
Hallo semua.
Sudah lama tidak up.
Selamat menikmati.
***
Latika kira mereka sudah pergi, ternyata mereka masih di dekat Latika dan Afriadi.
Mereka mengawasi Latika dan Afriadi dari jauh.
"Kenapa kita masih di sini? Ayolah pergi sebelum ketahuan," ajak Hana ikut mengumpet di tanaman hias tak jauh dari tempat Latika dan Afriadi duduk.
"Ala... Hana tunggulah sebentar, kita lihat mereka mau apa." Salasiah menarik tangan Hana, memintanya mendekat sedikit, takutnya nanti mereka tahu.
"Kau tidak mau kepo Hana?
Kalau aku kepo. Apalagi dengan wajah pacar itu," kata Nana tetap fokus pada target.
"Kita sambil awasi Latika, kalau nanti terjadi apa-apa dengan dia atau orang itu mau berbuat tidak-tidak pada dia. Ha... Kita ringkus nanti," kata Salasiah.
Hana meangguk mengiyakan.
"Aku kira tadi dia gengsi, tidak mau minum," ucap Nana meingat Afriadi tidak minum air yang ia berikan tadi.
"Tapi mukanya tidak kelihatan," kata Hana tidak melihat wajah Afriadi, ia hanya melihat wajah Latika.
"Macam mana tidak kelihatan, kita di belakang dia bukan di belakang latika," kata Nana.
"Itulah aku suruh arah sana kau tidak mau." Salasiah menyalahkan Nana dan Hana.
"Bisa tidak jangan salahkan aku," ucap Nana.
Salasiah mendelik, "Habis itu siapa yang disalahkan? Bukanya kalian yang menariku. Aku tadi mau ke arah sana, kalian pula yang menarik aku ke arah sebaliknya."
"Hy! Sudahlah jangan bertengkar lagi, nanti kita ketahuan." Hana meleraikan pertengkaran mereka.
"Woy... Woy... Lihat apa yang dilakukan Latika!" Nana berseru heboh.
"What!!!" Salasiah terkejut.
"Apa sih yang mereka lakukan?.
Gak kelihatan." kepala Nana bergerak ke sana ke mari, mencoba melihat dari arah lain.
"Coba bediam." Hana menangkap kepala Nana yang berada di depannya bergerak terus, ia tidak dapat melihat.
"Latika... Dia... Latika... Dia... Mereka saling berdekatan." Jari telunjuk Salasiah bergerak ke sana ke mari menunjuk mereka berdua.
"Jangan - jangan mereka ciu-" Nana mempertemukan kedua jari telunjuknya yang kedua ujungnnya ia tabrakan beberapa kali.
Hana memotong perkataan Nana, "Hy! Mana mungkin mereka lakukan itu, apa lagi ini di tempat umum."
" Bisa saja dia memaksa Latika, dan Latika terpaksa karena tidak bisa melarikan diri darinya." Nana menyimpulkan.
"Jangan mengarang Nana, tidak mungkin Latika melakukan itu." Hana menyela kesimpulan Nana.
"Ehm... Apa yang kalian lakukan disini?."
Mereka bertiga terkejut seperti ada petir yang menyambar mereka bertiga ketika mendengar suara dari belakang mereka.
Mata mereka bertiga melek melihat seseorang yang gagah berdiri di hadapan mereka, menggunakan seragam keamanan.
__ADS_1
"AAAA... I-itu... K-kami l-lagi." Hana bicara tergagap - gagap, menggaruk kepala yang tak gatal, melirik temannya yang berada di belakangnya.
"Na, lakukan sesuatu," Bisik salasiah.
"Ah... Kami lagi."
Srekkk... Srekkk... Nana mengambil TINT di dalam kantong belanjaanya, dan...
Tuk...
Nana menjatuhkan TINT - nya ke lantai, dan acting pun dimulai.
"Ah... Kami... Lagi mencari barang kami yang terjatuh. Ah... Ini dia..." Nana meambil kembali TINT yang ia jatuhkan tadi.
"Haha... Benar ini dia." Salasiah ikut meambil juga. Hana bingung dengan temannya itu.
Pak Stapam menatap mereka dengan matanya yang melotot, ditabah lagi dengan badanya yang besar, dan mukanya yang sangar, kelihatan sekali ia tidak percaya.
Ternyata oh... Ternyata...
Pak sapam malah kemakan dengan acting mereka
"Hoho... Ternyata begitu, lain kali hati - hati ya."
Begitu mudahnya Stapam mall percaya pada mereka, dan pergi begitu saja.
"Huh... Selamat." Nana mengusap dada, lega.
Mereka bertiga menarik nafas lega.
"Eh... Eh... Di mana mereka?" Salasiah menepuk bahu kedua temannya, melihat ke tempat Latika dan Afriadi duduk tadi.nKepala mereka celengak-celengok mencari Latika dan Afriadi.
"Ah... Mereka sudah pergi," kata Nana kecewa.
"Ya... Udahlah, kita pulang saja yuk, sudah lama juga kita di sini. Capek juga nih," ajak Hana.
Nana dan Salasiah meangguk setuju.
Mereka bertiga pun pergi dari tempat itu.
Sedangkan Latika dan Afriadi sudah sampai di Taman, rencananya tadi mau langsung pulang. Tapi, Afriadi malah membawa Latika ke Taman.
Sewaktu Latika menjadi anak kos ia jarang sekali masuk ke Taman, palingan waktu itu hanya lewat, karena ketetbatasan waktu yang ia miliki saar itu, dan sekarang ia banar - banar ada di dalam Taman.
