa nanti asem asem yang kayak mangga muda atau semacamnya. Ya kali anak yang di dalam perut Latika mau makan oleh oleh asem dari luar kota.


Afriadi mengetik ponselnya kembali menelpon Latika.


Tuuuuuut...


Tuuuuuut...


Afriadi sudah menggenggam tangan erat, merasa khawatir secara tiba tiba. Jantungnya berdegup kencang, cemas panggilannya lambat diangkat.


"Halo."


Afriadi menghela nafas lega saat mendengar suara Latika.


"Assalamualaikum. Dek."


"Wa'alaikumssalam." Latika menjawab sambil memindahkan paket yang ia terima menyelipkan di bawah ketiak kiri, "Ada apa Bang nelpon lagi?"


"Em... Kan bentar lagi Abang mau pulang nih. Adek ada mau makan apa gitu di sini?"


"Hem..." Latika tampak berpikir bersandar dipagar rumah, "Entah ya Bang, Adek tak ada minat."


"Oooh... Nanti kalau ngidam bilang ya, kalau ada tak ada jumpa cari di sana Abang carikan disini."


"Em," gumam Latika pandangannya teralihkan pada mobil hitam yang mencurigakan bergerak perlahan ke arahnya, merasa aneh ia cepat mengakhiri panggilan ingin cepat-cepat masuk rumah.


Latika berbalik badan ketika sadar pintu mobil terbuka mengeluarkan sosok yang seram menyeramkan manusia bermuka hitam tidak bermulut dan berhidung alias pakai topeng, yang sering di pakai untuk merampok itu.


Latika mulai takut, nada suaranya gemetar Afriadi yang dengar serasa aneh, pertanyaan timbul istinya kenapa?


Latika menarik pagar rumah untuk menghalangi sosok itu jika mengejar Latika. Langkah mereka semakin laju benar kali mereka mengejar Latika.


Belum sempat pagar tertutup sempurna sedikit lagi akan tertutup, Latika keburu ditarik sama mereka.


"KYAAAA!!!" Teriak kerja yang sempat tertahan karena mulutnya keburu di sumbat dengan sapu tangan yang sudah di kasih obat bius.


Ponsel yang ia pegang terjatuh terhempas ke tahan bersamaan dengan paketnya.


Tubuhnya mulai lemas, pandangannya rabun melihat seseorang dari arah berlawanan berlari mengejarnya.


"To... Long..." Latika lemahkan minta tolong, kedua tangannya melambai-lambai pada seseorang yang mengejarnya.


"NON!!!" teriak Samsul mengejar Latika yang sudah di bawa masuk ke mobil. Tadi waktu ia keluar dari rumah membawa 2 cangkir kopi satu untuk dia dan satu lagi untuk Mang Juneb yang masih makan di dalam. Ia agak kaget pas di pintu lihat Latika masih di luar pagar rumah habis terima paket lalu tergesa-gesa masuk. Samsul mulai merasa aneh apalagi lihat ada orang yang mencurigakan mendekati Latika. Yang benar saja kecurigaannya benar Latika disekap sama mereka.


Cepat Samsul melempar dua cangkir kopi yang ia bawa, berlari mengejar Latika.


"DEK!!! DEK!!!" Afriadi teriak teriak panggil Latika. Telponnya belum sempat ditutup sehingga Afriadi dengar teriakan Latika dan benturan ponsel ke tanah.


Afriadi menduga Latika di culik. Karena tak ada sahutan Afriadi bergegas keluar dari kamar hotelnya tak lupa membawa dompetnya, cepat ia pergi meninggalkan hotel menelpon seseorang.


"Ikuti jangan sampai kehilangan jejak," gumam Samsul berulang kali mengendarai motor bebek mengikuti mobil yang membawa Latika.


"Lebih cepat lagi!" Cacan menepuk bahu Samsul menyuruhnya ngegas.


Samsul menghela nafas sebal, orang yang duduk di belakangnya ini membuatnya sebal dari tadi menyuruhnya cepat cepat mengejar mobil itu, mungkin dia ingin menyalip mobil itu lalu menghajar mereka semua tidak tahu apa mereka membawa senjata atau tidak.


"Tak bisakah kau lebih cepat lagi!" Cacan menepuk bahu Samsul sekali lagi berteriak di telinganya.


Samsul menyesal membawa Cacan tadi seharusnya ia tinggalkan saja.


Tadi waktu Samsul kejar dengan motornya ia dicegat sama Cacan langsung naik, agaknya dia juga nampak Latika di culik.


"Tak bisa kak lebih cepat lagi!" teriak Cacan emosi.


"Diam lah, kita tak bisa dekat dekat dengan mereka perlu ikuti saja nanti mereka curiga tahu kalau kita sedang ikuti mereka. Lagian kenapa kau tadi kejar dengan mobil kau?!" Samsul balik emosi pandangannya tidak lari dari mobil itu.


"Ban mobilku bocor." Cacan menjawab pelan memalingkan muka ketika ia lihat mata Samsul di kaca spion sedang menatapnya sekilas dari sana.


Mereka lanjut mengikuti mobil itu.


"Hantu!" Samsul mencaci maki ngerem mendadak ketika mau menabrak orang.


"Woy nyeberang jalan itu lihat lihat!" kata Samsul penuh emosi, melaju kembali tanpa menghiraukan orang yang hampir tertabrak tadi.


"Ke kiri. Mereka tadi ke kiri," perintah Cacan saat Samsul berhenti kehilangan jejak mereka.


Di lain sisi.


Mang Juneb kaget ketika keluar rumah lihat 2 cangkir kopi pecah. Ia memanjangkan leher melihat Samsul apa dia ada di sana di pos?


Ternyata saat Mang Juneb menghampiri pos ia tak menemukan Samsul di sana motornya juga hilang.


Ia maju beberapa langkah lihat pintu pagar tergeser keluar dari lintasannya, di bawah tak jauh dari kakinya ada ponsel dan paket Latika.


Mang Juneb jongkok meambil ponsel Latika melihat keluar tidak siapa siapa sunyi malah.


Ia melihat kembali tempat biasa motor Samsul parkir.


Cepat Mang Juneb tutup pagar berlari masuk ke dalam teriak teriak panggil penghuni rumah, "BIK! SARI!"


Berulang kali Mang Juneb meneriaki mereka.


Bik Ipah dan Sari yang ada di dapur lagi sibuk mengemas peralatan makan di jagakan dengan panggilan Mang Juneb.


Cepat mereka berdua bergegas meninggalkan pekerjaan menghampiri Mang Juneb.


"Ada apa Neb Teriak teriak?" tanya Bik Ipah dengan muka serius.


"Ada apa Mang?" tanya Sari muncul di belakang Bik Ipah.


