
Setelah selesai ujian seperti pada umunya sekolah mengadakan perlombaan selama beberapa hari dan bagi yang remedi ujian disuruh mengulang.
Hari ini Latika dan temanya ikut lomba bakiak, semua perwakilan Kelas ada di sana, Latika tak ketinggalan juga, ronde ini untuk
Siswi, Siswanya nanti.
Afriadi menonton pertadingan di barisan guru-guru yang ikut nonton.
Pluit di tiup, lomba di mulai.
Cepat mereka melangkahkan kaki mereka, ada yang terjatuh karena tak seimbang, ada yang bertengkar karena tak kompak, ada yang tak bergerak sama sekali bingung mana yang lebih dahulu kiri atau kanan. Siapa lagi kalau bukan kelas 12 A.
"Oi, kanan dulu!" teriak Nana.
"Kiri." Salasiah menyahut.
"Oi, begerak oi !!!"
"Jangan diam saja !!!"
"Cepat !!!"
Para siswa siswi kelas 12 A meneriaki mereka.
"Bising lah!!!" Salasiah balik meneriaki mereka.
"Serempak semua, kanan. Kita sudah ketinggal jauh ini. Hitung sampai 3" Latika seperti pemimpin.
Mulai berhitung.
Mereka sepakat kanan, ketika melangkah ada saja yang tak nurut malah melangkah kaki kiri, hasilnya mereka jatuh.
Para siswa siswi menyoraki mereka.
"Alah, malu aku kita menyerah saja." Salah satu teman Latika mengeluh.
"Jangan menyerah. Malu oi, kakak kelas kalah dengan Adek kelas. Berjuang," kata Latika penuh semangat.
"Berjuang aku tak mau kalah dengan Adek kelas. Kita harus menang," sambung Nana.
Mereka bangkit, dari jatuh.
"Serempak kanan," perintah Latika.
Mereka bangkit lagi, serempak melangkahkan kaki kanan lalu kiri dengan arahan Latika dan diikuti temannya.
"Kanan."
"Kiri."
"Kanan."
"Kiri."
Suara mereka kompak, megemparkan yang lainnya.
Tak tahunya mereka berhasil melewati kelas lainnya, sudah pasti mereka menang. Afriadi tersenyum melihat Istrinya itu.
Sorakan bahagia Siswi berhasil. Pindah posisi lomba bakiak bagi siswa.
Sekarang Latika ikut lomba lompat karung.
"Oi, Tika kau tak penat." Nana menegur, menyusulnya dari belakang.
"Tak, aku mau main puas puas. Sudah lama sudah tak main ini," kata Latika, langkahnya panjang dan cepat menuju tempat pertandingan yang lokasinya tak jauh dari lomba Bakiak
"Aku nak ikut." Salasiah berlari mengejar Latika.
"Yakin?" Hana memastikan mereka ketika sampai di arena lomba, "Aku lihat saja."
"Aku lihat saja, kelihatanya ini agak aneh." Nana tidak ikut, dia sudah curiga dengan karung yang berukuran besar.
Latika sudah memasang karung. Eh, pak Kamarudin datang membawa helem sambil tersenyum lebar.
Kalian tahukan apa kan?
Latika mau keluar tapi tak bisa, dia di tahan osis, Salasiah sudah kabur dulu mengundurkan diri.
Akhirnya Latika duduk jongkok di ikat di pakaikan helem, loncat loncat macam kodok (≧▽≦)
Peserta lainnya juga loncat, ada yang jalan malah.
Gelak tawa pecah melihat itu.
Afriadi mengambil video seraya tersenyum tipis. Sampai tak sadar ada yang memperhatikannya.
Tapi, akhirnya Latika juga menang.
Juara satu cuy. Finalnya juga.
Sayangnya Latika harus pisah dengan Hana dan Nana, mereka di panggil Kamarudin untuk membantu junior mereka mengurus pertandingan.
Salasiah juga harus berpisah dari Latika, dia harus pergi menuntaskan remedialnya.
Tenang Latika tak sendirian ia di temani teman sekelasnya.
