
Lagu ulang tahun di nyanyikan bersama, habis itu yang di tunggu-tunggu potong Kue ulang tahun.
"Potongan pertama Lily berikan pada orang yang paling Lily sayang. Mama dan Papa."
Plok... Plok... Plok...
Semua bertepuk tangan.
"Terimaksaih sayang," kata mereka serempak.
"Uuuuuhh.. Gemes deh." Papa Hadi mencubit pipi Lily anaknya.
"Panjang umur ya nak," kata Mama mengelus rambut Lily.
Lily dapat Kecupan manis dari Orang Tuanya di kedua pipinya.
"Potongan kedua di berikan kepada Abang tercinta Lili, Abang paling tampan memikat hati wanita dengan sikapanya. Abang Hadi."
Plok... Plok... Plok...
Suara tepuk tangan.
Hadi menambil Kue dari tangan Lily, "Terimakasih Lily. Tapi, jangan berlebihan juga."
"Hihi..."
"Potongan ketiga untuk..."
"Yang, aku Yang."
"Iiiieek..." Lily jijik dengan panggilan Yang itu.
"Untuk..." Panjang Untuk Lily.
Kakeknya menyangka itu untuk dia, toh dia kan idola Lily. Saat ada maunya ^∆^
"Hihi..." Salasiah dan Nana tertawa pelan dari kejauhan.
"Akan berhasil ini," guma Salasiah.
Tanda tanya memenuhi otak Hana, ia menggeleng tak paham dengan apa yang mereka pikirkan, "Apa-apalah 2 orang ini."
"Yah, dia dia dia dia." Nana bersemangat sekali kayak nonton pertandingan Bola Sepak saja.
"Ayo Lili. Lakukan seperti yang kami bilang tadi," geram Salasiah sudah menggearuk tangannya yang terasa gatal.
Tadi Salasiah dan Nana menemui Lily meminta saat pemberian pemotongan Kue nanti Lily berikan ke pada Afriadi biar Lily bisa lihat wajah Afriadi.
Jadi akhirnya begini.
"Untuk Om Afri."
"Aapa?" Latika kaget. Bukan Latika saja Keluarga besar Hadi sampai kaget, meraka menyangka potongan ke tiga ini akan di berikan pada Kakeknya.
Afriadi seperti tersengat listrik, matanya melotot. Cobaan apa lagi ini.
"Terimakasih." Afriadi ingin mengambil piring kue itu. Tapi...
"Eeeet..." Lili menarik piring kue itu menjauh dari Afriadi.
Afriadi tersentak kaget.
Di belakang Salasiah dan Nana tertawa, "Hihihi..."
Hana menyangka dua Orang itu habis obat, jadinya seperti itu.
"Berhasil." Salasiah mengepalkan tangan ke atas, macam habis menang kejuaraan. Yup, kejuaraan menjebak Afriadi.
Sekilas Para Tamu undangan dan pemilik Rumah melihat Salasiah.
Hana menutupi wajahnya dengan telapak tangan, malulah. Entah dari mana dia dapat teman macam ini.
Afriadi meangguk paham, ini semua ada Kaitannya dengan mereka berdua.
"Ini spesial untuk Om Afri. Lili ingin suapi Om Afri," kata Lily.
Latika mau menolak, tapi Lily keburu memotong kalimatnya, "Tidak apa-apakan Om..."
Di belakang sudah sibuk Ari, Nana, dan Salasiah.
Mereka bertiga berhasil menyita perhatian tamu.
"Bilang saja mau, geram aku ingin melihat wajahnya," guma Ari melindungi wajahnya dengan telapak tangan. Malu di lihat banyak Orang setelah ribut tadi.
"Terima saja," guma Salasiah.
"Jangan buat aku penasaran." geram Nana.
"Cepatlah," geram Salasiah.
Dua Orang ini tak akan malu, tapi Haha yang malu. Rasa-rasanya Hana mau menjauh saja.
"Lili mohon," pinta Lily dengan wajah memelas.
Latika ingin bicara keburu di sela Afriadi, "Baiklah jika itu mau Lili."
"Abang." Latika memanggil Afriadi pelan, melarangnya.
__ADS_1
Afriadi mengkedipkan matanya pada Latika, minta dia tenang saja. Ia ada rencana, walau gak tahu mulus atau tidak nantinya.
Lili tersenyum, batinya berseru, "Seperti apa sih wajah Om Om ini, jadi penasaran gara-gara di beritahu kakak Salasiah dan Kakak Nana. Apa dia mempunyai gig Tupai, atau jerawatan, bopeng, luka, tato, atau bibirnya terlalu..."
Afriadi mendekati Lili, dekat sekali sampai bersemu pipi Lily.
Kamera ponsel Nana, Salasiah, dan Ari sudah bersiap untuk mepotret.
Afriadi membuka sedikit maskernya.
Dag Dig Dug jantung semua orang.
"Hampir kelihatan."
"Yayaya..."
"Sikit lagi."
