Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Kecoa


__ADS_3

Suasana Rumah sepi.


Membuat Afriadi semakin tertidur pulas.


Kreeet...


Pintu Kamar Afriadi terbuka.


Kamar yang gelap.


Bik Ipah masuk untuk membersihkan Kamar Afriadi.


Matanya melirik Tempat Tidur, pikir Bik Ipah seperti ada yang tidur di sana.


Tanganya membuka gorden membiarkan cahaya Matahari masuk.


Srukkkk... Srukkk...


Selimut bergerak, membuat kaget Bik Ipah, "Haaa... Astaufirullah.


Apa itu?"


Tampa rasa takut Bik Ipah mendekat, tanganya menarik selimut.


"Ha... Astaufirullah."


Bik Ipah terkejut melihat Afriadi masih tidur.


"Tu-tutup Bik gordenya, silau."


Tangan Afriadi melambai-lambai, membalikan badan, berpindah posisi menarik kembali selimut, menutupi wajahnya.


"Astaufirullah. Tuan Tuan..."


Bik Ipah menguncang-guncang badan Afriadi, "Tuan bangun, Tuan."


"Em... Sebantar lagi, Bik. Masih pagi ini."


"Pagi dari mana Tuan? Matahari mulai naik dari tadi.


Sekarang sudah pukul 08:45."


Mata Afriadi langsung melek, kagat, "Tuan tidak berangkat mengajar?"


"Apa sudah hampair jam 9."


Afriadi langsung bangun melihat Jam di sebelahnya, mukanya shok melihat sudah Jam berapa.


Rambut yang masih acak-acak, tergagap-gagap bicara dengan Bik Ipah.


"A A A ..."


"A A A ..."


Bik Ipah ikut tergagap-gagap, "A-apa Tuan?"


"Aaaa... Aisss... Siapkan pakaian, Bik.


Dan bilang dengan Mang Juneb untuk siapkan mobil."


"I-iya." Bik Ipah latah, hormat Bendera Merah Putih lalu lari terbirit-birit menyiapkan semua.


Afriadi langsung bergegas mandi, Bik Ipah menyiapkan pakaiannya, dan memberitahukan Mang Juneb untuk menyiapakan mobil.


Jurus kilat Afriadi keluar.


Dari mandi, sampai selasai dilakukan dengan kecepatan MAX.


***


Teng... Tong...


Bel pergantian jam belajar.


Wow... Jam pelajaran pertama selesai.


Seperti yang diharapkan semua anak Melas 11 IPA A.


Jam pelajaran ke dua ini tidak belajar seperti anak Kelas sebalah.


Baru saja Bapak Dedy keluar, semua bersiap-siap untuk keluar juga mengenag guru bahasa Inggris tidak ada.


Baru saja mau keluar, Afriadi sudah berjalan di lorong, melangkah cepat menuju Kelas, salah seorang Siswa Kelas 11 IPA A berseru melihatnya,


"Oi... Bapaknya ada."


Mendengar seruan tersebut, semua kembali ke tempat duduk. mengeluarkan buku Bahsa Inggris.


Begitu juga dengan Latika cepat-cepat mengeluarkan buku Bahasa Inggris


Hadi ingin menyiapkan tapi, dilarang Afriadi, nafasnya tak teratur melambaikan tangan, menandakan untuk tidak menyiapkan.


Langsung masuk pelajaran saja.


Afriadi mengeluarkan bukunya.


Pelajaran dimulai.


Baru saja pelajaran dimulai, selang beberapa menit, kantuk Afriadi kambuh lagi.


Sambil menunggu anak muridnya mengisi tugas yang di berikan, Afriadi duduk, berkali-kali Afriadi menguap, matanya berkali-kali tertutup berkali-kali juga matanya melek, kaget. Kepalanya ingin terjatuh. Eh, tertahan, terangkat lagi


Para Siswa tertawa kecil melihat Afriadi.


Latika saja sampai ikut tertawa kecil.


Siswi-siswi yang memperhatikan Afriadi juga tertawa kecil.


"Hihi... Bapak mengantuk."


"Ihhh... Gemes, waktu tidur saja tampan."


Afriadi yang mendengar melirik mereka, mereka yang dilirik tertunduk takut, ia bangkit dari mejanya, berjalan menuju meja Hadi. Semua mata melihat Afriadi.


"Hadi, nanti kumpulkan tugasnya, siap tidak siap anatar."


"Egh... Baik Pak." Hadi meangguk.


Afriadi pergi meninggalkan kelas, sebelum keluar ia sempat melirik Latika.


"Oi, Latika Bapak itu, perasaan sering sekali melirik kau." Hadi membelikan badanya menghadap Latika di belakanya.


"Egh... Masa'."


"Iya, apa Bapak suka dengan kau, atau kau ada..."


Hadi memperhatikan Latika, memirikan kepalanya.


"Ada apa ya?," tanya Latika penasaran.


"Ada hubungan sesuatu. Iya kah?"


"Hi... Mati, Hadi tahu. Padahal kami jarang keluar bersama, jalan-jalan pun jarang. Tapi, dari mana Hadi bisa tahu?," kata batin Latika, riuh.

