
Ariadi dan Latika kembali pulang.
Sesampainya di Rumah Latika menceritakan pengalamannya sama Bik Ipah.
Sisa liburan tinggal beberapa hari saja lagi.
Latika menghabiskan sisa liburannya pagi ikut olahraga sama Afriadi. Pertama kalinya ia Olahraga bareng sama Afriadi ada seneng ada nyeseknya juga, yang nyeseknya itu lihat itu para cewek yang di lewati banyak melirik dan saling berbisik.
Lepas olahraga, menjelang siang Latika belajar dengan Afriadi.
Begitu juga besoknya.
Tapi, sekitar jam 2 Latika di ajak sama teman-temannya nonton bioskop.
Afriadi juga nonton di bioskop yang sama tapi ia tak pergi dengan Latika, ia pergi dengan Qilan.
Selang beberapa jam.
Selepas nonton Latika dan temannya pergi jalan-jalan.
Sampai lupa waktu. Di depan pintu panglima sudah menunggu, melipat tangannya di depan dada.
Latika medekat, menunduk tahu kesalahannya.
"Jam berapa ini Dek baru pulang."
Latika melihat jam di tangannya.
Jam 17:55 sore.
Sebentar lagi azan maghrib.
Latika menyeringai, garuk kepala.
"Bukanya sudah di bilang jangan lama." Nada bicara Afriadi datar, menatap Latika yang cengengesan.
"Maaf. Adek, lupa. Lagian Abang tak jemput." Latika tersenyum lebar, katanya berhasil membuat Afriadi gundah.
"Astaghfirullah, aku lupa."
"Ya, sudah.
Impas. Sama-sama lupa."
"Tapi, Adek pulangnya terlalu lama. Ini terlalu sore Dek."
"Iya, maaf. Adek salah."
"Sudahlah yuk masuk."
Afriadi menerik tangan Latika membawanya masuk.
"Lain kali jangan gitu lagi."
"Oke."
Hari yang melelahkan. Malamnya. Selepas sholat Isya' Latika langsung tidur. Afriadi masuk kekamarnya.
"Em, sudah tidur."
Ia duduk di sebelah Latika.
"Selamat tidur Dek. Mimpi yang indah."
Afriadi mengusap kepala Latika.
Ia ingin mematikan lampu, tapi ia ingat kalau Latika takut kegelapan, seperti waktu itu.
Cepat ia pergi meninggalkan kamar Latika.
"Selamat tidur, mimpi yang indah" kata kata-kata yang sering di ucapkan seseorang, tapi beda jika kata-kata itu di ucapkan oleh seseorang yang istimewa orang yang di cintai.
Latika tersenyum, sepertinya ia belum tidur.
***
Tak terasa sisa liburan tinggal bebarapa hari saja lagi.
"Liburan tinggal 3 hari saja lagi. Setelah itu masuk, lalu perang lagi. Hah, cepatlah selesai," guma Latika mencoret-coret kertas di atas meja belajar dengan pensilnya, ia menggambar dirinya dan Afriadi.
Afriadi diam-diam datang melihatnya.
"Hahaha... Gambarku seperti anak teka. Jelek." Latika menghina gambarnya sendiri, tertawa geli melihat sekali lagi gambar itu.
"Engak kok, bagus." Afriadi memuji, lehernya panjang melihat gambar Latika dari belakang.
Latika menoleh ke belakang, kaget Afriadi ada di belakangnya, "Eh, Abang."
Latika bediri dari kursinya menghadap Afriadi di belakngnya, memgambil kertas menyembunyikan gambarnya di belakangnya.
"Lihat dong," pinta Afriadi menarik turunkan alisnya seraya tersenyum manis.
"Ha ha ha..." Latika tertawa getir, "Lucu bang, gambar Adek jelak."
"Bagus kok. Abang mau lihat." Afriadi sedikit memaksa.
"Tidak." Latika menggeleng, perlahan menggeser kakinya mau kabur.
"Lihatlah." Afriadi keburu mendekat, "Bagi tengok."
"Tidak, gambarnya tidak bagus." Latika meremas kertas di belakangnya.
"Bagus itu."
"Tidak."
"Bagi lihat Dek."
Afriadi mencoba mengambil kertas yang di sembunyikan Latika di belakangnya.
Tapi, Latika tak memberikannya,
"Tidak."
"Lihat." Afriadi mendekat.
"Tidak."
"Lihat." Afriadi semakin mendekat.
Jantung Latika mencoba berdetak dengan normal, gak gak gak kuat gak gak gak kuat aku gak kuat dengan dirimu.
"Jangan paksa Adek." Latika mau kabur namun...
Tap..
Kedua tangan Afriadi keburu menempel di meja menggunci Latika supaya tak kabur.
"Lihat Dek," pinta Afriadi sedikit memaksa dengan wajah serius.
"Tidak." Latika menutup matanya tetap mempertahankan kertas yang mau di rebut Afriadi.
"Lihat Dek." Wajah Afriadi mendekat, Latika dapat merasakan hembusan nafasnya menghantam wajah Latika.
Jantungnya gak gak gak kuat gak gak gak kuat aku gak kuat.
Latika tertunduk berakting, pura pura sedih.
"Hiks.."
"Eh?" Afriadi kebingungan dengan Latika yang tiba-tiba menangis, "Abang nakuti Adek?"
Afriadi melepas tangannya, membuka peluang bagi Latika untuk kabur.
"Haha..." Latika tertawa sambil menjulurkan lidahnya mengejek Afriadi, cepat Latika lari keluar kamarnya.
