
Afriadi perlahan membuka matanya, perlahan bangun, melirik kanan kiri, ia tak kenal tempat ini. Dirinya berada di hamparan padang rumput yang luas dengan angin slo lembut membelai, memainkan anak-anak rambutnya.
Pandangannya berubah gelap, dirasa ada benda lembut menutupi matanya. Dirasa ada hembusan angin mengelitik lehernya. Tangannya meraba menyingkirkan benda yang menutupi matanya.
Perlahan benda itu turun, perlahan ia melihat sosok wanita cantik tersenyum lebar. padanya lesung Pipit terlihat jelas di pipinya menambah manis senyumannya.
"Adek."
Senyuman wanita itu semakin melebar saat Afriadi memanggilnya. Yah, itu sosok Latika.
Perlahan Latika bangkit lalu berlari dengan kedua tangan membentang membiarkan rumput rumput menyentuhnya. Afriadi cepat bangkit mengejar Latika.
"Adek!"
Afriadi tak mendapati Latika di pandangannya. Pandangannya sudah menyapu semua arah, tapi tak ia temukan juga Latika. Cepat kali Latika lari.
"Ahahaha... Abang!"
Afriadi menoleh kearah suara, ia lihat Latika tersenyum lebar bersembunyi dibalik rumput-rumput. Perlahan muncul dengan menggendong anak bayi.
Afriadi kaget melangkah mendekat, tapi semakin ia mendekat mata Latika memerah air matanya bercucuran jatuh membasahi pipinya semakin lama tangisannya semakin keras. Afriadi yang tak kuat lihat Latika menangis berlari kearahnya ingin memberikan pelukan padanya, tapi sekitarnya tiba-tiba berubah menghitam Latika lenyap tertelan olehnya. Afriadi tak bisa lihat apa-apa gelap gulita berlari tanpa arah ke sana ke mari.
"Latikaaaaaaa!!!" teriak Afriadi sambil berlari sampai ia terjatuh terjungkal.
Bib... Bib... Bib...
Bunyi alat medis.
Perlahan mata Afriadi terbuka, pandangannya rabun melihat langit-langit ruangan, mengedipkan mata berapa kali mencoba menelaah ini tempat apa? Dia ada dimana?
Afriadi merasa tubuhnya pegal-pegal dan nyeri sedikit, ia berusaha duduk melihat tangannya ada cacing putih melingkar ditangannya. Afriadi sadar ia ada di rumah Sakit.
Di sampingnya ada Samsul yang masih terbaring dan dua sohibnya masih terbaring di depannya. Afriadi geleng-geleng lihat kondisi mereka cukup prihatin ada banyak perban membalut tubuh mereka apalagi Qilan sudah hampir mirip mumi.
Sekejap Afriadi kepikiran Latika. Cepat ia ingin meranjak turun dari tempat tidur pasien, tapi tiba-tiba pintu terbuka menghentikan gerakkannya saat ia lihat siapa yang masuk.
"Adek," gumam Afriadi.
Latika mendekati Afriadi berdiri disampingnya.
__ADS_1
"Adek tidak apa-apa?" tanya Afriadi dengan wajah cemas.
"Alhamdulillah Adek baik."
Afriadi tersenyum menarik nafas lega bersyukur istrinya tidak apa-apa, tapi wajah istrinya macam pucat matanya juga bengkak kek habis nangis.
"Adek serius baik baik saja?" tanya Afriadi sekali lagi memastikan.
Latika meangguk, mulutnya bungkam tak kuat angkat suara. Afriadi berdiri memberi pelukan hangat padanya.
"Tak apa Dek, tumpahkan semua Abang ada untuk Adek, lampiaskan semua emosi Adek pada Abang yang tak bisa menjaga Adek dan anak kita."
Latika luluh tak bisa menahan lagi air matanya,
Latika menenggelamkan wajahnya di dada bidang Afriadi, isak tangisnya tertahan.
Hasan, Qilan, dan Samsul mendengar isak tangis Latika mereka bertiga lebih dulu sadar dari Afriadi, mereka tak sanggup lihat kesedihan sepasang kekasih itu akhirnya pilih tidur-tidur saja biar tak ganggu memilih menutup telinga tak mendengar kan pembicaraan mereka.
"Abang... Hiks... Adek... Adek... Hiks..." Latika tak sanggup melanjutkan kalimatnya hanya isakkan tangisan saja.
"Maaf Dek..." Afriadi berkata penuh rasa penyesalan.
Afriadi memperhatikan erat pelukannya, tubuh yang kecil darinya itu sangat nyaman dipeluk.
