Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Akui Viana 2


__ADS_3

Pagi tadi, sebelum Nandi mengirim pesan pada Afriadi.


Nandi duduk bersandar di tempat tidurnya, menunggu curahan kasih sayang Viana.


"AAA..." Viana mearahkan sendok berisi makanan ke arah mulut Nandi.


Lebar Nandi membuka mulutnya menerima suapan dari Viana, melirik pada Adiknya yang main ponsel duduk di sofa, yang di lirik menatap tajam tahu kalau Kakaknya lagi memanasi dirinya. Penyot mukutnya mengejek Kakaknya.


Nandi tersenyum, sekejap ia teringat sesuatu. "Vi."


Viana meangkat alisnya, seolah ia bertanya ada apa?


Nandi menghela nafas, meraih tangan Viana menggengan sebelah tangan Viana, "Aku rasa sekarang kau harus bilang pada Afriadi tentang semua ini."


Mata Viana langsung melotot, ia tahu maksud Nandi apa, "Tapi-"


Nandi memotong kalimat Viana, "Vi, akui. Mungkin ini saatnya."


"Aku belum siap. Aku masih takut."


Nandi bisa merasakan getaran tangan Viana, dia sangat takut seakan tertekan.


Nandi mengenggam erat tangan Viana, mengusap dengan jempolnya menenangkannya.


"Jangan takut. Kali ini aku akan temani kamu. Semuanya akan baik-baik saja.


Afriadi pasti mengerti. Dia akan memaafkanmu," ujar Nandi, "Jangan takut ya."


"Iya." Viana meangguk ragu.


"Sekarang aku chat Afriadi mintanya untuk ke sini."


Viana panik ketika pesan sudah terkirim, "Tapi, bisakah nanti."


"Tidak Vi, lebih cepat lebih bagus."


Viana gelisah menggigit bibir bawahnya.


Tring...


Pesan masuk.


——————————————————————


Afriadi


Standby.


——————————————————————


Nandi membaca pesan, ia tersenyum, "Afriadi sebentar lagi ke sini, dia lagi di perjalanan. Siap ya Vi."


"Em, Ah Mas aku keluar dulu ya?


Cari angin menenagkan diriku dahulu." Viana meletakkan mangkok bubur di atas meja.


"Oh, cepat kembali ya. Sebentar lagi Afriadi datang."


"Ya~" berirama kalimat Viana, cepat ia bergegas keluar.


Baru saja ia keluar sudah melihat Afriadi di ujung lorong, Cepat Viana cari tempat sembunyi, ia memasuki kamar pasien, mengintip di jendela pintu Afriadi lewat.


Huh... Viana menghela nafas lega, ia merasa aneh seperti ada yang berdiri di belakangnya. Viana menoleh ke belakang.


Buuu...


Ia terkejut melihat Nenek-Nenek di belakangnya, itu rambut terurai seram kelihatannya.

__ADS_1


"Maaf salah kamar."


Ia tersenyum melihat seorang pemuda terbaring di tempat tidur dan keluarganya yang menatapnya, cepat ia keluar dari sana.


***


Afriadi masuk ke Kamar Nandi.


Di lihatnya Nandi sedang beradu mulut dengan Adiknya, biasa masalah Pacar Adiknya yang royal. Mereka terdiak setelah sadar Afriadi masuk.


"Nan, apa yang ingin Viana katakan padaku?" tanya Afriadi mendekatinya.


"Ah, tunggu dia kembali, biar Viana sendiri yang mengatakannya."


"Oh, dia ke mana?" Afriadi duduk di sebelah Adik Nandi.


"Lagi cari angin katanya, kau tak ada ketemu dia jalan tadi?"


Afriadu menggeleng, ia memilih untuk menunggu.


30 Menit kemudian.


"Di mana Viana? Kenapa dia tidak kembali juga?" tanya batin Nandi, mulai was was.


"Hem, huh..." Afriadi menghela nafas, melihat jam di pergelangan tangannya, "Lama juga Viana kembalinya. Aku cari dia dulu."


"Iya." Nandi meangguk. Perasaannya mulai tak enak, ia mulai berprasangka buruk.


Afriadi keluar mencari Viana di sekitar Rumah sakit, di bantu dengan Adik Nandi yang bertugas menjanga Nandi saat Keluarganya pergi.


"Hem, mungkin Viana belum siap dan ia kabur," guma batin Nandi.


Kreet...


Pintu terbuka, Nandi langsung bertanya pada keluarganya yang baru datang menjenguknya, tapi keluarganya memggeleng tidak tahu dan membantu mencari Viana.


Selagi sepi kesempatan baginya untuk kabur mencari Viana, ia mencoba turun dari tempat tidur, pandangannya sedikit bergoyang, perlahan ia melangkahkan kakinya menuju sofa, meambil jaket milik adiknya, lalu keluar dari kamar bersikap biasa saja agar tak di curigai.


Nandi sempat di cegat sama perawat saat tak jauh dari kamarnya "Tuan, anda mau ke mana?"


Nandi bingung mau jawab pertanyaan Perawat di hadapannya, terpaksa ia gunakan trik ini, trik kuno dari zaman 'Bahare kala' yang sudah di pakai banyak"Keliling saja cari angin. Bosan di kamar."


"Keluarganya mana?" tanya Perawat itu lagi, "Kenapa tidak bersama keluarga?"


"Dia lagi di toilet, nanti nyusul." Nandi senyum-senyum, sudah khawatir ketahuan.


Perawat itu meangguk, "Sebentar saja ya, nanti kembali lagi."


Perawat itu pergi, masuk ke kamar pasien lainnya.