"Adek mengejekku." Afriadi bengong masih terbayang dalam pikirnya Latika mengejeknya dengan lidah terjulur.
"Isss.. Tak bisa dibiarin ini." Afriadi mengejar Latika yang sudah lari menjauh.
"Hem... Hem... Hem..." Sari bersenandung mengelap jendela besar yang menghadap ke taman Rumah.
"Huwa..." Mulut Sari terbuka lebar melihat Afriadi mengajar Latika seperti merebutkan sesuatu.
"Wah bagus nih. Beritahu Bik Ipah ah," guma batin Sari menyeringai.
Cepat Sari meninggalkan pekerjaannya memberi kabar pada Bik Ipah yang berada di dapur lagi mencuci pakaian.
"Bik," panggil Sari muncul di ambang pintu, suaranya melengking menembus suara mesin cuci. Bik Ipah mendongak melihat sari, bertanya lewat tatapannya 'Ada apa?'
"Cepat lihat di depan," ajak Sari sambil menunjuk ke arah depan dengan heboh.
Tanda tanya memenuhi kepala Bik Ipah,
"Lihat apa? Jangan ganggu ah."
Sari gak terima dicuekin, tetap memaksa Bik Ipah untuk melihat ke depan dengan cara menarik tangan Bik Ipah yang lagi membilas pakaian, "Iiih, cepat Bik Lihat ke depan."
"Lihat apa? Kamu saja. Bibik lagi sibuk." Bik Ipah mengikuti Sari, walau masih menolak dengan mulutnya.
"Gak mau lihat drama Mas Afri dengan Non Latika kejar-kejaran."
"Eh?" kaget Bik Ipah, terdiam sebentar. Sekali dengar Latika dan Afriadi kejar-kejaran, cepat Bik Ipah melepas tangan Sari pergi mendahukuinya menuju TKP.
"Eh, malah Bibik yang pergi dulu. Eh, Bik tunggu." Sari mengejar Bik Ipah dari belakang.
Di taman Afriadi masih berlari mengejar Latika, "Lihat dek."
"Gak mau. Gambarnya jelek!" Latika tetap tak mau melihatkan gambarnya. Ia sudah hosh hoshan berlari.
"Hoho... Ya, Non lari. Jangan sampai ketangkap!" sorak Bik Ipah menyemangati dari dalam Rumah.
"Yah, Bik Ipah semangat sekali." Sari mendekati Bik Ipah, melihat mereka masih kejar-kejaran. Sari ikut menyemangati Afriadi biar bersaing gitu, "Hihi.. Mas Afri cepat tangkap Nona."
"Jangan sampai ketangkap Non.
Lari cepat!" geram Bik Ipah ketika Latika sudah mau ketangkap.
"Ayo Mas, kejar. Kalau bisa tangkap lalu kissss.." Sari semangat sekali.
Syingg... Mata Bik menatap tajam, kurang setuju dengan kalimat akhirnya.
Mereka berdua sibuk menonton dan menyemangati Latika dan Afriadi.
Sari mendukung Afriadi.
Bik Ipah mendukung Latika.
"Ayo Mas tangkap!" sorak Bik Ipah.
"Aaa.. Lari Non, lari!" semangat betul Bik Ipah kek nonton sepak bola saja.
"Kalau mereka lari lari terus berapa banyak lemak terbakar ya?"
"Gak tahu." Bik Ipah meangkat bahu, tetap menyemangati Latika.
"Ayo Non lari.
Tuan sudah tua jadi tidak bisa lari lama-lama, cepat penat.
Haha.." Bik Ipah mengejek Afriadi, padahal Afriadi sengaja memperlambat larinya biar Latika di depan terus jadinya ada alasan Afriadi mengejarnya.
"Abang melambat. Pasti kecapekan," guma batin Latika, melihat kebelakang Afriadi melambat. Ia menjulurkan lidahnya sedikit mengejek Afriadi.
"Aaaadeeeekk!!!" Afriadi tak suka melihat Latika menjulurkan lidahnya. Cepat ia berlari mengejar Latika lengkap dengan ekspresi galak.
"Huwaaaaa!!!" Latika menjerit lihat Afriadi berlari begitu cepat, "Abang marah."
Secepat apapun Latika lari tetap Afriadi dapat mengejarnya.
"Yah, cepat Mas tangkap Nona!" Heboh Sari lihat Afriadi tambah cepat.
"Aaa! Lari Non, Tuan sudah ada di belakangmu!" Bik Ipah tak mau kalah heboh dari Sari
1... 2... 3...
Hap...
Latika tertangkap Afriadi.
"Kyaaa...," jerit Latika merasa tebunya serong.
Bruuuk..
Mereka terjatuh ke tanah.
"Aaa.. Berat," rintih Latika kesakitan tertindih Afriadi.
"Ha, tak bisa lari lagi," kata Afriadi dengan nafas tak beraturan lagi.
"Yah, Mas Afri menang. Wow!" sorak Sari heboh lihat Afriadi berhasil menangkap Latika.
Tap.
Bik Ipah menutup mata Sari.
"Sudah cukup nontonnya sekarang kembali bekerja," kata Bik Ipah seraya menyeret Sari pergi dari sana.
"Tapi, aku masih mau lihat," pinta Sari mau lihat.
"Tak, boleh." Bik Ipah menjawab ketus.
Mereka berdua pergi, pertunjukan selesai.
"Bang berat," kata Latika dengan jantung yang berdetak cepat gara-gara berlari tadi.