Afriadi membuka maskernya separuh Maskernya sampai pertengahan bibir.
"Ah... Ada lalat." Mama Hadi mendekati Afriadi mau mengusir Lalat, dan Latika mendekat sedikit melindubgi Afriadi. Cepat ponsel mereka mengfoto Afriadi. Secara bersamaan mereka melakukannya.
Papa Hadi melepas kacamatanya yang kusam.
"Dia..." Mata Hadi meloto melihat sekilas wajah Afriadi, ia tidak terlalu jelas melihat wajah Afriadi, karena cahaya lampu kamera. Toh, Kamera tepat di seberangnya. Tapi, wajah itu tak asing baginya.
"Dia..." Hana juga sama dengan Hadi sekilas lihat wajah Afriadi, cahaya lampu kemera teman-temannya menghalangi pandangannya. Sekali lagi, wajah itu tak asing di matanya.
"Oom tampan," kata Lily.
Cepat Afriadi makan potongan Kue itu, dan menutup kembali wajahnya secepat kilat.
"Waaah... Cik cik cik... Tampan juga. Kalah aku, heh," kata Papa Hadi berbanding terbalik dengan hatinya, 'Sayangnya tidak kelihatan dengan jelas.'
Mama Hadi juga tak begitu jelas melihat wajah Afriadi, selain cahaya yang silau perhatiannya juga sempat teralihkan pada lalat. Batinnya berkata, "Uh, tidak lihat."
"Hahaha... Kakak Latika pandai memilih pasangan. Oom Afri lebih tampan dari Abang aku," kata Lily tersenyum lebar.
"Eh, ini anak," kesal Hadi di bandingkan, tadi di bilang tampan sekrang kata tampannya berpindah pada Afriadi.
Mas Ari, Salasiah, Nana memeriksa hasil foto yang mereka ambil.
"Ha." Mereka tercengang lihat hasilnya.
Gambar yang mereka ambil terhalang Latika dan Mama Hadi.
Para tamu yang lainnya juga tidak bisa melihat wajah Afriadi, soalnya terhalang 2 orang itu.
Acara potong kue sudah, pemberian hadiah.
Latika meambil hadiah yang ia letak di tasnya berbentuk dadar gulung panjang dengan jambul di atas dan bawahnya, dengan sampul pink.
Latika memberanikan dirinya memberi hadiah itu, "Bismillah semonga Lily hijrah," katanya dalam hati.
Lily menerimanya dengan senyuman, "Terimakasih Kak."
Tampa di singkirkan seperti kado lainnya Lily membukanya lebih dahulu. Agak kaget Lily mengetahui isi hadiah Latika, dia terdiam lihat hadiah dari Latika. Matanya berkaca-kaca. Para temu undangan pada heran, saling bertanya ada apa? Kenapa? Kakeknya saja sampai bingung dengan cucu tercintanya itu.
Cepat Lily memeluk Latika, ia menangis. Tambah bingung lagi semua.
"Terimakasih Kak hiks...," kata Lily dalam isakan tangis.
"Di pakai ya Lily, nanti Sholatnya jangan bolong-bolong lagi, Lily kan sudah besar. " kata Latika mengusap punggung Lily, "Sudah jangan nagis lagi Lily sudah besar, nanti luntur itu make up."
Lily tersentuh dengan hadiah yang di beri Latika,
sederhana sekali hadiahnya hanya jilbab dan pin jilbab berbentuk sendal nabi Muhammad, sederhana sekali kan. Itu usulan Afriadi, katanya biar menutup aurat dan ingat dengan baginda nabi. Lagian Latika membelinya dengan uang sakunya sendiri.
Mama dan Papa Lily sampai terdiam lihat hadiah Latika, selama ini mereka mendidik Lily dengan salah seharusnya mereka kenalkan Lily dengan agama terlebih dahulu baru setelah itu hal lainnya.
Kakek Lily juga ikut terdiam, selama ini dia memanjakan Lily dan pilih kasih, jadinya Lily jauh dari agama, padahal agama itu hal utama.
Keluarga besar saja sampai ikut diam tak terpikir bagi mereka mau memberikan itu, yang mereka pikirkan hanya kesukaan Lily.
"Nih, Li." Hadi mucul tiba-tiba di belakang Lily, memberinya hadiah, dari bentuk besar sekali ukuran leptop.
Lily ragu-ragu mau ambil. Tahun dulu Hadi memberi dia hadiah kodok, sampai sekarang masih ia ingat.
"Ambil." Hadi menyorong memaksanya meambil hadiah pemberiannya.
"Awas ya jika kodok lagi," ancam Lily.
Hadi hanya tersenyum, membiarkan Adiknya membuka hadiah pemberiannya.
Sekali lagi Lily melirik Hadi curiga dengan hadiahnya, ia menduga kodok.
Ketika hadiah di buka. Mata Lily membulat sempurna, tuh kan betul...
Bukan Kodok.
"Hwaaaa..." Lily menangis memeluk kakaknya.
