
"Hey!" sapa seorang wanita dari kejauhan seraya melambaikan tangan pada Latika dan mereka berdua.
Latika membalas lambaiannya dengan lambaian tangan juga, tapi pendek seraya melihat kiri, kanan, belakang siapa yang ia sapa dirinya atau orang lain.
Dia mendekat membawa makanannya, berdiri di sebelah Latika seraya memberi senyuman pada mereka bertiga.
Latika agak kaget ternyata benar tadi dia menyapa dirinya. Tapi, ia tak kenal loh. Wajahnya terlihat asing berbentuk oval, dengan potongan hitam rambut sebahu, cocok sekali.
Latika memperhatikan dirinya yang tinggi macam tiang listrik kurus tinggi. Kalau cosplay mantap ni bisa mirip sama Haken
◡ ω ◡
Becanda.
"Boleh saya duduk di sini?" tanyanya sopan dapat anggukan dari Latika dan 2 teman barunya.
"Latika ya?" tanyanya balik sambil menunjuk Latika.
"Ya." Latika meangguk, batinnya sudah berseru bingung dengan semua ini. Kenapa mereka kenal sedangkan dia sendiri tak kenal mereka? Kenapa mereka mendekatinya? Ada apa ini? Aneh lah.
Mereka bertiga menatap teliti cewek yang baru datang itu sampai canggung dia.
"Siapa?" gumam wanti kedengaran dia.
"Ah iya." Wanita itu menepuk jidat, lupa, "Perkenalkan nama saya, Khari 'Aini. Panggil saja 'Aini."
Wanti dan Nia memperkenalkan dirinya. Mereka mulai bercanda receh, saling kenal.
Latika melanjutkan makannya, rasanya agak canggung dekat dengan orang yang baru ia kenal.
"Latika ini orangnya pendiam juga ya." 'Aini menyadarkan Latika dari keasikannya pada makanannya.
Latika hanya tersenyum, memberanikan dirinya untuk bicara, "Ngomong-ngomong kalian dari mana tahu namaku?"
Mereka saling tatap menujuk satu sama lain untuk bicara.
"Kalau aku tahu namamu di pengumuman nilai tes masuk Kuliah, nilai kau tertinggi. Jadi ingin belajar bareng sama kau." Wanti buka mulut dulu. Ternyata itu alasannya.
"Hem, kalau aku sih tahu nama kamu dari kakak kakak senior. Jadinya aku tertarik mau berteman dengan kau karena kakak senior banyak yang berteman dengan kau," ujar Nia.
Para senior yang menjadi teman Latika itu sebagian ada yang tamat satu sekolah dengan Latika jadinya mudah berteman apalagi Kepseknya suami Latika, disegani banget.
__ADS_1
"Aku sih tahu namamu dari temanmu semasa SMA, Sahril namanya." 'Aini cengengesan menggaruk kepalanya, "Aku bingung mau berteman dengan siapa, toh aku baru di sini. Jadinya aku milih kamu karena kamu teman Sahril."
Latika agak kaget ketika 'Aini sebut nama Sahril, Pak Jomblang satu itu ada hubungan apa dengan 'Aini?
***
Ting...
Pintu lift terbuka, Latika melangkah masuk, ia menekan tombol ketika pintu lift mau menutup dari kejauhan terlihat ada orang yang berlari laju menuju ke arahnya.
Mata Latika membulat ketika kaki Pria itu nyangkut di pintu lift menahan lift untuk tertutup.
Pintu lift terbuka lagi, dengan nafas tak beraturan pria itu masuk ke dalam lift. Latika melangkah mundur ke belakang.
Pria itu menoleh ke belakang melihat Latika dari atas ke bawah. Latika merasa tak nyaman dengan tatapan itu, bersiap siaga kalau dia mau berbuat macam-macam Latika tinggal serang saja seperti apa yang Afriadi ajarkan.
Pria itu menyeringai, "Maaf ya buat kaget."
Tak sangka keluar kata maaf rupanya dari mulut pria itu, Latika meangguk mengusap dada telah berburuk sangka sama dia.
"Angkatan baru ya?" tanya pria itu dapat anggukan dari Latika.
"Kenalkan nama saya Radit angkatan ke 5." Pria yang berada di hadapan Latika itu mengenalkan dirinya.
"Kamu?" Sambungnya.
"Latika."
"Ah, Latika." Radit menjanjikan jarinya.
Ting...
Pintu lift terbuka.
Menyadari pintu lift terbuka, Radit bersiap untuk keluar, "Oke Latika sampai jumpa lagi, kalau ada kesempatan untuk bertemu lagi kita bicara panjang lebar, sekarang ada urusan. Saya dulu ya."
Latika meangguk melihat Radit keluar terburu-buru.
Pintu lift kembali tertutup lagi.
Tak lama...
__ADS_1
Tring...
Pintu lift terbuka. Latika keluar melanjutkan langkahnya untuk keluar dari gedung.
Ketika ia melewati halaman kampus.
Tiba-tiba ada yang memanggilnya.
"Latika!"
Merasa dirinya dipanggil, Latika menoleh melihat siapa yang memanggilnya.
Woooo... Matanya membesar ketika melihat siapa yang memanggil.
"Wah, Salasiah!" Latika membuka kedua tangannya berlari kearah Salasiah begitu juga sebaliknya.
Mereka memeluk satu sama lain, meloncat kegirangan sampai menculik perhatian orang di sekitar. Gaje, macam tak bertemu selama 100 tahun berpisah jauh di ujung benua.
"Woy gaje!" seru seseorang dari belakang Salasiah.
Latika menumbangkan kepalanya melihat seorang perambut pendek pirang sebahu Latika kira wanita, eh setelah Latika memperhatikan lebih detail ada jakun berati pria cuy. Tapi, kayak wanita penampilannya walau agak kelihatan pria.
Salasiah pun ikut menoleh.
"Siapa?" gumam Latika.
Salasiah memeluk lengan pria berambut pendek sebahu, "Ah, Latika kenalkan dia Sona teman di tempat kursus."
Latika masih memperhatikan pria itu. Meyakinkan bayinya kalau dia itu pria.
"Sona." Pria itu menyorongkan tangannya dengan gaya sedikit kewanitaan.
Dalam pikiran Latika sudah mengira kalau dia ini, waria.
"Latika." Latika menjabat tangannya.
Sona sedikit mengangkat bibirnya tersenyum sekilas.
"Kok, kau ada di sini Salasiah?" tanya Latika.
"Ah, aku temani Sona untuk ketemu sama temannya di sini. Aku gak nyangka kalau kita bertemu, hiiiii...." Salasiah masih tak berubah masih imut kayak dulu pas SMA.
__ADS_1
Mereka melangkah serempak menuju tempat parkir, Latika dapat tumpangan.