"Bagi lihat," pinta Afriadi baik-baik nafasnya tersengkal jantungnya berdetak kencang habis berlari.
"Gak mau. Menjauhlah berat." Latika tetap mempertahan kertas yang sudah kusut itu.
"Biar seperti ini," kata Afriadi tak punya belas kasih.
"Punggung Adek sakit. Nafas Adek sesak," rengek Latika mulai kesulitan bernafas.
Afriadi mengambil paksa kertas itu dari tangan Latika.
"Kyaaa... Jangan lihat!" pekik Latika ketika
Afriadi meneliti gambar itu, menyeringit tersenyum lebar lihat gambar Latika.
"Bagus. Cuma Adek yang bisa buat, yang lain mana bisa," pujinya.
Ya, jelaslah yang lain mana bisa tiru serupa dengan gambar Latika, cuma dia yang bisa buat.
"Benarkah?" tanya Latika, melihat Afriadi di atasnya.
"Ya," sahut Afriadi masih memperhatikan gambar Latika.
"Abang," panggil Latika dengan suara lain.
"Em," guma Afriadi. Lupa kalau istrinya masih tertindih.
"Bisa minggir. Sakit. Nafas Adek sesak," pinta Latika dengan nafas tersengkal.
Afriadi sadar cepat menyingkir.
"Huh, selamat." Latika menghela nafas lega berbalik terbaring telentang.
"Dek." Afriadi mengetuk bahu Latika, membuatnya tertoreh melihat Afriadi yang terbaring di sampingnya.
"Siapa yang mengajarkan Adek menjulurkan lidah seperti itu?" tanya Afriadi ingat saja lagi.
"Seperti ini." Latika mencontohkan menjulurkan lidahnya lagi.
Tup..
Tangan Afriadi menjepit mulut Latika, mulut Latika persis mulut Donal bebek
"Jangan seperti ini. Tak baik. Gak ada sopannya," nasehat Afriadi dapat anggukan dari Latika, "Jangan lakukan itu lagi. Oke."
Latika mengangguk lagi. Afriadi melepas tangannya.
Tak lama ia melepaskan jepitannya, ia tertawa terbahak bahak.
"Bwahaha..."
__ADS_1
"Kenapa tertawa?" tanya Latika bingung dengan dia yang tiba-tiba tertawa, ia menatap mata yang penuh kehangatan itu.
"Bukan apa-apa. Geli saja, barusan kita kejar-kejaran kayak anak kecil saja. Haha.."
Afriadi tertawa sampai terleleh air matanya, ia menyeka air matanya.
"Haha..." Latika ikut tertawa. Batinnya berkata, "Enatah kenapa melihat Abang tertawa rasanya ingin tertawa juga. inikah yang di namakan kebahagiaan. Ya Robb tetapkanlah kebahagiaan ini padaku jangan engkau ambil kebahagiaan ini dariku."
Momen yang indah dan akan terkenang selalu dikala rindu.
Hari ini terlewati begitu saja.
Tahu-tahunya sisa liburan tinggal 2 hari saja lagi.
Sedangkan di sisi lain.
Seorang wanita menggila mengacak-acak kamarnya.
"Latika aku tak sangka kau ... Kenapa kau merahasiakan ini. Kenapa? Aku tak percaya kalau selama ini kau ... Aku sungguh tak percaya. Kenapa kau bisa mendapatkannya? Apa jadinya jika mereka tahu kalau kau ..."
Ia melihat dirinya yang berantakan di depan cermin, menyeringai lebar tahu apa yang harus ia lakukan.
***
Besoknya. Hari ini Latika diajak Afriadi belanja kebutuhan dapur.
Saharusnya Bik Ipah yang pergi belanja. Tapi, Afriadi minta biar dia dan Latika saja yang pergi berbelanja.
Bik Ipah paham, setuju saja memberikan catatan belanja.
Sesampainya di supermarket, Afriadi meambil troli berjalan mengitari jejeran produk.
"Itu semua catatan belanjanya?" Latika melihat catatan belanja yang di berikan Bik Ipah.
"Iya." Afriadi meambil catatan belanja dari tangan Latika. Batinnya berseru heboh, "Sedikit sekali, apa cukup?"
Berbanding terbalik dengan Latika,
"Banyak juga."
"Biar tidak belanja lagi, jadi sekali saja pergi belanjanya," seru Afriadi melihat kiri kanan nama barang yang akan di beli,
"Adek ambil minyak tu 5 botol," perintah Afriadi, dilaksanakan sama Latika.
"Itu. Yang itu 5. Itu 2 saja. Ambil yang jumbo. Itu.. Itu.. Itu.. Yang di sana, ambil yang jumbo. Ambil yang jumbo, yang kecil jangan tinggalkan saja," titah Afriadi.
Mak, mentang-mentang orang berada yang kecil gak dipilih yang gede melulu yang dipilih
Latika tukang ambil barangnya.
"Banyak banget, apa ini semua kebutuhan dapur? Ada yang tak beres ini," guma batin Latika tak sesuai dengan yang ia baca tadi.
"Abang coba lihat catatannya," pinta Latika langsung di berikan Afriadi catatan belanjanya.
"Ha, lah kok tidak sama. Di sini jumlah barangnya jumlah Baranya sedikit, tapi kok yang di beli banyak," protes Latika menunjukkan catatan belanjanya.
"Biar tahan beberapa Minggu," kata Afriadi datar.
"Tapi ini terlalu banyak, bukan minggu lagi tapi bulan," protes Latika. Iya juga ya banyak kali kita kasih makan kebo apa.