"Gawat Bik... Non... Non..." Mang Juneb bicara terbata bata.


"Non kenapa?" Bik Ipah mulai cemas, kedua tangannya mengguncang tubuh Mang Juneb, "Non kenapa Neb?!"


"Bawa betenang dulu Mang," ujar Sari memberikan air minum yang ia ambil tadi.


Mang Juneb minum lalu menenangkan diri sebentar, lalu bicara.


"NON DICULIK BIK!!!" Mang Juneb ngegas.


"APA!!!" Bik Ipah dan Sari terkejut.


"KAU JANGAN BECANDA NEB!!!" Bik Ipah menarik kerah baju, berteriak di depan Mang Juneb.


"Ya Allah Bik, aku gak bohong. Coba lihat ini ponselnya retak, dia gak masuk-masuk juga ke rumah padahal sudah lama keluar." Mang Juneb menunjukkan ponsel Latika.


Bik Ipah lemah terduduk di lantai hampir tak sadarkan diri. Sari sibuk menenangkan Bik Ipah. Mang Juneb menelpon Afriadi.


Tuuuuuut...


Tuuuuuut...


Tuuuuuut...


"Ya Allah, angkat tuan. Penting ini," gumam Mang Juneb mondar mandir gelisah panggilannya tidak dijawab.


Sekali lagi Mang Juneb menghubungi Afriadi.


Tuuuuuut...


Tuuuuuut...


"Ayo ayo ayo Afriadi angkat."


Berkali kali Mang Juneb menelpon Afriadi tapi tak ada jawaban.


Sampai Mang Juneb mulai putus asa, ia terus mencoba. Mungkin panggilan yang masuk di hp Afriadi lebih dari 100 panggilan tak terjawab.


Di sisi lain Hasan yang tengah berada di rumah sakit mendapat panggilan mendadak dari seseorang siapa lagi kalau bukan Afriadi.


Gila, Afriadi marah marah di ponsel memarahi Hasan yang tak becus menjaga istirnya.


Hasan membisu saat Afriadi bilang kalau Latika diculik.


Yah, Hasan memang diberi tugas sama Afriadi untuk menjaga istrinya selama ia tidak ada di sana. Namun, makan ini ia harus ke rumah sakit neneknya harus operasi malam ini, masalahnya sang nenek ini tak mau operasi kalau tidak ada Hasan disampingnya jadinya ia menyuruh Cacan untuk menjaga Latika mengamati dari jauh dan ia sementara di rumah sakit.


Hasan segera pergi dari rumah sakit setelah neneknya pingsan dan ia tak sadar membawa suntikan ditangannya yang ia genggam tadi.


Disisi lain Samsul dan Cacan sampai di tempat Latika dibawa. Tempat ini tak terurus seperti ditinggalkan begitu saja, bangunan yang gelap disiram cahaya bulan purnama, lihatlah dinding yang kotor berdebu entah berapa banyak kuman yang menempel di sana mungkin sudah bercucu cicit lukanya, lumut menyelimuti dinding dinding gedung ditambah lagi dengan tanaman liar yang merayap di dinding menambah kesan seram.


Bulu kuduk Cacan berdiri semua, meneguk liur ikut masuk, ia terpaksa ikut masuk gara-gara Samsul menyuruhnya masuk bersama kalau disuruh pilih lebih baik ia tunggu di mobil saja, mau bagaimana lagi terpaksalah demi menyelamatkan Latika.


Mereka masuk endap-endap karena pintu masuknya kelihatan dijaga terpaksa cari jalan lain.


Ketika sudah masuk, endap-endap menelusuri lorong yang gelap dengan bayangan cahaya bulan purnama memberi penerang.


Samsul merasa Cacan jauh darinya, ia menoleh melihat ternyata Cacan lagi memainkan ponselnya. Urat kesal Samsu keluar melempar batu pecahan dinding ke Cacan.


Puuuuk ...


"Aduh," rintihan Cacan menatap tajam Samsul.


"Apa yang kau lakukan? Cepat nanti kita ketahuan," kata Samsul dengan suara yang pelan.


Cacan menatap malas Samsul, kembali mengikutinya. Baru beberapa langkah saat ingin belok Samsul berbalik arah menarik Cacan mengajaknya bersembunyi.


"Apa?" Cacan menentukan Samsul pelan dengan raut wajah penuh emosi setelah ia bersembunyi di balik tong tong tua, bagaimana tidak ia emosi, Samsul tarik kerah belakang bahunya bukan tangan.


Samsul menutup mulut Cacan, matanya jeli menatap beberapa orang yang melewati mereka dengan senapang di tangannya. Cacan sadar ternyata Samsul mengajaknya sembunyi dari orang itu.


Merasa situasi sudah aman mereka keluar dari tong dan melanjutkan lagi.


Disisi lain Latika tersadar dari pingsannya, ia merasa pegal di sekujur tubuhnya. Pandangannya rabun melihat sekitar yang asing, tempat yang asing dan kotor tak terurus seperti bangunan yang sudah ditinggalkan. Ia merasa sakit di tangannya, ternyata tangannya diikat kebelakang dan kakinya dengan mulut yang ikut dilakban.


Sadar dirinya diculik Latika berusaha kabur dengan menggesekkan kedua tangannya agar tali yang mengikat tangannya longgar, namun hasilnya tidak ada tetap saja masih terikat kuat.


Tap... Tap... Tap...


Merasa ada yang datang Latika pura-pura pingsan lagi. Merasa langkah kaki itu semakin mendekat.


"Hey, bangun!"


Latika disiram dengan air, Latika terbangun ia lihat seorang wanita berambut pirang berjongkok di hadapannya membawa gelas. Ia tak kenal dengan wanita itu, tapi wanita yang berdiri dibelakangnya itu...


Latika tak kenal juga.


Wanita berambut hitam yang diwarnai hijau di ujung rambut itu mendekati Latika, menarik lakban hitam yang menutupi mulutnya.


"Au," rintih Latika saat lakban itu ditarik dengan kuat sampai mencabut bulu bulu halus di wajahnya.


"... Tak ku sangka, cantik juga dia..." Wanita berambut pirang itu menyeringai lebar, mengelus pipi Latika.


Disisi lain Afriadi turun dari bandara sekitar jam 11 malam penerbangannya dari kota y ke kota x pukul rata 3 jam.


Keluar dari bandara ia dijemput dengan taxi online yang ia pesan sebelum berangkat tadi.


Saat di dalam mobil, ia periksa ponselnya yang menunjukkan 100 lebih panggilan masuk dari Mang Juneb.