Pindah posisi.
Lomba makan kerupuk.
Latika ikut lomba makan kerupuk temannya sampai bingung padahal baru selesai ikut lomba sudah ikut lagi, tak capek apa.
Latika dan Hana ikut lagi lomba mewakili kelas mereka, ada banyak yang ikut.
Latika santai saja makanya, yang penting kenyang.
Tapi, bagaimana mau makan, lah kerupuknya di tarik-tarik, terpaksa ia harus lompat menghabiskan kerupukanya.
Afriadi tersenyum terus melihat Latika ikut lomba apa lagi saat ia ikut lomba lompat karung dan tarik upih, yang Latika tarik orangnya gendut jadi ia kesusahan menariknya ketika Latika yang di tatik cepat sekali, hampir saja Latika terjatuh, dia seperti kertas di tiup saja ketika duduk di upih.
__ADS_1
Hari ini baru pembukaan kelas metingnya, besok ada banyak perlombaan yang sudah osis rencanakan.
Hari ini Latika banyak ikut lomba, dari gigit sendok, keseimbangan botol, memecahkan balon, joget balon.
Kalau dilihat semua lomba hari ini seperti lomba 17 an saja, tentu saja itu permintaan kakak kelas. Mereka sebentar lagi akan tamat dan tak akan jumpa lagi dengan lomba seperti ini di sekolah apalagi merasakan suasana seperti ini, jadinya mereka meminta kepada Adik Kelas yang jadi OSIS dan pembina OSIS untuk meadakan lomba 17 an dan banyak lomba, toh uang sekolah juga yang di gunakan untuk beli hadiah. Sesekali buat murid bahagia.
Afriadi tak menolak, dia tahu istrinya pasti meinginkan hal serupa.
***
Sesampainya Latika di rumah ia terbaring di tempat tidur tak berdaya, tenanganya terkuras habis gara-gara main tadi.
Afriadi yang baru pulang juga, mau masuk ke kamarnya, melihat Latika terbaring di tempat tidur.
Ia mengetuk pintu kamar Latika, bersandar disisi pintu, "Habis tenaga dek?"
Latika kaget bangun dari baringnya lihat Afriadi.
"Semangat betul tadi." Aftiadi melanjutkan kalimatnya, mendekati, duduk di tepi tempat tidur.
Latika tersenyum, "Habisnya Adek sudah lama tidak main itu."
"Besok Adek ikut apa lagi?
Tadi Adek daftar pertandingan apa saja?"
"Aaaa.." Latika mikir,
"Adek di ikutkan cerdas cermat, voli putri, bola sepak, tarik tambang, lari estapet, estapet air, baca puisi di karang dulu, catur..."
Afriadi tersenyum kaku, "Tak kebanyakan dek. Adek sanggup? Banyak sekali. Hampir semua Adek borong, teman Adek tak ada lagi."
"Tidak. Adek mau coba. Teman Adek juga ikut. Oh iya, Adek ikut pertandingan main basket, tapi Adek tak bisa betul."
"Kalau begitu kenapa ikut?" Afriadi bertanya.
"Hehehe... Adek mau coba, soalnya Adek sedah kelas 12 jadi sebentar lagi mau tamat jadinya, Adek mau ikut semua." Latika menggaruk kepalanya.
Afriadi meangguk, "Oh. Gak ke tabrak?"
"Hihi... Lihatkan dulu.
Ke lihatanya tidak."Latika menduga-duga.
"Jangan sampai kelelahan ya dek.
Ikut yang sanggup saja." Afriadi mengusap kepala Latika.
"Oke." Latika mengajukan jempol, "Abang sore ini kita main bola basket yuk." Dia mengajak Afriadi main basket,
"Adek mau berlatih, 2 hari lagi tandingan basket."
Afriadi tersenyum, mengajukan jempol,
"Semangat betul."
***
Di halaman Rumah ada lapangan bola basket, ya kata Bik Ipah. Afriadi dan Ayahnya suka main basket, pantas tinggi orangnya menjulang persis tiang listrik.
Afriadi datang membawa bola, menghentak-hentakan ke tanah.
