
"AGHHHH!" Afriadi mengerang geram, kedua tangannya yang besar mengusap kasar wajah sampai menyapu rambut.
Menghempaskan kasar tangannya setelah selesai.
Ia menghela nafas berat, kepala terasa berat disertai pusing. Perlahan Afriadi memijat kepalanya yang terasa sakit setelah dipaksa bekerja memecahkan 3 kata.
Selembar kertas, bukan selembar melainkan banyak kertas yang berserak di atas meja yang sudah becoret.
Afriadi bersandar di kursi kerja mendongakkan kepala seraya memejamkan matanya. Suasana malam yang tenang membuat kantuk menghampiri Afriadi.
A few moments later
Afriadi tertidur di ruang kerja.
Emang ya kalau sudah terserang kantuk dalam posisi apapun bisa tertidur.
***
"Emmm..." Latika meraba-raba tempat tidurnya sebelahnya dengan mata yang masih terpejam rapat.
Merasa tidak ada siapa-siapa, perlahan mata Latika terbuka bangun perlahan melihat sekeliling, tapi ia tak menemukan Afriadi di sana.
Latika melihat jam Beker di atas meja kecil sebelah tempat tidur.
Jam menunjukkan pukul 3 lewat seperempat.
"Abang belum pulang juga," gumam Latika menoleh ke arah pintu. Pandangannya terhenti sejenak pada pintu yang terbuka sedikit dan ada jas di sofa.
Dalam pikiran Latika Afriadi sudah pulang.
Tapi kemana Afriadi? Pertanyaan itu timbul di benak Latika.
Latika memutuskan untuk keluar dari kamar. Pintu terbuka kepalanya muncul melihat sekeliling yang gelap dengan cahaya redup lampu.
__ADS_1
Ia berjalan menelusuri kegelapan dengan cahaya redup. Langkahnya terhenti di depan pintu ruang kerja Afriadi, ia melihat pintu ruangan itu terbuka sedikit.
Tangan Latika sudah bersiap mau menutup kembali ruangan itu, tapi ia terhenti malah melebarkan pintu.
Ruangan yang gelap disertai cahaya lampu yang remang.
Latika masuk, ia kaget lihat suaminya tidur di kursi kerja, pandangannya teralihkan pada meja yang berserak dengan kertas dan lantai yang juga ikut berserak oleh gumpalan kertas.
Latika berbalik ke kamar meambil selimut menyelimuti suaminya tak tega ia bangunkan suaminya.
Latika segera meninggalkan ruangan tak lupa ia memberi kecupan pada suaminya sebelum meninggalkan ruangan.
***
"Bang..." suara yang lembut membangunkan Afriadi. Merasa ada yang memanggil namanya Afriadi membuka mata perlahan.
"Hegg..." Mata Afriadi melotot, terkejut melihat Latika pakai mukenah putih. Di pikirnya itu sosok yang sering lompat-lompat keluar dari kuburan, ternyata istrinya.
"Kenapa Bang?" tanya Latika khawatir.
"OOO.... Ya udah." Latika manggut-manggut, "Yuk, sholat berjamaah. Sudah masuk waktunya."
"Adek dulu saja, nanti Abang susul."
Latika meangguk, lalu pergi. Sebelum pergi Latika berpesan pada Afriadi, "Cepat Bang, jangan lama."
Afriadi tersenyum meranjak dari tempat duduk menyusul Latika, sambil berjalan ia meregangkan otot-otot. Pegal-pegal dirasa sekujur tubuhnya.
Selang beberapa menit mereka melaksanakan sholat subuh berjamaah, lepas sholat tadarus bersama.
***
"Bos, semuanya berjalan dengan lancar." Seorang pria melapor pada bos nya. Wajah pria itu tak terlihat dengan jelas karena ia berdiri di sisi yang gelap cahaya lampu hias yang redup hanya memberikan gambaran wajahnya yang tak jelas.
__ADS_1
"Bagus, kau melakukannya dengan sangat bagus. Terutama kekasihmu, dia melakukan pekerjaannya dengan sangat bagus berbeda dengan putriku."
"Terima kasih bos." Pria itu membungkuk berterimakasih atas pujian atas kerja kerasnya, "Apa ini saatnya untuk menjalankan rencana selanjutnya."
"Jangan dulu..." Bos itu tersenyum miring di balik tirai besar yang membatadi dirinya dengan bawahannya itu.
***
Hari berlalu hasil otopsi jenazah yang ditemukan telah keluar.
Betapa kagetnya setelah tahu identitas dari jenazah tersebut ternyata itu, Baim.
Afriadi sempat kaget kalau itu jenazah Baim sampai tak percaya kalau itu jenazah Baim.
Asisten rumah Baim juga ikut terkejut. Masalahnya putri Baim, Sakira tidak tahu kalau ayahnya sudah tiada.
Bocah berumur 3 tahun itu tahu apa. Ia sudah kehilangan ibu berumur 2 tahun dan sekarang kehilangan ayah berumur 3 tahun. Air mata tidak tertetes sedikitpun dari matanya. Saat di beritahu pun ia tidak menangis.
Bahkan saat pemakaman pun ia tidak menetes kan air mata, malah bingung melihat orang-orang sekitarnya yang menangis.
"Bek napa nangis?" tanya bocah Sakira polos dengan kata yang masih belum sempurna ia ucapkan.
"Papa napa bobo awah anah?" tanyanya lagi pas mayat papanya di masukkan ke dalam tanah, tangisan semakin menjadi saat dengar kata-kata yang tidak tahu menahu itu dari mulut Sakira.
Saat Baim mulai di tutupi dengan tanah pun Sakira bertanya pada pengasuhnya itu, "papa napa di imbun? Omh jangan imbun papa." Sempat saja ia melarang tukang gali kubur untuk menimbun papanya.
Latika yang berdiri di belakang Saskia berkali-kali menghapus air matanya jangan sampai menetes, nanti Sakira akan bertanya padanya. Apa yang akan ia jawab ketika Sakira bertanya demikian.
Saat selesai pun Sakira tak henti-hentinya meminta pengasuhnya untuk mengeluarkan papanya, "Bek, keluaikan papa. Papa alam anah."
Ustadz yang membacakan tahkim pun turut menahan haru dari suaranya yang sudah bergetar. Ia kasihan dengan anak yang ditinggalkan ini tumbuh besar tanpa orang tua.
Sakira memeluk kuburan papanya, Latika yang tak sanggup menahan haru lagi cepat memeluk erat Sakira.
__ADS_1
Afriadi menatap tempat peristirahatan Baim, ia menggenggam erat tangannya.
"Beristirahatlah dengan tenang sobat, jangan khawatir aku akan memberi pelajaran pada orang yang membuat jadi begini," gumam batin Afriadi.