Afriadi telpon balik mang Juneb. Mang Juneb menerima panggilan Afriadi, ia langsung to the poin pembicaraan, ia beritahu kalau Latika diculik. Afriadi kaget dengar berita itu, dugaannya benar, ditelepon Afriadi dengar suara kendaraan ternyata Mang Juneb mencari Latika dengan motornya, dia sudah hubungi polisi teman dekatnya yah kalau langsung ke kantor polisi harus tunggu 24, gila nunggu selama itu bisa-bisa Latika.


Kreeek...


Die, mati.


Panggilan Mang Juneb berakhir masuk lagi panggilan dari Hasan yang memberitahukan lokasi Latika, dia tahu dari Cacan.


Afriadi bergerak menuju tempat Latika, selama di perjalanan Hasan memberitahu Afriadi mengingatkan kembali kalau tempat itu pasti banyak penjaganya harus hati-hati mereka pasti menginginkan kehadiran Afriadi, dia minta Afriadi tidak berbuat gegabah. Dia dan timnya menuju lokasi Latika berada.


Disisi lain pula Latika dipaksa meminum obat sama dua wanita itu, sampai dipukul karena berkali-kali Latika memuntahkan obat itu, ia tahu itu obat apa. Obat aborsi. Why? Mereka mau menggugurkan kandungan Latika, sebab.


"... Buka mulut mu!" titah wanita berambut hitam disemir hijau di ujungnya itu.


"Paksa terus Gita!" perintah wanita berambut pirang yang tak lain Wilona.


Ternyata wanita berambut hitam itu Gita, gila tampilannya beda kali. Baju hitam ketat dengan pisau di pahanya.


PLAK...


Tamparan melayang di wajah Latika gara gara tidak mau meneken obat. Sudah sekian tablet yang Latika muntah kan kembali sampai lidahnya kelu tak berasa.


Sekali lagi Gita memaksa Latika minum obat, kali ini ia menjambak rambut Latika yang terbungkus jilbab agar kepalanya mendongak sedikit, Latika melenguh kesakitan mulutnya ia tutup rapat menahan obat yang Gita sodorkan di depan mulutnya.


Lagi lagi Latika memuntahkan obat itu.


"Hhheeeg..." Gita geram Latika terus menuntaskan obatnya.


"Dia terus saja memuntahkan obatnya," ujar Gita menjadi padat Wilona yang duduk santai kayak di pantai.


"Kenapa kau menyuruh ia meminum obat ini? Kenapa tidak dorong saja biar dia keguguran?" tanya Gita.


"Kau tahu kalau dia terjatuh, kemungkinan anak dalam rahimnya itu bisa bertahan..." Wilona menjelaskan.


"Lagian kenapa harus menggugurkan kandungan-" kalimat Gita di potong Wilona.


"Gita, sudah berapa kali aku bilang padamu, aku ingin balas dendam pada suaminya atas apa yang ia lakukan padaku dulu."


Gila meangguk paham sebenarnya dalam hatinya bertanya-tanya apa yang Afriadi lakukan pada Wilona dulu sampai ia dengan sangat?


Wilona meranjak dari tempat duduknya menghampiri Latika membawa segelas air yang sudah ia campur dengan obat aborsi entah berapa keping ia masukkan.


Ia jongkok di depan Latika.


PLAK...


Menampar pipi Latika, itu pipi sudah merah kebas asik ditampar terus.


Sebelah tangannya kuat menjepit kedua pipi Latika.


"Kau tahu apa yang telah suamimu lakukan padaku dulu? Dia membunuh anakku."


Wilona mencekik Latika sehingga mulutnya terbuka memberi kesempatan pada Wilona memasukkan air kedalam mulutnya. Habis itu mulutnya ditutup melarang Latika memuntahkannya.


Sadis sekali Latika di paksa minum kaldu di muntah kan paksa lagi minum lagi sampai berhubung kekerasan.


Di sisi lain Cacan dan Samsul terpisah berpencar cari Latika.


Cacan mengendap-endap jalan merasa ada yang akan kewat capat cari tempat sembunyi.


"Aku harap kau cepat datang Hasan, bisa babak belur aku dihajar mereka. Kalau ketahuan," gumam Cacan memperhatikan kiri kanan aman atau tidak.


Aman, ia lanjutkan berjalan.


Tunggu...


Langkahnya terhenti melihat sekeliling, tempat ini seperti tidak asing. Ia merasa sering masuk ke tempat ini.


"Ini kan toilet. Hiii... Banyak hantu sini, cepat keluar," gumam Cacan ingin keluar, karena pintu utamanya sudah tidak ada jadi nampak cahaya senter yang akan menuju ke sini, Cacan yang panik langsung masuk ke salah satu bilik.


Di dalam bilik yang gelap ia melihat dari celah bawah bilik cahaya senter berjalan.


Cahaya itu berhenti lama nampaknya ada yang lagi buang air kecil.


Cacan merasa ada angin dingin menggelitik lehernya, hawa dingin mulai datang gerah dirasa, peluh bercucuran, tercium bau khas, Cacan merasa ada sosok dibelakangnya. Satu gambaran di otaknya yaitu hantu.


Nafas Cacan memburu, perlahan ia menoleh ke belakang. Daaan...


"Aaaa!!" Cacan menjerit kaget melihat sosok


BUUUUK...


Reflek ia menghajar pusaka sosok itu, sangking kaget dan takutnya.


"AGHHHH!!!" erang sosok itu.


Ternyata itu bukan hantu melainkan manusia yang lagi hajat, suai saja ia ada cium aroma khas. Cepat Cacan keluar, ketika pintu dibuka.


BAAAA...


Ada orang berdiri tegap di hadapannya.


Kaget Cacan dibuatnya. Tanpa aba-aba Cacan diserang, secepat mungkin ia menghindari serangan keluar dari bilik menendang orang itu masuk ke dalam.


Lari secepat mungkin dari sana. Dalam kegelapan ditemani cahaya bulan purnama ia berlari.


Disisi lain Samsul berhadapan dengan seseorang bertubuh kekar dengan tatapan mata tajam seakan mengeluarkan aura membunuh.


"Tak ku sangka kita bertemu lagi. Aku kira waktu itu pertemuan terakhir kita..."


"Dunia bagai tempurung terlalu sempit sampai kita bertemu kembali," sahut Samsul, "Dendi"

__ADS_1


"Ternyata kau masih ingat namaku Samsul," ujar Dendi, nama pria gagah yang berada di hadapan Samsul.


"Aku tidak akan lupakan kau, kerena kau-" Samsul menghentikan kalimatnya.


Hening sesaat.


Cahaya bulan purnama menerobos masuk lewat jendela tak berkaca menyiram Samsul seutuhnya.


"Karena aku sudah kau anggap sebagai saudaramu sendiri."


Samsul terdiam, ia ingat dulu ia pernah bilang begitu pada Dendi.


