
"Mati. Habislah tak bisa contek." Sahril menggerutu dalam hati.
Kata anak murida lainnya, mereka bilang kalau Afriadi yang jadi Algozo, mati sungguh mematikan, bahaya baget, lebih seram dari pada Bu Laila.
Jika di pilih yang mana, mau Bu Laila atau Afriadi yang jadi Algozo.
Mungkin banyak yang milih Bu Laila.
Katanya kalau Afriadi yang jadi Algozo, penghapus terjatuh dari meja lalu di ambil di anggap mencontek lalu kertas di ambil dianggap sudah selesai, yang ketahuan kerja sama juga kertasanya diambil.
Apa lagi yang ketahuan contek beneran, di robek kertasnya langsung remedi.
Hohoho, maut di depan mata.
Kelas 12 D beruntung sekali, Afriadi jadi Algozo di sana.
Suasana kelas yang sepi bagai di kuburan saja.
Sesekali anak murid main kode, ketuk meja, batuk manja, suara aneh lainnya, yang mendapat kode beri jawaban dengan gerakan tangan dan ketukan meja dan suara aneh lainnya, yang sering contekkan pasti tahu.
"Eheem..." Sekali Afriadi dehem semua diam, suasana kembali sepi lagi. Eh, ada aja yang bandel. Tak tahu lagi sudah di beri peringatan masih saja ngeyel.
Seperti dua orang ini, temannya Latika.
"Huus..." Salasiah mendesis, memanggil Sahril di sebelahnya sepelan mungkin, "Sah Sah Sah. Huuuss.."
"Em," guma Sahril, menoleh ke arah Salasiah.
"Nomor 45 apa isiannya?" tanya Salasiah tak bersuara hanya gerakan mulut dan tangan saja.
'D' Sahril memberikan jawaban dengan gerakan tangan, paham saja apa yang di katakan Salasiah.
Namun tetap saja Algozo di depan melihat mereka tersenyum tipis, siap memangsa mereka.
Afriadi meranjak dari tempat duduknya, para murid sudah was-was merasa kalau mereka akan kena mangsa, mata mereka mengikuti Afriadi.
Afriadi menuju mereka. Dan...
Saaap...
Kertas mereka di ambil. Good bay, Salasiah Sahril.
Salasiah dan Sahri kaget kertas mereka di sabar. Depan depanan kertas mereka berdua di robek.
Mereka hanya bisa tercengang meratapi kertas ujian yang di robek.
Afriadi pergi meninggalkan mereka dan tumpukan kertas di atas meja mereka.
"Bapak jahat." Salasiah keceplosan, cepat menutup mulutnya.
Syiiing..
Afriadi melirik Salasiah dengan tajam.
Ia mendengar perkataan Salasiah. Satu kelas melirik Salasiah, yang di lirik menutup mulutnya.
"Apa yang kalian lihat, cepat isi sebentar lagi waktunya habis," tegur Afriadi berdarah dingin.
Mata Salasiah merah menahan tangis, melihat setumpuk kertas di atas mejanya.
"Ini semua salah kau," gerutu Sahril melirik Salasiah penuh kebencian.
Awas mau hujan, siapkan payung.
Salasiah menundukkan kepalanya, menahan tangis sebisa mungkin.
Tes...
Air matanya menetes jatuh ke rok seiringan dengan bunyi bel.
Teng... Tong...
Bel sudah bunyi, waktu habis.
__ADS_1
Salasiah keluar dari ruangan dengan tangisan, berlari-lari kecil di lorong kelas semua mata menuju padanya bertanya-tanya.
"Latika." Ia memeluk Latika dari belakang yang lagi bicara sama Mana dan Hana di lorong kelas.
"Eh?" Latika sontak kaget tiba-tiba di peluk Salasiah.
"Kenapa itu anak?" tanya Nana agak kaget dengan kehadiran Salasiah yang tiba-tiba menangis.
Hana menggeleng, meangkat bahu, "Tak tahu."
Para Siswi sibuk menghampiri Salasiah, bertanya tapi Salasiah tak menjawab.
Sahril muncul di belakang Salasiah dengan wajah hancur.
Sohibnya menatapnya penuh ketakutan ada apa dengan itu anak.
Para Siswi yang mengerumuni Salasiah langsung kabur, mereka menduga kalau Salasiah lagi berantem sama pacarnya Sahril jadi mereka tak mau ikut campur.
Hadi baru keluar dari Kelas, melihat wajah Sahril hancur langsung bertanya,
"Lo Kenapa Sah?"
"Awo, tanya ini orang." Sahril menunjuk geram Salasiah.
"Latika, huwaaaa..." Salasiah berlindung dibelakang Latika.
Teman-temannya pada bingung dengan dua orang ini, yang satu menangis yang satu marah.
"Kenapa ini?" tanya latika.
Pertanyaan yang sama juga di ulang Nana dan Hana.
"Lo kenapa Sal? Kayak habis di pukul." Nana bertanya pada Salasiah, lengkap dengan suara geram dan gerakan mulut yang sedikit penyot.
"I-iya." Salasiah menjawab dengan terputus-putus.
Tambah kaget lagi mereka dengar pengakuan Salasiah.