"Ikhlaskan ia pergi Dek, biarkan dia pergi. Tawakal Dek, ini semua cobaan dari Allah..."
Tok tok tok...
Pintu kamar pasien diketuk sekilas lalu terbuka perlahan, seorang Suster masuk biasa meriksa pasien.
Latika melepas pelukannya menyuruh Afriadi kembali berbaring.
Suster itu kaget lihat Afriadi sudah sadar, tapi tak ada yang memberitahu. Suster itu menatap tiga pasien yang tidak lain Samsul, Hasan, dan Qilan.
Tiga orang ini sudah sadar tapi tak lapor pun.
"Ayo siapa yang ingin disuntik dulu?"
Tiga serangkai langsung terbangun saling menunjuk satu sama lain. Suster itu tertawa tertahan, ia tak bermaksud ingin menyuntik mereka toh alatnya ada tak ada ia bawa.
__ADS_1
Suster ini suka sekali ngerjain mereka, karena beberapa hari yang lalu saat mereka di bawa kesini dalam keadaan terluka parah, yang lucunya saat mereka sedang ditangani, karena banyak korban obat bius habis yah ini kan rumah sakit kecil stok bius hanya sedikit yang ditangani banyak kalau mereka dibawa ke rumah sakit besar waktu menempuh ke sana sangatlah lama bisa bisa dijemput malaikat dulu di tengah jalan.
Karena tak sedikit yang terluka termasuk beberapa para polisi yang tertembak waktu membantu Hasan dan Qilan masuk melawan kelompok yang bersenjata.
Luka Qilan, Hasan, dan Samsul dijahit tanpa dibius. Kalau satu luka mah gak masalah, lah ini waaaw kali lebih dari satu luka.
Gila, waktu luka mereka dijahit, ekspresi wajah mereka menahan kesakitan lucu kali mengundang tawa. Apalagi Qilan sampai teriak-teriak gak jelas, Hasan merintih sedikit memalingkan wajahnya gak mau lihat lukanya dijahit tapi ujungnya teriak juga ikut-ikutan Qilan yang memanggil dirinya lalu saling sebut satu sama lain sampai salam perpisahan pun mereka ucapkan, mereka kira akhir hidup mereka akan berakhir di tangan para dokter dan perawat ini. Sedangkan Samsul hanya merintih sedikit menahan sakitnya seolah ia sudah terbiasa dengan ini, toh para dokter yang menanganinya saja merinding ngeri lihat tubuh Samsul yang banyak goresan luka apalagi di bagian belakang banyak goresannya. Qilan dan Hasan saja sampai meneguk ludah lihat tubuh Samsul, bergidik ngeri.
Untunglah penyiksaan terhadap mereka hanya sebentar saja, bantuan obat bius yang didapat dari rumah sakit sekitar.
Suster itu berjalan meriksa infus dan Dokter yang baru datang meriksa Afriadi.
Waktu diperiksa Afriadi bertanya, "Sudah berapa hari aku pingsan?"
"Satu Minggu Af," jawab Qilan berniat mau bercanda malah dapat tatapan maut dari Afriadi, seakan tatapan itu berkata 'Aku tak tanya mau'
Qilan menelan ludah, melarikan pandangannya pada Hasan lalu melirik kembali Afriadi. Qilan seakan terkena serangan jantung ketika Afriadi masih menatapnya macam memantau dia, dari tatapannya itu kek berkata 'Masih ku pantau, belum ku sleding'
Qilan kemabali menatap Hasan minta tolong. Namun, Hasan menggeleng tak mau menolong, toh salah siapa ngajak bercanda orang yang lagi berduka.
"Dua hari," jawab dokter.
Afriadi meangguk paham sudah pasti selama itu istrinya sudah bersihin rahim atau dikerok gitulah. Segitu ya masanya?
Yah, Latika keguguran. Calon anaknya tak bisa diselamatkan, berapalah kuatnya usia kandungan yang masih muda itu makan nanas banyak banyak aja bisa keguguran apalagi minum obat aborsi.
Ketika Latika sadar dari pingsannya kemarin, hatinya hancur setelah tahu kalau dirinya tidak mengandung lagi. Latika menangis meraung calon anak pertama mereka tak akan lahir ke dunia ini. Ia merasa bersalah pada dirinya yang gak becus.
Afriadi diam membiarkan Dokter bekerja meriksa lukanya. Dilihatnya Istrinya murung macam pikirannya kosong, wajah pucat.
Tangan Afriadi bergerak ingin membuyarkan lamunan Latika.
Tiba-tiba...
***
apakah yang terjadi?
author duduk manis nunggu like and komen kalian.
__ADS_1