"Ha, sekarang kau masih menganggap ku sebagai saudaramu. Walau, aku sudah menyentuh kekasihmu dulu."


Muka Samsul merah padam dl dengar dia ungkit masalahku apa lagi kejadian itu.


"Jangan buang bayang waktuku Dendi," geram Samsul mengepal tangannya mendaratkan pada wajah Dendi, namun serangannya di tangkisan.


Samsul menyapu kali Dendi sampai ia dan Dendi terjatuh.


"Ugh," lenguh Dendi ketika dirasa siku Samsul menusuk dadanya.


"Lumayan juga."


Buuk...


Dendi membenturkan kepalanya dengan kepala Samsul. Samsul menjauh merasakan denyutan di kepalanya.


Disisi lain Cacan bersembunyi dari kejaran mereka. Ia semakin merapat ke dinding bersembunyi dibalik bayangan dinding yang tidak terkena sinar bulan.


Mereka melewati Cacan, salah satu dari mereka tertinggal memberi Cacan kesempatan untuk menyekap dia dari belakang.


Merasa tidak ada yang aneh Cacan kembali beraksi menyekap salah satu dari mereka lagi yang tertinggal menyeretnya masuk ke dalam kegelapan.


Merasa anggotanya kurang satu persatu hanya tinggal dia seorang saja lagi Cacan keluar dari kegelapan menghajar pria itu.


Serangan Cacan dielaknya dengan mudah, Cacan kembali menyerang ingin melumpuhkan dia mengeluarkan tinju handalannya.


BUUUK...


Menggema suara tinjunya.


Tapi, hasilnya itu pria tetap berdiri tegak tak merasa sakit atau respon apa gitu.


"Wacaw... Owooooh..." Cacan bergaya Bruce Lee menuju berkali-kali bagian perut dengan cepat dan lincah ia bergerak menuju bagian lainnya.


"Gila," caci Cacan menatap pria itu tetap tak bergeming sedikitpun, masih berdiri tegak kokoh hanya melenguh sedikit saja.


Cacan heran dibuatnya


"Bukan lawan aku ni," gumam batin Cacan.


"Heheh... Kekarnya." Cacan cengengesan mengusap telapak tangannya.


Breep...


Tangan Cacan ditarik dan dibanting.


"Agh," erang Cacan setelah dirinya mencium lantai.


"Huwaaaa..."


Cacan kembali dibanting kiri kanan kiri kanan lalu dilempar sampai tercium dinding lagi.


Cacan merasa tubuhnya sakit sakit semua, yah walau ilmu bela dirinya memang kurang.


"Aagh."


Cacan lihat pria kekar itu mendekat ke arahnya, datang bersamaan dengan tendangan yang siap menendang perut Cacan secepat kilat Cacan berpindah.


"Hampir saja," gumam Cacan meambil jarak darinya. Cacan bersembunyi di kegelapan. Pria kekar itu masih mencari Cacan di kegelapan, mengacak-acak hampir setiap tempat.


"Harus cepat pergi Cacan sebelum dia temukan kau," gumam batin Cacan ketika pria itu hilang dari pandangannya, entah kemana perginya. Cacan sudah was was boleh ke kiri tidak ada ke kanaaaaaaaaaan...


Baaa...


Jantung Cacan hampir lompat lihat wajahnya yang disinari cahaya senter ponsel, gila macam hantu.


"Aaaa..."


BUUUK...


Cacan menghantam dinding terjatuh ke lantai.


"Lagi. Aduh..."


Pria itu berlari cepat ke arahnya, Cacan tak habis akal saat dia mendekat ia terjang pusakanya.


Ugh...


Jangan tanya sakit atau tidak. Yang pasti air mata menetes aset untuk masa depan suram.


Kalau diingat ingat sudah berapa kali ya Cacan menerjang pusaka orang.


"KAAAAU..." Gemetar-gemetar tubuhnya menahan sakit akut di bawah.


Bulu kuduk Cacan langsung berdiri, dengan memberanikan diri ia menendang dagu pria itu menghajarnya beberapa kali sampai K.O


Ia berdiri membetulkan bajunya, merinding dirasa dibelakangnya angin sejuk menggelitik lehernya.


"Hey!"


Cacan melirik kearah suara itu.


GOOOONG...


"Habislah aku," gumam batin Cacan lihat batang besi dilehernya siap menghantam sampai patah dan orang-orang dibelakangnya berkumpul siap menghajar sampai babak belur.


Perlahan Cacan membalikkan badannya besi yang ada dilehernya juga ikut bergerak.


"Beraninya kecoa seperti kau masuk ke sini, bosan hidup apa?" ujar salah satu dari mereka.


"Lepaskan wanita yang kalian sandra," kata Cacan serius.


"AHAHAHAHA..." Mereka tertawa lebar.


"Beneran ingin mati ni orang," ujar salah satu diantara mereka.


"Lebih baik kau pulang mengais di pangkuan ibumu, di sini jadi akan mati jika ingin menyelamatkan wanita itu," berkata lagi salah satu diantara mereka.


"Aku tak takut mati, bahkan aku rela mati untuk menyelamatkan dia."


Tak ada sedikitpun rasa gentar di hari bacaan ia serius dengan apa yang ia ucapkan.


"Banyak omong! HAAAA!!!" Batang besi itu diayunkan siap mematahkan batang leher Cacan.


BASSST...


Cacan menangkap besi yang akan mendarat di lehernya, ia menerjang wajah pria itu dengan kedua kakinya sampai tangannya l genggaman tangannya terlepas dari besi itu membuat ia jauh terjungkal.


Cacan mendarat dengan mulus, mengajar habis mereka semua di dengan besi yang ia gunakan.


Sayangnya Cacan cuman berapa saat menang melawan mereka akhirnya ia terjungkal juga ke lantai. Gara-gara kalah jumlah dan batang besi yang ia gunakan diambil alih sama salah seorang diantara mereka.


Mata Cacan membesar disadari ada yang berlari kearahnya siap memukulnya. Daaaan...


TRANG TANG TANG TANG TANGGGGGGG...


Batang besi tersebut terpelanting jauh termasuk orangnya sekali, dihantam dengan kepalan tangan yang penuh amarah menghantam wajahnya.


Cacan tak percaya, Afriadi berdiri dihadapnnya.


"Siapa kau?"


"Siapa aku tak penting, sekarang kau bagi tahu aku dimana istriku?"


"Bagaimana bisa kau sampai ke sini. Diluar-"


"Oh, maksudmu para kurcaci liar itu anak buahmu. Mereka sudah ku bereskan." Afriadi mengulurkan tali pinggangnya yang sudah berdarah.


Mereka gentar lihat ikat pinggang itu.