"Sudah biarkan saja. Terlanjur sudah." Afriadi tak masalah, mentang-mentang banyak uang, "Yuk ke kasir. Habis itu pulang."
Latika menarik baju Afriadi, menujuk ke arah sana, "Bang itu."
Afriadi mengikuti arah telunjuk Latika, arahnya menujuk ke ramyon.
"Apa itu?" tanya Afriadi pura-pura gak kenal dengan sosok makanan satu itu.
"Ramyon. Makanan korea. Itu oppa makan mie." Latika menujuk poster di sebelahnya, dari tadi berarti dia sudah memperhatikan mie itu.
Afriadi melihat ke sana, ada poster artis korea makan mie.
"Cih.. Tidak." Alergi sekali Afriadi lihat foto artis Korea, padahal dulu...
"Ayolah satu saja," pujuk Latika memeluk lengan Afriadi tersenyum manis, berharap Afriadi akan luput dan membelikan mie itu untuknya.
"Mie biasa saja," perintah Afriadi, tak mempan dengan rayuan Latika.
"Alah, Adek mau itu." Latika mulai nyebelin. Bertingkah kayak kekanak-kanakan.
"Kata Abang tidak ya tidak. Kenapa sih Adek suka Korea? Padahal Abang tak suka Korea,"
Afriadi tiba-tiba membentak Latika dengan alasan yang gak masuk akal apa hubungannya mie dengan oppa korea. Padahal Latika haha mau mienya saja. Sorot mata pengunjung lainya melihat mereka.
"Abang tak suka Adek."
Tuh kan, Latika kebawa perasaan.
Matanya sudah merah siap tumpah kapan saja itu air mata.
"Sudahlah Dek pilih yang lain saja jangan itu," kata Afriadi, mengusap wajahnya yang galak. Tersenyum pada pengunjung yang melihat mereka.
Latika tak menjawab, menundukkan kepalanya.
"Ya sudah ke kasir," ajak Afriadi. Belum sempat Afriadi menoleh, Latika sudah mendorong trolinya menuju kasir.
Cepat Afriadi ikut mendorong troli bersamaan dengan Latika.
***
Selama perjalanan pulang Latika cuekin Afriadi.
"Adek marah dengan Abang?" tanya Afriadi tetap fokus mengemudi.
Latika tak menjawab hanya diam menundukkan kepalanya, menahan tangis.
"Abang minta maaf. Adek mau maafkan Abang?" tanyanya lagi lembut.
Afriadi tetap dicuekin. Bukan di perjalanan saja samapi di Rumah pun Latika cuekin, ia langsung masuk ke Kamarnya tangannya mengusap air mata yang sudah tak terbendung lagi.
"Hah." Afriadi menghela nafas berat, melanjutkan membawa barang belanjaan ke dapur di bantu sama Samsul.
"Tuan banyak sekali belanjanya," kata Bik Ipah kaget lihat Afriadi dan Samsul meletakkan barang belanjaan dapur.
Kira Bik Ipah dan Sari Afriadi mau mengadakan syukuran.
"Tahan untuk beberapa minggu," jawab Afriadi datar.
"Ini bukan minggu lagi, tapi bulan." Bik Ipah menegaskan kalimatnya, menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Baguslah." Afriadi berbalik badan, meninggalkan dapur.
Bik Ipah terdiam, melirik Afriadi yang pergi. Perasaanya tak enak, mengira kalau dia ada masalah.
"Mas Afri pandai berbelanja." Sari menggeleng melihat tumpukan sembako di atas meja dapur.
Afriadi menaiki tangga menuju kamar Latika.
Tok... Tok... Tok...
Afriadi mengetuk pintu kamar Latika.
"Adek, Abang boleh masuk?" tanya Afriadi lembut, penuh rasa bersalah. Ia kelewatan padahal istrinya hanya mau mie, bukan mau Oppa. Sensitif sekali Afriadi pas Latika tunjuk Oppa langsung meledak-ledak emosinya.
Tak ada jawaban dari dalam.
"Jangan dulu Af, biarkan dia tenang dulu." Hati Afriadi berkata bijak, ia pergi meninggalkan kamar Latika.
Sedangkan Latika di dalam menangis tersedu-sedu, memeluk bantal menenggelamkan kepalanya ke bantal.
"Hiks.. Hiks.. Abang tak suka dengan Adek. Adek suka korea, berarti Abang tak suka dengan Adek. Hiks..."
Sakit sekali perasaanya, menyangka Afriadi tak suka dirinya gara-gara dia bilang tak suka Korea dan Latika suka Korea berarti sama saja Afriadi tak suka dengannya.
Afriadi pergi meninggalkan rumah, ia kembali ke tempat itu lagi membeli banyak makanan ringan untuk Latika termasuk itu, yang diinginkan Latika, pasrah ia meambil mie instan itu.
Penjaga kasir tersenyum lihat belanjaan Afriadi banyak kali. Setelah itu Afriadi cepat pulang ke Rumah.
Tok.. Tok.. Tok..
Afriadi mengetuk lagi.
"Adek Abang masuk ya."
"Abang sudah belikan apa yang Adek mau tu. Keluarlah," pujuk Afriadi.
Ia seperti ngumpani kucing keluar saja.
"Janganlah marah. Sini keluarlah. Abang minta maaf. Ya ya ya Adek mau kan maafkan Abang?"
Latika tak menjawab. Ia mendengar, tapi tak mau menjawab perasaanya terlalu sakit.