__ADS_1


"Em... Masaaaaa... G-gak merasa tuh."


Latika ragu-ragu.


"Ahahaha... Aku bercanda Latika. Mana mungkin Bapak suka dengan kau. Siapa juga yang suka dengan cewek cengeng." Hadi menggoda.


"Hah. ." Latika menghela nafas berat.


Sedangkan di kantor Kepala Sekolah. Afriadi kembali tertidur di sofa.


Menit demi menit berlalu.


Lonceng berbunyi, seperti pesan Afriadi, 'siap tidak siap antar'.


Hadi berjalan menghitari meja teman-temannya mengambil paksa satu persatu buku tugas milik temenya walau sempat ada perlawanan dari temannya karena tidak siap, dengan wajah dan hati dingin Hadi meambil paksa, temannya pasrah saja lagi.


"Latika, mau ikut antar," ajak Hadi sebenarnya minta bantuan bawakan ke Kantor Kapala Sekolah.


"Ikut." Latika meranjak dari tempat duduknya.


"Yuk. Nih bawa seperuh."


Hadi memberikan sepertuh buku itu kepada Latika.


Mereka berjalan menuju Kantor Kespek.


Kali ini Latika dijauhi sama temanya Hana, Nana, Salasiah mereka keburu ditaraik sama Kina menuju kantin.


Jadi Latika hanya bisa bersama Hadi, ke mana Hadi Latika ikut, kecuali ke toilet pria.


Langkah mereka tiba-tiba terhenti.


"Latika," panggil Hadi.


"Em..." Latika menoleh melihat ke sebelahnya, wajah Hadi pias.


"Aaa..." Hadi gagap,


"Latika, Kau pergi anatar, ya? Aku kebelet."


Hadi memberikan semua buku pada Latika.


"Eh..." Latika kaget, mendadak betul lagian berat juga.


"Tolong ya!"


Hadi lari berbalik arah menjauh dari Latika.


"Eh... Oi! Isss..."


Latika melanjutkan Langkahnya.


Tok... Tok... Tok...


Latika memgetuk pintu Kantor Kepala Sekolah.


"Tidak ada jawaban. Ah... Masuk saja."


Latika membuka pintu pelan, melangkah masuk.


"Assalamu'alaikum... Permisi." Latika masuk.


"Wah... Orangnya tidak ada."


Latika asal lewat saja tidak melihat-lihat lagi Afriadi tertidur di sofa.


Latika menaruh buku tugas di atas meja.


"Ke mana Abangnya? Kanapa tidak ada?" Latika membalik badan.


Ia mendekat duduk di lantai di samping kepaanya.


Ia mengaruk kapalanya yang tidak gatal. Tidak habis pikir Latika. Kenapa Afriadi bisa tertidur pulas di sekolah?


Lagi apa saja dia malam tadi?


Lamat-lamat Latika memperhatikan wajah Afriadi.


"Em... Kalau dilihat, Abang lebih tampan waktu tidur. Seperti Oppa."


Latika tersenyum sendiri melihat Afriadi.


"Hihihi..."


Timbul ide jahil Latika.


Tangannya mencuil pipi Afriadi.


Afriadi merasa ada yang mencuilnya, menghalau.


Tanganya nenepis tangan Latika yang dikiranya nyamuk.


Matanya masih tertutup mengkibas-kibas wajahnya, "Em..."


"Hihihi..."


Latika tertawa kecil, duduk di bawah dekat dengan wajahnya.


Tidak cukup sampai di situ saja, Latika masih gatal ingin jahil suaminya.


"Hihihi..."


Ide jahil memenuhi pikiran Latika.


BAAK...


Latika menepak meja kaca di sebelahnya.


Afriadi terkejut, melek, terbangun dari tidurnya.


"Astaghfirullah.."


"Sudah bangun Mi...


Sudah bangun..." Afriadi asal bunyi.


Kepalanya celengak-celenguk melihat keadaan sekitar.


Hatinya berkata, mengamati sekitar. "Tidak ada siapa-"


"Hihihi..."


Latika tak bisa menahan tawa melihat wajah kaget Afriadi.


Afriadi mendengar suara cekikikan, melirik ke bawah, melihat Latika duduk di bawahnya tertawa.


"Hah... Kirain siapa?"


"Hihihi... Hahaha.."


Latika tidak berhenti tertawa.


Afriadi merasa jengkel, membalas kelakuan istrinya tersebut.

__ADS_1


Afriadi tidak peduli lagi sekarang ada di mana? Senyum licik terukir di wajahnya, "Ooo... Sudah mulai berani, ya. Adek tahu apa akibat memikat, dan menganggu laki-laki yang lagi tidur?"


"Perasaanku tidak enak," guma Latika pelan.


Wajah Latika tadinya bahagia tertawa habis kerjain Suaminya langsung pias mendengar kata Afriadi, seperti suatu yang buruk akan terjadi padanya.


Afriadi mendekat tanganya memegang dasi di lehernya hendak melepaskan.


Hati Latika berkata, "Gawat."