Cacan saja meneguk liur, takut-takut lihat Afriadi. Dia tak seperti biasanya.


"Pergilah Can, serahkan mereka padaku," titah Afriadi. Cacan segera pergi dari sana saat salah satu dari mereka ingin menghalangi Cacan Afriadi lebih dulu menghantam dia dengan ikat pinggang. Gila melepik suaranya, merah pasti kulitnya.


Cacan gemetar berjalan tak sanggup berlari saat kupingnya menangkap jeritan mereka dan hantaman ikat pinggang itu ke kulit mereka.


"Harus kuat Can, sekarang cari Latika dimana," gumam Cacan terus melangkah.


Di sana Afriadi masih bertarung dengan mereka tinggal beberapa orang saja lagi yang bertahan.


Tes... Tes... Tes...


Darah menetes dari ikat pinggang miliknya.


"HYAAAAA!"


Sekaligus mereka menyerang Afriadi.


Disisi lain Samsul berhadapan dengan Dandi sohibnya dulu pas waktu ia kerja di dunia gelap sekarang mereka saling berhadapan mengadu kekuatan.


Nafas Samsul tersengkal begitu juga dengan Dendi.


"Haha aku berterimakasih pada kau, kalau tidak tugasku tidak akan selesai. Hahahaha..."


"TAPAAAAAI!!!" caci Samsul kembali menyerangnya.


Disisi lain.


Afriadi melompat melintir leher dia.


Bruuk...


Dia ambruk. Afriadi desekap dari belakang seolah menahannya, lalu seroang dari mereka menerjang perut Afriadi meninjunya berkali-kali sampai Afriadi memuntahkan darah. Tak habis akal Afriadi menerjang wajah orang itu dengan kedua kakinya, lalu berlari mundur menabrakkan tubuh Persia dibelakangnya ke dinding berkali-kali ia tabrakkan samapai pelukannya melonggar.


Dari arah depan dia datang lagi membawa batang besi yang ingin menghantam wajah Afriadi, namun naas karena kelewat akal Afriadi menunduk sehingga temannya sendiri yang kena.


Kesempatan Afriadi menerjang sekali lagi dia dengan kedua kakinya dan melompat mendaratkan tinju di wajahnya.


Afriadi kembali bangkit setelah dirasa tidak ada lagi yang berdiri menghajarnya.


Nafasnya tak beraturan kepalanya udah keluar darah gara-gara tadi dihantam dengan balok kayu.


Ia berjalan menelusuri gelap diterangi cahaya bulan purnama dari sisi sisi jendela.


Merasa sudah jauh ia berjalan. Terdengar suara tepuk tangan.


Plok... Plok... Plok...


Suara tepuk tangan terdengar dari belakang,


"Wah wah wah... Kita bertemu lagi ya."


Langkah Afriadi terhenti, dihadapnnya sudah ada sosok bersembunyi dibalik bayangan Diding bersembunyi dari matahari, ia melangkah keluar keluar melihatkan sosok yang sesungguhnya. Afriadi tidak terlalu kaget, dugaannya selama ini benar.


"Ternyata kau."


"Hahaha..." Gelak tawa menyebar luas.


"Di mana kau sembunyikan istriku?" tanya Afriadi dingin.


"Heh, tu." Dia menunjuk atas, "Di atas sana."


Afriadi mengepal erat tangannya, muak lihat ekspresi dia. Rasanya ingin cepat menghabisinya seperti yang ia lakukan pada anak buahnya di lift tadi. Tapi kelihatannya dia lawan yang tangguh.


"Ingin ke sana." Dia tersenyum licik, menunjuk ke atas beralih jempolnya menujuk dirinya dengan percaya diri berujar, "Lewati aku dulu."


"Ah, istrimu sangat menggoda. Setelah di siksa, aku akan menyentuhnya, hiiiiis..."


Semakin kuat Afriadi mengepal tangannya, uratnya tegang meneriaki nama pria itu, "AGUSTIAAAAAAN!!!"


"Kemari Afriadi."


Afriadi berlari cepat mendekati Agustian tangannya meraba kantong belakang meambil sesuatu.


Agustian mengarahkan pistolnya ke arah Afriadi siap menembaknya.


Waktu Agustian mau narik pelatuk Afriadi mengeluarkan cekram melempar mengenai tangan Agustian sehingga pistol terjatuh dari tangannya. Saat Agustian mau meambil kembali Afriadi keburu menendangnya jauh tangan yang mengepal bersiap menuju wajah Agustian.


BASSS...


Tinju Afriadi berhasil di tahan Agustian dengan sebelah tangan. Mereka saling tatap dengan tatapan maut, siap membunuh.


Afriadi menarik tangannya mundur beberapa langkah menyiapkan kuda-kuda.


"Lincah juga," kata Agustian meambil Abang ancang, mengeluarkan senjata berupa ...


Afriadi waspada, ia tidak punya senjata bertarung dengan tangan kosong.


Cepat Agustian menyerang Afriadi dengan kedua senjata di tangannya bergerak bagaikan menebas rumput dengan gunting rumput.


Wuuss...


Afriadi menghindari dari serangan Agustian, tubuhnya melengkung 60 derajat.


Berdiri kembali, cepat menghindar serangan Agustian yang ingin menusuknya dari samping.VAgustian terlalu cekat dan lincah dalam menggunakan senjata, berkali-kali Afriadi menghindari serangan Agustian.


"Lumayan juga ya. Cepat menghindarnya." Agustian memainkan senjatanya, kedua tangannya memutar-mutar sejatanya.


Afriadi melangkah mundur meambil ancang-ancang, bersiaga.


SYIIING...


WUUUS...


Agustian kembali menyerang dengan senjatanya, Afriadi menghindar menjari titik yang tepat untuk menyerang balik Agustian.


SYAAAS...


Afriadi menunduk mengindari senjata yang melewati kepalanya, ia melihat titik kelemahan pada lawan sekarang gilirannya menyerang balik, ia muncul seperti ikan arwana yang melompat dari air ingin menangkap mangsanya di udara, dengan telapak tangan yang melayang berubah menjadi kepalan tinju.


WUUUS...


BUUUK...


"Egh."


Afriadi berhasil menuju dagu Agustian. Berkali-kali Afriadi menyerangnya meninju cepat perut Agustian.


BRUUUK...


Agustian terjatuh, Afriadi kembali menyerangnya meninju wajah Agustian.


WUUUS...


Agustian mienya Afriadi dengan menyerangnya tiba tiba senjata di tangannya hampir mengenai wajah Afriadi jika ia tidak mengelak tadi.


Agustian bangkit dengan sempoyongan, Afriadi kembali meambil ancang-ancang bersiap diserang atau menyerang.


"Heh, lumayan." Agustian menyeka darah yang keluar di sudut bibirnya.