Kulang kabut Nandi mempercepat langkahnya keluar dari Rumah Sakit.


Ketika Nandi kelauar sari Rumah sakit, ia naik taksi mencari Viana.


Ia tahu harus mencari Viana ke mana.


Tempat di mana Viana saat ia lagi ada masalah.


"Cepat, Pak. Cepat." Desak Nandi meminta supir taksi untuk cepat, ia panik.


***


"Hosh... Hosh..." Afriadi berlari masuk ke Kamar Nandi, nafasnya tak beraturan, kage lihat Nandi tak ada di sana.


"Di mana Mas Nandi?" Afriadi kehilangan Nandi. Afriadi pergi memeriksa ke toilet mana tahu Nandi kebelet, tapi tidak ada Nandi tidak ada di sana.


Aduh, tambah panik sudah Viana hilang sekarang Nandi pula yang ikut-ikutan hilang

__ADS_1


Keluarga Nandi datang, mereka juga kaget Nandi tak ada di sana. Mereka bertanya pada Afriadi, si Afriadi menggeleng tak tahu, dia kan baru datang juga. Us, tambah panik mereka calon menantu hilang entah ke mana, si Anak juga ikut-ikutan hilang.


Cepat mereka berpencar cari Nandi dan Viana, salah satu tingggal menunggu kamar mana tahu nanti mereka kembali.


Sambil mencari mereka menelpon Nandi tapi tak di angkat juga, apalagi Viana. Mereka nerpencar, bertanya-tanya pada perawat dan siapa saja yang mereka temui di Rumah Sakit.


Afriadi bertanya pada Scurity yang ada di depan pintu.


"Permisi Pak, apa anda lihat orang ini," kata Afriadi menunjukkan foto Nandi di Ponselnya, "Apa tidak melihatnya? Dia Pasien di Rumag Sakit ini, korban kecelakaan."


Scurity itu menggeleng.


Afriadi memaksa Scurity itu untuk meingat, "Coba ingat lagi. Apa tadi ada orang yang mencurigakan keluar atau Pasien yang keluar?"


Scurity meangguk, menjawab, "Tadi ada orang berjaket kulit tapi celananya pakaian Pasien lalu pakai masker keluar naik taksi menuju ke arah sana, barat."


Tak salah lagi itu pasti Nandi, duga Afriadi, "Terimakasih." Afriadi langsung pergi dengan mengendarai Mobilnya, melaju mencari Nandi dan Viana.


"Di mana aku harus mencari mereka? Ayo pikir Afriadi. Di mana biasanya Viana suka pergi? Kunjungi semua tempat," guma Afriadi panik menuju tempat-tempat di mana saja Viana kunjungi. Lumayan banyak juga tempat yang Viana sering kunjungi.


Sedangkan di Sekolah.


Jam pertama, jam mengajarkan Afriadi dikelas 11 C. Siswi-Siswi menunggu Afriadi datang.


Siswanya sudah sibuk main bola basket di lapangan.


Sampai jam selesai pun Afriadi tak akan datang.


***


"Hiks... Naila maaf. Maafkan aku, Mas Nandi maafkan aku juga. Aku tidak bisa menemanimu lagi. Afriadi maaf aku merahasiakan ini semua dari kamu... Maaf maaf semua. Hiks..." Viana sudah berdiri di atas gedung Apartemen Rumahnya, sambil menangis tersedu.


Ia bersiap untuk melompat, berniat untuk mengakhiri hidupnya sebab rasa bersalah yang terus menghantuinya, rasa bersalan karena telah membunuh Naila. Ya, Naila. Padahal itu tidak disengaja dan kejadiannya sudah terjadi beberapa tahun yang lalu Viana sudah mencoba untuk mengubur itu semua walau kadang bisalah ia teringat, tapi entah kenapa rasa bersalah itu muncul kembali setelah ia kembali ke Indonesia dan rasanya ia baru kemarin terjadinya. Apa lagi ia sering bermimpi Naila.


Akal sehat Viana hilang, ia kira bunuh diri bakal menghilangkan maslahnya, mati itu enak kali ya.


Saat kakinya siap untuk melangkah.


"Viiiii!!!" teriak Nandi cepat menghampiri Viana menarik tangannya sebelum ia menoleh melihat Nandi.


"Aaaa!!!" jerit Viana tubuhnya terjatuh.


Bruuukk...


"Apa aku sudah mati?" tanya batinya.


Viana membuka matanya perlahan.


Di lihatnya Nandi di bawahnya, ia menindih Nandi.


Pelukan Nandi begitu erat, ia seakan tidak mau kehilangan Viana.


Viana menatap mata Nandi yang penuh ketakutan, wajah yang pucat.


Nandi melepas pelukannya membiarkan Viana menyingkir sebentar.


Setelah Nandi bangun, ia memarahi Viana habis-habisan.


"Vi, apa yang kau pikirkan?" geretak Nandi seraya menguncang Viana, "Apa-apaan kau? Kau mau bunuh diri. Apa kau sudah tidak sayang lagi dengan aku? Kau ingin tinggalkan aku... Apa jadinya aku tampamu Vi."


Kali ini Viana yang terdiam mendengarkan omelan Nandi.


Ia melihat wajah Nandi yang terlihat jelas sekali khawatir.


"Hiks..." Viana menangis menyesali perbuatannya barusan. Akal sehatnya tadi hilang, makanya sampai nekat mau bunuh diri lagian.


Nandi memeluk Viana erat-erat. Ia merasa bersalah juga karena memaksa Viana untuk bicara.

__ADS_1


__ADS_2