
Jam pelajaran pertama, dan ke dua berlalu dengan cepat, sekarang jam istirahat pertama.
Seperti biasa Latika pergi ke kantin bersama temannya untuk mengisi perut yang sudah demo dari tadi.
"Em... Nanti kita lewat sana ya, biar dekat." Latika meminum minuman yang ia pesan, tatapannya menyapu wajah teman-temannya yang berada di dekatnya.
"Tak mau, aku mau lewat jalan lain saja." Salasiah lebih dulu menolak, menyumbat mulutnya dengan cemelian.
"Seram lewat sana, anak laki - laki dari kelas 12.A yang tadinya mau membuktikan ada hantu atau tidak -"
Salasiah memotong perkataan Nana,
"Mereka tidak jadi membuktikannya, karena belum lagi sampai gudang mereka sudah lari terbirit - birit entah, katanya sih..., mereka mendengar suara aneh diseratai suara barang yang diacak - acak, dan suara LANGKAH KAKI yang jelas."
Em... 'Langkah kaki' pikir Latika.
.... Hadi diam, diamnya Hadi sulit di tebak ia memikirkan apa.
"Jadi, kita lewat kantor kepala sekolah gitu." Hana memebak.
Yap... Salasiah dan Nana meangguk mengiyakan kata Hana.
"Lewat kantor kepala sekolah, kalau lewat sana aku bisa ketemu dengan dia dong. Terpaksa aku lewat sana." Latika berkata dalam hati.
BRAAK... Sahril menepak meja, mengkagetkan temannya, "Percaya amat, dengan yang begituan."
Hadi yang merasa kesal karena Sahril mengkacaukan pikirannya memukul kuat punggung Sahril, "Kebiasaan."
Aduh... Sahril merintih kesakitan mengusap-usap belakangnya.
__ADS_1
"Kau tidak percaya, Sahril?," intonasi suara Nana sedikit naik, menujuk Sahril yang menciut kesakitan.
"Tak..." Sahril menjawab.
"Aku sih penasaran juga, tapi kalau benda itu ada juga, ya... Jangan diganggu saja," kata Hana.
"Kitakan tidak ganggu," sahut Latika mengajak yang lain, "Aku mau lewat sana saja, cepat sampainya. Yuklah.... Kita lewat sana, kita buktikan."
"Lewat sana saja, kita cuma lewat tidak ganggu juga." Sahril ikut mengajak yang lainnya.
Em... Hana, salasiah, dan Nana masih ragu - ragu untuk menjawab.
"Lewat sana saja, aku juga mau lewat sana." Hadi angkat bicata
"Ha... Tidak perlu lagi kalian takut, kami kan ada." alis Sahril terangkat-angkat, Sahril merangku Hadi yang berada di sebelahnya, jempolnya menujuk dirinya dan Hadi.
"Aku ikut saja," kata Nana pasrah. Di ikuti dengan anggukan Salasiah ikut saja.
Setelah makanan mereka habis, mereka langsung pergi ke kelas lewat gudang itu.
Ketika mereka sudah sampai di sana, dan melewati gudang.
Suasana terasa hening, hawa dingin dapat terasakan, suara keresak keresuk dari dalam gudang.
Salasiah dan Nana sudah takut memegang tangan Hana, sedangkan 2 laki - laki di hadapan 4 perempuan itu tampak tenang saja, ya... Karena mereka laki laki, nyali mereka besar, patut diakui.
Latika berhenti sebentar, memberanikan diri untuk mengintip di jendela, temannya sudah melarangnya untuk mengintip tapi Latika tetap keras kepala mengintip, karena penasaran mereka ikut mengintip juga.
Kepala mereka seling bertumpuk, mata serentak bergerak dari arah kanan bergeser ke kiri melihat isi dalam.
__ADS_1
'Hening, tak ada orang, suara tadi juga tidak ada' pikir mereka semua.
Tiba - tiba...
BBBBAAAAAA ....
Kain putih muncul di jendela, mereka semua terkejut mata melotot menjauhkan wajah dari jendela, Hana yang tadinya tidak percaya tidak bisa berkata - kata.
Kaki Nana, dan Salasiah mengetar, gigi mereka mengetar juga.
Salasiah mengoleh melihat hadi dan sahril,"Hadi... Sahril...!!!," teriak Salasiah.
Hadi, dan Sahril sudah lari terbirit - birit. sambil teriak "HANTUUU...".
"Hana kita lari yuk..." Salasiah mulai khawatir, suaranya mengecil.
Mata mereka tak lari dari kain putih itu.
Wusss...
Hembus Angin membuka kain putih itu, sehingga nampak juga, sosok tengkorak manusia kepanya berdarah.
Cepat Salasiah menarik tangan Hana, membawanya lari.
"HANTUUUUU..." teriak Salasiah dan Nana, mereka bertinga pergi lari tampa sadar Latika lupa ditarik juga. Jadinya Latika ditinggal sendiri.
Pintu gudang terbuka, dengan sendirinya, ketika Latika mau lari, ia malah kesandung terjatuh.
"Haaaa... Tolongggg...," Teriak Latika, menutup mata.
__ADS_1