Kembali menggenggam erat senjatanya, bersiap menyerang kembali.


"HIYAAAA!!!" Agustian menyerang Afriadi, cepat Afriadi menghindar, kali ini Agustian menyerangnya secara brutal Afriadi sedikit kewalahan menghindar plus menyerang balik ditambah tenaganya terkuras habis melawan anak buah Agustian tadi.


DOOOR...


Suara tembakan terdengar di telinga Afriadi.


"Adek."


Fokusnya terpecah sehingga serangan Agustian mengenai dirinya.


SYAAAAT...


Tubuh Anda tersayat.


Gerakannya tidak tentu lagi, ia pada terus teringat dengan Latika, ia melihat kalau Latika tertembak.


Agustian mendapat kesempatan emas terus menyerang Afriadi, setiap serangan yang ia luncurkan terus terkena.


"Egh," lenguh Afriadi, setiap goresan sayatan di tubuhnya serasa tidak ada rasa sakit. Yang ia pikirkan saat ini istrinya tertembak.


BUUUK...


Afriadi menendang perut Agustian. Menjauh darinya, rasa nyeri sudah dapat dirasa olehnya.


"Ahahaha... Kenapa Afriadi? Oooouuu... Kau khawatir dengan istrimu?" ledek Agustian.


"Hiks... Mas!" teriak Latika.


"Mas bertahanlah." Latika menutup bekas tembak di tubuh menghentikan darah yang terus keluar. Sesak dadanya mendengar Cacan yang kesusahan bernafas.


"Hahaha... Memuaskan, sudah lama sekali aku tidak menghabisi seseorang." Wilona meniup ujung pistol, menyeringai lebar puas melihat Cacan terluka dan Latika bersedih.


"Kejam. Kalian kejam, teganya melukai orang yang tak bersalah... Apa salahnya sampai kau menembaknya?" Latika menangis melihat darah Cacan terus keluar tidak berhenti padahal ia sudah menahannya.


Latika tak mendengarkan betul apa yang dibiarkan dua orang itu.


"La~ri~" Cacan menyuruh Latika lari dengan tangannya yang gemetar mendorong Latika untuk pergi.


Latika menggeleng tak mau pergi meninggalkan Cacan


"Hah... C-cepat kau p-pergi Latika. Egh..." Cacan menekankan setiap kalimat, berusaha membentak Latika.


Latika menangis tak mau pergi, tangannya gemetar menahan darah yang keluar. Telapak tangannya basah berlumur darah.

__ADS_1


Bibirnya gemetar tak sanggup mau bicara.


'Aku harus membawanya keluar dari sini,' gumam batin Cacan, dengan tekat yang kuat ia berusaha berdiri.


Latika tersentak kaget, tangannya menahan tubuh Cacan tidak memberikan dia berdiri, tapi Cacan tetap berusaha keras berdiri. Merasa iba Latika membantu Cacan.


"Ayo pergi Latika, aku akan melindungimu dari belakang. Lari secepatnya," kata Cacan pelan.


"Tapi-"


"Tidak ada tapi tapi. Kau harus selamat, kau sedang mengandung Latika setidaknya kau pikirkan bayi mu, selamatkan ia." Cacan berkata dengan menekan setiap kalimat.


Kepala Latika tertunduk menahan tangisnya.


Cacan menarik tangan Latika mendorongnya untuk berlari.


Mereka berdua hanya melihatkan saja dengan senyum licik, membiarkan mereka pergi. Melihatkan mereka sanggup pergi sejauh mana.


Gita bersiap menembak mereka, Wilona hanya melihatkan saja. Tak sabar ia melihat mereka kreeeek mati.


Latika berlari dengan air mata yang terus tumpah, ia tidak ada alasan untuk lari. Bayi di dalam kandungannya...


DOOOR...


Latika tersentak kaget, langkahnya perlahan terhenti menoleh ke belakang. Matanya membesar melihat Cacan tertembak lagi.


"LARI LATIKA!!!" teriak Cacan ketika ia lihat Latika tak lari.


DOOOR...


DOOOR...


"Egh."


"Per~gi~" kata Cacan lemah, suaranya seakan hilang.


DOOOR...


"Ag."


Latika berlari kembali mencoba menangkap Cacan.


BRUUUK...


"Bodoh. Kenapa kau masih di sini?" Cacan menatap Latika dengan mata sayu, mulutnya sudah berdarah.


Merasa Cacan tidak akan bertahan lama lagi dengan nafas satu satu.


Ada dorongan di hati Latika untuk menuntun Cacan mengucap dua kalimat syahadat.


Cacan mengikuti kalimat syahadat yang di ucapkan dengan mata yang perlahan tertutup.


Suara Latika menggetar ketika mengucapkan kalimat itu.


"Uhuk..."


Darah keluar dari mulut Cacan, perlahan Cacan menutup matanya.


"Mas... Mas Cacan." Latika menepuk-nepuk pipi Cacan. Dengan panik ia meraih tangan Cacan memeriksanya berpindah lagi ke bagian leher bawah rahang.


Air mata Latika kembali tumpah saat mengetahui Cacan sudah tiada.


"Hiks... Mas hiks..."


Disisi lain Agustian dan Afriadi bertarung hebat, dengan tenaga yang masih ada Agustian terus menyerang ia tak merasa sakit di sekujur tubuhnya, wajah sudah babak belur bekas hantaman tinju Afriadi.


Ia tidak menggunakan senjata apa apa bertarung tangan kosong dengan Afriadi.


Walaupun bertarung dengan tangan kosong ilmu beladiri lumayan juga.


Agustian ingin cepat mengakhiri pertarungan mereka, sadar dengan tenaganya yang hampir habis.


Afriadi disekap dari belakang, sebelah tangannya mencekik Afriadi. Tak habis akal Afriadi menabrakkan dirinya ke Agustian agar dia terhimpit olehnya dan dinding. Punggung Agustian terbentur keras, tak henti sampai disitu ia menyiku wajah Agustian.


Agustian tak mengalah ia terus mempererat cekikanya dan meloloskan dirinya dari himpitan itu, membalik Afriadi biar dia yang dihimpit lagi. Namun naas karena kelewat cerdik waktu Agustian ingin menghimpitnya Afriadi menendang dinding berlari cepat membentuk busur kembali mendarat di belakang Agustian.


Merekup bunyi tulang Agustian, cekikanya terlepas karena tangannya terpilas. Merah leher Afriadi.


Afriadi meninju wajah Agustian habis habisan, sampai bengkak matanya darah keluar dari hiding, tak habis di mata Afriadi menuju di perut sampai Agustian mengeluarkan darah dari mulutnya.