"Cengeng amat jadi anak," guma Hadi. Cengeng-cengeng begitu Hadi sayang sama Adiknya.
Lagi-lagi Lily terharu lihat hadiah dari Hadi, berupa mukenah dan Al-Qur'an.
Orang Tuanya sampai ikut terharu juga, ikut memeluk Hadi. Mereka selama ini sibuk tanpa memperhatikan anak-anaknya.
__ADS_1
"Lepas ah, apaan sih peluk-pelukkan malu di lihat orang, lebay kalian," gerutu Hadi. Papanya geram mengusap kepala yang botak itu.
"Makasih Kak Hadi. Uuuu.. Kakakku ini selain tampan ternyata Sholeh juga. Kakak yang terbaik."
Hadi tak termakan pujian Lily, nanti kata tampannya berpindah lagi pada orang lain.
"Tapi, sayang botak hihihi..." Lily tertawa tertahan, beberapa orang yang dekat dengannya juga ikut tertawa. Wajah Hadi cemberut dengar kata botak.
"Dengar ya, aku itu belikan kamu mukenah sebab mukenah kamu itu sudah berumur pakainya hanya saat hari raya, dan Al-Qur'an itu agar kau tidak banyak baca novel cinta cinta terus, baca Al-Qur'an juga. Paham gak. Terus itu baju gamis, agar kau kenakan, jangan pakai baju Bupati terus buka paha tinggi-tinggi," celoteh Hadi.
Lily hanya tersenyum.
Selang beberapa menit setelah rasa haru.
Inilah acara selanjutnya yang Lili tuntut dari Latika, Hadi, dan Sahril. Dance.
Mereka bertiga maju.
membawakan dance dari TVXQ "The chance of love dan truth"
Karena, Lili suka sekali dengan TVXQ, salah satu pengemarnya. Mereka bergerak dengan lincah seirama dengan musik.
Afriadi dari jauh melihat Latika dance, gak dekat-dekat bahaya lagi. Ia duduk di kursi tamu.
Tiba-tiba saja suasana berubah jadi agak aneh.
Tiga pengganggu datang duduk di meja itu juga.
Siapa lagi kalau bukan Salasiah, Nana, dan satu orang ikut terseret Ari, Hana jangan di cari dia di ada di panggung bertepuk tangan dengan Lily.
"Perasaanku tidak enak," guma batin Afriadi.
"Mas Afri. Lama tidak jumpa," sapa Salasiah. Padahal baru beberapa jam yang lalu mereka berjumpa.
Afriadi tak membalas, melarikan perhatiannya pada Latika.
"Mas, kenapa tidak makan?" tanya Nana menyodorkan makanan.
"Kenyang." Afriadi membuka nulutnya juga menolak.
"Sudah berapa lama kenal dengan Latika?" tanya Ari.
"Hampir setahun." Afriadi menjawab, pandangannya tetap pada Latika.
"Lama juga.
Kau kenal dengan dia sebelum pacaran berapa hari?" tanya Ari lagi.
"Sekitar 2 atau 3 hari," jawab Afriadi.
"Kau tahu apa kebiasaan buruk Latika?" tanya Nana.
Perhatian Afriadi lamgsung teralihkan, ia melihat mereka bertiga. Bukan karena tertarik untuk tahu, tapi Afriadi kesal sama mereka bertiga.
"Itu lo," kata Salasiah.
"Ha, kau tidak tahu, ya?" Ari menunjuk Afriadi.
"Sini kami beritahu," kata Nana mendekatkan kepalanya pada Afriadi.
Mereka bertiga cerita yang tidak-tidak tentang Latika. Berat juga hati mereka memceritakan yang bukan-bukan tentang Latika.
Karena terlalu berlebihan Afriadi tidak suka. Semua kalimat mereka hanya lalu saja. Ibarat kata masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
"Eh, itu..."
Afriadi melihat sesuatu di belakang Latika.
Ia cepat berdiri mengnggalkan tempat duduknya, melepas jaketnya.
Langsung menuju Latika yang baru selesai, tepuk tangan meriah dari para tamu undangan untuk mereka.
Afriadi memeluk Latika, cepat membelitkan jaket ke pinggang Latika sebelum ia membelakangi para tamu.
Latika kaget, wajahnya merah, suaranya mengecil, "Eh, Abang kenapa di sini?"
Wajah Latika merah.
"Tembus," bisik Afriadi.
Wajah Latika tambah memerah, ia menundukkan kepalanya.
"Haaaa..." Semua tamu undangan tercengang melihat mereka.
Waw, mereka berhasil curi perhatian.
Sampai Mama dan Papa Hadi juga tercengang.
Mas Ari, Nana, Hana, Salasiah, Sahril tambah parah lagi terkejut, hampir copot itu bola mata.
Lili bertepuk tangan kegirangan.
Kakeknya melototi Lily, memintanya berhenti bertepuk tangan.
Hadi memasang wajah sulit di tebak.
Kejadian yang tidak terduga.
__ADS_1
Kehebohan terjadi di sana.