Latika menyadari sesuatu yang buruk akan terjadi, bergegas bangkit dari duduknya. Tapi, naas Afriadi lebih dahulu menagkap tangannya.


Afriadi tersenyum licik


Merasa takut Latika teriak, "Kyaaa..."


Teriakan Latika yang lantang membuat guru-guru dan murid yang ada di sekitar berdatangan.


"Kenapa teriak?," tanya Afriadi menggoda.


"Ada apa ini?"


Laila muncul tiba-tiba.


Serempak mereka melihat Laila.


Hening sesaat.


Terpatah-patah Afriadi melepas gengamannya, menjauh dari Latika.


Laila memandang mereka curiga.


Latika sudah cemas, ketahuan sudah status mereka.


Afriadi berpikir keras, mencari cara agar Laila tidak curiga.


Seketika juga ide Afriadi muncul.


"Kecoaaa...," teriak Afriadi menunjuk lantai.


"Ha..." Latika memiringkan kepalanya, heran. Kepalanya dipenuhi tanda tanya.


Afriadi berkedip ke arah Latika.


Kedipanya seperti meminta tolong ikut drama yang ia buat.


"Kyaaa... Kecoa..." Latika menjerit ketakutan, naik ke atas sofa. Dia ikut dalam drama yang Afriadi buat. Afriadi kira dia tidak akan ikut campur.


Laila kaget, sontak tubuhnya gemetar, "Ha... Mana?"


"Itu... Itu... Itu..."


Afriadi menujuk sembarangan, membuat Laila ketakutan, meloncat-loncat, dia geli dengan kecoa.


Latika tertawa tertahan, mencoba untuk menahan tawa.


"Mana?" Laila benar-benar takut, berkali-kali dia kedua tangannya mengusap tubuh.


"Di kaki." Afriadi menunjuk Kaki Laila.


"Kyaaa..." Laila melompat menendang mendekati Latika naik ke atas sofa.


Laila menjerit, Latika menjerit bukan karena takut atau sengaja, tapi karena kakinya di injak Laila.


Jeritan mereka memacing guru lainnya, dan anak murid yang berada di sekitar.


"Ada apa ini?"


"Ada apa ini?"


Para guru berdatangan.


Siswa Siswi yang penasaran berdatangan, kepala mereka memenuhi jendela dan pintu masuk melihat keadaan di dalam.


Tawa pecah Siswa mendengar Laila menjerit kecoa dan Latika menjerit kesakitan.


"Aaaa..." Siswi yang sensitif mendengar nama makhluk tuhan satu itu yang menbuat mereka terus menjerit, lari terbirit-birit meninggalkan Kantor Kepala Sekolah.


Mereka lari mengundang penasaran murid dan guru lainnya.


"Heh... Minggir." Raya datang, meneribos masuk, "Ada apa ini ribut-ribut?"


"Ke-kecoa Pa," kata Laila, gemetar takut.


Raya meangkat alisnya, haya sebahagian kecil guru ada di sini yang lainnya tidak mau masuk, takut kecoa.


"Mana?," tanya Kamarudin, melihat sekitar.


Siswa yang asik menonton tertawa.


"Hah... Kenapa jadi seperti ini.


Pikirkan sesuatu Afriadi, sebelum ketahuan," hati Afriadi berkata, "Em... Pakai cara ini saja."


Lagi-lagi ide cemerlang muncul.


"Hap..." Afriadi pura-pura menangkap kecoa, "Sudah."


"Sudah ditangkap?," tanya Laila tidak ditanggapi Afriadi.


Afriadi Berjalan keluar membawa jauh tanganya yang kosong, yang dikira orang-orang kecoa, semua memberi jalan padanya.


"Hahah..."


"Hah... Sudah-sudah, apa yang kalian lihat? Bubar sana bubar." Raya membubarkan kerumanan Siswa.


"Hah..." Para Siswa mengeluh. Murid dan


Guru yang baru datang ikut bubar juga.


"Turun Laila," perintah Raya.


Tampa di suruh dua kali Laila turun.


"Latika kamu juga turun, Kecoa-nya sudah tidak ada," kata Sarif.


Latika meangguk turun dari Sofa.


Laila membersihkan kekacauan yang ia perbuat dibantu Kamarudin, Raya, dan Sarif. Guru lainnya pergi meninggalkan Kantor Kepala Sekolah.


Tak lama kemudian pas juga Hadi datang.


"Latika," panggil Hadi. Wajahnya panik, "Kau tidak apa? Kecoa-nya gigit kau, kah?"


Latika menggeleng, tertawa pelan.


"Oi, jangan pacaran di sini? Bisa-bisa diskor kalian." Kamarudin keluar dari kantor.


"Bukan," serempak mereka menjawab.


"Hah... Anak zaman sekarang." Kamarudin menggeleng, melangkah pergi.


Semua pergi, ruangan sepi, Afriadi pun belum kembali, jauh sekali ia membawa kecoa bohongan itu.

__ADS_1


Latika, dan Hadi pergi meningalkan ruangan tersebut, pergi ke kantin isi perut.


__ADS_2