Afriadi mundur sekitar dikira sudah cukup ia kembali berlari meloncat mendaratkan sikunya di kepala Agustian.


BRUUUK...


Agustian k.o


Nafas Afriadi tak beraturan, meambil senjata Agustian.


Sebelum pergi Afriadi berkata, "Perbaiki dirimu, perjalanan hidupmu masih panjang, jadilah manusia yang lebih berguna."


Ia tahu Agustian tidak mati ia hanya pingsan saja.


Disisi lain.


"Ooow... Menyedihkan Aku ikut terharu," kata Wilona mengejek.


"Sekarang giliran kau pula. Habisi dia."


Mereka berdua mengarahkan pistol ke arah Latika.


Latika menutup kedua matanya pasrah dengan keadaan.


DOOOR...


BRUUUK...


Latika tidak merasakan apa-apa, ia membuka matanya melihat tubuhnya tidak apa-apa. Malah orang yang tertembak.


"Gita!" teriak Wilona. Gita menahan darah yang keluar dari perutnya akibat tertembak.


Latika tambah kaget Gita tumbang kena tembang. Siapa yang tembak? Batin Latika bertanya-tanya.


Dilihatnya dari arah yang berlawanan, pupil matanya membesar. Latika tak berkutik, air matanya menetes lagi bukan air mata kesedihan tapi air mata gembira.


Yah, dia gembira. Ternyata Afriadi datang menyelamatkannya.


"Kau!" geram Wilona, giginya terkatup rapat.


Wilona mengarahkan pistol ke arah Afriadi. Ketika Wilona ingin menarik platuk pistol, Afriadi melempar senjata yang ia ambil dari Agustian tadi.


WUUUS...


"Agh..." Wilona mengerang kesakitan ketika tangannya tertancap senjata yang dilempar Afriadi.


Afriadi mendekat dengan jalan yang terjingkit jingkit. Matanya menatap tajam Wilona.


"Tak kusangka kita bertemu lagi Afriadi," kata Wilona, mencabut senjata melemparnya jauh.


Afriadi tidak membalas perkataan Wilona.


Latika melenguh kesakitan.


"Dek, keluar dari sini," titah Afriadi tidak ada respon dari Latika.


"Dek." Afriadi menoleh, pupil matanya membesar ketika ia lihat Latika pendarahan, "Dek!" Afriadi menghampiri Latika.


"AHAHAHAHA... Tak ku sangka obatnya bekerja." Wilona tertawa terbahak-bahak.


"Apa yang kau lakukan pada istriku?" tanya Afriadi dingin, memeluk Latika mengusap wajah yang memar itu.


"Aku lakukan dia sama seperti kau memperlakukanku dulu. Nyawa dibayar nyawa Afriadi."


"Itu kesalahanmu sendiri, bukan aku yang membuat engkau keguguran."


"Kalau bukan karena kau aku pasti sudah mendapatkan yang kuingin kan... Jadi mengacaukan semuanya! Tak salah aku lakukan hal sama pada istrimu."


"Jangan libatkan Istriku dan orang terdekatku, mereka tidak tahu apa-apa!"


"AHAHAHA... Justru itu yang aku inginkan. Kau merenggut anakku dan aku aku merenggut calon anakmu. Adil bukan?"


"Aku tak merenggut anakmu, itu kesalahan kau sendiri." Afriadi melepas Latika, menyandarkannya di dinding. Ia bangkit menghadapi Wilona seperti waktu itu, "Kau ingat waktu itu, kau sendiri yang membiarkan dirimu terjatuh..." Afriadi menjelaskan detail kejadian waktu itu.


Wilona mengepal erat tangannya, kesal dengan penjelasan Afriadi yang benar.


"KAAAAAU!!!" Wilona bersiap menembak Afriadi.


WUUUS ...


Afriadi menendang tepat di tangan Wilona membuat pistol terlepas dari tangan Wilona melayang. Cepat Afriadi meambil pistolnya mengarahkan kembali ke Wilona.


"Hahahaha... Kau masih lincah seperti dulu," puji Wilona tidak dapat balasan dari Afriadi.


"Tuan-" Samsul tiba-tiba muncul, kalimatnya langsung terpotong sama Afriadi.


"Samsul cepat bawa Latika pergi!" titah Afriadi.


Samsul meangguk cepat melaksanakan perintah, ia menggendong Latika yang sudah lemah.


"Jangan harap kau bisa membawanya pergi!" teriak Wilona, mau menghalangi Samsul keburu ia ditahan sama Afriadi.


"Hyaaa!!!"


Wilona menyerang Afriadi menendang perut Afriadi dari samping. Walau dengan kaki terluka ia masing sanggup menendang dengan kuat.


Berkali-kali ia menyerang Afriadi dan Afriadi juga tak tinggal diam kembali menyerang.


Jangan dianggap remeh, walupun seorang wanita dia cukup tangguh.


Samsul membawa Latika, walaupun tubuhnya sudah lemah. Sempoyongan ia membawa Latika.


"SAMSUL!!!"


Teriak seseorang, Samsul menoleh ke arah suara. Daaan...


DOOOR...


"Egh." Samsul tertembak di punggung kiri.


Cepat ia bersembunyi dibalik dinding yang hampir.


Latika bisa merasakan detak jantung Samsul yang kuat dan lenguhannya menahan sakit tembakan. Perlahan ia menurunkan Latika.


"Non, tunggu di sini sebentar. Aku akan kembali."


Latika ingin menahan Samsul untuk pergi, dia bisa terluka lebih parah lagi. Tapi, Samsul keburu pergi.


"Ternyata kau masih hidup. Kenapa tidak pergi saat aku memberikan kesempatan padamu untuk pergi?" Samsul bersiap untuk belatung kembali, "Bertarung lah secara jantan, jangan jadi pengecut bertarung menggunakan senjata sedangkan lawan tidak menggunakan senjata."


Dendi membuang senjatanya, "Ayo Bertarung secara jantan." Wira bersiap untuk bertarung.


"HYAAAAA!" Dendi menyerang Samsul, tangannya mengepal siap mendaratkan ke perut Samsul.


Samsul menangkap tangan Dendi, melintirnya dan menabrakkan sikunya ke rahang di sampingi telinga. Dendi menyelipkan kakinya disela sela kaki Samsul menerjang salah satu kaki Samsul yang lemah itu sehingga ia terjatuh.


Saling menyiku, saling meninju, menyerang sampai darah tak tinggal diam keluar bebas dari tubuh yang terluka.


Nafas Samsul dan Dendi tersengkal, saling menjaga jarak.


"Aku kecewa dengan kau Samsul. Kau memilih untuk jadi musuh daripada kawan."


"Aha, aku sadar mana yang benar dan mana yang salah. Aku tak mau berada di dunia gelap itu lagi."