Sampai ke malam Latika tak kunjung keluar dari kamar, betah betul.
"Dek. Keluar Dek," pujuk Afriadi tak henti-hentinya menujuk Latika untuk keluar, "Abang masuk ya." Tak tahan lagi ia di cuekin sampai malam begini tak keluar, marahnya kelewatan gara-gara mie.
Afriadi masuk ke kamar Latika, pintunya tidak dikunci.
Ia melihat Latika terbaring di tempat tidur, ia kira Latika tidur pas mau tinggalkan kamar terdengar isakkan Latika. Cepat ia mendekati Latika membalik tubuh langsung ia peluk.
"Cup.. Cup.. Cup.. Jangan bersedih lagi Dek."
Latika mendorong Afriadi, gak Sudi di peluk sama dia.
"ABANG JAHAT. ABANG TAK SUKA ADEK!" pekiknya.
Lagi-lagi Latika mengulangi kesalahan.
Tampa aba aba, Afriadi langsung...
Cup..
Memberinya kiss, mata Latika membulat sempurna shock dengan aksi Afriadi. Ia melakukanya dengan lembut.
Cepat Latika menolak Afriadi, melepas ciuman mereka
"Kyaaa.. Abang tak izin lagi, selalu saja begitu!" pekik Latika mengelap bibirnya. Kiss Afriadi masih terasa di bibirnya.
Afriadi tertawa kecil, menggodanya, "Kalau Abang izin berarti boleh dong."
"Kyaaaa.. Ihhh.." Latika memukul kuat Afriadi, melampiaskan kekesalannya padanya.
"Aduh... Kenapa sih marah-marah terus?" Mengaduh Afriadi mengusap bagian yang kena pukul Latika.
"Hemmm.."
"Hah." Afriadi menghela nafas, menatap lamat-lamat Latika, "Maaf ya. Abang salah."
"Abang tak suka Adek," guma Latika memendam kepalanya di bantal.
"Kenapa Adek pikir begitu?" tanya Afriadi lagi.
"Itu karena Adek suka korea Abang tak suka korea," kata Latika kurang jelas di telinga Afriadi.
"Abang tak suka korea, tapi Abang suka Adek." Afriadi menenangkannya, tangannya panjang mengusap kepala Latika.
Latika mengintip dengan mata bengkaknya, kalimat terakhir sangat mendalam sekali.
"Sudah jangan nangis. Maafin Abang ya? Masih ngambek. Yuk ikut Abang."
"Ke mana?" tanya Latika.
"Ikut saja. Adek belum makankan. Kita makan di luar. Yuk lah." Afriadi menarik tangan Latika membawanya keluar dari kamar.
Tanpa bersiap-siap lagi Latika langsung di bawa Afriadi makan di luar, bukan di restoran soalnya tak romantis katanya, ia memilih makan di tepi jalan.
"Mang, sate 2 porsi." Afriadi memesan lengkap dengan tangannya yang menunjukkan angka dua.
Latika masih cemberut, menggerutu, ia tak sempat bersiap lagi wajahnya tergambar jelas habis nangis. Itu mata masih merah bengkak lagi.
Setiap pelanggan yang lewat menatap Latika, tahu kalau dia habis nangis.
"Jangan lah cemberut lagi. Abang minta maaf Dek. Abang mengaku salah. Senyum Dek." Tangan Afriadi menekan pipi Latika memaksanya senyum.
"Senyum." Afriadi juga ikut senyum. Si tukang sate dan pelanggan lainnya sibuk melihat mereka. Latika tetap merenggut Afriadi hampir menyerah dengan Latika.
Eh, ada pengamen lewat. Afriadi menghentikan langkah pengamen itu. Latika tak peduli dengan apa yang dilakukan Afriadi ia tetap ngambek.
Tereeeng...
Suara gitar berbunyi mengoda Latika. Latika tertarik untuk melihat.
"Ha." Latika melongo melihat Afriadi memegang gitar dan seorang pengamen yang memegang kecer.
"Abang persembahkan lagu untuk adinda tercita, Latika."
Berkarisma sekali Afriadi, menunjuk Latika. Berdiri di hadapannya, kakinya memijak kursi baknya propesional.
"Waw..." Semua pelanggan dan tukang sate bersorak menyemangati.
Latika tertunduk tersipu malu, pikirnya apa-apalah Suaminya ini.
"Maafkan Abang Adinda."
"waw..."
Fiuwit.. Tepuk tangan, siulan dan sorakan para pelangan menjadi satu.
Treeng...
Afriadi mulai memainkan gitarnya.
Lagu mulai di nyanyikan.
"🎶 Maafkan aku yang selalu menyakitimu,
mengecewakanmu, dan meragukanmu.🎶
🎶Tersadar aku bila kamu yang terbaik, terima aku mencintaiku apa adanya.🎶
🎶Di antara beribu bintang, hanya kaulah yang paling terang, di antara beribu cinta pilihanku hanya kau sayang🎶
🎶Takkan ada selain kamu dalam segala keadaanku cuma kamu ya hanya kamu yang selalu ada untuku🎶"
Afriadi menyanyikannya dengan penuh perasaan ditambah lagi dengan suaranya yang merdu menyentuh hati Latika.
Latika menikmati lagu yang dinyanyikan Afriadi, begitu juga penghuni warung sampai
Pengendara sepeda motor pada berhenti singgah ikut melihat, memvidiokan.
"Ayo semua ikut nyanyi," seru Afriadi, melambaikan tangannya meminta semua yang ada di sekitarnya ikut bernyanyi.