"Wah. . . Subhanallah indah, dan rapi." Latika menghirup udara segar walau tak segar lagi, melihat sekeliling. Banyak pengunjung di sore hari.
"Hah... Segar, dan teduh." Afriadi duduk di kursi taman yang dinaungi pohon - pohon rindang.
"Adek... Sini..." Afriadi menepuk - nepuk kursi, memberi kode. Dia menyuruh Latika untuk duduk di dekat dia.
Tapi, Latika belum siap lagi untuk duduk di dekat dia, satu hari ini badan Latika dibuatnya panas dingin berada di dekat dia, dan jantungnya terserang beberapa kali, Latika cangung sekali dekat dengan dia, jadinya ia cari alasan, "AAA... Abang, adek mau keliling dulu ya."
"Gak lelah?," tanya Afriadi dengan wajah yang masih tergambar lelah, duduk tersandar di kursi taman.
"Lelah sih, tapi apa boleh buat, demi menghindar," keluh hati Latika.
"Tadinya sih, tapi sekarang sudah tidak lagi," katanya.
"Apa mau Abang temani?," tawar Afriadi melirik Latika.
Latika menolak tawaran Afriadi, "EEEEHHH.... Gak usah Adek bisa pergi sendiri, kelihatanya Abang yang lebih lelah."
"Abang tidak terlalu lelah, yuklah Abang temani." Afriadi sudah mau berdiri dari tempat duduknya.
__ADS_1
Latika cepat mengambil tindakan, tangannya reflek menahan dengan kedua tangnnya yang menekan bahu Afriadi sampai Afriadi terfuduk lagi, "Gak usah Abang sudah kelihatan lelah sekali, lebih baik Abang istirahat dulu, lagian Adek dekat - dekat sini saja."
"Matanya..." Afriadi menatap mata Latika, mata yang indah berbalut rasa cangung, serunya dalam hati, "Apa dia masih merasa cangung, dan tidak nyaman di dekatku."
"Boleh?"
Afriadi menganguk membolehkan Latika pergi, kembali tersandar di kursi taman.
"Terimakasih, maaf sebelumnya." Latika menjauhkan tangannya dari bahu Afriadi, segera pergi berjalan menyembunyikan wajahnya yang memerah. Afriadi memperhatikannya dari belakang, sampai ia menjauh.
"Wah... Pohon apa ini?"Latika melihat pohon besar di depannya.
Pandangan Afriadi yang tadinya melihat Latika berjalan, teralihkan pada sepasang kekasih di seberangnya.
"Eh... Eh... Lihat itu, ada jones," kata si cowok, memonyongkan bibir menunjuk Afriadi.
"Iya... Kelihatan dia baru ditolak sama cewek." si cewek menebak.
"Pakai masker segala, tutup panau di muka. Tampang seperti itu siapa yang mau."
Hihi... Si cewek ketawa ketiwi.
Perkataan mereka terdengar jelas di keuping Afriadi. Lah, jaraknya hanya 2 meter.
"Eh... Eh... Kita panas - panasi yuk," ajak si cowok.
Si cewek hanya meangguk, ikut.
Kelakuan sepasang kekasih yang duduk di seberang Afriadi makan bersuapan, dan yang tidak enaknya itu mata mereka melirik Afriadi.
Kelakuan mereka membuat hati Afriadi jengkel, "Kekanak-kanakan. Mereka kira aku habis diputusi pacar, jadi pamer kemesraan gitu, memanasi aku kelihatanya. Lebay jadi orang, kenapa aku jumpa orang seperti mereka?."
Afriadi memalingkan pandangannya dari sepasang kekasih di seberangnya, namun tetap saja mata Afriadi yang penasaran melirik mereka sepasang kekasih itu.
Yang paling parahnya Afriadi sempat terbayang kalau Latika dan dia seperti itu, "Agh... Apa yang aku pikirkan, Af? Jangan berpikir yang macam-macam." Afriadi melepas topinya, mengusap kepalanya.
"Hah... Susah juga bernafas, lepas sajalah masker ini. Aman juga."
Afriadi melepas maskernya, betapa terkejutnya sepasang kekasih itu melihat wajah Afriadi yang rupawan.
"Oppa..." Si cewek terpana dengan pesona Afriadi, tampa sadar darah keluar dari hidungnya, membuat jengkel hati si pacarnya.
"Apa sih yang kamu lihat?." Pacarnya memarahi kekasihnya itu.
"Ih... Apaan sih dia ini, kalau bukan kaya sudah aku tinggalkan dia," seru si cewek dalam hati. Selama ini dia hanya memandang harta dari pacarnya bukan kesetiaan.
"Dasar cewek matre, dia pantang lihat yang tampan, lagian kenapa sih dia harus lapas - lepas masker segala," guma si cowok.
Tidak lama kemudian. Setelah Afriadi puas melihat raut wajah sepasang kekasih di seberangnya, Latika datang membawa somai yang ia beli di sana.
"Abang pulang yuk," ajak Latika, mengunyah somai.
Afriadi tersenyum menatap Latika.
"Abang... Abang mau." Latika menawarkan somai, tangannya menyodorkan setusuk somai.
Tiba - tiba saja...
Afriadi menangkap tangannya yang memegang somai, sehingga somai yang tadi Latika sodorkan padanya masuk ke mulutnya seakan-akan Latika menyuapinya
Sepasang kekasih di sana malah tercengang - cengang melihat mereka.
Afriadi pandai juga memanas-manasi.
__ADS_1
Parahnya lagi si ceweknya malah pingsan. Entah kenapa itu cewek sampai pingsan, mungkin karena lebay.