Menatap Latika serius, memainkan tangannya menyuruh Latika maju untuk merebut bola dari tangannya.
Latika meremukkan tangannya, dan lehernya, menatap serius bola, meambila ancang-ancang. Bersiap merebut bola dari tangan Afriadi. Latika kelihatan serius pakai kali lagi.
Di kira Latika bisa merebut bola dari Afriadi, namun nyatanya, malah terbalik Latika justru tak bisa merebut bola. Berkali-kali bola masuk ke keranjang.
Berkali-kali Afriadi memanasi Latika.
Latika yang sudah kelelahan ia tak bisa merebut bola dari Afriadi.
Setelah bermain sebentar dan tunjuk kehebatan pada Latika, baru Afriadi mengajarinya.
Ia memberi bola kepada Latika.
Baru beberapa langkah Latika membawa bola sudah di rebut Afriadi dengan cepat.
Latika menatap malas Afriadi, yang di tatap tersenyum, ia memberikan bola kepada Latika, lambat-lambat ia bergerak mengajari Latika bagaimana harus merebut bola, menggiring bola.
Waktu begitu cepat tak terasa kalau hari sudah semakin senja, mereka harus megakhiri permainan itu.
***
Besoknya Latika bertanding catur melawan Adek kelasnya.
Setelah itu ia ikut lomba lari melawan Adek kelas.
Setelah itu, Latika dan temanya ikut lomba lari estafet.
Setelah itu ia dan temanya ikut lomba voli. Hari ini ia banyak ikut lomba. Sorenya Latika latihan main bola basket dengan Afriadi.
***
Hari berikutnya.
Latika dan temanya ikut lomba basket, sudah separuh pertandingan, cara merebut bola yang di ajarkan Afriadi ia perakterkan, ragu-ragu Latika melakukannya, ia menarik nafas memcoba konsentrasi, bola terlihat melambat tanpa ragu ia merbut bola itu, ohhh... Latika berhasil merebutnya, memantulkan bola melewati para pemain lawan, saat ia meloncat ingin memasukkan bola, bola melambung menuju keranjang, salah seorang pemain curang menyengol Latika.
Bruuukk...
Latika terjatuh, bola masuk ke keranjang. Sontak para penonton berdiri, teman teman Latika membantunya.
"Hoy!!! Apa lo.
Main kasar." Salasiah mendorong tubuh Siswi yang mendorong Latika, dia di sambut temannya tak berani membalas tatapan mata Salasiah.
Peluit di tiup berkali-kali oleh wasit, tak ada yang mendengarkan sibuk lihat mereka bertengkar.
"Main itu jangan kasar-kasar!" kata Nana.
__ADS_1
"Ikam punya mata kah. Ku cucok mata itu, nah."
Keluar bahasa Salasiah lengkap dengan ekspresi galak. Tak berani mereka melawan jika sudah keluar bahasa daerahnya.
Biasanya jika sudah seperti ini, watak asli itu keluar, bisa runyem urusannya.
dan Nana memarahi siswi yang menyengol Latika, pucat wajah Siswi itu.
Untung mereka cepat di leraikan, sehingga pertandingan berlanjut.
Lewati pertandingan Basket.
Setelah selesai pertandingan basket.
Latika sekarang main lagi. Ikut pertandingan voli, dan setelah itu bola sepak putri.
Ya, pertandingannya memang di adakan seremapak, untuk menghemat waktu, biar cepat libur.
Kata osis.
Afriadi nonton dari ke jauhan.
"Adek, kalau sakit kenapa main lagi." Ia khawatir dengan Latika gara-gara terjatuh tadi. Sudah kelihatan dari cara berlari Latika yang sudah pincang-pincang di paksa main.
Tadi Afriadi tak melihat Istrinya terjatuh hanya mendengar dari mulut siswa siswi yang melewatinya.
"Oi, oper sini. Oper sin." Latika melambaikan tangan berlari arah sebaliknya, menandakan kosong tak ada yang jaga dia.