"🎶Di antara beribu bintang, hanya kaulah yang paling terang, di antara beribu cinta pilihanku hanya kau sayang 🎶"
Semua ikut bernyanyi.
"Hoooo~~ 🎶Takkan ada selain kamu dalam segala ke adaanku cuma kamu ya hanya kamu yang selalu ada untuku 🎶" bagian Afriadi.
"🎶Diantara beribu bintang ...🎶" Kompak semuanya bernyanyi.
"Ooooooo..." Panjang O Afriadi.
"🎶Hanya kaulah yang paling terang 🎶" suara mereka semua.
"Yaaaa~~ 🎶Cuma kamu ya hanya kamu yang selalu ada untukku.🎶
🎶Yang paling mengerti akuuuuu..🎶"
Slow bagian akhinya.
"Woo.."
Plok... Plok... Plok...
Sorak pengunjung seraya bertepuk tangan.
Afriadi tersenyum meraih tangan Latika, bertekuk lutut, "Latika, I LOVE YOU. Maafkan Abang."
Wajah Latika sudah merah, malu di lihat banyak orang apalagi dengan Afriadi kayak gini.
"Ciaaa.. Maafkan.. Maafkan.. Maafkan.." Penghuni warung bersorak serempak sambil bertepuk tangan seiringan dengan sorakan.
Tak mau lihat kehebohan seperti ini dan jadi pusat perhatian,
"Ya, Adek maafkan."
__ADS_1
"Ya.." Semuanya bersorak sambil bertepuk tangan.
"Yes." Afriadi gembira sangat, sampai mengepal tangan ke atas persisi kayak powerrenjes mau berubah tapi dengan gaya yang aneh.
"Ini terimakasih." Afriadi mengembalikan gitar pengamen itu di selipkannya uang merah beberapa helai di bawah gitar.
Melotot mata pengamen itu tahu Afriadi bagi duit, tak menyesal dia meminjamkan gitarnya.
Afriadi siap menyanyi, pesanan pun siap.
"Yuk makan." Afriadi duduk di sebelah Latika, tangannya bergerak memberikan suapan untuk Latika, "Aaa.."
Latika menerimanya dengan senyuman.
Gantian lagi ia yang menyuapi Afriadi.
Haduh, mereka ini membuat iri para jomblo yang ada di sana. Sampai Matang tukang sate menyengir melirik mereka teringat dengan istri di Rumah tak sabar mau pulang.
"Adek tahu tak bedanya Adek dengan tusuk sate ini apa?" Afriadi bertanya ia mau menggombal Latika
"Tusuk sate itu dari bambu, kalau adek manusia. Iyakah?" Latika menjawab.
"Bukan. Bedanya Adek dengan tusuk sate ini. Kalau tusuk sate ini buat tusuk daging ayam, kambing. Kalau adek tusuk hati Abang."
Wajah Latika memerah dibuatnya.
Sampai ia mau ambil sate malah terambil bekas tusuk sate, di gigitnya lagi. Afriadi sampai terpingkal ketawa,
Latika gagal fokus.
Latika memilih minum teh es yang baru ia pesan.
"Tak manis," gama Latika.
Afriadi mencoba, mendecap, "Manis kok."
"Ha???" Latika bengong, manis dari mana tawar disebut manis lidah Suaminya sakit mungkin jadinya seperti ini.
"Terasa manis kok Kalau lihat Adek, kan manis sudah di ambil sama Adek." Afriadi mencuil dagu Latika. Wajahnya tambah merah.
"Makan cepat sudah mulai mendung, nanti hujan." Latika cepat menghabiskan makanannya, ia salah tingkah gara-gara kena gombal Afriadi. Sedangkan Afriadi santai saja makanya sambil lihat Latika.
"Bintang dan bulan bersembunyi di balik awan. Adek tahu kenapa mereka bersembunyi?" Afriadi mulai menggombal lagi.
"Mereka bukan bersembunyi awan itu yang lewat menghalangi, mau hujan ini." jawab Latika.
"Kata siapa. Mereka malu." Afriadi melirik bintang itu kemudian Latika.
"Ha, malu?"
"Iya, mereka malu kalah cantik dari Adek."
"Gombal." Latika tersenyum, pinta bersemu.
"Gombal itu perlu
untuk membuat Adek tersipu malu."
Senyum Latika tambah lebar.
"Senyum Adek manis semanis madu. Adek-"
Belum sempat Afriadi menyelesaikan kalimatnya Latika sudah menyumbat mulut itu.
"Cepat dimakan," titah Latika menyuapi Afriadi. Latika gak tahan dengar gombalan Afriadi terus, ia menyumbat mulut itu. Semua mata tertuju pada mereka, lihat pasangan romantis itu.
"Sabaar." Mulut Afriadi tersumpal, penuh.
"Cepat habiskan," titah Latika. Menyumbat mulut Afriadi.
Afriadi menghentikan pergerakan tangan Latika yang mau menyumbat mulutnya lagi, ia tersedak. Cepat Latika memberi air minum mengusap-usap punggung Afriadi, prihatin juga.
"Uhuk... Adek tambah cantik saat kesal." Afriadi gombal melulu, tak henti membuat Latika tersipu malu terus salah tingkah dibuatnya
Tak lama mereka sudah makan. Afriadi membayar makanan, ia melebihkan uangnya memberi Mang sate itu. Agak kaget sih Mamangnya, gak nyangka dapat rezeki lebih.
"Yuk Dek kita pergi," ajak Afriadi.