"BACOOOOOOT!!!"


Dendi kembali menyerang Samsul, kali ini ia tak sampai memukul Samsul ia keburu ambuk dulu, jatuh menimpa Samsul.


Di belakangnya ada Hasan, ternyata Dendi ambruk kena bius. Suntik bius menancap di belakangnya.


"Tak ku sangka suntikan itu berguna juga," gumam Hasan.


"Kau tidak apa-apa sobat?" tanya Hasan dengan nafas yang tak beraturan.


"Aku tidak apa-apa." Samsul menyingkirkan tubuh Dendi, nafasnya tak beraturan.


Hasan menyodorkan tangannya, Samsul menolak menyambutnya.


"Daripada kau bantu aku lebih baik kau bantu Non Latika, dia pendarahan." Samsul menunjuk ke arah sana dimana Latika berada.


Tanpa disuruh dua kali Hasan berlari kearah yang ditunjuk. Ia terkejut lihat Latika pingsan, cepat ia menggendong Latika membawanya pergi, di belakang Samsul menyusul dibantu dengan seorang polisi dan yah nasip Dendi kena tangkap.


"Ah..." Wilona mendesah kesakitan, tangannya dipelintir Afriadi. Tenaga Wilona sudah terkuras berapa lah tenaga wanita lawan pria apalagi sesama petarung.


Walaupun begitu Wilona masih saja melawan, ia menghajar Afriadi tentu saja Afriadi tidak tinggal diam menyerang balik Wilona.


Wilona sedikit gentar lihat ekspresi Afriadi seakan akan ekspresi memastikan waktu itu tergambar lagi.


Kali ini Wilona tidak bisa melawan, Afriadi mengunci gerakannya sehingga Wilona terbaring dengan kedua tangannya terkunci dibelakang.


Gita tidak bisa membantu tubuhnya terasa sakit semua, ia tak menyangka kemampuan Afriadi jauh diatasnya, dan dia tidak memiliki belas kasih padanya tega mematahkan sebelah tangannya dan kedua kakinya.


"Kenapa diam Afriadi? Kau tidak mau membalaskan dendam atas anakmu?" Wilona masih saja sempat memancing amarah Afriadi.


Tangan Afriadi kuat mencengkram tangan Wilona, lututnya kuat menekan bahu Wilona sehingga Wilona sedikit merintih kesakitan.


Di belakang Afriadi tidak sadar Gita mengatakan pistol ke arah Afriadi, tangannya gemetar saat menggaruk pelatuk.


"HAAAAA..." Afriadi melepas kunciannya, bersiap menginjak-injak Wilona.


Tapi...


DOOOR...


Gita membidik tak tepat sasaran, bidikannya meleset mengenai bahu kanan Afriadi.


"Egh." Afriadi melenguh menahan kesakitan.


Afriadi meririk tajam Gita, meranjak bangun mendekatinya daaaaan...


"AAAAGH!" Gita mengerang kesakitan, tangannya yang memegang pistol itu diinjak Afriadi tanpa bekas kasih.


Afriadi tak mengenal rasa kasihan, urat belas kasihnya sudah putus.


Di belakang Wilona bergerak perlahan, ingin menusuknya dengan senjata Agustian tadi. Afriadi tersenyum miring, ia sudah tahu keberadaan Wilona.


"HYAAAAA!"


Afriadi menangkap tangan Wilona yang ingin menusuknya, tanpa rasa kasihan ia membanting Wilona.


Wilona mengerang kesakitan.


Afriadi ingin menendang Wilona, tapi aksinya dihentikan sama Qilan.


Qilan sekuat tenaga menahan Afriadi, ia tidak membiarkan Afriadi menyakiti seorang wanita. Walaupun tindakannya kelakuan, tapi kalau sudah babak belur begini apakah tidak keterlaluan, sama saja ia seperti mereka.


"LEPASKAN AKU QILAN! BIAR AKU HAJAR DIA!" Afriadi menggila, ia berusaha lepas dari pelukan Qilan yang erat menahannya "LEPASKAN QILAN!"


"Tidak Af, aku tidak akan lepaskan kau sebelum kau mengendalikan amarahmu."


"LEPASKAN AKU QILAN, JANGAN SAMPAI AKU MELUKAIMU!"


Mustahil Afriadi mendengarkan Qilan disaat amarahnya yang memuncak. Afriadi meregangkan kedua tangannya biar pelukan Qilan melonggar namun alhasil pelukannya semakin erat, karena dipuncak kemarahan Afriadi menyakiti Qilan terpaksa ia menginjak kaki Qilan, yang di injak melenguh kesakitan.


"QILAAAAAN!!!" Urat tegang Afriadi kelihatan.


"Tenang Af, kendalikan amarahmu. Kau melampau Af, kau tak berhak menghakimi mereka Af..."


"Aku tak berhak menghakimi mereka? LANTAS MEREKA BERHAK MENYIKSA ISTRIKU HA? BERHAK MEREKA MERENGGUT HIDUP ANAKKU HA? TIDAK ADA KATA AMPUN UNTUK MEREKA YANG MENYAKITI ORANG YANG KAU SAYANGI."


"Tidak mereka tidak berhak. Coba lihat mereka sudah sekarat. Apa kau akan menyiksa mereka lagi? Serahkan semua ke yang satu, biar polisi menangani mereka... Aku tahu perasaanmu Af, aku tahu."


Percuma dalam keadaan emosi yang tidak stabil mustahil Afriadi mendengar nasehat Qilan.


"Kau kira aku akan ikut dengan kalian ke penjara." Wilona membuka rompinya.


Tada...


Terlihatlah


BOOOOM...


"...KITA MATI BERSAMA!!!"


Gila waktu boom akan meledak tinggal berapa detik saja lagi, entah sejak kapan boom itu diaktifkan Wilona.


Melihat waktunya tinggal sedikit Afriadi dan peluk kan Qilan melonggar, cepat ia meloloskan dirinya dari Qilan menarik tangan tersebut berlari menjauh dari sana menuju jendela yang tidak berkaca.


Tanpa aba-aba mereka langsung melompat sebelum boom itu meledak.


BOOOOOMM...


Boomnya meledak.


Afriadi dan Qilan terjatuh dari lantai 5.


"Agh," erang Qilan, bergantung di lantai 3 sebelah tangannya menarik tangannya Afriadi agar tidak jatuh.


Para tim polisi yang ada dibawah segera melakukan penyelamatan.


Sebelum pingsan dengan pandangan yang kurang jelas ia lihat dirinya sudah dievakuasi dimasukkan ke dalam ambulan.


***


So, bagaimana dengan episode ini.


komen ya dan like


author duduk manis nunggu komen kalian.

__ADS_1


komen.


__ADS_2