"Seriusan?" Nana memastikan kalau kupingnya gak salah dengar.
"Ni anak di pukul Pak Afriadi." Sahril menjawab pertanyaan mereka. Nada suaranya sedikit naik.
Tak berkedip mata mereka dengar perkataan Sahril.
Batin Latika berseru kaget, "Abang."
Salasiah hanya menangis, tak menjelaskan.
"Eh, yang betul sedikit," kata Nana.
"Iyalah apa lagi. Aku pun kena juga," sahut Sahril dengan nada suara yang naik.
"Kejamnya." Hana tak tahu kisah.
"Kenapa Abang macam ini dengan Salasiah?" tanya batin Latika.
"Kalian mungkin buat salah." Hadi bijak tak mudah ambil kesimpulan semudah itu, tak mungkin bukan Afriadi membuat Salasiah menangis tanpa sebab.
"Huwaaa... Kertasku di robek, Pak Afri." Salasiah membuka mulutnya mengeluarkan suara kecil.
"Heh. Kalian ketahuan contek?" Nana menunjuk Salasiah. Nana tahu sudah alasan Salasiah menangis, dugaannya Salasiah kepergok Afriadi jadinya kertasnya di robek.
Salasiah melepas pelukannya pada Latika menyeka air matanya,
"Kami bukan contek."
"Lalu?" tanya Hana.
"Kami hanya bertanya saja." Salasiah malu untuk mengakuinya.
"Apa bedanya sih?" guma Hadi menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Gara-gara dia aku ikut juga kena."Sahril yang dari tadi diam kembali membuka mulut, menyalahkan Salasiah.
__ADS_1
"Huwaaa... Maaf Sahril." Salafiyah kembali berlindung di belakang Latika.
"Sudahlah. Jangan nangis lagi," kata Latika membujuk Salasiah untuk diam.
"Ternyata benar apa yang dibilang murid lain ya," kata Nana mengusap dahi yang tak berjenggot.
"Ya, sudahlah Sal, jangan nangis lagi. Tak ada gunannya juga," pujuk Hana.
"Jahat amat Bapak, kalau tidak tampan mungkin sudah, hiii..." Nana geram serentak dengan tangannya seperti mengulek sambal.
"Sabar Na." Hana menenangkan Nana.
"Dahlah aku nak pulang. Capek," kata Sahril kelimat capeknya ia titik beratkan pada Salasiah seraya melototinya.
"Yuk Had," ajak Sahril melangkah pergi.
Hadi tak banyak kata dan komentar lagi, ia langsung pergi menyusul Sahri.
"Huwaaa..." Salasiah kembali nangis lagi, sedih sekali Kelihatannya.
Hana mengusap punggung Salasiah, menenangkannya.
Dari arah belakang Afriadi muncul, berhenti di samping Latika menatap tajam Salasiah, yang di pandang berlindung di belakang temannya.
Nana sudah maju melindungi temannya, meangkat dagu menantang Afriadi.
Afriadi mengerutkan dahinya, batinya mendelik apa-apalah teman Latika.
"Aku tunggu di kator," kata Afriadi cepat pergi sebelum timbul masalah.
Mereka bertiga bengong dengar kalimat Afriadi, melirik Latika.
Latika menggaruk kepala yang tak gatal, batinnya sudah bersorak panik kalau status mereka akan terbongkar, mau jelaskan kayak mana pada mereka nantinya.
Salasiah menyeka air matanya, menepuk keras lengan Latika, "Latika kau buat masalah dengan Bapak kah? Kau ketahuan contek juga. Habislah, kami tak bisa selamatkan kau."
Latika mengedipkan matanya berkali-kali, rasanya telinganya tersumbat tadi tak dengar betul kalimat Salasiah.
Batin Hana menunjuk Afriadi, "Dia."
Nana menatap Latika penuh pertanyaan.
"Latika Latika Latika, aku tak bisa ikut membantumu, nanti aku kena masalah lagi." Salasiah menepuk pelan punggung Latika.
"Aku cuman bisa bantu do'a. Aku pergi dulu,"
kata Salasiah sambil kabur pulang dulu.
"Latika aku pulang juga ya. Semoga berhasil." Nana ikut kabur, bukannya tak mau nemenin Latika, tapi ia ada urusan yang lebih penting.
Batin Latika berseru gembira lihat satu persatu temannya pergi. Tak perlu lagi ia menjelaskan.
"Latika mau aku
temani?" tanya Hana yang masih setia.
"Tidak perlu, kau pulang saja," kata Latika berharap Hana pulang seperti yang lainnya.
"Yakin?" tanya Hana sekali lagi.
"Iya." Latika meangguk.
"Okelah, aku dulu ya." Hana melambaikan tangan, berbalik badan, berjalan menjauh meninggalkan Latika.
Latika melambai balik.
"Abang," geram batin Latika, melangkah menuju kantor Afriadi.
Sedangkan Afriadi yang berada di kantor tiba-tiba bersin.
"Hacuh..."
Ia mengusap hidungnya dengan jari telunjuk,
__ADS_1
"Alhamdulillah."
Ia melanjutkan kembali memasukkan kertas ujian ke dalam tasnya.