"Em," guma Latika mengikuti Afriadi dari belakang, naik ke motor.
Di jalan Afriadi sedikit iseng. Ia membawa motor sedikit liar kelok sana kelok sini. Membuat Latika menjerit takut jatuh.
Sampai ia sengaja berhenti tiba-tiba.
"Kyaaa.." Latika menjerit memeluk erat Afriadi.
"Haha.." Afriadi tertawa geli, puas membuat Latika takut.
"Iii.." Latika geram memukul palan pundak Afriadi.
"Jangan dilepas Dek." Afriadi memberi peringatan, terlihat jelas di kaca spion senyum lebarnya.
"Eh?" Cepat Latika memeluk Afriadi takutnya dia ngebut lagi.
"Pelan-pelan bawa itu," kata Latika mempererat pelukannya, takut kali Afriadi bawa ngebut.
"Oke oke oke."
Latika menghembuskan nafas lega.
Afriadi kembali melajukan motonya pelan-pelan.
Malam itu jadi kenangan indah bagi Latika.
***
Pagi. Afriadi kelelahan, setelah sholat subuh dan tadarus bersama Latika ia kembali tidur lagi.
Hari ini hari terakhir Latika libur. Jam 08:00 pagi.
Pintu kamar Afriadi terbuka, Latika masuk menggeleng kepalanya melihat suaminya masih tidur. Ia mendekat.
"Abang bangun." Latika membangunkan Afriadi, namun Afriadi tak bangun juga. Latika berpikir bagaimana membangunkan Afriadi, ia teringat akan lipstik baru yang ia dapat pagi tadi, cepat ia meraba kantongnya meambil lipstik itu.
Alisnya naik turun-naik turun tersenyum jahil, ia dapat ide.
Latika membuka lipstiknya mencoret sedikit di pipi Afriadi.
"Hihihi.." tawa kecil Latika puas dengan hasil kerjanya, ia menutup kembali lipstik itu.
Entah kenapa di kakinya seperti ada yang merayap, membuatnya terkejut menjerit melompat ketempat tidur menindih Afriadi.
"Agh." Afriadi langsung bagun setelah merasakan bom atom menimpanya, mimpinya langsung terputus. Ia menyeka sedikit darah di bibirnya, menatap Latika sudah berada di atas memeluknya penuh ketakutan ketakutan.
"Ada apa, Dek?" tanya Afriadi tak mengerti kenapa dia ketakutan.
"Itu dibawah. Ada yang bergerak-gerak." Latika menunjuk ke bawah membenamkan wajahnya di dada Afriadi.
"Ha." Afriadi melihat ke bawah, "Tidak ada apa-apa Dek."
"Itu, ada tadi bergerak!" kata Latika menunjuk ke bawah dengan gemetar, masih takut. Dalam pikirannya sudah ada satu makhluk berkaki enem dengan antena dua sayap yang suka membuat orang menjerit.
"Gak ada," kata Afriadi setelah memperhatikan yang kedua kalinya, nafasnya tersengal sulit untuk bernafas toh Latika menindihnya, "Bisa Adek bergeser Abang sulit bernafas."
"Em," guma Latika, menatap mata Afriadi.
Blus... Wajahnya memerah setelah tahu posisinya. Cepat ia menjauh.
Latika melihat ke bawah memastikan kalau itu tak ada lagi di bawah sana. Afriadi memperhatikan Latika, ia meyakinkan Latika tidak ada apa-apa di bawah dengan menurunkan kakinya.
"Haaa.." Afriadi terika mengejutkan Latika kakinya ikut bergerak seperti kesakitan.
"Kyaaa.." Latika menjerit mencengkram bahu Afriadi dari belakang.
"Adududuh.." Afriadi kesakitan rasanya kuku Latika nusuk bahunya.
"Apa itu?" tanya Latika sembunyi di belakangnya.
"Ahaha.." Afriadi tertawa ternyata ia mengerjai Latika.
"Iiih.." Latika memukul-mukul pelan punggung Afriadi.
Afriadi tak sadar dengan wajah sedikit aneh.
"Sudah jam berapa?" tanya Afriadi meregangkan otot-otot.
"Jam 08."
"Oh." Afriadi menggaruk rambutnya, turun dari tempat tidur.
"Abang mau ke mana?" tanya Latika.
"Kamar mandi. Ikut kah?" ajak Afriadi tersenyum tipis.
"Tidak." Latika menggeleng cepat. Batinnya sudah berseru panik, "Gawat jika ketahuan, harus pergi ini."
Afriadi tak merespon lagi, pergi masuk ke kamar mandi.
Sebelum ia menyadarinya Latika pergi meninggalkan kamarnya sambil tertawa tertawa terkikik-kikik.
Sedangkan di kamar mandi Afriadi mengambil odol dan sikat gigi mau menyikat gigi, ketika ia melihat wajahnya di cermin..
"Ha.." Afriadi kaget lihat wajahnya, sampai sikat gigi terlepas dari tangannya, "Merah. Apa ini? Lipstik." Ia menyentuh coretan di wajahnya, mencuil sedikit coretan itu setelah dirasa itu listrik eh maksudnya lipstik.
Afriadi tersenyum melihat wajahnya di coret Latika berbentuk hati di bawah matanya sebelah kiri, ia tahu ini kerjaan istrinya.
***
Latika duduk membaca buku di Ruang baca, lagi santai duduk bersandar di sofa.
Afriadi datang berbisik di telinganya, "Sudah berani ya."
Bisik Afriadi membuat Latika terkejut mendongak ke atas.