Bola melayang ke arah Latika, menangkapnya dengan dada lalu menyundul bola mengunakan teknik heading macam pemain pro Latika. Jilbabnya sampai kotor.
Para siswa dan siswi berdiri tercengang lihat Latika dan bolanya ke arah mana.
"Goooolll!" teriak Latika seorang saja, lihat bola masuk gawang.
Para penonton tercengang lihat Latika.
"Eh. Macam betul aja anak ini." Kamarudin saja yang jadi wasit sampai geleng kepala.
Nana datang menghampiri Latika yang asik teriak gol, menoyor kepala Latika, "Kepala kau gool. Gawang kita itu."
"Eh???" Tanda tanya memenuhi kepala Latika.
Dia salah masuk kan bola alih-alih gawang lawan malah gawang kawan, ealah... Latika tak bisa main bola.
Para penonton tertawa terbahak-bahak, lumayanlah Latika menghibur mereka.
Latika tertawa getir,
"Hahaha... Salah ya. Kipernya mirip."
"Matamu rabun Latika."
Latika bahagia sekali walau salah memasukkan bola. Pertandingan berlanjut. Afriadi dari kejuahan tertawa dalam hati. Melihat istrinya salah masukkan bola ke gawang.
***
Hari berikutnya.
Latika dan temanya ikut pertandingan cerdas cermat, jurinya Bu Laila, Kamarudin, dan Bu Sisaka.
Untung Latika sudah menghapal di temani Afriadi malam tadi. Afriadi bacakan soal Latika menjawab.
Jadinya Latika lancar-lancar saja menjawab.
Kelasnya yang ikut Hadi, Latika, Hana. Mereka bertiga yang di tunjuk, soalnya yang lain sudah mengundurkan diri lebih dahulu.
Selesai itu, Dia dan temannya ikut lomba tarik tambang. Lawan yang mereka hadapi tak sebanding dengan mereka. Wow, bedan lawan mereka kelas 11 C Ips badannya lebih besar, dan bertenanga.
"Aku mau mundur."
"Besarnya mereka."
"Kita kurus-kurus kerempeng, melawan mereka. Ya, pasti kalah."
"Menyerah saja yuk.
Nanti sakit jatuh."
"Lemah aku lihat mereka."
Teman-teman Latika hanya menelan ludah melihat mereka. Mereka mau mundur.
Latika memberi mereka semangat untuk tak menyerah begitu saja,
"Aku tak mau mundur. Mau ya kakak kelas mengalah dengan Adek kelas gara-gara badan Adek kelas besar.
Malu.
Masa iya kakak kelas kalah dengan Adek sebelum bertanding. Ayo semangat semua. Kita bukan cari kemenangan, tapi bersenang-senang. Kalah dalam pertandingan itu biasa, tapi pemgalaman lebih luar biasa. Jangan menyerah sebelum berusaha."
"Ayo. Aku mau melawan Adek kelas, apa lagi dia yang waktu itu menyengol kau Latika. Jijik aku melihat muka dia. Rasa-rasanya aku mau hajar dia," kata Nana.
Mereka berdua seperti mau berperang saja.
Salasiah ikut menyemangati mereka, "Betul itu. Semangat semua.
Aku batu do'a saja."
Mereka kembali bersemangat, memegang erat tali tambang. Wah, mereka siap dengan semanagat membara. Ketika peluit di tiup. Latika dan temanya-temannya sekuat tenaga menarik, mata Nana melotot bengis menarik sekuat tenaga.
Sorakan anak kelas 12 A menyemangati mereka.
Latika serius sekali menarik. Apalagi temannya sampai penyot-penyot mulut menarik tali tambang apalagi yang pakai lipstrik tebal, tambah bohay.
Afriadi saja tertawa merlihat ekspresi mereka.
Gara-gara ekspresi mereka yang lucu Adek kelas tak sanggup menahan tawa sehingga melemah.
Karena ada peluang mereka bisa menang. Begitu juga saat berpindah posisi, mereka menang lagi. Karena wajah teman Latika yang melawak, tak bisa menahan tawa.
__ADS_1
Afriadi saja sampai menutup muluntnya menahan tawa.