Latika menyengir lebar, Afriadi tersenyum ada maksud terselubung dalam senyumnya itu. Afriadi mencubit hidung Latika.
"Aaa.." Latika menjerit, sakit.
"Lepaskan." suara Latika berbeda persisi suara sqwitwot dalam cerita spombaop.
"Haha.. Comelnya suara." Afriadi tertawa geli.
"Lepas. Adek sulit nafas," kata Latika masih dengan suara yang sama.
Afriadi melepas jepitannya, "Pagi-pagi sudah jahilin Suami."
"Hehe.. Lagian siapa yang susah di bangunin." Latika tertawa pelan.
"Abang ngatuk. Baca apa Dek?" tanya Afriadi.
"Biologi. Seluruh alam bertasbih kepadanya. Menarik sekali." Latika menunjukan sampul bukunya.
Afriadi melihat buku yang Latika baca,
"Isinya memeng menarik sampai mana sudah baca? Us, jauh juga hampir habis. Cepat juga bacanya."
"Adek baca ringkas aja lalu lihat gambar," sahut Latika.
"Ternyata hanya lihat gambar," guma batin Afriadi, meranjak mencari buku untuk di baca.
Hari semakin sore.
Afriadi duduk di teras rumah menikmati suasana sore.
"Tuan." Samsul mendekati Afriadi yang tengah asik membaca koran.
"Em," guma Afriadi.
"Saya izin bawa Sari jalan, boleh?" tanya Samsul dengan nada rendah.
Afriadi menatapnya tajam, Samsul udah menelan ludah mengira kalau dia tak akan dapat izin.
Tahu-tahunya...
"Pergilah, jangan lama-lama." Afriadi beri izin.
Lebar senyum Samsul, cepat meangguk. Di belakang Sari sudah bertepuk tangan kegirangan, tak sabar lihat-lihat kota kayak kemarin.
"Oke. Yuk Sari kita jalan," ajak Samsul.
Sari mengikutinya dari belakang, menaiki motor.
Pas mereka pergi Latika keluar, melihat Samsul dan sari berboncengan menjauh keluar pagar. Latika mendekati Afriadi punya permintaan.
"Bang," Latika menggoyang tangan Afriadi.
"Em" guma Afriadi.
"Jalan yuk," pinta Latika.
Afriadi berdiri dari tempat duduknya.
"Tak boleh ya." Latika cemberut Afriadi tak mau meajaknya jalan.
"Yuk pergi," ajak Afriadi.
"Ha, iya?" Berbinar-binar mata Latika, suka sangatlah tu.
"Iya, kita naik motor." Afriadi masuk ke dalam rumah ambil kunci motor.
Afriadi membawa Latika jalan-jalan sore, keliling.
Tahu-tahunya di jalan mereka berjumpa Nana yang mengendarai motor bebek.
"Nana." Latika memanggil Nana yang melintas.
"Dia ... " Nana melirik sebentar lalu melaju cepat, pura-pura tak dengar panggilan Latika.
"Ada apa dengan anak itu? Biasanya ingin tahu saja urusan orang, sekarang tidak, aneh," guma batin Afriadi.
Bukan Nana saja yang mereka temui tapi juga Ustadz Sarif. Wih, Sarif kece keren mengendarai motor bebek dengan baju koko mengenakan celana polo hitam. Wiiis... Kerenlah Sarif, berhasil lah menarik perhatian wanita yang ia leweti.
"Pak." Sarif ragu-ragu menyapa Afriadi, takut salah orang malu pula nanti.
"Ha, Ustadz kenal dengan Abang. Padahal sudah pakai masker. Gawat."
Afriadi menoleh menepi, menghentikan motornya begitu melihat Sarif. Begitu juga dengan Sarif menghentikan motornya.
Latika menutup wajahnya dengan jilbabnya. Afriadi menepi menghentikan motornya.
Ustadz Sarif juga ikut berhenti.
"Apa kabar Pak?" tanya Sarif menunjukkan senyum terbaiknya pada Afriadi.
"Alhamdulillah baik. Kamu?" Afriadi bertanya balik.
"Alhamdulillah baik juga," pandangan Sarif tertuju pada wanita yang di bonceng Afriadi, "Siapa Pak?"
"Istri." Afriadi menjawab santai.
"Hoh..." Sarif melongo, bayinya kaget baru tahu Afriadi nikah tapi kapan? Kemaren itu hanya tunangan saja, kapan pestanya, "Bapak sudah nikah? Kapan Bapak nikah?"
"Sudah. Satu tahun yang lalu." Afriadi menjawab santai, Latika di belakang sudah mencubit pinggang Afriadi memintanya untuk cepat pergi.
Tambah kaget lagi Sarif tahu sudah satu tahun umur pernikahan mereka, Sarif memperhatikan Latika, "Tapi, dia kenapa nunduk terus? Pendiam ya."
"Ya, datang anginnya itu jadi diam." Sempat saja Afriadi bercanda.
Kalau di lihat mereka berdua bicara seperti akrab betul.
Batin Latika bertanya, "Sejak kapan Abang dan Ustadz Sarif akrab?"
"Abang cepat jalan," bisik Latika, menepuk pelan bahu Afriadi.
"Em," Afriadi meangguk, "Sarif, saya dulu ya.
Dia malu mau pergi."
"Oh iya. Silahkan, saya juga mau pergi." Sarif mempersilahkan mereka pergi.
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumssalam.." Sarif menjawab.
Afriadi melanjtkan perjalanannya.
__ADS_1